Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Akhirnya, Luna memegang surat cerai asli di tangannya. Yang memiliki legalitas sah, bukan tipuan seperti sebelumnya. Dengan kedua orang tua yang selalu menemani, Luna keluar dari pengadilan. Sedangkan Arya hanya sendiri karena Tuan Budi dan Nyonya Aida telah pergi kembali ke negara tempat keluarga Santoso tinggal.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya ibu Luna ketika mereka sampai di rumah.
"Tidak apa-apa"
"Baguslah. Mulai sekarang, hiduplah dengan lebih bahagia!"
Luna mengangguk dan tersenyum. Lalu melepas kepergian kedua orang tuanya pulang keesokan harinya. Dan setelah apa yang terjadi selama dua Minggu terakhir, kali ini Luna benar-benar sendiri di apartemennya.
Dia memandangi surat cerai yang tetap ada di atas meja dan mendesah pelan. Kini semua telah berakhir. Jadi mantan suaminya itu tidak akan pernah lagi mengganggunya setelah ini. Dia bisa merajut mimpi untuk memiliki kehidupannya yang sederhana dan bahagia.
Kehidupannya setelah perceraian itu kembali seperti dulu. Sebelum Arya muncul kembali setelah hilang selama tiga tahun. Tapi kali ini ada yang berbeda. Dia tidak lagi pernah melihat mantan suaminya yang dulu sering tiba-tiba muncul.
Lama kelamaan ada rasa sepi merasuk dalam hatinya. Tapi hal itu coba Luna hempaskan dengan lebih fokus mengatur toko. Mengubah dekorasi, menambah ragam barang juga berencana untuk membuka usaha baru.
Hanya saja setiap pulang ke rumah, dia memiliki harapan untuk bertemu atau setidaknya melihat mantan suaminya. Sayang sekali keinginannya tidak pernah terwujud. Sampai di hari dimana dia melihat Arya duduk di sebuah restoran dengan seorang wanita. Bukan Marina mantan sahabatnya, melainkan seorang wanita dengan rambut panjang, wajah cantik keturunan campuran dan badan yang terbentuk sempurna.
Dibandingkan Luna, wanita itu jauh lebih cantik dan cocok dengan Arya.
"Bagaimana rasanya melihat mantan suamimu dengan wanita lain, selain aku?" tanya Marina yang mendadak muncul tanpa diundang.
"Kau disini?"
"Aku selalu mengikuti Arya. Aku pikir kalau muncul terus di hadapan Arya. Mungkin akan membuatnya tergoda lagi padaku. Tapi ternyata yang aku dapatkan hanya harapan kosong. Dan sekarang, sebuah kekecewaan besar. Dasar pria jahat!!"
"Untuk apa kau mengejarnya? Dia bukan lagi Arya yang dulu" kata Luna
"Apa maksudmu bukan Arya yang dulu?"
"Seperti katamu, dia adalah pemilik gedung apartemen, rumah dan sangat kaya. Bukan Arya yang muncul hanya menggunakan pakaian olahraga. Dan dia juga seseorang dengan keluarga lengkap. Ayah, ibu dan kakak. Bukan Arya yang membutuhkan kehadiran seseorang untuk menemaninya. Dia bukan Arya yang aku kenal. Juga bukan Arya yang kau kenal. Jadi Marina, hentikan pengejaranmu. Dia dan kita berada di dunia yang sangat berbeda sekarang" jelas Luna agar mantan sahabatnya itu mengerti.
"Mungkin kau benar, mungkin juga kau salah. Tapi yang terpenting bagiku, Arya sekarang bukan suamimu. Dan aku juga tidak mendapatkannya. Jadi tidak ada diantara kita yang mendapatkannya. Setidaknya itu membuatku lebih tenang"
Luna tersenyum kesal. Dia melihat Marina dan seperti melihat lagi sahabatnya yang dulu. Menyebalkan tapi selalu mengatakan hal yang benar, padanya.
"Kau sangat menyebalkan" ucapnya jujur lalu berlalu dari restoran yang ada Arya di dalamnya. Sedangkan Marina mengikutinya dengan sepatu yang mengganggu telinganya.
"Kau juga menyebalkan. Bagaimana bisa kau tidak membalas pesanku selama tiga tahun?"
"Kau berselingkuh dengan suamiku. Apa kau lupa?"
"Kami hanya berciuman satu kali. Satu kali saja dan itu juga hanya bibir yang menempel. Dia seperti menjaga agar semua itu tidak berkembang ke tahap selanjutnya"
"Tetap saja itu perselingkuhan. Kau sahabat yang menjijikkan" kata Luna ketika menginjak halte untuk menunggu bis.
"Ya, terserah saja. Tapi setidaknya kau memiliki pekerjaan sedangkan aku baru saja dipecat karena terlalu mencampuri urusan pribadi klien"
"Kau dipecat?"
"Iya"
"Mencampuri urusan klien, memangnya apa yang kau lakukan?"
"Apa lagi? Aku mengikuti Arya dan ingin naik ke apartemennya. Sayang sekali petugas keamanan melapor dan akhirnya aku dipecat"
Luna mendesah tak percaya kalau nasib Marina menjadi seperti ini. Tapi mereka tidak berteman lagi, jadi apapun yang terjadi pada Marina bukan urusannya.
"Bis-ku datang. Aku pulang!" kata Luna lalu tangannya ditarik oleh Marina.
"Tidak bisakah kau berempati padaku? Meminjamkan aku sedikit uang untuk hidup sebulan atau menawarkan pekerjaan?"
Luna tersenyum.
"Kita bukan lagi teman sejak tiga tahun lalu. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu dan juga tidak memiliki pekerjaan untuk ditawarkan"
"Kau jahat sekali" kata Marina melepas kepergian Luna ke dalam bus.
Mantan sahabatnya itu begitu tega. Padahal dia sudah merendahkan diri seperti itu, sampai melamar pekerjaan yang mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi Luna tetap menolaknya. Dia terpaksa berjalan kembali ke mobil dan tak sengaja berpapasan dengan Arya yang baru keluar dari restoran.
"Well, well, well. Ternyata ini calon istri baru Tuan Arya Mahendra?!" ejeknya kesal melihat betapa cantik dan anggunnya wanita yang berdiri di sebelah Arya.
"Marina, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku? Aku hanya berjalan kembali ke mobil setelah berbincang dengan mantan istrimu. Yang juga melihatmu duduk berdua dengan wanita ini"
Mendengar itu, Arya tidak bereaksi seperti yang dibayangkan Marina. Seperti tidak memiliki perasaan lagi pada Luna.
Mendadak dia tidak merasa Arya menarik lagi. Dan wanita yang ada di sebelah pria itu yang tampak seperti pewaris hotel mewah atau perusahaan besar, menghabiskan semangatnya. Marina kembali ke mobil dan marah pada dirinya sendiri.
Dia membuang waktu terlalu banyak untuk mengejar seseorang yang tak berharga. Lebih baik sekarang dia memikirkan dirinya sendiri. Mencari pekerjaan agar bisa membayar cicilan mobil dan sewa apartemen. Kalau tidak, dia akan tinggal di mobil seperti pengemis menyedihkan.
Tapi mencari pekerjaan tidak mudah untuknya. Apalagi portofolio yang dia sertakan selalu dikritik terlalu membosankan. Dia putus asa dan mulai mencari pekerjaan serabutan. Tidak peduli apapun itu asalkan bisa menghasilkan uang.
Hanya saja, pekerjaan yang dia dapatkan ternyata ada persis di sebelah toko mantan sahabatnya. Dan segera saja mata Luna terbuka lebar seperti mengejek ketika melihatnya memakai apron penjaga kedai teh.
"Jangan mengejekku!!" tegas Marina.
"Aku tidak mengejekmu. Dan selamat atas pekerjaan barumu"
"Kau jelas mengejekku!" kata Marina lalu masuk ke dalam kedai dan tidak mempedulikan keberadaan Luna lagi.
Setelah beberapa hari bekerja disana, Marina menyadari keberadaan seseorang yang sering ke toko mantan sahabatnya. Seorang pria yang tidak setampan Arya. Tapi kelihatan pintar seperti seorang pengajar.
"Dia seorang dosen di Universitas dekat sini. Sering sekali ke toko Luna. Dan jelas sekali sedang mengejar Luna" jelas teman kerja Marina ketika dia bertanya.
Seketika kilat terang menyambar mata Marina. Tidak tahu kenapa dia merasa bersemangat lagi. Kali ini, dia akan mendapatkan pria itu. Pria yang mengejar mantan sahabatnya.
tahi