"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 ~ Pertengkaran berakhir Fatal
...🍁🍁🍁...
Pertengkaran antara Ammar dan Dhina tidak bisa dihindari. Itu semua terjadi karena mood Ammar yang sedang tidak baik sehingga orang sekitar menjadi sasarannya.
Dhina pun berjalan keluar dari gedung seraya menarik tangan Ammar. Sementara Sadha dan Dhana yang jauh di belakang mereka berusaha terus memantau dan mengikuti keduanya. Setelah sampai di luar gedung dan cukup jauh dari keramaian, Dhina yang dari tadi menahan emosinya pun langsung meluapkan isi hatinya pada Ammar. Sedangkan Ammar yang moodnya tidak baik, juga sudah terbawa emosi melihat sikap Dhina.
"Lepaskan tangan Mas, Dek! Adek ingin membawa Mas ke mana?" seru Ammar yang menepis kasar tangan sang adik.
"Kenapa memang?" tanya Dhina yang menatap tajam ke arah Ammar.
"Adek yang kenapa? Kenapa Adek jadi seperti ini? Kenapa Adek terkesan membela Imam? Adek suka sama pria itu?" serkas Ammar yang membentak seraya menunjuk Dhina.
"Adek tidak membela siapapun, Mas. Adek hanya tidak mengerti saja dengan sikap Mas saat ini. Mas tidak suka pada Kak Imam. Lalu Mas jadi marah dan melarang Adek untuk berteman dengan dia. Maksud Mas apa?" ujar Dhina dengan nada suaranya yang tertahan karena melihat sikap Ammar.
"Mas tidak melarang Adek untuk berteman dengan siapapun. Silakan!!! Adek ingin berteman dengan siapa saja. Mas hanya ingin mengatakan kalau Mas tidak menyukai pria itu. Paham?!" jawab Ammar yang membentak sang adik seraya menatapnya tajam.
"Mas boleh tidak menyukai orang, tapi kenapa Mas membandingkan dia dengan junior kesayangan Mas?" ujar Dhina seraya bertanya balik pada Ammar.
"Rezky maksud Adek?" tanya Ammar yang membelakangi sang adik.
"Iya, siapa lagi kalau bukan Rezky. Junior kesayangan yang selalu Mas banggakan itu." jawab Dhina yang tersenyum sinis pada Ammar.
"Mas tidak membandingkan siapapun. Mas hanya ingin mengungkapkan ketidaksukaan Mas pada pria itu, sama seperti Dhana yang mengungkapkan ketidaksukaannya pada Rezky. Jadi apa yang salah sih?" hardik Ammar yang kembali membalikkan tubuhnya dan menatap tajam manik Dhina.
"Sikap Mas itu berlebihan. Tadi saat di dalam, Mas bilang Adek su'udzon pada Kak Rezky? Adek tidak su'udzon Mas karena buktinya sudah ada. Dia bicara buruk tentang Mas Dhana. Apa itu masih kurang jelas untuk Mas?" ujar Dhina yang semakin kesal pada Ammar karena selalu membela Rezky.
Ammar menghela nafas panjang saat mendengar perkataan Dhina. Lalu...
"Wajar Mas Dhana tidak menyukai Rezky. Adek juga tidak menyukai pria itu. Apa Mas lupa, saat di restoran. Dia bicara buruk tentang Mas Dhana di depan Mas Ammar, di depan Adek dan sekarang Mas masih membela dia? Dan bilang kalau Adek su'udzon?" hardik Dhina lagi seraya berjalan mendekati Ammar.
Saat Ammar dan Dhina sedang bertengkar, di saat bersamaan Sadha dan Dhana pun datang. Namun mereka tidak langsung menghampiri mas dan adiknya yang sedang bertengkar itu. Mereka hanya mendengarkan dan berusaha memantau dari kejauhan.
Saat Dhina menyebutkan nama Dhana yang dibicarakan buruk oleh Rezky, membuat Dhana terpancing emosi. Apalagi sejak lama Dhana memang tidak suka dengan Rezky. Dhana menjadi marah dan langsung menghampiri mereka. Sadha yang melihat Dhana menghampiri Ammar dan Dhina pun langsung berlari menyusul Dhana.
"Dia hanya bercanda, Dek. Dia tidak serius bicara seperti itu. Mas tidak membela dia, Mas hanya bicara apa adanya." ujar Ammar seraya meraih bahu Dhina.
"Apa sih yang diberikan oleh Rezky pada Mas? Sampai Mas tidak bisa membedakan mana yang bercanda dan mana yang serius. Kalau dia bercanda, dia pasti akan minta maaf, Mas. Adek sudah pernah bilang kalau Rezky bukan orang baik dan itu sudah jelas terlihat di depan mata kita." jawab Dhina dengan emosi yang mulai terkontrol dan berusaha menyadarkan Ammar.
"Rezky bicara buruk apa tentang Dhana, Mas?"
Dhina yang mendengar suara bariton mas kembarnya pun terperanjat dan membuatnya langsung menoleh ke arah Dhana.
"Dhana... kamu jangan ikut campur." ujar Sadha yang berbisik seraya meraih bahu Dhana dari belakang.
Mas Dhana? Ya ampun, kalau Mas Dhana mendengar apa yang aku katakan tadi, bisa kacau. Gumam Dhina dalam hati.
"Tidak, Mas. Nama Dhana terlanjur disebut dalam pertengkaran ini. Mau tidak mau, Dhana juga harus ikut campur." jawab Dhana seraya melepaskan pegangan Sadha di bahunya.
Sadha yang melihat ekspresi Dhana, tidak bisa berkata apa-apa selain berusaha mencegah pertengkaran ini agar tidak semakin panas.
"Dhana sudah mendengar semuanya. Rezky bicara buruk tentang Dhana dan Mas Ammar masih membelanya? Sekarang Mas tidak menyukai Imam hanya karena Dhana tidak menyukai Rezky? Dhana tidak menyangka kalau pikiran Mas Ammar serendah itu." hardik Dhana yang menatap tajam ke arah Ammar.
Ammar semakin marah mendengar pernyataan adik kembarnya itu. Tangannya pun mengepal kuat dan matanya memerah. Lalu...
Prak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi putih Dhana hingga membuat Dhana terjatuh dan menimbulkan bekas merah di pipinya. Sadha dan Dhina yang melihat itu pun terkejut. Dhina menangis saat melihat Ammar menampar Dhana hanya karena membela pria yang dianggap terlalu baik oleh Ammar.
"Mas Ammar..." pekik Dhina yang melihat Ammar menampar Dhana dengan begitu keras.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu pada masmu ini, Dhana. Hanya karena membela sahabatmu itu, kamu jadi kurang ajar seperti ini." hardik Ammar yang tersulut emosi setelah menampar Dhana.
"Mas juga kurang ajar. Mas terlalu membela pria itu sampai Mas berani menampar Dhana seperti ini." jawab Dhana yang terduduk sambil memegang pipinya.
Emosi Ammar semakin naik saat mendengar ucapan Dhana seperti itu. Ia ingin meraih kerah baju Dhana. Namun...
"Mas... tenang Mas! Kenapa Mas jadi ringan tangan seperti ini sih? Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tidak harus seperti ini, Mas." ujar Sadha yang memegangi mas sulungnya agar tidak bertindak lebih pada Dhana.
Saat Sadha berusaha menenangkan Ammar, Dhina pun berjalan menghampiri Dhana dan membantunya berdiri.
"Mas Dhana tidak apa-apa?" tanya Dhina yang menangis seraya membantu Dhana berdiri.
Dhana pun hanya mengangguk lalu kembali menatap tajam ke arah Ammar.
"Dhana membela sahabat yang benar-benar baik, Mas. Dhana mengenal Imam sudah lama, sedangkan Mas baru mengenal Rezky. Mas membela dia dan menampar Dhana. Adik Mas sebenarnya Rezky atau Dhana, Mas?" serkas Dhana lagi seraya memegang pipinya yang ditampar Ammar.
Ammar semakin gelap mata mendengar perkataan Dhana dan hendak mengangkat tangannya lagi untuk menampar Dhana.
"Mas cukup!!!"
Dhina yang menyadari hal itu pun terpekik dan berusaha melerai pertengkaran yang terlanjur menjadi rumit ini karena mood Ammar yang sangat buruk itu. Ammar dan Dhana pun diam, sementara Sadha masih tetap memegangi tubuh Ammar dari belakang. Dengan nafasnya yang memburu, Dhina menoleh ke arah Ammar.
"Mood Mas yang tidak baik itu membuat semua orang terkena imbasnya. Sudah cukup, Mas!"
Ammar yang mendengar itu pun menepis kasar tangan Sadha dan bergerak maju, mendekati Dhana dan Dhina.
"Kalian berhak tidak menyukai Rezky, tapi Mas juga berhak tidak menyukai Imam. Rezky itu sudah Mas anggap seperti adik Mas sendiri dan Mas wajib membelanya." ujar Ammar seraya menunjuk ke arah adik kembarnya itu.
"Mas lebih membela orang lain dari pada adik Mas sendiri? Begitu Mas? Mas membela pria itu dengan menampar Mas Dhana? Kalau begitu, Adek juga berhak menolak keputusan Mas yang menganggap Rezky sebagai adik. Karena Adek tidak sudi mempunyai seorang kakak seperti dia. Ingat ya Mas!!! Suatu saat nanti Mas akan sadar kalau Rezky itu bukan orang baik." jawab Dhina yang menatap tajam mas sulungnya itu.
Dhina berusaha untuk menahan amarahnya terhadap Ammar, tapi karena melihat Ammar yang berani menampar Dhana hanya karena membela Rezky membuat Dhina tidak tahan lagi. Akibat amarah itu membuat kepala Dhina menjadi pusing dan sangat berat. Namun karena pertengkaran ini harus diselesaikan, Dhina berusaha kuat untuk menahan rasa sakitnya agar tidak terlihat oleh ketiga masnya itu.
Ammar mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Dhina. Ia pun berjalan mendekati Dhina. Lalu...
"Jangan membuat Mas melakukan hal yang sama, seperti Mas melakukannya pada Dhana, Dek." ujar Ammar dengan tangan yang sudah siap untuk menampar sang adik.
Sadha yang melihat itu pun terbawa emosi. Lalu ia berjalan mendekati Ammar yang sudah siap ingin menampar Dhina. Lalu...
"Cukup, Mas!!! Mas ingin menampar Adek juga? Mas kesurupan setan apa sih? Mas... Sadha juga tidak menyukai Rezky bahkan Imam, tapi tidak seperti ini caranya. Jangan hanya karena membela Rezky, Mas bertengkar dengan adik Mas sendiri. Ini juga tidak benar, Mas." ujar Sadha yang berusaha menjadi penengah di antara mas dan kedua adiknya.
"Mas ingin menampar Adek? Tampar Mas!!! Kalau itu yang membuat Mas puas untuk membela pria busuk itu." ujar Dhina yang menangis seraya mendekatkan pipinya pada Ammar.
Ammar pun sangat marah dan ingin sekali menampar adik perempuannya itu. Dhina selalu membela Dhana yang tidak menyukai Rezky. Sedangkan di saat dirinya tidak menyukai Imam, Dhina tidak membelanya sama sekali. Ditambah lagi dengan pertanyaan Dhina tadi pagi yang membuat Ammar semakin kesal dan moodnya semakin hancur. Semua menjadi kacau karena mood Ammar yang sedang tidak baik.
Dhana yang sudah tenang dan bisa mengontrol emosinya pun mencoba untuk mengalah dan menenangkan mas sulungnya itu.
"Mas... Dhana tidak bermaksud untuk kurang ajar pada Mas Ammar. Dhana hanya menyampaikan apa yang Dhana lihat saat di cafe. Rezky itu bukan orang baik dan Mas harus hati-hati sama dia." tutur Dhana seraya meraih bahu Ammar.
"Mas... lagi pula buktinya juga sudah terjadi saat Mas dan Adek ke restoran itu, bukan? Kalau Rezky bicara buruk tentang Dhana di depan Mas Ammar dan Adek. Apa bukti itu masih kurang?" timpal Sadha yang berusaha menenangkan Ammar karena dirinya sendiri pun tidak menyukai Rezky.
"Kalian itu sama saja! Kalian belum melihat sikap lain dari Imam, bukan? Kalau kalian melihatnya, kalian tidak akan bicara seperti ini tentang Rezky." jawab Ammar yang masih keras kepala dengan pendapatnya.
"Sudahlah, Mas! Percuma bicara dengan Mas Ammar sekarang. Moodnya sedang tidak bagus. Semua yang kita katakan tidak akan diterima olehnya. Jadi percuma saja. Anggap saja pertengkaran yang tidak berguna ini, tidak pernah terjadi. Adek capek menghadapi mood Mas Ammar yang sedang kacau seperti ini." ujar Dhina yang beranjak dari tengah-tengah ketiga masnya.
Mendengar yang dikatakan Dhina, membuat Ammar yang masih emosi memilih untuk pergi dan meninggalkan ketiga adiknya itu. Sebelum emosi menguasai dirinya dan membuat hal-hal aneh yang tidak diinginkan terjadi. Sadha yang melihat mas sulungnya sudah pergi pun menghampiri adik kembarnya itu.
"Kalian tidak apa-apa 'kan?" tanya Sadha seraya meraih bahu kedua adik kembarnya itu.
"Dhana tidak apa-apa, Mas. Dhana hanya sedang menikmati bekas tamparan Mas Ammar saja. Ternyata tamparan Mas Ammar sakit juga ya. Rasanya pipi Dhana panas sekali sekarang." jawab Dhana yang berusaha mencairkan suasana.
"Adek... kenapa melamun?" tanya Sadha pada Dhina yang terdiam karena menahan sakit di kepalanya.
"Adek tidak apa-apa, Mas. Lebih baik kita masuk saja ya. Nanti Ayah dan Ibu malah curiga. Masalah ini hanya masalah kecil yang dibesarkan oleh Mas Ammar." ujar Dhina yang mengajak kedua masnya itu kembali ke gedung.
"Kalian jangan terlalu memikirkan perkataan Mas Ammar ya. Kalian pasti tau, Mas Ammar seperti apa kalau moodnya sedang buruk. Ya seperti tadi." ujar Sadha yang berjalan di depan.
"Iya, Mas. Nanti kalau emosi Mas Ammar sudah mereda, kita akan bicara baik-baik dengan Mas Ammar." jawab Dhana yang menyusul Sadha berjalan.
"Itu lebih baik, Dhana. Lebih baik mengalah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dibahas, daripada seperti tadi. Tidak akan ada habisnya." ujar Sadha yang merangkul bahu adik kembarnya itu.
"Mas, benar."
Sadha dan Dhana asyik berjalan dan membahas masalah tadi di depan. Mereka tidak menyadari kalau Dhina tertinggal di belakang. Dhina yang sedang berusaha menahan rasa sakit di kepalanya akibat pertengkaran tadi pun melambatkan langkahnya untuk berjalan. Sejak tadi Dhina berusaha untuk menutupinya. Namun entah kenapa, saat ini tubuhnya terasa oleng dan...
Bruk!
Dhina terjatuh dan pingsan di belakang Sadha dan Dhana. Mendengar ada sesuatu yang terjatuh di belakang, mereka pun berbalik untuk melihatnya. Betapa terkejutnya mereka saat melihat adik perempuan mereka yang sudah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Lalu dengan cepat mereka langsung menghampiri Dhina yang sudah pingsan.
"Adek..."
Sadha dan Dhana pun langsung berlari menghampiri Dhina yang sudah pingsan.
"Adek... bangun Dek, bangun. Mas bagaimana ini?" ujar Dhana yang meletakan kepala Dhina di pahanya seraya membangunkan sang adik.
"Mas juga tidak tau, Dhana. Tapi kita harus membawa Adek ke rumah sakit sekarang." jawab Sadha seraya mengusap tangan Dhina.
"Tapi Ayah, Ibu dan Mas Ammar bagaimana? Apa lebih baik Mas hubungi Mas Ammar dulu?" ujar Dhana yang mulai panik karena Dhina tidak kunjung sadar.
"Itu nanti kita pikirkan. Yang penting sekarang adalah Adek. Tangan Adek dingin sekali, Dhana. Ayo kita bawa Adek ke rumah sakit. Kamu bantu Mas carikan taksi, biar Mas yang menggendong Adek." jawab Sadha yang berdiri lalu mengangkat tubuh Dhina.
Dhana pun langsung berlari mencari taksi. Tidak lama kemudian, ada sebuah taksi yang lewat. Lalu...
"Taksi..."
Taksi pun berhenti. Lalu Dhana langsung membuka pintu mobil agar Sadha bisa masuk sambil menggendong Dhina.
"Ayo, Mas. Hati-hati." ujar Dhana yang membuka pintu taksi lalu mereka pun masuk.
Setelah Sadha dan Dhina masuk, Dhana pun mengikuti mereka. Lalu...
"Ke rumah sakit pusat ya, Pak." ujar Dhana lagi yang baru masuk mobil.
"Baik, Mas." jawab Pak Supir dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Di dalam mobil Sadha dan Dhana berusaha membangunkan Dhina yang sedang pingsan. Namun Dhina tidak kunjung sadar. Mereka berdua sangat khawatir dengan keadaan Dhina. Pingsan, pucat dan tangannya dingin. Dhana yang sudah keringat dingin pun berusaha untuk membuat supir taksi melajukan mobilnya lebih cepat lagi.
"Pak... bisa lebih cepat tidak? Kita buru-buru nih. Tolong lebih cepat ya, Pak." ujar Dhana yang menepuk bahu supir taksi dari belakang.
"Iya, Mas. Ini sudah cepat." jawab supir taksi itu yang tetap fokus mengemudi mobilnya.
"Sabar, Dhana. Kita tidak boleh panik." timpal Sadha yang berusaha menenangkan Dhana padahal dirinya sendiri sangat cemas dengan kondisi Dhina.
"Bagaimana bisa sabar sih Mas? Keadaan Adek seperti ini, Mas masih bisa bilang sabar." serkas Dhana yang tidak bisa mengendalikan emosinya itu.
"Maksud Mas bukan seperti itu tapi dalam menghadapi situasi seperti ini kita harus tetap tenang, Dhana. Jangan terlalu panik." jawab Sadha yang menggenggam terus tangan adik perempuannya itu.
"Bagaimana tidak panik Mas? Adek, bangun! Bangun, Dek." ujar Dhana pada Sadha seraya berusaha membangunkan Dhina.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Rumah sakit tempat Ammar bekerja. Setelah taksi berhenti, dengan segera Sadha membuka pintu dan membawa Dhina masuk ke dalam rumah sakit. Terlihat beberapa suster menghampiri mereka. Lalu membawa Dhina ke ruang UGD untuk segera di periksa.
Saat Sadha dan Dhana masuk dan membawa Dhina, tanpa sengaja Dokter Ronald melihat mereka. Lalu Dokter Ronald pun langsung menghampiri Sadha dan Dhana yang sedang di depan ruang UGD.
"Sadha, Dhana... kalian sedang apa di sini? Siapa yang kalian bawa tadi?" tanya Dokter Ronald pada mereka berdua.
"Dokter Ronald... kami membawa Adek, Dok. Tadi dia tiba-tiba pingsan, lalu kami langsung membawanya ke sini." jawab Sadha yang beranjak berdiri.
"Apa? Dhina pingsan?" tanya Dokter Ronald yang terkejut dan membulatkan matanya.
"Iya, Dok. Sekarang Adek ada di dalam UGD." jawab Dhana yang masih terduduk mengusap kepalanya sendiri.
"Apa Ammar sudah tau kalau Dhina pingsan?" tanya Dokter Ronald sebelum masuk ke UGD untuk menangani Dhina.
"Belum, Dok. Tadi kami terlalu panik jadi belum sempat memberitahu Mas Ammar." ujar Dhana pada Dokter Ronald.
"Lebih baik kalian beritahu Ammar secepatnya. Saya akan menangani Dhina." ujar Dokter Ronald yang meraih bahu Dhana lalu berjalan masuk ke UGD.
"Tolong selamatkan adik kami, Dok." ujar Sadha yang cemas dengan kondisi Dhina pada Dokter Ronald saat berjalan menuju UGD.
"Akan saya usahakan. Kalian berdo'a saja ya." jawab Dokter Ronald sebelum masuk ke dalam UGD untuk menangani Dhina.
Dokter Ronald pun masuk dan langsung berusaha menangani Dhina di dalam ruangan UGD. Sedangkan Sadha dan Dhana sedang menunggu di luar. Saat menunggu tidak lupa mereka berdo'a agar Dhina baik-baik saja. Sadha dan Dhana tidak menyangka jika akhir dari acara di kantor sang ayah berujung di rumah sakit.
Mereka juga sedang memikirkan bagaimana jika Pak Aidi dan Bu Aini tau tentang hal ini. Mereka pasti sangat terpukul dan sedih saat mendengar putri mereka satu-satunya sakit keras. Sementara saat ini Dhina sedang berjuang melawan penyakitnya di ruangan UGD.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya