Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Penggerebekan Salah Sasaran dan Sup Pereda Mabuk
[Dapur Utama - Tengah Malam]
"Arga! Sadar! Ini aku, Tantri! Bukan guling!"
Aku berusaha mendorong dada bidang Arga sekuat tenaga. Tapi sia-sia. Tenaga Jenderal perang yang sedang dikuasai obat perangsang itu seperti kerbau gila. Dia tidak bergerak satu inci pun.
Wajahnya terbenam di leherku, bibirnya yang panas menempel di kulitku, membuatku merinding disko. Tangan kekarnya mencengkeram pinggangku erat, seolah takut aku lari.
"Wangi..." gumamnya lagi, suaranya berat dan serak. "Jangan pergi... Laras racun... Kau obat..."
Jantungku berdegup kencang. Bukan karena romantis, tapi karena panik!
Kalau kami kebablasan di sini, di atas meja dapur yang penuh potongan mangga muda, ini akan jadi skandal paling memalukan. Dan Arga sedang tidak sadar! Aku punya prinsip: No consent, no touch. Aku tidak mau memanfaatkan orang mabuk.
Mataku liar mencari pertolongan.
Tidak ada siapa-siapa. Panji si pengecut sudah kabur.
Mataku tertumbuk pada gentong air besar di sudut meja. Di dalamnya ada gayung batok kelapa.
"Maaf ya, Jenderal. Ini demi kebaikanmu," bisikku.
Aku menggapai gayung itu dengan susah payah.
Dapat!
Aku menciduk air dingin seperlunya.
"ARGA! KEBAKARAN!" teriakku di telinganya.
BYUURRR!
Aku menyiramkan air dingin itu tepat ke wajah dan dada Arga yang terbuka.
Arga tersentak hebat seperti kesetrum. Dia mundur selangkah, melepaskan pelukannya, terbatuk-batuk kaget. Air menetes dari rambut dan hidung mancungnya. Matanya berkedip-kedip, kabut merah gairah di matanya sedikit memudar tergantikan oleh rasa kaget.
"Hah... Hah... Apa yang..." Arga mengusap wajahnya yang basah, menggigil kedinginan.
"Kamu kepanasan, Jenderal. Jadi kubantu dinginkan," kataku sambil ngos-ngosan, membetulkan kerah kebayaku yang berantakan.
Arga menatapku bingung, lalu menatap tubuhnya yang basah kuyup. Obat itu masih bekerja, tapi siraman air dingin memberinya sedikit kesadaran logis.
Tepat pada saat itu...
"TANGKAP MEREKA! DOBRAK PINTUNYA!"
Suara teriakan Laras terdengar melengking dari luar.
Disusul suara langkah kaki banyak orang. Obor-obor menyala terang di balik jendela.
BRAK! BRAK! Pintu dapur yang sudah didobrak Arga tadi, didorong lagi hingga terbuka lebar.
Masuklah rombongan "Polisi Moral" pimpinan Laras.
Ada Laras (wajahnya penuh semangat untuk mempermalukanku), Kepala Pelayan Rumah Tangga (saksi), dan lima orang prajurit jaga.
"Lihat! Lihat kelakuan bejat wanita ini!" Laras menunjuk ke arahku tanpa melihat situasi dulu. "Dia memasukkan laki-laki lain ke dapur saat Jenderal lelah! Dia berselingkuh de—"
Kalimat Laras terhenti di tenggorokan.
Matanya membelalak. Mulutnya menganga.
Pemandangan di depannya bukanlah Tantri yang sedang bermesraan dengan Pangeran Panji atau pria asing.
Melainkan Tantri yang sedang berdiri di depan meja dapur... bersama Jenderal Arga.
Arga berdiri tegak (walau agak goyah), dadanya basah kuyup terekspos, rambutnya acak-acakan, wajahnya merah padam. Dia terlihat sangat... liar dan intim.
Posisi mereka jelas menunjukkan habis ada "kegiatan fisik".
"Jen... Jenderal?" cicit Laras. Wajahnya pucat pasi.
Arga menoleh perlahan ke arah pintu. Tatapannya yang tadi sayu karena obat, kini berubah menjadi tatapan membunuh saat melihat Laras.
Dia ingat siapa yang memberinya minuman "beracun" itu.
"Apa maumu, Laras?" suara Arga rendah, menggeram seperti harimau yang diganggu saat kawin.
"Laras... Laras kira... ada maling... ada laki-laki asing..." Laras tergagap, mundur ketakutan.
"Laki-laki asing?" Arga melangkah maju satu langkah, membuat para prajurit di belakang Laras gemetar dan menunduk hormat (takut melihat bos mereka setengah telanjang).
"Aku ada di sini bersama istriku. Di rumahku sendiri. Apa itu masalah buatmu?"
DEG.
Kata "Istriku" meluncur mulus dari bibir Arga. Tanpa ragu. Tanpa jijik.
Laras merasa ditampar bolak-balik.
"T-tapi Jenderal... kenapa basah... kenapa..."
"KELUAR!" bentak Arga. Suaranya menggelegar memecah malam. "Keluar kalian semua! Atau kupenggal kepala kalian karena mengganggu privasiku!"
Para prajurit langsung lari terbirit-birit tanpa disuruh dua kali. Kepala Pelayan pun ikut kabur.
Tinggal Laras yang mematung, air mata (kali ini asli karena sakit hati) menggenang di matanya. Rencananya hancur total. Obat perangsang yang dia kasih, malah dipakai Arga untuk bermesraan dengan Tantri!
"Jenderal jahat..." isak Laras, lalu berbalik dan lari sambil menangis meraung-raung.
Pintu dapur kembali sepi.
Aku menghela napas panjang, bersandar di meja dapur. "Wow. Drama yang epik."
Aku menoleh ke Arga. "Hei, Jenderal. Aktingmu bagus ju—"
BRUK.
Arga ambruk ke lantai. Pingsan.
Kombinasi obat kuat, alkohol, siraman air dingin, dan emosi meledak-ledak membuat sistem tubuhnya shutdown.
"ARGA!" Aku panik.
[Kamar Tantri - Pagi Hari]
Sinar matahari menerobos masuk lewat celah jendela yang kacanya sudah diganti papan kayu (bekas lemparan batu kemarin).
Di atas kasurku yang tidak terlalu empuk, Arga menggeliat bangun.
Dia memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Rasanya seperti ada orkestra dangdut koplo di dalam tengkoraknya.
Dia membuka mata. Langit-langit kamar ini asing. Banyak sarang laba-laba di pojok.
"Sadar juga akhirnya. Kukira kau koma."
Arga menoleh.
Di kursi kayu dekat jendela, aku duduk sambil mengupas apel dengan pisau Damaskus baruku.
Aku sudah mandi, wangi sabun sereh, dan terlihat segar.
"Di mana ini?" suara Arga serak.
"Kamarku. Kamar pengasingan," jawabku santai. "Semalam kau pingsan di dapur. Badanmu berat banget kayak karung beras, jadi aku seret ke sini karena lebih dekat daripada paviliunmu."
Arga mencoba mengingat kejadian semalam.
Minum anggur di tempat Laras... Panas... Lari ke dapur... Ada Panji... Memeluk Tantri... Disiram air... Melabrak Laras...
Wajah Arga memerah sampai ke telinga. Dia ingat semuanya.
Dia ingat bagaimana dia merengek minta "diobati". Dia ingat dia mencium leher Tantri. Dia ingat dia mengusir Laras demi membela Tantri.
Arga menarik selimut menutupi dadanya (dia sadar dia bertelanjang dada karena jubahnya basah semalam).
"Maaf," ucapnya pelan, tidak berani menatap mataku. "Semalam aku... tidak terkendali."
"Lupakan," kataku, memotong apel dan memakannya. "Anggap saja efek samping keracunan. Tapi lain kali hati-hati kalau minum di tempat Laras. Dia itu agresif."
Arga terdiam. Kemarahannya pada Laras kembali muncul. Dia tidak menyangka Laras senekat itu.
"Makanlah ini," aku berdiri, mengambil mangkuk dari meja nakas. "Sup Ikan Asam Pedas. Bagus buat hangover (mabuk)."
Arga menerima mangkuk itu.
Sup ikan dengan kuah bening kemerahan, banyak potongan tomat, belimbing wuluh, kemangi, dan cabai rawit utuh. Baunya segar sekali. Asam dan pedas.
Arga menyeruput kuahnya.
Slurp.
Rasa asam dari belimbing wuluh langsung menendang rasa mual di perutnya. Pedasnya cabai membuat keringat keluar, membuang racun sisa alkohol. Matanya langsung melek.
"Enak?" tanyaku.
"Segar," jawab Arga jujur. Dia makan dengan lahap. Ikan gabus di dalamnya lembut dan gurih.
Setelah mangkuknya kosong, Arga meletakkannya di meja. Dia menatapku serius.
"Tantri."
"Ya?"
"Mulai hari ini, kau tidak lagi dalam masa pengasingan."
Aku mengangkat alis. "Oh ya? Jadi aku bebas?"
"Ya. Kau boleh keluar masuk rumah ini sesukamu. Dan..." Arga ragu sejenak. "Aku akan memindahkan barang-barangku ke kamar utama di Gedung Tengah. Kau juga pindah ke sana."
"Hah?" Aku kaget. Gedung Tengah adalah kamar resmi Jenderal dan Istri Sah. Selama ini kosong karena Arga tinggal di barak atau paviliun pribadi, dan Tantri diasingkan di belakang.
"Kenapa? Takut aku ngeracunin Laras lagi?"
"Bukan," Arga turun dari ranjang, mengambil jubahnya yang sudah kering (dijemur Sari) di kursi. Dia berdiri tegak, kembali menjadi Jenderal yang berwibawa.
"Karena aku butuh seseorang untuk mengawasi makananku setiap hari. Aku tidak percaya lagi pada dapur Laras."
Arga berjalan ke pintu. Dia berhenti sejenak, menoleh padaku.
"Dan... terima kasih sudah tidak memanfaatkan keadaanku semalam. Kau wanita terhormat, Tantri."
Dia pergi.
Meninggalkan aku yang bengong sambil memegang pisau Damaskus.
Pindah ke kamar utama? Tidur satu gedung sama dia?
Ini kemajuan atau bencana?
Di satu sisi, posisiku sebagai Nyonya Besar makin kuat.
Di sisi lain, jantungku kok deg-degan ya?
"Sadar, Kirana! Jangan baper! Dia cuma butuh koki pribadi!" omelku pada diri sendiri sambil menepuk pipi.
Tapi senyum di bibirku tidak bisa bohong.
Jenderal Iblis itu... ternyata bisa manis juga kalau sudah jinak.
[Paviliun Teratai Putih - Pagi Hari]
Laras menatap cermin dengan mata bengkak.
Berita pagi ini sudah menyebar: Jenderal Arga memerintahkan pelayan memindahkan barang-barang Tantri ke Gedung Tengah.
Itu adalah tamparan keras. Itu adalah pengumuman resmi bahwa Arga mengakui Tantri sebagai Istri Utama yang sesungguhnya.
"Kurang ajar... Kurang ajar..." Laras meremas sisir di tangannya sampai patah.
"Nona..." pelayan pribadinya masuk membawa surat. "Ada surat dari Istana Raja."
Laras menyambar surat itu.
Itu surat undangan.
Undangan Perjamuan Agung Ulang Tahun Raja.
Tiga hari lagi.
Mata Laras berbinar licik.
Perjamuan Agung. Seluruh bangsawan akan hadir. Tantri, si wanita kampung yang kasar dan tidak tahu tata krama, pasti akan ikut karena dia sekarang Istri Utama.
"Ini kesempatanku," gumam Laras. "Di rumah ini, dia mungkin menang lewat masakan. Tapi di Istana? Di depan Raja dan para bangsawan? Dia akan menjadi bahan tertawaan."
Laras tersenyum jahat.
"Tantri tidak bisa menari. Tantri tidak bisa main musik. Tantri tidak tahu etika makan ala bangsawan. Aku akan mempermalukannya sampai dia ingin bunuh diri."
Laras menatap pantulannya di cermin.
"Tunggu saja, Kakak. Panggung istana akan menjadi kuburanmu."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal