“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peretas Cantik dan Jurus Mematikan
Pukul 20:00 Malam – Jamuan Romantis di Pasir Putih.
Setelah menghabiskan waktu yang sangat intim dan panas di kamar, Kaelthas membawa Ceisya turun ke bibir pantai. Suasana telah disulap menjadi sangat puitis; obor-obor minyak berdiri berjajar membentuk jalur menuju meja makan kayu yang elegan. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung gaun putih Ceisya.
Ceisya duduk dengan wajah yang masih tampak merona. Di depannya, Kaelthas duduk dengan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka tiga kancing teratas, memperlihatkan aura dominan yang belum luntur.
"Kamu terlihat lebih tenang setelah 'hukuman' tadi, Sayang," goda Kaelthas sambil menuangkan jus anggur ke gelas Ceisya.
"Tenang dari mana? Mas Sultan itu tenaganya kayak mesin diesel, nggak ada habisnya!" Ceisya membalas dengan wajah tengilnya, membuat Kaelthas terkekeh rendah.
Di kejauhan, Guntur berdiri tegap seperti patung di dekat pos pemantau satelit. Ia terus memantau tablet keamanannya, memastikan tidak ada satu pun lalat yang masuk ke area privasi tuannya. Guntur sempat melirik ke arah Kaelthas dan Ceisya dengan tatapan penuh hormat. Bagi Guntur, Kaelthas bukan sekadar atasan, tapi penyelamat yang menariknya dari lubang hitam mafia saat ia masih kecil. Kesetiaannya sudah tertanam di sumsum tulang.
Namun, tiba-tiba... BZZZT!
Tablet di tangan Guntur bergetar hebat. Layarnya terdistorsi oleh gelombang glitch hijau. Di saat yang sama, jam tangan pintar Kaelthas yang tergeletak di meja makan berbunyi nyaring dengan nada peringatan darurat.
"Kael, jamnya!" Ceisya langsung waspada. Sebagai ahli digital, ia tahu bunyi itu adalah tanda System Breach.
Kaelthas menyambar jam tersebut. Matanya memicing tajam saat melihat pesan yang muncul:
[SECURITY ALERT: UNAUTHORIZED SIGNAL FROM GUARD_01 (GUNTUR)]
"Guntur berkhianat?" gumam Kaelthas dengan suara dingin yang mematikan. Pistol peraknya langsung ia kokang dalam sekejap.
"Tunggu, Kael! Jangan gegabah!" Ceisya menarik tangan Kaelthas. "Guntur nggak mungkin berkhianat. Lihat gelombang sinyal ini, ini terlalu bersih untuk sebuah pengkhianatan. Ini Signal Spoofing!
Seseorang sedang memalsukan identitas Guntur untuk mengadu domba kalian!"
Tepat saat Ceisya berbicara, sebuah lampu sorot raksasa dari tengah laut menyambar wajah mereka. Raungan helikopter tempur terdengar mendekat dari balik kegelapan cakrawala.
"Tuan! Nona! Merunduk!" teriak Guntur dari kejauhan. Ia bukannya lari, tapi justru melepaskan tembakan peringatan ke arah laut, mencoba melindungi posisi Kaelthas meski sinyalnya dikloning oleh musuh.
"Sial, mereka sudah di sini!" Kaelthas merangkul bahu Ceisya, menariknya berlindung di balik meja beton besar saat rentetan peluru pertama menghantam pasir tempat mereka berdansa.
Di tengah hujan peluru, Ceisya melihat sosok pria berdiri di pintu helikopter yang mulai merendah. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kaelthas, namun dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Guntur benar-benar setia, Kael. Tapi kesetiaannya akan menjadi makam kalian malam ini!" teriak pria itu dari pengeras suara helikopter.
Ceisya menatap Kaelthas dengan berani. "Buka akses satelitmu sekarang, Mas Sultan. Kita tunjukkan pada kembaranmu itu bahwa dia salah besar sudah mengganggu bulan madu seorang peretas!"
Pukul 20:15 Malam – Pantai Barat Pulau Privasi.
Pasir putih yang tadinya menjadi saksi bisu kemesraan kini beterbangan, menciptakan badai kecil akibat rentetan peluru kaliber tinggi yang menghujam bumi. Kaelthas dengan sigap menarik pinggang Ceisya, membawanya berlindung di balik dinding bunker baja yang muncul secara otomatis dari bawah tanah pantai. Suara logam beradu dengan peluru menciptakan melodi kematian yang mengerikan.
"Guntur! Lapor posisi! Kenapa sistem pertahanan otomatis Virelion tidak merespons?!" raung Kaelthas pada perangkat komunikasi di telinganya.
"Tuan! Mereka menggunakan Zero-Day Exploit yang sangat canggih! Sistem kita di-bypass melalui jalur satelit cadangan yang seharusnya tidak aktif! Sinyal saya dikloning secara digital untuk mengunci otoritas saya ke pusat kontrol! Saya sedang menahan serangan infantri di sektor dermaga selatan dengan amunisi terbatas!" suara Guntur terdengar di sela-sela desingan peluru. Meski dalam tekanan besar, suaranya tetap tegas—menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan meski ia sedang dijebak secara digital oleh musuh.
Ceisya segera membuka tablet satelit yang diberikan Kaelthas. Cahaya biru dari layar tablet menerangi wajahnya yang tampak sangat fokus. Matanya yang tajam menatap barisan kode kernel yang berjalan cepat, ribuan baris perintah merayap seperti semut hitam di layar.
"Kael, ini bukan serangan peretas amatir. Mereka menggunakan teknik Brute Force yang dikombinasikan dengan Man-in-the-Middle attack! Mereka sudah menyusup ke lapisan Firewall ketiga kita!" teriak Ceisya di tengah suara ledakan.
"Bisakah kau tendang mereka keluar dari sistemku?" tanya Kaelthas sambil mengarahkan pistol peraknya, menembak jatuh seorang pria berseragam hitam yang mencoba mendekat dari arah semak-semak dengan akurasi yang gila.
"Kasih aku tiga menit untuk melakukan Reverse Engineering pada protokol mereka!" Jemari Ceisya menari lincah di atas layar virtual. Ia tidak lagi menggunakan antarmuka grafis biasa, melainkan masuk ke terminal perintah yang jauh lebih dalam.
$ ssh root@virelion-defense-grid --port 2222
$ access denied: unauthorized_identity
$ sudo exploit-backdoor --bypass-auth --force
"Sial, mereka mengunci port utama! Oke, kalau pintu depan dikunci, aku akan masuk lewat jalur ventilasi digital yang mereka anggap remeh." Ceisya mulai mengetikkan barisan kode Python yang ia susun secara spontan untuk membuat script peretas balasan. Tujuannya satu: mengambil alih kendali sistem radar dan menonaktifkan jammer musuh.
Namun, dua orang tentara bayaran berpakaian taktis berhasil melompati barikade beton dengan belati komando di tangan. Kaelthas saat itu sedang sibuk mengisi ulang peluru magnum-nya yang habis.
"Ceisyra, di belakangmu! Merunduk!"
Seorang pria bertubuh raksasa mengayunkan belatinya ke arah bahu Ceisya. Tanpa melepaskan tablet dari tangan kirinya, Ceisya menggunakan insting silat pesantrennya. Ia melakukan gerakan Langkah Sempok—merendahkan tubuhnya secara drastis hingga musuh itu hanya menebas angin.
SRETT!
Dalam satu gerakan yang mengalir seperti air namun kuat seperti baja, Ceisya melakukan Guntingan Bawah. Kedua kakinya menjepit kuat betis dan leher pria itu, lalu dengan sentakan pinggang yang terlatih, ia membanting pria seberat 90 kg itu hingga menghantam pasir dengan keras.
DUKK!
Belum sempat pria itu bangun, musuh kedua menerjang dari samping. Ceisya meluncur di atas pasir, lalu melancarkan Pukulan Sodok tepat ke arah ulu hati musuh tersebut. Ia menggunakan tenaga dalam yang terfokus, membuat pria itu terbatuk darah dan jatuh tersungkur.
"Jangan remehkan santriwati, Mas Sultan! Aku belajar silat bukan cuma buat hiasan, tapi buat menghajar orang-orang seperti mereka!" seru Ceisya dengan gaya tengilnya yang kembali muncul meski dalam bahaya.
Matanya kembali ke layar tablet. "Dapet! Aku sudah menyusup ke Command Center helikopter mereka lewat jalur Bluetooth frekuensi rendah yang mereka lupa enkripsi! Injecting Payload... Malware sent... Execute!"
Tiba-tiba, helikopter tempur yang sedang terbang rendah di atas pantai berguncang hebat. Lampu-lampu navigasinya berkedip gila—merah, hijau, biru—sebelum akhirnya sistem navigasinya dipaksa melakukan Emergency Reboot oleh Ceisya. Mesin helikopter itu mati sesaat, membuatnya kehilangan ketinggian dan terjerembap jatuh ke air dangkal dengan suara ledakan air yang dahsyat.
"Brengsek! Siapa yang berani merusak sistem navigasiku?!" teriak seorang pria yang keluar dari bangkai helikopter. Ia adalah Liam, saudara tiri Kaelthas yang memiliki luka bakar di wajahnya—pria yang selama ini terobsesi menghancurkan kerajaan bisnis Kaelthas.
Liam berlari ke arah Ceisya dengan amarah luar biasa, tangannya memegang kerambit perak. Namun, Kaelthas langsung menghadangnya. Dua pria dengan garis wajah serupa namun aura yang berbeda itu terlibat baku hantam yang brutal di pinggir pantai. Adu jotos dan tendangan terjadi dengan sangat cepat.
Kaelthas terkena pukulan telak di rusuk kiri, membuatnya terhuyung sejenak. Liam melihat celah itu, ia mengangkat kerambitnya, bersiap menyayat leher Kaelthas.
"MAS KAEL, MERUNDUK SEKARANG!"
Ceisya melesat bagaikan anak panah. Dengan jurus Lari Kijang, ia menempuh jarak lima meter dalam hitungan detik. Ia menangkap pergelangan tangan Liam, melakukan Tangkisan Dalam, dan memutar lengan Liam dengan teknik kuncian silat yang mematikan hingga sendi bahunya berbunyi KRAK.
"Argh! Kau wanita kecil, berani-beraninya!" umpat Liam menahan sakit.
"Jaga mulutmu, Iblis bertampang gosong!" Ceisya memberikan tendangan Sabit yang sangat keras tepat ke rahang Liam, membuatnya terpelanting dan jatuh mencium pasir yang basah.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca