Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25.
Pintu besar itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang tegang di dalam ruangan luas tersebut.
Kenan sudah duduk di sofa panjang, sementara di sampingnya duduk seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang tampak sangat profesional—Robi.
Kenan melirik Kiara yang berdiri mematung di tengah ruangan dengan wajah yang mendung.
"Duduk Kiara. sudah berapa kali aku bilang?"
"Tidak perlu Pak. Pak Kenan bilang saja sekarang maksud Bapak apa. jangan ditahan-tahan, saya mau dengar semuanya."
sahut Kiara dengan nada suara yang bergetar.
Kenan menghela napas panjang, mencoba bersabar.
"Aku memang mau bicara serius denganmu. duduk sekarang!"
"Tidak mau."
"Duduk Kiara."
"Pak, jangan bikin saya menangis di ruangan Bapak. cukup semalam saja saya dibuat sesak!" seru Kiara, matanya mulai berkaca-kaca.
Kenan mengernyitkan dahi, tampak bingung.
"Kamu kenapa? Apa yang membuatmu berpikiran begitu?"
"Silakan katakan saja seperti yang Bapak bilang semalam! mentang-mentang saya yang cium Bapak duluan. terus Bapak merasa terganggu dan mau pecat saya kan? Bapak mau ganti saya dengan Pak Robi?" cerocos Kiara tanpa henti.
Robi hanya bisa terdiam sembari mengulum senyum tipis. Ia memerhatikan Kiara dengan tatapan tertarik. pantas saja Pak Kenan menyukai wanita ini. dia benar-benar unik dan tidak terduga. batin Robi.
Kenan menatap Kiara dengan tatapan datar namun tajam.
"Yang mau pecat kamu itu siapa?"
"Jadi Pak kenan bukan mau pecat saya?" Mata Kiara melotot sempurna.
"Tentu saja tidak. Aku hanya mau kamu kembali ke divisimu, biar Robi yang tangani semuanya. kamu bisa lebih aman dan tidak terlalu terbebani." jelas Kenan tenang.
"Ahhhhhh! Pak Kenan! Aku kira Bapak benar-benar mau buang saya!" Tanpa berpikir panjang Kiara langsung mendekat dan duduk di pangkuan Kenan, melingkarkan lengannya di leher pria itu.
Aksi nekat itu membuat Kenan dan Robi tersentak kaget. Robi segera membuang muka sementara Kenan merasa jantungnya berdegup kencang secara mendadak.
"Kiara turun! ada Robi di sini!" bisik Kenan dengan suara berat.
Dia mencoba menjaga wibawanya meski tangannya secara refleks memegang pinggang Kiara agar tidak terjatuh.
"Tidak mau! Pak kenan bikin saya berpikir semalaman sampai terus terbangun karena mengira Bapak mau pecat saya. saya takut tahu Pak!" Kiara mengerucutkan bibirnya.
"Jadi itu alasan kamu menangis semalam?" tanya Kenan pelan.
Kiara mengangguk mantap.
Robi berdehem, mencoba memecah suasana yang terlalu privasi itu. Ia membuka sebuah map kulit yang dia bawa. di dalamnya terdapat buku rekening baru dan beberapa lembar dokumen resmi.
"Semua sudah saya alihkan atas nama Nona Kiara Pak. termasuk surat kepemilikan Penthouse itu." Ucap Robi.
"Baguslah." sahut Kenan singkat.
Kiara yang masih berada di pangkuan Kenan langsung terusik. Ia melepaskan pelukannya dan melirik dokumen itu.
"Apa yang atas namaku?"
"Lihatlah sendiri." Kata Kenan.
Kiara mengambil map itu dan membacanya dengan teliti. matanya membesar. "Pak... ini serius!? Penthouse saya yang dulu?"
"Tentu. itu yang kamu inginkan sejak awal bukan?"
Kiara tampak sangat senang selama beberapa saat, Ia bahkan hampir berteriak kegirangan. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah datar. Ia menaruh kembali map itu di atas meja dan menatap Kenan dengan tatapan menyelidik. wajah mereka terlalu dekat dan Kiara memasang raut marah.
"Apa Pak Kenan sedang meremehkanku?" tanya Kiara tiba-tiba.
"Ada apa lagi?"
"Ini belum saatnya Pak. kesepakatan kita itu tiga bulan. Pak Kenan pikir karena saya sangat butuh uang saya akan langsung terima ini begitu saja? ini soal prinsip Pak!" seru Kiara tegas.
Kenan menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Aku memberimu ini karena kamu pantas mendapatkannya setelah apa yang terjadi. anggap saja ini hadiah awal. Jadi, pilihannya cuma dua. ambil sekarang atau benar-benar aku pecat?"
Kiara dengan gerakan cepat Ia kembali menyambar map itu dan memeluknya erat di dada.
"Apa saya tidak dengar? tentu saja saya ambil! saya ambil Pak! sayang sekali kalau ditolak!"
Kenan hanya bisa tersenyum smirk melihat perubahan sikap Kiara yang begitu cepat.
"Dasar wanita aneh."
"Tapi saya tetap di divisi lama kan?" tanya Kiara memastikan.
"Iya atau kamu mau jadi manager?" Tanya kenan.
"Tapi apa itu tidak menyakiti manajer lama?" tanya Kiara dengan nada ragu.
Kenan menatapnya datar, seolah pertanyaan itu tidak masuk akal baginya.
"Mengapa disebut menyakiti?"
"Secara kan posisinya saya gantikan. pasti dia merasa tersingkirkan oleh staf baru seperti saya." jawab Kiara jujur.
Kenan menyandarkan punggungnya dengan Kiara yang masih duduk di pangkuannya dengan nyaman.
"Aku sudah melihat kinerjanya selama ini. dibandingkan dengan kemampuanmu, kamu memang pantas menduduki posisi itu. Aku tidak akan menawarkan jabatan jika otakmu bodoh. di perusahaanku hanya yang berkompeten yang bisa naik ke atas."
Mendengar pujian terselubung itu, rasa percaya diri Kiara langsung melonjak drastis.
"Ah benar juga, saya kan pintar! jenius malah!" serunya sambil terkekeh bangga.
"Tapi saya mau jadi staf biasa saja dulu Pak. belum siap mengurus mental anak buah."
Kenan mendengus pelan namun tidak memaksa.
"Hemm.. kalau itu mau."
"Baik Pak!" Kiara berdiri dengan semangat.
Sebagai tanda terima kasih, dia melakukan gerakan membungkuk formal yang sangat rendah. karena terlalu bersemangat, dia membungkuk hingga tubuhnya hampir terlipat dua.
Kenan terbelalak kaget. Ia refleks memundurkan tubuhnya saat melihat rambut panjang Kiara menjuntai bebas hingga menyentuh lututnya.
"Astaga, berdiri dengan benar! kau mau mematahkan pinggangmu?" gerutu Kenan meski jantungnya berdegup melihat tingkah ajaib Kiara.
Kiara tersenyum dan keluar dari ruangan Kenan. di sepanjang lorong dia mencium buku rekening itu berulang kali dan surat kepemilikan penthousenya.
"Pria berduit memang beda." Puji Kiara dengan bibir yang terus tersenyum.
Dia mengemasi beberapa barangnya untuk kembali ke Divisi lama.
***
Begitu Kiara melangkah masuk ke divisinya yaitu tim Analis. suasana yang tadinya tenang mendadak heboh.
Kedatangan Kiara yang tiba-tiba kembali ke meja lamanya membuat Lea, Grace, Tasya, Hugo dan Noah langsung mengerumuninya.
Beberapa staf dari divisi lain bahkan berpura-pura lewat hanya untuk menguping.
"Kiara!? demi apa kamu balik lagi ke sini?" seru Hugo dengan mata membelalak tak percaya.
"Bukannya kamu sudah jadi sekertaris Pak Kenan di lantai atas?" tambah Noah yang ikut penasaran.
Grace dan Lea hanya bisa melongo, sementara Tasya langsung memeluk lengan Kiara.
"Wah gila! kok bisa balik?"
Namun kegembiraan mereka langsung terpotong oleh suara tajam dari arah meja manajer. Yara, manajer wanita di divisi tersebut menatap Kiara dengan tatapan sinis.
"Jangan pikir karena pernah menjadi sekretaris Pak Kenan kamu bisa seenaknya di sini. kerjakan tugas kalian masing-masing jangan berisik!" bentak Yara dengan nada ketus.
Tasya segera mendekatkan wajahnya ke telinga Kiara, berbisik dengan nada kesal.
"Nenek sihir muka dua. awalnya dia mau mendekatimu karena berpikir kamu punya koneksi ke atas. begitu sekarang kamu pindah jabatan ke bawah, sikapnya langsung balik ke setelan awal."
Kiara hanya terkekeh pelan mendengar umpatan Tasya.
"Sudahlah, asalkan dia tidak berlebihan. untuk sikat balik kita tahan dulu." balas Kiara santai.
Tawa kecil Kiara rupanya justru memicu kemarahan Yara yang sejak tadi mengawasi.
Merasa wibawanya ditantang, Yara bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri meja Kiara.
BRAKK!
Yara melempar tumpukan dokumen yang sangat tebal ke hadapan Kiara hingga menimbulkan bunyi keras yang menggema di ruangan itu.
"Karena kamu sudah kembali, selesaikan semua data ini sebelum jam makan siang. jangan sampai ada kesalahan satupun!"
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭