NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Aroma bakso dan es jeruk beradu di udara kantin yang pengap siang itu. Syifa, Adiba, dan Jihan duduk di salah satu sudut meja kayu, berniat menikmati mangkuk soto mereka dengan tenang. Namun, ketenangan itu mendadak buyar ketika segerombolan mahasiswi di meja sebelah mulai menaikkan volume suara mereka dengan heboh.

​"Hah? Serius kalau inisial mempelai wanita di undangannya itu S? Sonia, mahasiswi semester delapan yang selebgram itu?"

​"Iya, beneran! Orang di medsosnya Sonia sempet upload foto kertas undangan estetik gitu, kelihatan jelas kok huruf S-nya!"

​"Ah, masa sih? Nanti undangan punya bapaknya lagi yang mau nikah lagi..."

​"Ih, bukan tahu! Tapi kata Bu Sri yang di bagian administrasi gedung rektorat, calon istrinya Pak Fadhlan itu emang dari kampus ini juga loh!"

​Mendengar nama Fadhlan dan spekulasi liar itu disebut-sebut, sendok di tangan Syifa mendadak terhenti di udara. Dadanya berdesir aneh. Ada rasa risi, kesal, sekaligus tidak nyaman yang bercampur menjadi satu.

​Jihan yang menyadari perubahan raut wajah Syifa langsung memasang wajah galak. Tanpa babibu, ia memutar tubuhnya menghadap gerombolan mahasiswi itu.

​"Heh, ukhti-ukhti salihah... jangan sok tahu gitu deh!" sela Jihan telak, membuat obrolan di meja sebelah langsung terhenti.

"Memang yang inisialnya S di kampus ini cuma Sonia aja gitu? Kan ada banyak yang lain. Contoh tuh; Salimah, Salsabila, Salma. Banyak!"

​Salah satu mahasiswi yang bergosip berdecak, menatap Jihan remeh. "Huh... Pak dosen tuh horang kaya, pewaris tunggal lagi. Enggak mungkinlah sama orang biasa. Di kampus ini kan yang anaknya orang paling berduit ya si Sonia itu. Masuk akal, kan?"

​"Kalau ternyata bukan dia, terus gimana dong?" ketus Jihan, nadanya meninggi karena sudah kepalang kesal melihat Syifa yang semakin menunduk dalam. "Kalau calon istri yang asli dengar ucapan kalian, pasti malu kan kamu semua nanti? Udah deh, jangan ngobrolin hal yang enggak jelas dan belum tentu benar!"

​Suasana di sekitar meja mereka mendadak tegang. Adiba yang sejak tadi menyimak langsung menyentuh lembut pergelangan tangan Jihan. "Udah, Jihan... jangan diterusin. Enggak enak dilihat yang lain," bisik Adiba menenangkan sahabatnya.

​Jihan mengembuskan napas kasar, lalu kembali menghadap mejanya sendiri. "Ihh, habisnya ngeselin banget tahu, Diba. Ya kan, Syif? Tiga hari lagi loh acara pernikahannya, tapi ada aja gosip yang bikin gue istighfar setiap hari di kampus ini."

​Syifa memaksakan sebuah senyuman tipis. Demi menutupi kegugupan yang mendera hatinya, ia mencoba menimpali dengan nada bercanda yang seolah tak peduli.

​"Ekhem! Bagaimana coba kalau calon istrinya itu ternyata bukan dari kampus ini? Atau... bahkan bukan seorang mahasiswi sini?" celetuk Syifa, diakhiri dengan kekehan kecil yang terdengar hambar di telinganya sendiri.

​Salah satu mahasiswi dari meja sebelah yang mendengar celetukan Syifa menyahut, "Oh iya, bisa jadi sih. Cuma buat berita viral atau taktik bisnis keluarganya aja."

​"Iya, kan?" Syifa cepat-cepat mengangguk, mencoba mengalihkan kecurigaan. "Kalian tahu sendiri gimana fans fanatik Pak Fadhlan dari kalangan mahasiswi sini yang suka ngehalu tingkat dewa. Apalagi mahasiswi-mahasiswi yang udah semester akhir, stres skripsi ditambah stres ditinggal nikah dosen idola."

​"Bener banget tuh kata Syifa!" sahut mahasiswi lain di dekat mereka sambil tertawa. "Aku sih ogah punya suami kayak Pak Fadhlan. Terlalu tampan dan kaya. Yang ada aku cemburu dan jantungan setiap hari, haha!"

​Gelak tawa pun pecah di area kantin itu. Syifa ikut tertawa kecil, bernapas lega karena berhasil mengaburkan topik.

​Namun, tawa itu tidak bertahan lama. Syifa mendadak merasakan atmosfer di sekitarnya mendingin. Sosok tinggi tegap berbalut kemeja abu-abu gelap dengan langkah berwibawa baru saja bergerak memutari meja stan minuman.

​Fadhlan. Pria itu ternyata ada di sana sejak tadi, sedang menunggu pesanan minumannya, dan tanpa sengaja telah mendengar seluruh percakapan mereka, termasuk kalimat Syifa yang menyebut para pengagumnya 'suka ngehalu'.

​Ketika Fadhlan berjalan melewati meja tempat Syifa dan kedua sahabatnya duduk, langkah kakinya sengaja diperlambat. Tatapan matanya yang tajam dan dingin lurus menghujam ke arah Syifa.

​"Mampus, ada orangnya weh..." bisik mahasiswi yang tadi bergosip, langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya.

​Jihan mendadak kaku, nyalinya menciut drastis. "Syif, Pak Fadhlan tuh... Dia kayaknya kesel deh," lirih Jihan dengan suara bergetar, sama sekali tidak berani menatap wajah sang dosen.

​Kantin yang tadinya bising mendadak senyap seketika bagi mereka. Syifa mencengkeram jilbabnya di bawah meja, kepalanya menunduk sedalam mungkin, menghindari kontak mata dengan Fadhlan. Ada rasa bersalah yang mendadak mencubit hatinya saat menyadari bahwa pria yang baru saja ia bicarakan adalah orang yang beberapa hari lagi akan menjadi imamnya.

...----------------...

Malam harinya, alam seolah sedang ikut bernyanyi dalam kesunyian. Gerimis rintik-rintik jatuh membasahi dedaunan di halaman rumah, menciptakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di teras rumah yang diterangi lampu kuning hangat, Syifa duduk di kursi kayu, bersandar dekat dengan Abi Musthofa dan Ummi Salwa.

​Menatap rintik hujan, dada Syifa mendadak sesak. Waktu berputar terlalu cepat. Tinggal menghitung hari, statusnya akan berubah, dan ia harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini.

​"Abi..." panggil Syifa, suaranya terdengar sangat kecil dan manja.

​Abi Musthofa menoleh, menatap putri sulungnya dengan binar mata yang penuh kasih. "Iya, Nak?"

​"Abi... kalau Syifa setelah menikah... masih tetap tinggal di rumah ini, tidak apa-apa kan?" tanya Syifa dengan tatapan memelas, jemarinya meremas ujung bajunya sendiri.

​Abi Musthofa terdiam sejenak. Beliau menghembuskan nafas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa berat seorang ayah yang harus melepaskan putri kecilnya. Putri yang dulu beliau timang, kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang siap dipersunting pria lain.

Setelah akad nikah nanti, seluruh tanggung jawab, dosa, dan perlindungan atas Syifa akan beralih sepenuhnya ke pundak suaminya.

​Abi Musthofa menggeser duduknya, lalu meraih tangan Syifa dan menggenggamnya dengan erat. "Nak... Abi yakin kamu sudah tahu betul apa saja hak dan kewajiban seorang istri di dalam Islam."

​Syifa menunduk dalam, matanya mulai terasa panas. "Insya Allah, Abi."

​"Pernikahan itu disebut sebagai mitsaqan ghalidza, sebuah perjanjian yang sangat kuat dan sakral di hadapan Allah," ucap Abi Musthofa, suaranya bergetar namun sarat akan ketegasan hidup.

​"Dalam ijab kabul nanti, Nak Fadhlan tidak hanya berjanji di depan Abi, tapi dia mengikrarkan janji di hadapan Allah SWT untuk bertanggung jawab penuh lahir dan batin atas dirimu. Dan saat itu pula, surga seorang wanita tidak lagi berada di bawah kaki ibunya, melainkan berpindah pada rida suaminya. Kewajibanmu adalah taat kepadanya, selama itu dalam kebaikan."

​Abi Musthofa mengusap punggung tangan Syifa yang terasa dingin. "Yang Abi tahu, Nak Fadhlan sudah menyiapkan rumah sendiri untuk kalian tinggal nanti. Kesibukannya pun sangat banyak. Tapi Abi sangat bersyukur, dia adalah pria yang matang dan bertanggung jawab. Kemarin, saat terjadi kesalahpahaman kecil di antara kalian, dia lebih memilih meninggalkan pekerjaannya di kantor, datang langsung ke rumah ini demi menjelaskannya secara jujur pada Ummi dan Abi. Dia sangat menghargai keluarga kita."

​Syifa terdiam, mendengarkan setiap petuah ayahnya dengan hati yang bergemuruh. Air matanya kini benar-benar menggenang di pelupuk mata.

Membayangkan bahwa setelah ini ia tidak bisa lagi bermanja-manja setiap waktu dengan orang tuanya, atau menjahili adik-adiknya di meja makan, membuat hatinya ngilu. Meskipun ia tahu ia masih bisa berkunjung, rasanya pasti akan sangat berbeda karena ia sudah menjadi milik orang lain.

​"Syifa paham, kan, apa maksud Abi?" tanya sang ayah dengan lembut.

​Syifa mengangguk pelan, air matanya menetes satu demi satu. "Iya, Abi... Syifa tahu kalau Pak Fadhlan... eh, maksud Syifa, Mas Fadhlan itu orang yang baik dan bertanggung jawab." Syifa menyeka pipinya.

"Tapi, Syifa mungkin... masih butuh waktu untuk benar-benar bisa menerima kehadiran beliau di dalam hidup Syifa."

​"Ya, memang begitu seharusnya, Nak. Semua hal di dunia ini butuh proses," sahut Abi Musthofa sambil tersenyum teduh. "Yang terpenting, jangan pernah putus untuk melibatkan Allah dalam setiap sujudmu. Harapan Abi, semoga rumah tanggamu bersama Nak Fadhlan kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan dikaruniai keturunan yang saleh serta salehah."

​"Aamiin ya Rabbal'alamiin... Ummi juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak," sahut Ummi Salwa yang sejak tadi duduk menyimak di sisi lain, ikut mengusap air mata di sudut matanya yang terharu.

​Syifa menoleh pada ibunya, wajahnya mendadak merona malu di balik sisa air matanya. "Ummi..." ucapan Syifa tertahan.

​"Putri kita ternyata sudah besar ya, Bi. Sudah mau jadi istri orang," goda Ummi Salwa, mencoba mencairkan suasana yang sempat mengharu biru. "Calon suaminya juga tampan, mapan, saleh lagi. Kurang apa coba?"

​"Ummi... jangan gitu ih!" protes Syifa sambil mengerucutkan bibirnya, membuat kedua orang tuanya terkekeh.

​Abi Musthofa ikut tersenyum jahil, melirik istrinya. "Kalau saja kakek kamu dulu punya anak perempuan lagi, mungkin kakek akan menjodohkan Nak Fadhlan dengan anak perempuannya, bukan dengan cucunya. Iya kan, Mi?"

​"Iya, emang pantesnya gitu! Biar dia jadi paman aku sekalian, jadi aku engga perlu nikah sama dosen sendiri!" celetuk Syifa asal, membela diri.

​"Serius nih?" sambung Ummi Salwa, menaikkan sebelah alisnya. "Nanti kalau Nak Fadhlan beneran diambil orang, ada yang merajuk dan nangis di kamar seperti kemarin nih..."

​"Engga akan!" elak Syifa cepat, wajahnya semakin memerah. "Di kampus aja banyak banget mahasiswi yang ngefans sama dia, tapi Syifa biasa aja tuh. Engga peduli."

​Ummi Salwa tertawa kecil, lalu menatap suaminya dengan tatapan penuh arti. "Bi, jangan percaya. Kemarin siang waktu di butik Tante Silvi, ada karyawan yang lihatin Nak Fadhlan terus. Eh, tahu-tahu langsung dipelototin sama Syifa sampai karyawannya ketakutan. Ada yang gengsi tapi takut calon suaminya hilang, nih."

​"Ih, Ummi! Jangan percaya Abi... Ummi sukanya melebih-lebihkan cerita deh!" Syifa merengek, menutupi wajahnya yang kini sudah terasa sangat panas karena rahasianya dibongkar.

​"Eh, kenapa mukanya merah begitu? Kayak tomat matang," goda Ummi Salwa lagi sambil mencubit pelan pipi putrinya yang menggemaskan.

​"Ummi, Abi... kenapa jadi ngeledekin Syifa sih? Syifa jadi pengin nangis beneran nih!" ujar Syifa dengan mata yang kembali berkaca-kaca, namun kali ini karena campuran rasa haru dan malu. "Pokoknya... nanti kalau Syifa udah nikah, terus menginap di sini, masih boleh kan?" tanya Syifa, nadanya kembali berubah menjadi penuh harap dan manja.

​Abi Musthofa menarik tubuh putri sulungnya itu ke dalam pelukan hangatnya. "Ya tentu saja boleh, sayang. Pintu rumah ini tidak akan pernah terkunci untuk anak perempuan Abi. Ummi dan Abi tidak akan pernah melarangmu pulang ke rumah ini."

​Syifa langsung merengkuh erat tubuh Abi dan Umminya, menumpahkan segala rasa haru yang membuncah di dadanya di tengah suara deru gerimis malam.

​Untuk saat ini, hati Syifa memang masih dilingkupi keraguan, dan ia belum sepenuhnya bisa menerima Fadhlan sebagai pria yang ia cintai. Namun, di dalam kehangatan pelukan orang tuanya, Syifa menyadari satu hal: rida Allah terletak pada rida orang tua. Dan ia berharap, seiring berjalannya waktu setelah ikatan suci itu terucap, cinta yang sesungguhnya akan tumbuh dengan sendirinya atas izin-Nya.

​Di sisi lain, Abi Musthofa dan Ummi Salwa hanya bisa berdoa di dalam hati. Mereka sangat berharap bahwa pernikahan ini adalah ketetapan terbaik dari Allah, yang kelak akan membuka kembali kotak ingatan masa kecil Syifa yang sempat terkunci, agar ia bisa mengingat kembali siapa sosok Fadhlan yang sebenarnya dalam hidupnya dulu.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!