NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - Tiga Bulan Penentuan

Cipto berhenti melangkah sekitar tiga meter dari mereka. Tenang. Diam. Tatapannya bergerak dari wajah putrinya yang memerah, ke Aga yang berdiri tegak seperti prajurit siaga, lalu ke arah Pandji yang sepertinya terlalu menikmati situasi ini. Tapi berbeda dari biasanya, kali ini Pandji hanya diam, menyilangkan tangan di dada dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

Suasana di halaman kecil itu tiba-tiba berubah berat. Udara terasa panas bukan karena matahari pagi, tapi karena aura tegas yang dipancarkan Cipto. Rasanya seperti sedang berdiri di ruang pengadilan, di mana Gwen dan Aga adalah dua terdakwa yang baru saja tertangkap basah melakukan pelanggaran berat.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Gwen benar-benar bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Penampilannya yang berantakan dengan kaos kebesaran dan sandal jepit terasa semakin menghinanya di hadapan ayahnya yang selalu tampil rapi dan berwibawa.

"Ayah..." Gwen akhirnya memaksa suaranya keluar, tapi terdengar parau dan kecil. "Ini nggak seperti yang Ayah pikir."

Cipto menatapnya sebentar, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Memangnya Ayah sedang berpikir apa?"

Gwen langsung bungkam. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara. Ia sadar, apapun yang diucapkannya sekarang pasti akan terdengar seperti alasan murahan.

"Duduk," perintah Cipto singkat, menunjuk bangku semen yang tadi diduduki Aga dan Gwen.

Suara itu tidak keras, tapi memiliki kekuatan yang membuat siapa saja patuh. Pandji yang melihat suasana makin mencekam langsung memilih mundur perlahan. Ia tahu betul, kalau suasana sudah begini, lebih baik menjaga jarak aman. Ia tidak mau kena ceramah panjang lebar yang biasanya berujung pada nasihat filosofis yang membosankan.

Setiap langkah ke belakang yang diambilnya dilakukan dengan sangat hati-hati, seolah lantai halaman penuh ranjau darat yang bisa meledak kapan saja. Matanya menatap Aga dengan ekspresi yang bisa diartikan sebagai Selamat tinggal, bro, lo sendirian.

Gwen menatap bangku itu, lalu menatap ayahnya lagi. Tubuhnya ingin melarikan diri, tapi kakinya seolah menancap ke tanah.

"Gak usah mikir lari, Gwen," kata Cipto datar, seolah membaca pikiran putrinya. "Ayah belum selesai."

Aga melepaskan genggaman di pinggang Gwen, tapi tangannya tetap di sisinya—seolah menegaskan ia tidak akan pergi ke mana pun meski dunia runtuh. Ia menghela napas pelan, lalu menyapu permukaan bangku semen itu dengan telapak tangannya sebelum mempersilakan Gwen duduk. Setelahnya, ia ikut duduk di sebelahnya dengan postur tegak yang tak biasa. Tanpa candaan atau senyum jail—kali ini ia benar-benar tampil sebagai pria dewasa yang bertanggung jawab.

Cipto tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan mereka, tinggi dan membentang seperti dinding batu, menatap dari ketinggian. Tangan kanannya masuk ke saku celana, sementara tangan kirinya terbuka di sisi tubuhnya, jari-jarinya bergerak pelan seolah menghitung detik-detik sebelum ledakan.

"Hubungan kalian," Cipto akhirnya membuka mulut, "sampai di mana?"

Gwen tersedak oleh udara. "Ayah, kami—"

"Om, saya tidak akan berbelit-belit," potong Aga tiba-tiba. Ia menegakkan punggungnya, menatap Cipto lurus-lurus. Tatapan nakal dan jailnya sudah hilang total, digantikan oleh keseriusan yang matang. "Saya membawa Gwen ke sini karena saya ingin dia tahu sisi lain dari saya. Dan saya juga ingin bilang sama Om... perasaan saya ke Gwen bukan main-main."

Cipto diam, mendengarkan.

“Saya serius, Om,” lanjut Aga, suaranya tegas dan penuh keyakinan. “Saya tidak mau hanya jadi orang yang lewat di hidupnya. Saya ingin menikahi Gwen. Saya ingin meresmikan hubungan kami. Itu tujuan saya sekarang.”

Suasana hening total.

Gwen ternganga, matanya membelalak menatap profil wajah Aga di sampingnya. Ia tahu pria itu posesif dan berani, tapi ia tidak menyangka Aga akan mengatakannya sejelas dan secepat ini di depan ayahnya. Bahkan Pandji yang berdiri di pojok pun sampai menurunkan tangannya dari dada, mulutnya sedikit terbuka karena kaget.

"Lo... lo beneran gila ya?" gumam Pandji pelan, tapi cukup terdengar.

Cipto masih tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar, sulit ditebak. Tidak marah, tapi juga tidak tersenyum. Keheningan itu justru membuat suasana makin mencekam. Jantung Aga berdetak sangat kencang di dalam dadanya, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia tidak takut pada apa pun, tapi menghadapi Cipto dalam mode serius seperti ini adalah hal yang berbeda.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Cipto akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Kau tahu kan, seperti apa Ibu Gwen?" tanya Cipto pelan.

Aga mengangguk kaku. "Tahu, Om."

"Dan kau tahu kan bagaimana wataknya?" Cipto melipat tangan di depan dada. "Dia bukan wanita mudah. Dia keras, cerewet, perfeksionis. Dan tidak pernah salah—setidaknya, menurut dia sendiri.”

Aga mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi sudut matanya bergerak-gerak, menghitung resiko.

"Dia sudah menandai seseorang," lanjut Cipto. "Namanya Satria. Senior Pandji di kantor. Lulusan terbaik. Pegawai negeri sipil dengan masa depan cerah. Ayahnya adalah ketua Mahkamah Konstitusi. Keluarga yang nyaris tanpa celah. Setidaknya, begitu menurut istri saya.”

Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan.

“Bukan berarti keluarga Baskara tidak punya apa-apa,” ucap Cipto datar. “Dari segi kekayaan, kalian di atas kami. Jauh di atas. Bahkan bisa dibilang keluarga kalian termasuk yang paling berpengaruh di negeri ini.”

Gwen terdiam seketika. Matanya langsung menoleh ke arah Aga, kaget dan bingung. Selama ini ia tahu Aga anak orang kaya, tapi tidak pernah tahu bahwa keluarganya sekaya itu.

Aga sendiri tetap diam, wajahnya tenang tapi sulit dibaca.

Cipto melanjutkan, “Tapi Istri saya punya pandangan lain. Dia ingin Gwen mendapat pasangan yang bekerja di jalur pemerintahan, dengan karier yang jelas dan stabil. Apalagi… usiamu masih sangat muda. Menurutnya, Satria lebih sesuai dengan gambaran itu.”

Nama itu kembali menggantung di udara—Satria—seolah menjadi bayangan yang sengaja diletakkan di antara keputusan dan perasaan.

Gwen menggeleng kecil, hampir tak terlihat, tapi tangannya masih menutupi mulutnya. Matanya kini benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekacauan yang ia rasakan.

Dan di sisi lain, Aga akhirnya memahami satu hal sederhana. ini bukan soal kekurangan, bukan soal siapa yang lebih layak—melainkan soal pilihan yang sudah lebih dulu ditentukan, bahkan sebelum ia diberi kesempatan untuk benar-benar berdiri di dalamnya.

"Om—"

“Saya akan mengirim Satria ke Jakarta,” potong Cipto tegas. “Selama tiga bulan, bekerja di kantor cabang. Dan selama tiga bulan itu, Kamu boleh mendekati istri saya. Buktikan bahwa kamu lebih baik dari Satria—buat dia melihatmu sebagai calon menantu yang layak.”

Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata terdengar jelas.

“Anggap itu sebagai tenggat,” lanjutnya dingin. “Tiga bulan. Tidak lebih. Setelah itu, saya akan mengambil keputusan.”

Wajah Aga seketika pucat.

Mendapatkan hati Linda? Itu adalah misi yang terdengar lebih mustahil daripada menaklukkan gunung berapi. Aga mengenal baik wanita itu. Linda memang baik, tapi standarnya sangat tinggi dan dia sangat keras kepala.

“Kenapa? Takut?” ejek Cipto.

“Siapa yang tadi bilang siap memiliki putri saya sepenuhnya?”

Aga langsung menoleh ke arah Pandji, meminta bantuan sahabatnya tanpa perlu banyak kata. Namun Pandji sudah lebih dulu mengangkat kedua tangannya, seolah menolak bahkan sebelum diminta.

“Jangan minta bantuan gue,” celetuknya cepat, tanpa bisa menahan diri. “Gue lebih baik berdebat di persidangan seharian daripada harus menghabiskan waktu seharian sama Nenek Sihir. Serius.”

Ruangan sempat hening satu detik.

Gwen hampir tersedak, menoleh cepat ke arah Pandji dengan mata melebar, sementara Cipto hanya mengangkat satu alis, jelas menangkap maksud “Nenek Sihir” yang dimaksud.

Aga menutup mata sebentar, menarik napas dalam, seolah menahan diri.

“Terima kasih atas dukungannya,” gumam Aga datar.

Pandji mengangkat bahu santai. “Gue realistis, bro. Itu bukan misi… itu bunuh diri."

Cipto menyandarkan tubuhnya, memperhatikan mereka dengan ekspresi tipis yang sulit dibaca.

Aga kembali menatap ke depan, fokusnya kembali utuh.

“Baik,” ucapnya singkat. “Kalau itu syaratnya… saya terima, Om.”

Pandji yang tadi diam saja tiba-tiba melangkah mendekat. Ia berdiri di samping Aga, lalu menepuk lengan pria itu dua kali, pelan tapi penuh arti.

“Bro…” panggilnya lirih.

Aga melirik malas, wajahnya sudah menunjukkan tanda-tanda putus asa. “Apa?”

Pandji menatapnya dengan ekspresi prihatin yang terlalu dibuat-buat untuk dipercaya. Ada kilat hiburan di matanya.

“Gue cuma mau bilang satu hal.”

“Apa?”

Pandji sedikit merapat, lalu menepuk pundaknya.

“Kalau lo berhasil dapat restu Ibu dalam tiga bulan…” ucapnya santai, “…gue resmi anggap lo pahlawan nasional. Serius. Lo pantas dapet medali. Karena ngadepin Ibu itu—” ia menggeleng pelan, “—jauh lebih susah daripada ngadepin tentara bersenjata lengkap.”

Aga terdiam.

Tatapannya kosong mengarah ke pohon besar di depan, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menimpanya. Dari pagi yang masih terasa ringan, tiba-tiba ia seperti dilempar ke medan perang yang nyata.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia bergumam datar, nyaris tanpa emosi,

“Doain aja… jasad gue masih lengkap pas balik.”

Mendengar itu, sudut bibir Gwen terangkat tanpa bisa ditahan. Ia buru-buru menutup mulutnya, tapi tawa kecilnya tetap lolos.

Ia memandang Aga dengan campuran rasa kasihan dan geli melihat ekspresi pria tampan di sampingnya yang kini terlihat seperti tahanan yang siap dieksekusi.

"Jangan ketawa, Sayang," Aga menoleh ke Gwen dengan tatapan memohon. “Ini masa depan kita yang ditaruh di tangan Nenek Si—eh, Tante maksudku.”

"Ayah tega banget sih," Gwen masih terkekeh sambil mengusap sudut matanya yang basah. "Kasihan kan dia?"

"Justru karena Ayah sayang kalian, Ayah uji," Cipto tersenyum lembut akhirnya. Wajah tegasnya perlahan luluh. "Kalau Aga bisa menghadapi ibumu, berarti dia memang pria yang tepat untukmu. Ibu cuma keras luarnya, kok. Dalamnya baik."

"Baik my ass," celetuk Pandji pelan. "Baik kalau lagi dapat jatah belanja baru."

"Pandji!" Cipto menatap putranya itu tajam.

"Eh, iya Pa, baik kok Ibu baik banget. Malaikat berkaki empat," Pandji langsung mengangkat tangan menyerah.

Aga menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Malaikat berkaki empat? Serius, Ji?”

Pandji nyengir tanpa dosa. “Refleks, bro. Gue lagi panik.”

Gwen kembali menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang hampir pecah lagi. Kali ini ia menggeleng kecil, menatap Aga dengan campuran simpati dan hiburan.

Cipto berdeham pelan, menarik kembali kendali suasana. “Cukup,” ucapnya tegas, meski sudut bibirnya sempat bergerak tipis.

Ia menatap Aga sekali lagi, lebih dalam dari sebelumnya. “Tiga bulan, Aga. Saya tidak akan ikut campur. Semua tergantung kamu.”

Aga mengangguk sekali. Tatapannya berubah—lebih fokus, lebih pasti.

Ia menarik napas panjang dalam diam, menatap Gwen yang kini menatapnya penuh harap.

Di dalam hatinya, ia berjanji pada diri sendiri.

Oke, Tante Linda. Siap atau tidak, aku datang. Demi Gwen… bahkan neraka sekalipun akan kutaklukkan.

1
mitha
Si aga sial banget 🤣
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ke apartemen kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hubungan pernikahan iparan yang akur
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
🤣seperti anak kecil yang merajuk pada mamanya karena AC rusak...duh Aga ada-ada aja deh tingkahnya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ada-ada aja idenya Ga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kalau belum sah, masih kalah starvsama ayahnya Gwen Agaaaa
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
wihhhh dah dapat yang diinginkannya si Aga, jadi so sweet
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
waduhhhh Aga
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
benar-benar si Aga, cari mati kayaknya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
duhhh dunia pergosipan di kantor, kejam bener
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
nahhh iyaaa betul pakk
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
agak canggung tepatnya jadinya mendengar kalimat itu kan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Aga tipenya kamu Gwen, tinggi dan agak kalem mungkin
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
antara terharu dikasih cheese cake ataukah terharus dengan suasana romantis antara mereka
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine, sakit nanti dia dengernya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
OMG adek jangan kasih tahu dulu dek sama nadhine,csakit nanti dia dengernya
Patrish
kompak nih sama calon mertua...mantab Gwen
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
menjadi dewasa tidak seindah yg dibayangkan oleh masa kanak-kanak
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
perasaan sayang itu terlihat nyata dari psical touch lelaki itu bukan
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
tiba-tiba jadi pengen nyanyi pas baca paragraf ini.
kau yang merajai hatiku, jiwa ragaku hanya untukmu..🎼🎼❤️‍🩹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!