Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: MALAM YANG PANAS: DARI KELELAHAN MENUJU DOA SANGAT SPESIFIK
Malam itu, suasana di kamar utama rumah Aris terasa berbeda. Setelah drama "Hukuman Merangkak" sore tadi, tubuh Aris benar-benar remuk redam. Otot-ototnya pegal, lututnya bengkak karena terlalu lama menyentuh lantai marmer, dan egonya masih sedikit terluka mengingat ia harus bernyanyi opera fals di depan istri dan iparnya.
Aris masuk ke kamar dengan langkah tertatih-tatih. Ia langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang king-size yang empuk, menghela napas panjang yang terdengar seperti ban kempes.
"Ya Allah..." rintih Aris pelan, memejamkan mata. "Aku butuh tidur sepuluh tahun. Jangan bangunkan aku kecuali kiamat sudah dekat."
Rina, yang sedang menyelesaikan wudhu terakhirnya di kamar mandi dalam, keluar dengan wajah segar berseri. Ia mengenakan baju tidur sutra berwarna peach lembut yang membalut tubuhnya dengan anggun. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sebaliknya, matanya berbinar aneh. Ada kilatan intensitas yang belum pernah dilihat Aris sebelumnya. Kilatan... ganas.
Rina menutup pintu kamar, menguncinya, lalu berjalan perlahan mendekati ranjang. Langkahnya tidak lagi ringan seperti biasa, tapi mantap, penuh tujuan, seperti seekor singa betina yang mengincar mangsanya.
Aris, yang masih memejamkan mata, merasakan kehadiran itu.
"Sayang, tolong ambilkan selimut ya. Aku kedinginan..." gumam Aris malas, masih berharap Rina akan membiarkannya tidur.
Tiba-tiba, kasur bergoyang hebat. Rina tidak mengambil selimut. Ia justru naik ke atas ranjang, lalu... menerjang Aris.
Dengan kekuatan yang mengejutkan untuk seorang wanita sehalus Rina, ia mendorong tubuh Aris yang lelah itu hingga terlentang sempurna, lalu duduk di atas pinggang suaminya, menatapnya dari atas dengan tatapan tajam dan menuntut.
"R-Rina?" Aris membuka mata, terkejut bukan main. "Ada apa? Kamu marah lagi? Aku sudah bersih kok, sisa saus sudah hilang semua..."
"Bukan soal saus, Mas," suara Rina rendah, serak, dan penuh gairah yang mendesis. "Aku melihat Rayyan hari ini. Dia lucu, pintar, tapi... dia sudah besar. Rumah ini terlalu sepi tanpa tangisan bayi."
Aris mengerjap, otaknya yang lelah mencoba memproses informasi. "Maksudmu... kita bahas besok saja? Aku capek banget, Rin. Lututku masih sakit bekas hukuman merangkak..."
"Tidak ada besok!" potong Rina tegas. Tangannya mencengkeram kerah baju tidur Aris, menariknya sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas Rina yang hangat dan beraroma mawar menyapu wajah Aris. "Aku mau anak kedua. Sekarang. Malam ini. Detik ini juga."
Aris ternganga. "Sekarang? Tapi... energiku habis, Sayang. Aku baru saja dihukum jadi kura-kura selama satu jam..."
Rina tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum manis biasa. Itu senyum predator yang lapar.
"Justru karena kamu lelah, Mas. Kata Faris kemarin, saat tubuh lelah tapi hati bahagia, produksi hormon endorfin dan oksitosin mencapai puncaknya. Itu waktu terbaik untuk pembuahan berkualitas tinggi! Aku sudah riset, Mas. Aku sudah hitung siklus ovulasiku. Malam ini adalah puncak emas. Probabilitas keberhasilan 98,9%!"
Aris melongo. "Kamu... kamu riset soal ini? Dengan Faris?"
"Jangan tanya detailnya!" seru Rina impasien, mulai melepaskan ikatan rambutnya sehingga rambut hitam panjangnya tergerai liar di bahu Aris. "Yang penting, kamu harus bangun. Bangun, Suamiku! Jadikan malam ini malam sejarah bagi Gang Tebet! Kita ciptakan adik untuk Rayyan! Seorang pejuang baru yang akan meneruskan estafet sains dan iman!"
Rina membungkuk, mencium leher Aris dengan agresif namun penuh cinta. "Ayolah, Mas Ustadz... Jangan biarkan istrimu menunggu. Ingat hadits tentang pahala suami yang melayani istrinya? Malam ini pahalanya berlipat ganda karena ada unsur 'keadaan darurat biologis'!"
Aris merasakan adrenalinnya tiba-tiba naik, mengalahkan rasa lelah di otot-ototnya. Tatapan Rina yang begitu berapi-api, begitu menginginkan, begitu... ganas dalam arti yang positif, membuat darah muda Aris mendidih seketika. Lupa sudah soal lutut yang sakit. Lupa soal nyanyian opera yang memalukan.
"Kamu... kamu benar-benar ingin sekali, Rin?" tanya Aris, suaranya mulai berubah berat, getaran hasrat mulai menggantikan kelelahan.
"Sangat ingin!" desis Rina di telinga Aris, tangannya mulai mengusap dada bidang suaminya dengan gerakan yang membuat akal sehat Aris melayang. "Aku ingin mendengar tangisan bayi lagi. Aku ingin menyusui lagi. Aku ingin kamu menjadi ayah lagi, dengan segala kekonyolan dan kehebatanmu. Ayo, Mas! Buktikan kalau kamu masih jantan, meski habis dihukum merangkak!"
Kalimat tantangan itu adalah tombol rahasia
Aris, dengan sisa tenaga terakhir yang dimobilisasi oleh cinta dan gairah, tiba-tiba membalikkan keadaan. Dalam satu gerakan cepat (yang membuatnya meringis sedikit karena nyeri otot, tapi diabaikan), ia berhasil membalikkan posisi, kini ia yang berada di atas Rina.
Matanya menatap Rina dalam-dalam, penuh api yang sama membaranya.
"Baiklah, Istriku sayang," bisik Aris, suaranya parau dan berwibawa. "Jika ini perintahmu, maka ini adalah jihad terbesarku malam ini. Aku akan layani permintaanmu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan... dengan seluruh sisa tenagaku."
Rina tertawa kecil, tawa yang menggoda dan penuh kemenangan. "Nah, gitu dong. Lupakan dunia luar. Lupakan saus sambal. Fokus hanya pada kita. Pada cinta kita. Pada calon buah hati kita."
Malam itu, kamar mewah tersebut tidak lagi dipenuhi keluhan kelelahan. Yang ada hanyalah erangan halus, bisikan doa, dan tawa kecil di sela-sela keintiman dua insan yang saling mencintai dengan sangat mendalam.
Aris, yang biasanya tenang dan terukur, malam ini melepas semua kendali logikanya. Ia mengikuti insting dan cintanya, didorong oleh semangat "ganas" Rina yang menular. Setiap sentuhan, setiap ciuman, dilandasi oleh harapan besar akan kehadiran kehidupan baru.
Di tengah puncak keintiman mereka, Aris berbisik lirir di telinga Rina, sambil menahan napasnya yang berat:
"Ya Allah... jika Engkau mengizinkan... karuniakan kami anak yang sehat, shaleh, cerdas... yang bisa membuat ibunya bangga, dan ayahnya tidak perlu dihukum merangkak lagi karena kenakalannya..."
Rina memeluk erat punggung Aris, menjawab dengan bisikan yang sama hangatnya:
"Amin... Ya Rabb. Jadikan dia penyejuk mata kami. Jadikan dia generasi yang lebih baik dari kita. Dan... jangan lupa, Mas... usahanya harus maksimal malam ini!"
Mereka tertawa kecil di tengah kekhidmatan momen itu, sebelum kembali tenggelam dalam gelombang cinta yang menghanyutkan.
Matahari pagi menyinari Gang Tebet dengan cerah. Burung-burung berkicau riang.
Di dalam kamar, Aris terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa remuk total, jauh lebih parah daripada sore kemarin. Setiap otot berteriak minta ampun. Tapi, di wajahnya terukir senyum kepuasan yang luar biasa.
Ia menoleh ke samping. Rina masih tidur pulas, wajahnya tenang dan damai, dengan senyum tipis terkembang di bibirnya, seolah sedang bermimpi indah tentang bayi yang lucu.
Aris mengecup kening istrinya pelan. "Selamat pagi, Calon Ibu Hebat," bisiknya.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Suara Rayyan terdengar dari luar.
"Ayah? Ibu? Sudah bangun? Sarapan sudah siap. Tante Zahra bikin pancake bentuk atom!"
Aris buru-buru menyelimuti Rina rapat-rapat, lalu berteriak pelan, "Iya, Nak! Ayah sebentar lagi keluar! Jangan ganggu Ibu, Ibu sedang... istirahat strategis!"
Rayyan tertawa di luar. "Siap, Yah! Istirahat strategis apa itu? Lagi latihan jadi kura-kura lagi?"
"Bukan! Keluar sana!" usir Aris malu-malu.
Setelah Rayyan pergi, Rina mulai terbangun. Ia menguap lebar, lalu menatap Aris dengan mata berbinar.
"Pagi, Mas..." sapanya manja. "Gimana? Masih sakit?"
"Sakit semua, Sayang. Tapi hati senang," jawab Aris jujur sambil tertawa kecil. "Apakah... semalam berhasil menurut perhitunganmu?"
Rina tersenyum misterius, lalu memegang perutnya yang masih rata.
"Entahlah, Mas. Kita serahkan pada Allah. Tapi直觉 (firasat) ibu mengatakan, benih itu sudah ditanam dengan sangat subur malam tadi. Energi kita luar biasa!"
Aris tertawa lepas. "Syukurlah. Kalau memang rezeki kita, alhamdulillah. Kalau belum, kita coba lagi nanti malam. Atau lusa. Atau kapanpun kamu merasa 'ganas' lagi."
Rina memukul lengan Aris pelan sambil tertawa. "Dasar! Jangan sok kuat! Nanti kamu jatuh pingsan lagi!"
Mereka berdua tertawa bahagia, memulai hari dengan kehangatan yang luar biasa.
Saat sarapan, suasana riuh. Rayyan dan Zayna sedang berdebat soal desain robot pelayan baru. Faris dan Zahra asyik membahas menu makan siang.
Tiba-tiba, Aris dan Rina turun tangga. Langkah Aris agak pincang sedikit, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Rina berjalan dengan anggun, wajahnya berseri-seri lebih dari biasanya.
Faris, yang punya mata elang untuk detail, segera menyadari perubahan itu. Ia menatap Aris, lalu menatap Rina, lalu menghitung sesuatu di kepalanya dengan cepat.
"Wah," celetuk Faris tiba-tiba, membuat semua orang diam. "Berdasarkan analisis postur tubuh Kak Aris yang sedikit pincang (indikasi aktivitas fisik intens semalam), ditambah dengan aura wajah Tante Rina yang memancarkan tingkat dopamin dan oksitosin 300% di atas normal, serta senyum misterius yang khas ibu yang baru saja melakukan 'misi khusus'..."
Faris berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar sambil menunjuk mereka berdua.
"Saya berani bertaruh dengan probabilitas 95%, malam tadi terjadi conception event (kejadian pembuahan)! Selamat! Kita akan punya keponakan baru lagi!"
Zahra langsung tepuk tangan girang. "Wih! Benarkah? Asyik! Aku sudah nggak sabar mau beli baju bayi lagi! Nanti kita buat yang motif DNA helix!"
Rayyan dan Zayna (remaja) saling pandang, lalu wajah mereka memerah malu.
"Eww, Paman Faris! Jorok bahasannya!" protes Rayyan sambil menutup telinga
Iyah yah jangan dianalisis pakai statistik
Rina tersipu malu, tapi tidak menyangkal. Ia hanya tersenyum manis sambil menuangkan teh untuk Aris. "Kita doakan saja, Mas Faris. Semoga Allah meridhoi usaha kami semalam."
Aris, yang wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa pasrah. "Dasar Faris. Tidak ada privasi lagi buat kakakmu ini. Semua dianalisis!"
"Ah, itu namanya sains kehidupan, Kak!" balas Faris tertawa. "Lagipula, berita bagus begini harus dirayakan! Pancake bentuk atom untuk semua! Dan khusus untuk Kak Aris dan Tante Rina, saya tambahkan topping stroberi berbentuk hati!"
Semua orang di meja tertawa terbahak-bahak. Suasana pagi itu penuh cinta, canda, dan harapan baru.
Di sudut ruangan, robot pelayan yang baru diperbaiki merekam momen itu, lalu berkata dengan suara datunya:
"Deteksi emosi: Kebahagiaan Level Maksimum. Prediksi: Dalam 9 bulan, unit baru manusia akan ditambahkan ke database keluarga. Sistem siap menyambut anggota baru."
Dan begitulah, Gang Tebet kembali bergembira. Menunggu kabar pasti apakah "misi ganas" Rina semalam benar-benar berhasil membuahkan hasil. Tapi apapun hasilnya, cinta di keluarga ini tak pernah surut.
Bersambung...