NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Persimpangan Lereng

“Tapi apa yang lebih menakutkan, Endang?” lanjut Agus, suaranya merendah menjadi bisikan konspiratif. “Kehilangan kehormatan yang tidak terlihat, atau kehilangan segalanya yang kita miliki? Rumah ini, masa depan kita, peluang untuk memiliki kehidupan yang layak? Kita akan menjadi pengemis, Endang, jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang.”

Ia memaksa Endang menatap matanya. "Aku tidak memaksamu. Aku tidak akan pernah menjualmu. Kita hanya mencari tahu. Itu saja. Kita pergi ke Gunung Gumrebek, kita temui Ki Joladrang, perantara yang mungkin Kuskandar maksud, dan kita dengarkan detailnya. Jika memang ritualnya adalah seperti yang kau baca di forum gila itu, kita tinggalkan. Kita putar balik, kita hadapi penyitaan ini bersama-sama, dan kita mulai dari nol. Bagaimana?"

Agus tahu Endang tidak akan memilih nol. Endang sudah terlalu lama hidup dalam ilusi kemewahan yang ia ciptakan, terlalu jauh dari kemiskinan masa lalu mereka.

“Tapi… Lanang Sewu,” kata Endang, suaranya lemah.

“Hanya mencari tahu,” Agus mengulangi, menanamkan janji palsu itu kuat-kuat di benak Endang. Ia menyeka air mata Endang dengan ibu jarinya. “Demi kita. Demi memastikan bahwa kita telah menjelajahi setiap pilihan. Kalau kita gagal, setidaknya kita tidak akan menyesal karena tidak mencoba jalan terakhir.”

Endang memejamkan mata. Kata-kata Agus menusuk tepat pada titik lemahnya: penyesalan. Ia tidak bisa membayangkan melihat Agus hancur lebur, kembali menjadi pecundang yang gagal. Jika ada peluang sekecil apa pun untuk menyelamatkan mereka, bahkan jika itu berarti mengorbankan sedikit prinsip moralnya, ia harus mencobanya.

 “Janji padaku, Gus,” ucap Endang, suaranya nyaris tak terdengar. “Janji padaku bahwa jika itu melibatkan… itu, kita akan pergi.”

“Aku janji,” kata Agus, berbohong dengan mata yang tulus dan bibir yang tersenyum lega. Senyum itu adalah kemenangan pertamanya. Ia telah mematahkan resistensi Endang, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kebohongan yang manis.

*

Dua hari kemudian, mobil butut mereka yang sudah lama tidak diservis melaju terseok-seok di jalanan pedesaan yang semakin sempit dan berlubang.

Perjalanan itu sunyi dan tegang. Endang duduk di kursi penumpang, memeluk tas ransel berisi pakaian dan bekal seadanya. Ia menolak berbicara, menolak menanyakan tujuan pasti mereka, menolak mengakui bahwa mereka sedang dalam misi bunuh diri spiritual.

Agus, sebaliknya, tampak bersemangat. Ia menyenandungkan lagu-lagu lama, sesekali merokok dan membuang puntungnya ke luar jendela. Baginya, perjalanan ini adalah petualangan bisnis yang berisiko tinggi.

“Kau harus lebih santai, Endang,” kata Agus, menyadari ketegangan istrinya. “Kita sudah jauh dari kota. Tidak ada yang bisa menemukan kita di sini.”

“Aku tidak khawatir tentang polisi,” balas Endang dingin, menatap ke luar jendela. Pemandangan di luar kini didominasi oleh hutan lebat, bukan lagi sawah. “Aku khawatir tentang apa yang menunggu kita di dalam hutan itu.”

“Hanya seorang dukun tua yang mungkin terlalu banyak bicara,” Agus mengecilkan masalah itu. “Bayangkan, Sayang. Begitu kita kembali, kita akan membeli vila yang lebih besar dari yang diiklankan bank untuk disita. Kau bisa berhenti berpikir tentang tagihan selamanya.”

Endang tidak merespons. Ia melihat perubahan pada pepohonan di sisi jalan. Awalnya hijau dan hidup, kini pohon-pohon itu tampak lebih tua, lebih gelap, dengan dahan-dahan yang bengkok seolah-olah sedang merangkul sesuatu yang buruk. Cahaya matahari yang masuk ke dalam mobil terasa berkurang drastis, digantikan oleh hawa lembap yang dingin.

Mereka telah memasuki wilayah lereng Gunung Gumrebek, sebuah nama yang dulunya hanya legenda, kini menjadi kenyataan yang mencekik.

“Sepertinya kita hampir sampai,” gumam Agus, menurunkan kecepatan. Jalanan tanah berbatu kini berganti menjadi lumpur keras.

Endang menunjuk ke depan. Tepat di hadapan mereka, jalanan itu lenyap. Ada sebuah batas tak kasatmata yang ditandai oleh dua batu besar yang diselimuti lumut hijau tua. Di antara dua batu itu, terbentang hutan yang tampak terlalu gelap untuk dimasuki pada sore hari. Pohon-pohon di sana tumbuh terlalu rapat, dan ada keheningan yang aneh; tidak ada suara serangga, tidak ada kicauan burung.

“Ini dia,” kata Agus, jantungnya mulai berdebar kencang. Ada campuran ketakutan dan kegembiraan yang memabukkan. “Pasti Ki Joladrang ada di balik batas itu.”

Agus menginjak gas, berniat melintasi batas batu besar itu. Ia ingin melewati batas fisik ini, seolah-olah melewati batas moralnya sendiri.

Tepat saat roda mobil butut itu menyentuh tanah di antara dua batu lumut, terdengar bunyi benturan logam yang keras dan mengerikan, diikuti oleh suara mendesis dari mesin yang panas.

Mobil itu terhenti seketika, tubuh mereka terlempar ke depan. Bau asap tebal dan oli panas segera memenuhi kabin.

Agus memaki, mencoba menyalakan mesin lagi, tetapi mesin itu hanya mengeluarkan bunyi ngiung yang menyakitkan, dan kemudian diam total.

“Sialan!” seru Agus, memukul setir. “Apa yang terjadi?”

“Kita sudah sampai, Gus,” kata Endang, suaranya datar.

Agus melihat ke luar jendela. Mobil mereka mogok, tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Mereka terjebak tepat di persimpangan, di ambang pintu masuk ke hutan terlarang.

Agus membuka pintu mobil dengan kasar dan melompat keluar. Ia membanting kap mesin dan mencoba melihat ke dalam, tetapi hanya asap putih tebal yang menyambutnya.

“Tidak mungkin,” desis Agus. “Aku sudah mengecek oli. Ini pasti sabotase!”

Ia berbalik, menatap hutan gelap di belakang batu. Tidak ada angin, tetapi dedaunan di pohon-pohon kuno itu tampak bergetar.

Endang keluar dari mobil, mengabaikan asap yang mengepul. Ia menatap ke dalam hutan, dan ia merasa seolah-olah hutan itu sedang menatap balik.

“Ini bukan sabotase, Gus,” kata Endang pelan. “Ini adalah sambutan.”

Tiba-tiba, suara deru mobil yang mereka kendarai tadi menghilang sepenuhnya, digantikan oleh keheningan yang begitu pekat sehingga terasa seperti suara tersendiri. Di tengah keheningan itu, Endang mendengar bisikan samar, seolah-olah angin membawa kata-kata dari dalam hutan.

“Selamat datang, Pengantin.”

Jantung Endang mencelos. Ia menoleh ke arah Agus, yang masih sibuk mencoba membuka kap mesin, wajahnya penuh frustrasi.

“Kita harus pergi dari sini, Gus. Sekarang!” desak Endang, meraih lengan suaminya.

“Aku tidak bisa pergi, Endang! Mobilnya rusak! Aku harus—”

Belum sempat Agus menyelesaikan kalimatnya, dari balik pohon-pohon kuno yang gelap, Endang melihat kilatan cahaya yang sangat cepat dan dingin, seperti bayangan yang bergerak dengan kecepatan abnormal. Sosok itu tidak bisa dilihat dengan jelas, tetapi kehadirannya terasa seperti badai yang mendekat.

Sosok itu muncul dari balik batang pohon raksasa. Seorang pria, mengenakan busana Jawa klasik, tetapi wajahnya tampan dan menakutkan, matanya memancarkan cahaya.

Raden Titi Kusumo.

Ia berdiri di batas hutan, menatap Agus dan Endang dengan senyum tipis, mencemooh. Ia tidak terlihat marah, ia terlihat... puas.

“Kau terlambat,” suara Raden Titi Kusumo bergema, tidak keras, tetapi jelas terdengar di tengah keheningan itu. “Aku sudah lama menunggu kedatanganmu di lereng ini.”

Agus membeku. Ia menoleh ke arah Endang, matanya melebar karena teror. Ini bukan Ki Joladrang, ini adalah entitas itu sendiri!

Endang merasakan energi dingin yang memancar dari sosok itu, menusuk hingga ke tulang. Ia tahu, janji ‘hanya mencari tahu’ Agus telah gagal total. Mereka tidak punya waktu untuk bernegosiasi, mereka telah diseret ke dalam jebakan.

Raden Titi Kusumo mengambil satu langkah maju dari batas pohon, dan pada saat yang sama, mobil butut mereka mengeluarkan bunyi pop kecil yang mematikan, dan semua lampu di panel dasbor mati total. Mereka benar-benar terisolasi.

“Sekarang,” kata Titi Kusumo, suaranya bergetar dengan antisipasi yang gelap, “mari kita bicarakan harga dari kekayaan yang kau dambakan itu.”

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!