NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: POV DANENDRA ADITAMA

Aku menyandarkan punggung di kursi belakang mobil, membiarkan tablet di pangkuanku menyala tanpa benar-benar kubaca isinya. Mataku menatap lurus ke depan, namun seluruh kesadaranku tertuju pada gadis yang duduk di sampingku.

Azzalia. Dia masih sama. Masih keras kepala dengan tatapan sedingin es yang selalu berhasil membuatku merasa seperti orang asing. Namun, dia salah jika mengira aku tidak bisa melihat celah di zirah besinya.

Tadi, di kafe, saat aku berbisik bahwa matanya tidak bisa berbohong, aku melihat kilatan ketakutan sekaligus keraguan di sana. Itu sudah cukup bagiku. Enam tahun aku hidup dalam ketidakpastian, dan hari ini aku mendapatkan konfirmasi bahwa aku masih memiliki ruang di hatinya, sekecil apa pun itu.

“Kenapa kamu harus mempersulit semuanya, Zal?” batinku getir.

Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bukan karena aku benar-benar sibuk, tapi karena aku tahu jika aku menoleh sedikit saja, aku akan kehilangan kendali. Aku ingin merengkuhnya, menuntut jawaban atas kepergiannya yang tiba-tiba, dan memintanya berhenti bersikap seolah kami tidak pernah berbagi kenangan apa pun.

Tapi aku bukan lagi Danendra yang remaja. Aku tahu, jika aku mengejarnya terlalu agresif, dia akan kembali lari dan menghilang. Aku harus bermain cantik. Aku harus menggunakan posisiku sebagai atasannya untuk mengikatnya agar tetap berada dalam jangkauan pandanganku.

Begitu mobil sampai di parkiran, aku kembali memasang topeng profesionalitas. Aku memberinya teguran tajam soal revisi. Itu sengaja kulakukan. Aku ingin dia tetap terjaga malam ini, memikirkan pekerjaannya—yang artinya dia juga harus memikirkanku.

Aku turun dari mobil tanpa menoleh lagi, melangkah tegas menuju lobi kantor. Namun, begitu pintu lift tertutup dan aku hanya sendirian di dalam kotak besi itu, aku mengembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan. Bahuku merosot.

Aku merogoh saku, menyentuh sebuah benda kecil yang selalu kubawa di dalam dompetku: sebuah foto lama yang sudah agak kusam, foto Azzalia yang sedang tersenyum tipis saat kami masih SMA.

"Kamu pikir kamu bisa lari di kota sekecil ini, Zal?" gumamku pelan sambil menatap bayanganku di pintu lift yang mengkilap.

Aku tahu tindakanku hari ini mungkin terlihat egois dan manipulatif. Menggunakan wewenang kantor untuk kepentinganku sendiri. Tapi enam tahun kehilangan jejaknya telah membuatku cukup gila untuk melakukan apa pun agar tidak kehilangan dia untuk kedua kalinya.

Bagiku, pertemuan di Kota J ini bukan sekadar kebetulan bisnis. Ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan semesta. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya mendorongku pergi lagi. Jika dia ingin tetap memakai zirahnya, maka aku akan menjadi orang yang paling sabar untuk menghancurkannya keping demi keping.

Selamat datang kembali di duniaku, Azzalia. Kali ini, tidak ada jalan keluar.

Pintu lift terbuka di lantai eksekutif, dan aku kembali menegakkan bahu. Aku berjalan melewati meja sekretaris dengan langkah mantap, wajahku kembali datar, tak menyisakan celah bagi siapa pun untuk melihat betapa berantakannya perasaanku di dalam sana.

Begitu sampai di dalam ruangan kerja sementaraku, aku tidak langsung duduk. Aku berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke area parkir karyawan. Dari ketinggian ini, aku bisa melihat sosok kecil Azzalia yang baru saja keluar dari mobil kantor dan berjalan cepat masuk kembali ke gedung.

Dia terlihat begitu rapuh dari sini, namun di saat yang sama, punggungnya terlihat begitu tegar memikul beban rahasia yang ia simpan sendiri.

Aku menghela napas, jemariku mengetuk-ngetuk meja kayu di depanku dengan irama yang tak beraturan. Pikiranku melayang pada revisi yang kuberikan tadi. Itu adalah jebakan kecil. Aku tahu drafnya sudah hampir sempurna, tapi aku butuh alasan agar dia tetap berada di bawah kendaliku, setidaknya sampai besok pagi.

Aku meraih ponsel di atas meja, ragu sejenak sebelum akhirnya membuka kontak Valerie.

To: Valerie

"Gue baru aja selesai makan siang bareng dia. Dia masih pakai topeng itu, Val. Tapi gue nggak akan nyerah kali ini. Tolong jangan halangi gue lagi."

Aku tahu Valerie mungkin akan mengomel atau kembali menyuruhku menyerah, tapi aku butuh orang lain tahu bahwa aku tidak sedang main-main.

Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Bagas masuk membawa beberapa berkas.

"Pak Nendra, ini data tambahan untuk pertemuan besok dengan Pak Bram. Oh ya, tadi staf magang yang namanya Azzalia tanya soal detail revisi ke bagian operasional. Kelihatannya dia sangat serius mengerjakannya," lapor Bagas.

Aku mengangguk kecil, mencoba menahan senyum yang nyaris terbit. "Bagus. Pastikan semua dukungannya siap kalau dia butuh data tambahan. Saya ingin hasil yang sempurna besok pagi."

"Siap, Pak."

Setelah Bagas keluar, aku kembali terdiam. Aku membayangkan Azzalia di meja kubikelnya sekarang, mungkin sedang menggerutu kesal karena permintaanku yang mendadak, atau mungkin sedang meremas jemarinya karena cemas.

Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku sedang menekannya secara mental. Tapi ini satu-satunya cara agar dia tidak punya waktu untuk memikirkan cara melarikan diri lagi. Aku ingin memenuhi setiap inci pikirannya dengan kehadiranku, baik sebagai atasan yang menyebalkan maupun sebagai masa lalu yang menghantuinya.

"Zal, kamu boleh membenciku sekarang. Tapi setidaknya, dengan membenciku, kamu tidak akan pernah bisa melupakan aku," gumamku dalam hati.

Aku duduk di kursi kebesaranku, menarik napas dalam, dan mulai membuka laptop. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kami berdua. Dia dengan revisinya, dan aku dengan rencana-rencana untuk memastikan dia tidak akan pernah bisa pergi lagi dari hidupku.

Karena di kota J ini, aku bukan lagi Danendra yang hanya bisa menunggu. Aku adalah Danendra yang akan menjemput paksa takdirku sendiri.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!