Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Gratis
"Eh, maaf. Ibu mau belanja, ya? Saya sudah." Ibu itu bergeser ke samping.
"Eh tidak apa-apa. Saya belakangan aja. Ada lagi yang mau belanja?" tanya Aida.
"Oh, kalau begitu, Saya dulu." Seorang wanita bertubuh kurus maju diikuti dua orang lainnya.
"Oh, kalo begitu, bisa ngantri di marih?" Babe ikut membantu Collins dari samping.
Karena Babe ikut membantu, pekerjaan cepat selesai. Keduanya memasukkan ke dalam bungkusan, pesanan para pembeli dan menerima pembayaran. Pembeli pun keluar dengan membawa plastik belanja masing-masing.
"Mbak, mau beli apa?" tanya Collins ketika tinggal Aida sendiri.
Sang wanita menyodorkan plastik belanja yang dibawanya. "Ini aku belikan nasi padang buat kalian," katanya malu-malu.
"Babe juga dapat nih?" Pria paruh baya ini melebarkan kedua matanya, tak menyangka ia dikirimi makanan oleh Aida.
"Iya, Be. Terima kasih udah bantu Aida pindahan ya," sahut Aida tersenyum ramah.
Babe pun menerimanya dengan senang. "Oh, begitu? Ya udeh, babe gak perlu sungkan-sungkan lagi." Babe mengambil plastik belanja itu dan memeriksanya. "Tapi kenape Bara juga dikasih?"
Pertanyaan ini membuat wajah Aida tersipu-sipu. Collins melihatnya hingga melirik babe dengan kesal. "Babe nih ... iseng!"
Babe terbahak. Collins kembali menoleh pada Aida. "Jangan didengerin, Mbak. Babe suka iseng! Sama dengan Ipah!"
Pria paruh baya itu makin terkekeh. "Namenye juga anaknye!"
Aida tak dapat menahan tawa. Ia tertawa dengan sedikit tertunduk. Untuk pertama kalinya Collins melihat wanita itu tertawa. Sangat manis.
Aida senang berkenalan dengan paman Bara yang begitu baik dan menerimanya. Betapa bahagianya Bara, bisa bersama mereka. Namun bagaimana dengan orang tua Bara? Apakah mereka bisa menerima keadaan dirinya yang buta dan tidak punya orang tua? 'Eh ... kenapa aku berpikir sampai begini? Belum tentu juga Bara akan melamar aku. Aku 'kan sudah menolaknya? Eh ... belum. Aku belum pernah menolaknya. Buktinya aku memintanya kembali untuk jadi tukang ojek. Tapi ... bagaimana kalau sekarang dia sudah punya pacar? Ah, tidak mungkin ... Ah, apa yang aku pikirkan?' Wajahnya tiba-tiba memerah.
"Mbak, kenapa mukanya merah?" Collins mengerut dahi.
Aida segera tersadar, dan tersipu. "Eh, tadi aku tuh mau belanja." Ia mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, mau apa?" Collins menatap wajah Aida. 'Kenapa belakangan ini wajahnya terlihat manis? Gampang tersenyum juga, apa dia sedang senang?'
"Aku beli kopi bubuk yang satu bungkus besar sama gula sekilo." Dalam hati, Aida masih khawatir wajahnya kemerahan, tapi ia tak bisa menyentuh wajahnya karena takut Collins memperhatikannya.
"Ada lagi?" Pria itu memasukkan dalam plastik belanja.
"Eh, tisu."
"Udah?" tanya Collins memastikan sambil memasukkan sisanya.
"Iya."
"Gratis," celetuk Babe yang sedang makan tanpa menoleh. Collins meliriknya.
"Eh, tidak. Aku bayar." Aida mengeluarkan uang kertas berwarna biru.
"Lah, babe ditraktir makan siang tapi elu ditraktir belanjaan, kagak mau," kata Babe lagi yang kini menatap Aida. Ia tengah makan dengan tangan.
"Eh, itu rasa terima kasihku, Be. Udah ditolongin. Yang ini beda lagi," tolak Aida.
Babe mengangguk-angguk sambil mengunyah. "Ya udeh deh, terserah lu aje. Mmh, rendangnye enak nih?" Ia mengangkat sedikit nasi kota di tangan.
"Ah, senang Babe suka." Aida senyumnya tambang lebar. Ia lega.
Collins memperhatikan senyum sang wanita. Seketika itu juga ia melangkah keluar toko mendatangi Aida. "Kenapa kamu senyum dengan dia? Kenapa gak senyum denganku?" Protesnya sambil menunjuk Babe tanpa menoleh. Pandangannya masih tetap pada Aida.
Babe melirik keduanya sambil mengunyah. Ia tak tahu bagaimana mereka berhubungan, tapi melihat Collins yang berani mengungkapkan perasaan di depan dirinya membuat babe geleng-geleng kepala.
"Eh?" Aida melongo.
"Ayo, aku anterin kamu pulang." Collins tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
Wanita itu tak mengerti maksud perkataan Collins. Ia melangkah keluar sambil mengerut dahi. "Apa kamu cemburu pada Babe?" tanyanya hati-hati.
"Menurutmu?" Mulut pria itu mengerucut tapi Aida tak bisa melihat ekspresinya. Walau begitu, Aida bisa merasakannya dari nada bicara Collins yang sedikit pedas.
Aida memalingkan wajah menahan tawa dengan dengan menutup mulutnya. Collins malah bergerak memutar ke hadapan Aida dan melangkah mundur. "Aku tidak pernah melihat kamu tersenyum padaku."
"Masa?" Langkah Aida terhenti dan menautkan alis. Ia coba berpikir. 'Apa benar aku tidak pernah tersenyum padanya?'
Collins pun berhenti melangkah. Ia mendekati Aida.
"Bara!" teriak Babe. "Babe liat yak!" Pria itu memperingatkan.
Collins hanya bisa mendengus kesal. "Iya, iya!" Ia merengut. Ternyata babe masih mengintip hingga bisa melarangnya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Padahal Collins tidak berniat melakukan apa-apa.
Aida kembali menahan tawa dengan menutup mulut rapat-rapat. "Ya udah, aku pulang dulu ya, Bang." Ia menjalankan tongkatnya dalam gegas.
"Eh, tidak bisa. Tadi aku bilang, aku antar pulang, kan!" Collins mengejarnya dan berusaha berjalan sejajar.
Aida tersipu. Ia bisa merasakan pria itu berada di sisi, dan mencoba melangkah bersama. Ia tahu itu dari bau deodoran yang sudah tercampur aroma tubuh Collins yang menguar sempurna mengelilinginya.
'Mudah-mudahan, dia adalah pemberian terbaik yang Tuhan berikan untukku.'
****
"Bara ... ayo!" Babe sudah duduk membonceng di belakang Collins tapi pria itu tak kunjung menyalakan mesin motor.
"Tunggu, Be. Mbak Aida belum keluar dari sekolah SLB." Ternyata Collins menunggu Aida yang belum keluar dari sekolah yang berada di seberang toko.
"Ini udeh sore, Bara. Babe harus ngajar. Babe harus pulang dulu, mandi."
Mulut Collins mengerucut. "Biasanya dia sudah pulang, tapi kenapa sekarang belum keluar juga?" gerutunya.
"Mungkin ada yang murid yang lagi ujian hafiz, jadi mungkin lama. Lagian, kenapa lu nungguin, dah? Ustadz itu pan bisa pulang sendiri, tinggal nyebrang ini ...."
"Iya ...," sahut Collins setengah tak rela. "Aku hanya khawatir dia kenapa-kenapa."
"Yang dikhawatirkan itu elu, Bara. Luka lu belum sembuh bener walau gak parah dan lagipula, lu juga bukan warga sini."
"Jangan samain Mpok sama Mbak Aida, Be. Mpok bisa bela diri!" Kini Collins mengomel.
"Ye udeh, nikah aja sono. Beres pan?"
Collins terdiam. Kali ini ia tak bisa menjawabnya.
Babe menepuk bahu Collins. "Makenye, coba cari kerja kantoran."
Ide babe terdengar sederhana tapi ia tak bisa melakukannya. Perlu identitas lengkap kalau ingin bekerja di kantor, plus kemungkinan keberadaannya tercium sang ayah. Collins dilema. Betapa susahnya lepas dari bayang-bayang sang ayah.
Ia menyalakan mesin motornya.
****
Collins terkejut saat motornya hampir sampai menjemput Aida pagi ini di kontrakan. Dari jauh ia melihat wanita itu tengah didatangi sepupunya, Aning. Saat Collins datang, ia baru tahu mereka sedang membicarakan apa.
"Ini tagihan listriknya udah datang. Kakak bantuin Aninglah setidaknya bayar setengahnya," pinta Aning pada sang sepupu.
"Lho, kenapa dia harus bayar? Dia 'kan udah tidak tinggal lagi di situ?" Collins ikut bicara.
Aning merengut kesal. "Kamu siapa, ngatur-ngatur urusan orang?!" omelnya pada Collins dengan dahi berkerut.
"Aku tunangannya. Memang kenapa?!" tantang Collins balik.
Aning melongo. Aida tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
"Ayo, Mbak, naik. Nanti telat," sahut Collins yang juga ikut kesal mendengar omongan Aning.
Aida menjalankan tongkatnya mencari motor pria itu. Setelah itu ia naik. Tanpa bicara apa-apa, keduanya pergi.
Pelan-pelan Collins merasa bersalah karena lancang ikut campur dengan urusan mereka bersaudara. "Eh ... maaf ya?"
Bersambung ....