NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Miranda hanya mengangguk. Batinya bergolak, merasa ingin menentang, namun dunia belum berpihak kepadanya. "Asal kamu tahu, Mas Ezar... Tama adalah putra kandungmu. Tapi sampai kapan pun... Aku akan merahasiakan semua ini. Aku tidak ingin mengecewakan Mas Arya yang telah merawat Tama sejak dalam kandungan."

"JAWAB! PUNYA MULUT, GAK?" sentak Ezar hingga membuat Nanda begitu Miranda melonjak kaget.

Miranda merasa kesal. Ia menoleh, sorot matanya sangat kuat. Meskipun saat ini berhadapan dengan Bos sekali pun, jika ia dalam kebenaran, maka mulutnya tak kalah pedas.

"Maaf, Pak Ezar... Tapi kita saat ini baru dalam perjalanan. Apa salahnya saya mengabari Putra saya dulu? Lagian... Telfon tadi juga nggak sampai 5 menit!"

Ezar menggeram, tiba-tiba....

Sret!

Ahh! Miranda merintih, lenganya ditarik Ezar dengan kuat.

Nanda yang duduk dibalik kemudi cukup terkejut dengan sikap kasar Bosnya. Padahal, sejak dulu pun Ezar tidak pernah terlalu mengurusi hal pribadi Sekertarisnya, termasuk berkontak fisik.

"Pak Ezar, tangan Miranda bisa patah! Tolong tenangkan diri Anda," Nanda akhirnya membuka suara.

Miranda sampai terhuyung kedepan, Ezar menghempaskan lenganya sangat kuat.

"Awa saja jika kamu berani membantah saya di lain waktu... Habis kamu, Miranda!" bisiknya.

Ezar kembali menegakan tubuhnya, menarik kerah jas dengan santai sambil menghela napas panjang.

Miranda mengusap lenganya di balik kemeja biru muda yang ia kenakan. Wajahnya masih meringis, rasanya panas dan kebas beradu jadi satu. "Ya Allah... Bagaimana bisa dulu aku sejatuh cinta itu pada dia...." kalimat itu hanya mampu tertahan dalam dadanya. Wajahnya sibuk berpaling kearah jendela.

Dalih menghadiri meting, rupanya Nanda menghentikan mobil mewah itu dihalaman resto ternama.

Miranda jelas syok. Ia menoleh pada Nanda selaku rekanya, sorot matanya; berkata seakan mereka salah lokasi meting.

"Lebih baik kamu turun saja. Saya tidak ingin melihat Pak Ezar berlaku kasar lagi sama kamu," ucap Nanda lalu membuka pintu untuk Ezar keluar.

Miranda menelan kasar ludahnya. Ia tatap resto didepanya dengan wajah penuh damba. Aroma masakan bak tarian yang menarik-narik indra penciumannya.

"Kamu mau kayak tukang parkir, diem gitu?!" cetus Ezar sambil melepaskan kacamatanya.

Miranda tersadar, kalimat Ezar kembali berdentum sangat pedas. "Kenapa? Kamu kagum lihat resto semewah ini?" pria tampan itu berbisik, sedikit menunduk di samping tubuh Miranda. "Bukanya jalang seperti kamu sudah menjelajahi tempat-tempat mewah di kota ini? Heh!"

Selepas menyayat hati, Ezar berjalan melenggang terlebih dulu. Miranda mengepalkan kuat tanganya, kini bukan lagi sesak yang menyerang. Melainkan kebencian yang mulai tertanam, dan mungkin kelak akan mengakar dengan sendirinya.

Staff menyambut Ezar dengan hormat. Sebagian besar saham Resto mewah itu milik Ezar secara pribadi. Apalagi, ia selalau datang dengan kekasihnya~Sinta.

"Selamat datang, Tuan? Mau privat room atau VIP room?"

Dengan suara beratnya, Ezar berkata, "Di lantai dua... Berikan pelayanan terbaik!"

Staff tadi mempersilahkan dengan sopan.

Miranda yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti langkah lebar Ezar naik menuju lantai dua, masih bersama Nanda juga.

Namun ketika Nanda akan duduk, Ezar menghalaunya. "Nanda... Kembalilah ke kantor, ambilkan dokumen meting yang tertinggal di sofa ruangan saya!"

Nanda hanya mampu mengangguk patuh. "Baik, Pak Ezar. Kalau begitu saya permisi!"

Miranda mengerutkan dahi, wajahnya penuh protes kepada sang Atasan.

"Kenapa, Miranda? Kamu akan berdiam seharian disitu?" Ezar berkata tanpa menatap. Ia masih sibuk merapikan serbet makan untuk ia letakan diatas pahanya.

"Bagaimana bisa Anda menyuruh Nanda kembali lagi? Memangnya, apa nggak sekalian dokumen tadi Anda ambil? Itu hanya semakin mengulur waktu saja?!" Miranda tak habis pikir.

Ezar menyeringai tipis. Menatap Miranda sangat remeh.

"Itu memang tujuan saya, Miranda! Saya ingin melihat... Bagaimana seorang jalang murahan menggoda mangsanya."

Miranda menelan ludah. Jantungnya kembali berpacu cepat. Bagimana bisa dalam keadaan tertutup seperti itu dirinya masih tak selamat di mata manusia.

"Jaga bicara kamu, Pak Ezar! Saya tidak seburuk yang kamu pikirkan! Saya sudah berhijrah, dan melupakan semua dosa masalalu saya!" tekanya.

Ezar malah bertepuk tangan pelan. Senyumnya penuh rasa benci yang terbalut kemenangan.

"Aku tidak yakin dengan ucapanmu. Bukankah... Seorang Jalang memang fasih berkata seperti itu? Atau... Penampilan kamu itu hanya untuk menutupi sifat BUSUKMU, HA?" tekanya lagi.

Miranda memejamkan mata dalam-dalam. Ia menarik napas beberapa kali sebelum menarik kursi.

Namun belum sepenuhnya duduk, dari arah pintu masuk terdengar suara seseorang.

"Sayang... Kamu juga ada disini? Sama siapa-"

Ezar terkejut, Miranda juga ikut menoleh. "Sinta... Kamu kenapa bisa ada disini?"

Tatapan Sinta jatuh pada Miranda di depanya. Wajah cantik terbalut make up menor itu menelisik penuh rasa tak terima.

"Kamu? Kamu bukanya wanita yang di taman sore itu 'kan?" tebaknya.

Ezar menghalau. Ia menarik pinggang sang Kekasih agar mendekat. Sambil melirik sinis Miranda, Ezar menunjukan sikap romantis saat membelai wajah sang Kekasih. Baginya, dengan cara itu ia dapat membalaskan rasa sakit yang dulu Miranda berikan.

Dada Miranda berdesir. Ia memalingkan wajah, disaat Ezar sudah mendekatkan bibirnya pada bibir sang Kekasih.

Ezar menghentikan gerakanya. Wajah Sinta sudah menekuk. "Sayang... Kok nggak jadi nyium sih?"

"Maaf, Pak Ezar... Jika Anda tengah bersenang-senang, maka lebih baik saya keluar dulu." Miranda sudah bergerak namun tanganya di tahan oleh Ezar.

Sinta yang melihat reflek melepaskan genggaman tangan itu. "Sayang... Kalau dia mau keluar ya biarin aja! Lagian... Kamu ngapain sih ketemu wanita ini lagi?!"

Miranda kali ini menatap. Wajahnya tenang, sorot matanya mengikat. "Maaf, saya sekertarisnya Pak Ezar. Kita sebentar lagi akan melakukan meting dengan perusahaan Elemen!"

Dan memang benar yang di ucapkan Miranda.

"Sinta... Dia sekertarisku saat ini. Tapi kamu nggak perlu khawatir! Aku nggak akan tergoda dengan wanita modelan sok alim kaya dia. Hanya kamu yang ada di hatiku," bisiknya. Ezar mengangkat kedua tangan Sinta untuk di cium.

Kali ini Miranda mencoba tabah. Ia menghela napas dalam, pikirnya cuma satu; segeralah berakhir satu hari ini. Ia sudah ingin pulang dan bertemu putranya.

Cup!

Ezar reflek terkejut. Sinta mencium pipinya sekilas. "Ya udah... Aku mau lanjutin acaraku sama temen-temen," irish itam itu beralih pada Miranda. "Awas saja kalau kamu sampai berniat merayu calon suamiku... Habis, kamu!" tekanya.

Miranda bahkan sampai memejamkan mata sekejab. Ucapan wanita angkuh itu meremat ulu hatinya. ia tetap tegap dalam posisinya. Begitu Sinta pergi, barulah Miranda duduk kembali.

Acara makan siang itu berjalan dengan hening. Miranda terus saja memasukan apapun dalam mulutnya, berharap semua makanan itu dapat mengenyangkan perutnya.

Menatap wajah dingin Miranda semakin membakar hati Ezar. Pria itu terus saja memandangi, hingga tanganya hampir saja mematahkan sendok yang tergenggam.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit juga ikut berlalu. Miranda sampai menghabiskan makananya, namun rekan Bosnya itu tak kunjung datang.

"Maaf, Pak Ezar... Ini sudah terlewat waktu makan siang. Lalu... Dimana Pak Enggar?" tegur Miranda sangat kesal.

Ezar meletakan segelas air sangat kuat, hingga cipratannya menjamah seisi meja.

Tak!

1
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
Ig:@septi.sari21: kak dew, macihh bintangnya😍✋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!