NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu di ambang pintu

Dua minggu di Karimunjawa bukan lagi soal menikmati keindahan pantai, melainkan soal bertahan hidup di atas batas kewarasan. Kelaparan mulai menggerogoti. Mbah Sidik, yang saat itu masih berjiwa komandan muda, melihat anak buah dan warga desa mulai lemas. Ikan bakar sudah bosan dirasa, umbi hutan sudah mulai menipis.

"Tangan-tangan kita ini bukan untuk menggali kubur, tapi untuk memegang kemudi," bisik Sidik pada anak buahnya di bawah cahaya bulan yang pucat. GPS tak ada, radio rusak total karena terbentur karang, dan sinyal radio hanya menghasilkan suara kresek kosong yang menyiksa.

Di tengah keputusasaan, tepat pada hari ke-15, sebuah siluet raksasa memecah kabut pagi.

Sebuah kapal perang besar milik Portugis dengan bendera yang berkibar angkuh mulai bersandar di teluk dangkal pulau itu. Mereka butuh air tawar dan kayu bakar.

Mereka tidak tahu bahwa di balik pepohonan bakau yang lebat, mata sang komandan veteran sedang membidik mereka dengan ketajaman seekor elang.

"Inilah kiriman dari Tuhan," gumam Sidik sambil menoleh ke arah Zaenab. "Zae, bersiaplah. Kita tidak akan mati kelaparan di sini. Kita akan pulang dengan kapal mereka."

Sidik mengatur strategi dengan presisi bedah. Ia tidak menggunakan kekuatan kasar, melainkan strategi penyamaran dan kejutan.

Ia memerintahkan sebagian anak buahnya membakar tumpukan pelepah kelapa di sisi lain pulau untuk memancing perhatian musuh ke arah hutan.

Saat penjaga kapal sibuk melihat kepulan asap di hutan, Sidik dan segelintir prajurit terbaiknya berenang senyap di bawah permukaan air, memanjat lambung kapal dari sisi yang tidak terjaga.

Di atas dek, Sidik bergerak seperti bayangan. Dengan tangan kosong dan satu pisau belati, ia melumpuhkan penjaga pos kemudi dalam hitungan detik.

"Jangan ada suara! Ambil alih kemudi!" perintah Sidik dengan suara berat yang menggetarkan nyali anak buahnya.

Pertarungan jarak dekat meledak di dek kapal. Sidik bertarung seperti singa, menangkis sabetan pedang musuh dengan kemahiran yang luar biasa. Saat kapten kapal Portugis menyadari kapal mereka telah dibajak, kapal itu sudah terlepas dari jangkar dan mulai bergerak menuju perairan terbuka dengan Sidik yang kini berdiri di anjungan, memegang kemudi dengan tangan berlumur jelaga.

***

Kapal itu membelah ombak kembali ke daratan Jepara. Ketika kapal besar itu merapat di dermaga dengan bendera merah putih yang tiba-tiba dikibarkan oleh Sidik, warga kota menyambut dengan tangis haru. Mereka mengira Sidik dan warga lainnya sudah tewas ditelan badai.

Begitu kakinya menginjak tanah, Sidik tidak menunggu waktu lama. Ia langsung mencari Zaenab yang baru saja turun dari palka kapal dengan wajah yang kini lebih cerah.

Di depan seluruh warga dan komandan garnisun yang masih ternganga tak percaya, Sidik berlutut.

"Zae," katanya, suaranya lantang namun bergetar. "Aku sudah membawamu pulang dari pulau yang sepi, dari maut yang mencoba memisahkan kita. Di sini, di tanah ini, aku tidak butuh kapal besar atau medali perang. Aku hanya butuh kau sebagai rumahku. Maukah kau menikah denganku?"

Zaenab, yang tadinya dikenal sebagai wanita kaku dan keras, perlahan meneteskan air mata. Ia menarik tangan Sidik agar berdiri, lalu berbisik, "Akang memang orang gila yang nekat. Tapi ya, aku mau. Tapi ingat, kalau nanti Akang tetap suka bercanda saat aku sedang serius, aku akan kunci Akang di luar rumah!"

Kapal Portugis itu kini menjadi saksi bisu,

Tentang nekatnya seorang komandan yang rindu padamu.

Kita terdampar di pulau yang sunyi tanpa sisa,

Namun kembali membawa cinta sebagai harta terbesar manusia.

Di Jepara ini, sauh telah kuhempaskan,

Tak ada lagi laut yang harus kita taklukkan.

Cukup tatapan matamu yang menjadi peta hidupku,

Cukup rumah kecil kita yang menjadi surga bagi langkahku.

Zae, kita bukan lagi buronan badai atau perang,

Kita adalah dua jiwa yang akhirnya sampai ke padang yang terang.

Mulai hari ini, setiap derit ontelku adalah irama,

Tentang kisah kita yang abadi dan selamanya bersama.

Dan begitulah, sang veteran yang dulu menaklukkan Benteng Portugis, akhirnya menaklukkan hati seorang gadis yang pernah ia selamatkan. Mereka menikah dalam kesederhanaan yang agung, mengawali kehidupan yang nantinya akan melahirkan banyak kisah—termasuk kehadiran Ahmad, si anak titipan langit, yang kini sudah besar dan mendengar cerita ini dengan mata berbinar di bawah pohon beringin.

***

Mbah Sidik menghela napas panjang, menatap langit senja yang mulai meredup. Suaranya memberat saat bagian cerita ini dimulai. Ia ingin Ahmad paham bahwa keberanian seorang lelaki bukan hanya saat memegang senjata di medan perang, tapi juga saat menjaga perasaan wanita yang ia cintai.

Setelah kepulangan heroik dari Karimunjawa, Sidik tidak langsung berpesta. Di rumahnya yang sederhana, ada seorang wanita yang sedang berjuang melawan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun. Istri pertamanya, Maryam.

Sidik duduk di samping tempat tidur Maryam, menggenggam tangannya yang mulai kurus. Dengan kejujuran seorang prajurit, Sidik menceritakan segalanya—tentang penyelamatan di Benteng Portugis, tentang dua minggu yang penuh maut di Karimunjawa, dan tentang Zaenab yang telah membantunya menjaga nyawa warga.

"Nyai," bisik Sidik dengan suara serak. "Aku tidak ingin mengkhianati baktimu. Tapi di pulau itu, aku telah berjanji untuk menjaga Zaenab."

Maryam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan keikhlasan yang luar biasa. "Akang, aku ini sudah lama sakit. Aku merasa ragu ku tak lagi kuat menemanimu melangkah jauh. Zaenab adalah wanita yang baik, dia sudah teruji oleh badai. Jika dia bisa menjagamu saat aku tak berdaya, maka aku ridho. Menikahlah dengannya, Kang. Setidaknya, hatiku tenang tahu ada yang akan mengurus mu dan anak-anak kita nanti."

Restu itu turun bagai embun di tengah padang pasir. Dengan ridhi dari Maryam, Sidik pun menikahi Zaenab dalam sebuah upacara yang sangat bersahaja.

***

Bulan-bulan pertama pernikahan mereka adalah potret ketulusan yang langka. Zaenab tidak datang sebagai saingan, melainkan sebagai saudara. Dengan telaten, Zaenab-lah yang justru paling sering menyuapi Maryam, membersihkan tempat tidurnya, dan menghibur Maryam dengan cerita-cerita lucu yang ia dengar dari Sidik.

Zaenab belajar banyak tentang kesabaran dari Maryam, sementara Maryam merasa mendapatkan kekuatan baru dari kehadiran Zaenab. Namun, takdir manusia tetaplah milik Sang Khalik.

Suatu malam, tepat saat rembulan purnama, napas Maryam terasa kian berat. Sidik dan Zaenab duduk di sisi kiri dan kanannya. Maryam membisikkan pesan terakhirnya agar Zaenab menjaga anak-anak mereka dengan sepenuh hati, lalu dengan bimbingan kalimat tauhid dari Sidik, Maryam menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Ikhlas yang Tak Terukur

Ada hati yang melapang saat raga kian menyempit,

Melepaskan restu di tengah rasa sakit yang menjepit.

Maryam, kaulah bidadari yang membuka pintu ridho

Membiarkan cinta baru tumbuh tanpa ada rasa noda.

Dua bulan kebersamaan, menjadi kenangan yang suci,

Di mana cemburu luluh oleh bakti yang tak terbagi.

Kau pergi saat fajar mulai menyapa dunia,

Meninggalkan jejak kasih yang takkan pernah fana.

Zaenab meneruskan estafet doa yang kau tinggalkan,

Menjaga tunas-tunas kita dalam setiap pelukan.

Terima kasih atas ridho yang kau bentangkan seluas samudera,

Hingga rumah kita tetap hangat, meski duka sempat menyapa.

Mbah Sidik terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca mengingat almarhumah Maryam. "Itulah sebabnya, Ahmad, kenapa Ibu Zaenab begitu menyayangi kakak-kakakmu. Karena di dalam diri mereka, ada darah Ibu Maryam yang telah merestui kehidupan kita sekarang."

Ahmad mengangguk pelan, ia baru mengerti bahwa keluarga mereka dibangun di atas fondasi pengorbanan yang sangat besar. Zaenab yang sedari tadi mendengarkan dari balik jendela, mengusap air matanya. Ia selalu merasa bahwa Maryam tetap hadir dalam setiap doa-doa yang mereka panjatkan setiap malam.

"Sekarang, Ahmad sudah tahu," ucap Mbah Sidik sambil berdiri. "Ayo masuk, sebentar lagi Maghrib. Kita doakan Ibu Maryam agar tenang di sisi-Nya."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!