NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia dalam Nadi

Lokasi: Persembunyian – Gudang Kontainer Tua, Pelabuhan Utara

Lampu neon yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam kontainer yang lembap itu. Reyhan duduk di atas peti kayu, menatap telapak tangannya yang terluka akibat pecahan kaca di rumah lama. Luka itu tidak berhenti mengeluarkan darah, tapi warnanya tidak merah pekat seperti manusia biasa. Ada semburat keemasan yang berpendar tipis, seperti butiran bintang yang terlarut di sela-sela cairan merah itu.

"Rey..." Kiara mendekat, napasnya tertahan. Sebagai seorang indigo, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar luka fisik. "Darahmu... suaranya bukan detak jantung biasa. Darahmu... sedang bernyanyi."

Reyhan menarik tangannya, menutupinya dengan kain kasa dengan gerakan cepat. Wajahnya yang gagah kini tampak sangat tegang, seolah sedang menahan beban yang sanggup menghancurkan kewarasan manusia mana pun.

"Itu sebabnya Ayah menyembunyikan aku selama dua puluh tahun, Ra," suara Reyhan rendah, hampir seperti bisikan maut. "Bukan karena dia polisi hebat, tapi karena dia tahu apa yang mengalir di dalam tubuhku. Darah Pratama bukan sekadar nama. Kami adalah 'instrumen' hidup."

Kebenaran dari Masa Lalu

Rendy yang tadinya sibuk dengan monitor, mendadak membeku. Ia memutar ulang rekaman frekuensi dari gedung konser semalam. "Pak... frekuensi biola si Konduktor... frekuensi itu tidak menyerang Bapak karena frekuensi itu mencari Bapak. Darah Bapak merespons musik itu seperti magnet."

Reyhan berdiri, menatap ke arah laut yang gelap dari celah pintu kontainer. "Si Konduktor butuh darah ini untuk menyempurnakan simfoninya. Tanpa aku, musiknya hanya akan membunuh secara acak. Tapi dengan darahku... musiknya bisa mengendalikan seluruh dunia."

Ia kemudian meraih kaset tape tua yang masih tersisa. Suara statis menghilang, digantikan oleh suara berat Ayah angkatnya, Pratama Aditya.

"...Reyhan, jika kamu mendengar ini, berarti kamu sudah dewasa. Maafkan aku karena merahasiakan ini. Kamu bukan seorang Aditya. Kamu bukan darah dagingku. Aku menemukanmu di dalam sebuah peti biola berlapis emas di reruntuhan laboratorium 'Orkestra Bayangan' yang terbakar tahun 2006..."

Reyhan menjatuhkan kaset itu. Tangannya bergetar hebat. Kiara mendekat, mencoba menyentuh bahu Reyhan, tapi ia terlonjak mundur karena merasakan hawa panas yang luar biasa keluar dari tubuh detektif itu.

"...Kamu adalah anak kandung dari Sang Dirigen pertama," suara di tape itu berlanjut. "...Pria yang sekarang kamu sebut sebagai Sang Konduktor. Kamu adalah eksperimen mereka yang paling sempurna. Kamu adalah 'Nada Murni'. Darahmu bukan darah manusia, Rey... darahmu adalah melodi itu sendiri."

Senjata, Bukan Korban

Reyhan tertawa kecil—tawa yang terdengar sangat perih dan dingin. Pantas saja ia sering pingsan saat mendengar nada tinggi atau melihat darah di Season 1; itu karena tubuh manusianya menolak kekuatan destruktif yang ada di dalam nadinya.

"Jadi..." Reyhan berdiri, bayangannya di dinding kontainer tampak membesar dan mengintimidasi. "Musuh yang selama ini aku buru adalah ayah kandungku sendiri? Dan dia tidak ingin membunuhku... dia hanya ingin 'mengambil kembali' instrumen miliknya?"

"Pak... kalau begitu... berarti Bapak adalah bagian dari mereka?" tanya Rendy dengan suara bergetar.

"Tidak, Ren." Reyhan menoleh ke arah Rendy dengan mata yang kini berkilat tajam, tanpa ada sisa konyol sedikit pun. "Aku bukan bagian dari mereka. Aku adalah senjata yang akan menghancurkan mereka. Jika darah ini adalah kutukan, maka aku akan menggunakan kutukan ini untuk membungkam musik mereka selamanya."

Tamu dari Kegelapan

Tiba-tiba, suara biola terdengar dari luar kontainer. Sangat dekat. Seolah-olah si pemain biola berdiri tepat di depan pintu besi itu.

Krieeet...

Pintu kontainer terbuka perlahan. Di sana berdiri Vanya, namun wajahnya tidak lagi ceria. Ia menangis, tapi tangannya tetap menggesek biola dengan gerakan mekanis yang kaku.

"Tuan Muda..." ucap Vanya dengan suara yang hampa. "Ayahmu memintamu pulang. Konser terakhir akan segera dimulai. Tanpa darahmu... dunia ini tidak bisa mendengar keindahannya."

Kiara berlutut di depan Reyhan, memberanikan diri menggenggam tangan pria itu. Kali ini, hawa panas tadi mereda, berganti dengan rasa tenang yang luar biasa.

"Rey, dengarkan aku," ucap Kiara lembut namun tegas. "Kelemahanmu selama ini... itu adalah cara alam bawah sadarmu melindungimu. Di dalam nadimu mengalir 'kehidupan'. Si Konduktor itu adalah nada kematian, dan kamu adalah penawarnya."

Reyhan berdiri perlahan. Wajahnya yang semula penuh keraguan kini kembali mengeras. Kesedihannya menguap, digantikan oleh martabat seorang detektif sejati.

"Darahku adalah racun bagi musiknya," Reyhan menatap pintu kontainer yang masih terbuka, di mana Vanya masih mematung. "Dia takut padaku. Dia takut pada darah yang dia ciptakan sendiri namun tidak bisa dia kendalikan."

Reyhan melangkah maju menuju Vanya. Tidak ada ketakutan lagi. Ia tidak pingsan. Kali ini, ia justru merasa memegang kendali penuh.

"Vanya, pulanglah," ucap Reyhan dengan suara yang sangat berwibawa. "Katakan pada pria itu. Darah ini tidak akan pernah menyentuh biolanya. Darah ini... adalah akhir dari simfoninya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!