Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Tinggalin Saya
“Kamu mau ke mana?”
Suara berat Arsen terdengar pelan dari belakang.
Namun justru itu yang membuat tubuh Aluna langsung membeku total.
Tangannya masih menggenggam handle pintu.
Sedangkan napasnya mendadak terasa sesak.
Perlahan perempuan itu menoleh.
Dan benar saja.
Arsen sudah berdiri di dekat sofa sambil menatap dirinya tanpa ekspresi.
Namun tatapan mata laki-laki itu…
terlalu tajam.
Terlalu sadar.
Jantung Aluna langsung berantakan.
“Aku…”
Suara perempuan itu mengecil.
Namun tidak ada satu pun alasan yang bisa keluar dari mulutnya sekarang.
Karena surat di meja itu sudah menjelaskan semuanya.
Tatapan Arsen perlahan berpindah ke arah kertas putih yang tadi ditinggalkan Aluna.
Lalu kembali lagi menatap dirinya.
Sunyi.
Tidak ada suara apa pun selain hujan di luar penthouse.
Dan anehnya…
kesunyian itu justru terasa lebih menyesakkan dibanding bentakan.
“Kamu mau pergi?”
Nada suara Arsen rendah banget.
Bukan marah.
Bukan dingin.
Tapi justru terdengar lelah.
Dan itu membuat dada Aluna terasa makin sakit.
“Aku cuma…”
Aluna menggigit bibirnya pelan.
“Aku nggak mau semua orang terus terluka gara-gara aku.”
Tatapan Arsen tidak berubah sedikit pun.
Namun perlahan laki-laki itu berjalan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sampai akhirnya berdiri tepat di depan Aluna.
Dekat banget.
“Jadi solusi yang kamu pilih…”
Tatapan matanya lurus ke arah Aluna.
“Pergi diam-diam?”
Napas Aluna langsung tertahan.
Karena cara Arsen memandang dirinya sekarang…
terlihat kecewa.
Dan itu jauh lebih menyakitkan dibanding amarah.
“Aku pikir itu lebih baik…”
“Buat siapa?”
Suara Arsen langsung memotong.
“Aku nggak mau hidup kamu makin hancur.”
“Hidup saya hancur kalau kamu pergi.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa ragu.
Tanpa ditahan.
Dan sukses membuat mata Aluna langsung memanas.
Karena dirinya bisa melihat dengan jelas—
Arsen serius.
Laki-laki itu benar-benar takut kehilangan dirinya.
“Aku cuma bikin masalah…”
Suara Aluna mulai bergetar lagi.
“Perusahaan kamu kena serang… keluarga kamu marah… bahkan Mama aku sekarang ikut diancam…”
“Dan kamu pikir saya bakal baik-baik aja kalau kamu pergi sendiri?”
Tatapan Arsen berubah lebih dalam.
“Luna.”
Nada suaranya pelan sekarang.
Namun justru itu yang membuat pertahanan Aluna perlahan runtuh.
“Saya nggak peduli semua itu.”
“Aku peduli!”
Air mata Aluna akhirnya jatuh lagi.
“Aku capek lihat semua orang terluka gara-gara aku!”
Sunyi.
Napas perempuan itu mulai nggak teratur.
Dadanya sesak banget.
Karena selama hidupnya, dirinya selalu jadi sumber masalah.
Dulu Bima bilang dirinya merepotkan.
Keluarga Arsen menganggap dirinya penghancur.
Dan sekarang bahkan anaknya ikut jadi target ancaman.
“Aku takut…”
Suara Aluna mengecil sampai hampir nggak terdengar.
“Aku takut suatu hari nanti kamu nyesel kenal aku.”
Tatapan Arsen langsung berubah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
laki-laki itu terlihat benar-benar terluka.
Perlahan Arsen mengangkat tangannya lalu mengusap air mata di pipi Aluna.
Gerakannya lembut banget.
Hati-hati.
Seolah perempuan di depannya bisa hancur kapan saja.
“Saya justru nyesel…”
Suara laki-laki itu rendah.
“…karena bikin kamu ngerasa harus pergi buat nyelametin saya.”
Tangis Aluna langsung pecah.
Karena kalimat itu terasa terlalu hangat.
Terlalu tulus.
Dan dirinya nggak tahu harus bagaimana lagi menghadapi laki-laki seperti Arsen.
“Aku nggak sekuat itu…”
“Kamu kuat.”
Arsen langsung menjawab tanpa ragu.
“Kamu cuma terlalu sering sendirian.”
Kalimat sederhana itu sukses membuat dada Aluna terasa penuh.
Karena selama ini…
tidak ada yang benar-benar memahami dirinya seperti Arsen.
Namun justru karena itu dirinya makin takut.
Takut kehilangan.
Takut semuanya berakhir buruk.
“Aku nggak mau kamu terluka…”
Tatapan Arsen melembut sedikit.
Lalu perlahan laki-laki itu mendekat sampai kening mereka hampir bersentuhan.
“Saya juga.”
Napas Aluna langsung kacau.
Karena jarak mereka sekarang terlalu dekat.
Dan suasana malam ini terlalu emosional.
“Saya takut kehilangan kamu.”
Suara Arsen nyaris seperti bisikan.
Namun jelas.
Sangat jelas.
Dan itu membuat jantung Aluna berdebar nggak karuan.
Karena laki-laki seperti Arsen Asmara…
yang selalu terlihat dingin dan sempurna…
sekarang berdiri di depannya sambil menunjukkan ketakutannya sendiri.
Hanya untuk dirinya.
“Aku…”
Aluna bahkan kesulitan bicara sekarang.
Karena dadanya terasa terlalu penuh.
Namun sebelum dirinya sempat menjawab—
ponsel Arsen tiba-tiba bergetar keras.
Suasana langsung berubah.
Tatapan Arsen sedikit mengeras saat melihat nama Daniel muncul di layar.
Laki-laki itu langsung mengangkat telepon.
“Iya?”
Namun beberapa detik kemudian—
raut wajah Arsen berubah dingin total.
“Apa?”
Napas Aluna langsung tercekat.
“Ada apa?”
Arsen tidak langsung menjawab.
Tatapannya tajam lurus ke depan sekarang.
Dan itu bikin Aluna langsung merasa nggak tenang.
“Rumah ibu kamu barusan dilempar batu.”
Dunia Aluna langsung seperti runtuh seketika.
“Hah…?”
“Bodyguard saya udah masuk ke dalam.”
Nada suara Arsen rendah banget.
“Tapi kaca depan rumah pecah.”
Tubuh Aluna langsung melemas.
“Aku mau ke sana…”
Perempuan itu buru-buru bergerak panik.
Namun Arsen langsung menahan tubuhnya.
“Tenang dulu.”
“Gimana aku bisa tenang?!”
Tangis Aluna pecah lagi.
“Itu Mama aku!”
“Saya tahu.”
“Kalau sampai Mama kenapa-kenapa gimana?!”
Napas Arsen terdengar berat.
Karena dirinya tahu.
Ketakutan Aluna sekarang benar-benar nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini dimulai…
Arsen mulai merasa dirinya terlambat melindungi perempuan itu.
“Saya ikut ke sana.”
Aluna langsung menoleh.
Tatapan mata mereka bertemu beberapa detik.
Dan lagi-lagi…
Arsen memilih berdiri di samping dirinya.
Bukan menyuruhnya pergi.
Bukan meninggalkannya sendirian.
Tapi ikut menghadapi semuanya bersama-sama.
---
Perjalanan menuju rumah ibu Aluna terasa sunyi dan mencekam.
Hujan masih turun deras.
Jalanan kota terlihat kosong menjelang subuh.
Sedangkan Aluna duduk diam sambil terus memegangi ponselnya dengan tangan dingin.
Dirinya terus mencoba menelepon ibunya.
Namun tidak diangkat.
Dan itu justru membuat pikirannya makin buruk.
“Mama pasti takut…”
Suara Aluna pelan.
Tatapannya kosong mengarah keluar jendela.
“Aku benci semua ini…”
Arsen yang duduk di sampingnya menatap perempuan itu beberapa detik.
Lalu perlahan menggenggam tangannya lagi.
Kali ini lebih erat.
“Lihat saya.”
Aluna menoleh pelan.
Tatapan Arsen serius banget sekarang.
“Saya nggak akan biarin siapa pun nyakitin keluarga kamu lagi.”
Kalimat itu terdengar begitu tegas.
Begitu yakin.
Namun Aluna justru merasa dadanya makin sesak.
Karena dirinya tahu—
semakin Arsen melindunginya, semakin besar perang yang akan terjadi.
Dan dirinya takut laki-laki itu akan kehilangan terlalu banyak demi dirinya.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sederhana milik ibu Aluna.
Namun begitu turun—
langkah Aluna langsung terhenti.
Karena kaca depan rumah memang benar-benar pecah.
Beberapa pecahan masih berserakan di teras.
Dan ada tulisan cat merah besar di dinding rumah.
“JAUHIN ARSEN.”
Napas Aluna langsung hilang.
Tubuhnya gemetar hebat.
Karena ini bukan lagi ancaman biasa.
Seseorang benar-benar mulai menyerang keluarganya.
“Mama!”
Aluna langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Dan beberapa detik kemudian—
perempuan itu langsung memeluk ibunya yang terlihat pucat di ruang tengah.
“Mama nggak apa-apa?!”
Ibunya langsung menangis pelan.
“Mama takut, Nak…”
Kalimat itu sukses menghancurkan hati Aluna seketika.
Karena selama ini ibunya selalu berusaha kuat di depannya.
Namun sekarang wanita itu benar-benar ketakutan.
Dan semua ini terjadi gara-gara dirinya.
Tangis Aluna pecah lagi.
“Aku minta maaf…”
Ibunya menggeleng cepat sambil memeluk anaknya erat.
“Bukan salah kamu…”
Namun Aluna justru makin merasa bersalah.
Karena kalau dirinya tidak pernah masuk ke hidup Arsen…
semua ini tidak akan terjadi.
Sementara itu, Arsen berdiri diam di dekat pintu rumah sambil melihat keadaan sekitar.
Tatapan matanya dingin banget sekarang.
Sampai Daniel yang baru datang pun terlihat tegang.
“Tuan…”
“Cari semua CCTV sekitar sini.”
Nada suara Arsen rendah.
“Dan saya mau pelakunya ketemu hari ini.”
“Baik, Tuan.”
Namun sebelum Daniel pergi—
Arsen kembali bicara.
“Tambahin penjagaan.”
Tatapan laki-laki itu perlahan berpindah ke arah Aluna yang masih menangis memeluk ibunya.
Dan untuk pertama kalinya…
emosi di mata Arsen terlihat benar-benar gelap.
Karena seseorang baru saja menyentuh orang-orang yang paling ingin dia lindungi.
Dan itu berarti—
permainannya berubah jauh lebih berbahaya sekarang.
Kami tunggu kelanjutan nya💪💪💪💪
Kami tunggu lanjutan nya
Semangat terus up nya ya thor
Kita nggak baca
Cerita nya seru sekali