Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30# Papa halapan palcu
Malam itu suasana meja makan cukup hening, sebenarnya lebih pada suasana tegang. Karin fokus dengan suami dan anaknya, dia anggap mertuanya dan Nala adalah angin lalu.
“Vian mau yang mana, sayang?” Karin menarik piring berisi ayam tepung dari tengah meja makan ke hadapan putranya.
Melihat salah satu makanan favoritnya tentu saja bocah tiga tahun tersebut sumringah. “Cap cip cup Pian mau ini cama itu!” Alvian mengambil dua ayam tepung bagian paha bawah, masing-masing tangannya memegang satu ayam drum stik.
Aiden terkekeh, dia menepuk puncak kepala Alvian dengan lembut. “Makan yang banyak biar Vian sehat,”
“Pian celalu makan banyak. Bial bica lindungin mama dali pala lampil,” ucap Alvian dengan santai.
“Kamu sebut kami lampir?” sahut mama Ayu dengan nada sedikit meninggi, Aiden dan Karin kompak menoleh.
Alvian mendongak, dia terkejut hingga membuat dua ayam yang dia pegang jatuh. “Dlum Pian jatuh,” bocah itu berkaca-kaca. “Ndak bica di makan lagi, hiks. Huaaa ayamnya Pian,” tangis Alvian pecah memenuhi ruang makan, Nanik yang sedang di dapur sampai menoleh ke ruang makan saat mendengar tuan mudanya menangis. Tidak biasanya Alvian rewel, padahal dia bukan anak yang manja ataupun cengeng.
Sebenarnya Karin juga merasa heran dengan tingkah putranya, Alvian seolah sedang menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada Nala dan sang nenek.
“Kenapa Vian menangis, hmm?” Karin menarik kursi putranya mendekat padanya, dia mengusap pipi putranya yang sudah basah karena lelehan air mata.
“Pi-an ini cudah lapal, mama. Nenek lombeng cama Cumala celalu caja ganggu Pian, meleka belicik. Coang caja yang belicik ndak setantlum meleka,” jawabnya sambil sesekali sesegukan.
Karin menahan tawanya saat mendengar Alvian menyebut Nala dan Ayu mirip soang. “Cup…cup, sayang. Anak ganteng tidak baik menangis, nanti jadi tambah lapar. Lemak perutnya rontok semua nanti,” Karin menenangkan putranya.
“Anak laki-laki harus kuat,” imbuh Aiden yang mengusap kepala sang putra. “Bagaimana kalau adek papa saja yang suapi, hmm? Nanti papa kasih ayam tepung lagi buat Vian,” bujuk Aiden pada putranya.
“Ndak mau! celela makan Pian cudah meledup cepelti centel yang habic batlenya, Pian ndak mau ayam tepung lagi. Maunya cileng ici keju,” ocehnya membuat Karin terkekeh, bisa-bisanya putra tercintanya itu memanfaatkan kesempatan agar mendapatkan yang dia mau. “Tapi Pian ndak mau makan di cini cama coang,” Alvian memperjelas lirikannya pada Nala dan Ayu.
“Ka-kamu bilang aku seperti soang? Anakmu bilang aku soang, Aiden. Dasar bocah tidak tahu…” Nala tidak terima, dia hendak protes pada bocah tiga tahun tersebut.
“Tidak tahu apa, Nala?” Aiden kembali memotong ucapan Nala. “Ini sudah malam, Nala. Sebaiknya kamu pulang!”
“Kamu mengusirku Aiden?” kesal Nala, dia lantas menoleh pada mama Ayu. Mama mertua Karin tersebut langsung menghalangi, dia tidak akan membiarkan Nala keluar dari rumah itu.
“Langkahi mama dulu kalau kamu mau usir Nala, Aiden! Selama mama di sini, maka Nala juga akan tinggal di sini. Suka atau tidak, setuju atau tidak kamu dan Karin harus tetap setuju, Nala tidak akan pergi ke mana-mana. Apa kamu lupa ucapan mama tadi siang, Aiden?” mama Ayu melirik kearah Alvian yang sudah tidak menangis lagi.
Aiden mengepalkan kedua tangannya di samping, dia ada diantara istri dan mamanya. Karin hanya bisa menggeleng, dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Karin kesal karena mereka tidak bisa menempatkan diri, Alvian masih kecil dan tidak seharusnya putranya ikut terlihat dalam kerumitan masalah para orang dewasa.
“Mama,” Alvian menggoyangkan-goyangkan baju Karin. “Iya, sayang. Anak ganteng mama ke napa?” Karin menunduk.
“Di cini holol cekali, Pian mau makan di kamal caja. Dali pada nanti Pian ngompol,” bisiknya pada sang mama, Karin tersenyum dan menyetujui permintaan putranya tersebut.
Dia membantu Alvian turun dari kursinya. “Aku harap kejadian seperti ini tidak terulang, mas. Ini ruang makan, kita butuh tenang dan nyaman. Aku tidak mau Alvian menjadi korban keegoisan kita,” ucapnya sebelum membawa Alvian ke kamar.
Aiden menghela napas, baru tadi sore hubungannya dengan sang istri membaik. Sekarang kembali lagi memanas karena dua orang wanita yang ada di Seberang meja di hadapannya.
Selepas Karin naik tangga menuju kamar Alvian, Nala dan Ayu kembali melanjutkan makan malamnya seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua justru senang karena merasa menang bisa membuat Karin terpancing emosi.
Tadinya Aiden ingin ngobrol berdua dengan sang mama, namun urung dia lakukan saat Ayu tidak mendengarkan ucapan putranya. Aiden memilih pergi dari ruang makan, sebelum ke lantai atas dia menuju dapur. Aiden ingat kalau putranya tadi belum kenyang.
“Mbak Nanik!” kebetulan Nanik ada di dapur saat Aiden masuk ke sana.
“Iya, pak.” Nanik menoleh. “Pak Aiden butuh sesuatu?”
“Vian bilang mau cireng isi keju, apa ada stok di kulkas?”
“Ada, pak. Tapi biasanya ibu tidak kasih kalau den ganteng mintanya malam hari,”
“Biasanya Karin kasih Vian camilan apa kalau begitu, mbak?”
Nanik tersenyum. “Ibu tadi sudah minta untuk menghangatkan makan malam den ganteng, pak. Ini ayam filletnya sebentar lagi juga selesai di hangatkan,” sambil menunjuk beberapa makanan yang sudah selesai dia hangatkan. “Nanti Nanik antarkan ke kamar den ganteng,” imbuhnya.
“Biar aku bawa sekalian saja, mbak. Ada yang bisa di makan untuk istriku tidak, mbak?”
“Nanik hangatkan sepaket buat ibu juga,” Nanik bukan sengaja mencuri dengar apa yang sedang terjadi tadi di ruang makan, dia memang mendengarnya dengan jelas karena dapur dengan ruang makan hanya berbatas tembok.
***
Aiden ke kamar putranya sambil membawa nampan berisi makanan, sedangkan Nanik membantunya membawakan minuman dari pada tuannya tersebut harus bolak balik.
Pria dengan tubuh atletis tersebut membuka pintu kamar putranya dengan mudah meskipun tangannya membawa nampan, Nanik sampai melongo meliha aksi majikannya tersebut.
Lagi-lagi Aiden melihat pemandangan yang menentramkan hatinya, semua amarah dan lelah langsung menguar begitu saja saat melihat anak dan istrinya. Alvian duduk sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya pada perut sang mama, netranya fokus melihat buku cerita bergambar yang sedang di bacakan oleh Karin.
“Kalau lihat den ganteng lagi manja sama ibu itu bawaannya gemas dan adem ya, pak! Ibu bukan hanya menjadi mama untuk den ganteng, tapi juga menjadi teman sekaligus guru. Ibu Karin the best pokoknya mah,” celetuk Nanik.
Celetukan Nanik membuat Aiden sedikit tercubit, benar yang Karin pernah katakan padanya. Bukan hanya perusahaan dan karyawan yang butuh Aiden, tapi anak dan istrinya juga membutuhkan dirinya.
“Minumannya taruh di meja situ saja, mbak! Mbak Nanik bisa istirahat kalau sudah selesai,” pinta Aiden diangguki Nanik, dia menaruh nampan berisi minuman di meja sesuai yang Aiden minta.
“Bisa saya minta tolong sesuatu, mbak?”
“Tentu saja, pak. Nanik akan membantu sebisanya,”
“Selama saya tidak ada di rumah, tolong awasi mama Ayu! Bilang pada saya apapun yang dia lakukan dan katakan pada Karin maupun Alvian,” pinta Aiden.
Nanik tersenyum, tentu saja dia dengan senang hati membantu Aiden. Beberapa waktu ini Nanik memang sudah diubun-ubun melihat tingkah mama Ayu yang seenaknya pada Karin. “Siap, pak. Pak Aiden bisa percaya pada saya,” ucapnya, baru setelah itu Nanik keluar dari kamar Alvian.
Karin sebenarnya tahu kalau yang masuk ke dalam kamar putranya adalah Aiden dan mbak Nanik. Tapi dia memilih abai karena fokus membacakan cerita putra tercintanya tersebut.
Aiden kemudian mendekati ke duanya, dia duduk di samping Karin. Kedua tangannya dia lingkarkan ke depan memeluk putra sekaligus istrinya, Aiden juga menaruh dagunya di pundak karin.
“Tangan ciapa cih ini? Pian kan lagi belmanja lia belcama mama,” Alvian berusaha menyingkirkan tangan kekar yang membuatnya terganggu saat sedang menikmati suara indah mama Karin yang sedang mendongeng untuk dirinya.
“Vian makan malam dulu, yuk! Tadi katanya lapar,” suara Aiden membuat Alvian mendongak. "Ehee. Papa halapan palcu lupanya,”
Aiden langsung melongo mendengar julukan putranya untuk dirinya. “Papa harapan palsu?”