Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Go-Green: Rapat Dewan Direksi di Sawah Virtual
“Judulnya: ‘Riton Wijaya Ditinggalkan Wanita Karir Senior: Trauma Cinta dan Manipulasi Keuangan.’ Disebutkan bahwa Riton pernah menjalin hubungan dengan seorang manajer perusahaan investasi yang usianya hampir sepuluh tahun lebih tua, dan wanita itu memanipulasi Riton untuk mendapatkan akses ke investasinya. Hubungan itu berakhir buruk, dan Riton sangat terpukul,” jelas Dimas.
Ekantika merasa dingin. Sepuluh tahun lebih tua. Manipulasi. Trauma.
“Aku sembilan tahun lebih tua, Dimas. Dan aku baru saja memanipulasi seluruh identitasku,” bisik Ekantika, tiba-tiba rasa percaya dirinya runtuh.
“Tepat, Tik. Aku sudah memperingatkanmu. Riton bukan hanya benci kebohongan. Dia punya pemicu spesifik terhadap wanita yang lebih tua yang tidak jujur. Ini bukan lagi permainan, Tik. Ini adalah ranjau darat emosional,” tekan Dimas.
Ekantika menatap pantulan dirinya di jendela mobil. Ia melihat garis kelelahan di bawah matanya. Jika ia melanjutkan, ia mungkin menghancurkan Riton—dan dirinya sendiri.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi kencan. Ia menatap tombol Unmatch. Sebuah solusi sederhana untuk mengakhiri bencana ini.
Namun, saat jemarinya melayang di atas tombol itu, ia teringat pada bisikan-bisikan sinis di kantornya: Janda itu harusnya mencari pria yang lebih tua dan stabil. Kasihan sekali, pasti kesepian.
Rasa kesepian itu, rasa ingin membuktikan bahwa ia masih mampu menarik perhatian, tiba-tiba memompa adrenalin lagi. Ekantika Asna tidak pernah mundur dari tantangan yang menguji kemampuannya.
“Aku tidak akan mundur, Dimas. Aku sudah terlanjur berinvestasi terlalu banyak dalam persona Nana,” putus Ekantika, suaranya kembali tegas.
“Apa rencanamu? Bagaimana kamu akan menghadapi fakta bahwa kamu adalah trauma terbesarnya?”
“Aku akan menjadi pengecualian, Dimas. Aku akan menjadi wanita lebih tua yang manipulatif, tetapi aku akan menjadi yang paling dicintai,” kata Ekantika, mengakhiri panggilannya dengan cepat.
Ia mengambil napas dalam-dalam, menghela napas, dan membuka aplikasi kencan itu lagi. Ia harus membalas pesan Riton yang terakhir, yang menanyakan tentang anting lucu Nana. Ia harus mengalihkan kecurigaannya dengan cepat.
Ia mulai mengetik:
Nana: Aduh, Riton! Aku baru ingat! Anting itu bukan dari pasar malam, tapi dari Tante-ku! Tante-ku itu CEO lho, jadi dia suka beli barang yang sama untuk semua orang di kantornya! 🤣Tapi aku kan fresh grad, jadi aku jual lagi deh! Lumayan buat nambah uang jajan!
Ia menekan kirim, menciptakan kebohongan baru yang memasukkan dirinya sendiri (Ekantika, si Tante CEO) ke dalam narasi Nana, tetapi dengan cara yang meremehkan.
Ia meletakkan ponselnya, merasa puas. Ia berhasil.
Ddrrttt!
Ponselnya bergetar lagi. Bukan balasan dari pesan yang baru ia kirim, tetapi sebuah pesan baru yang muncul dari Riton, di kolom chat yang berbeda. Riton tampak tidak sabar.
Ekantika membuka pesan itu. Pesan itu hanya terdiri dari satu baris, dan itu adalah pertanyaan yang ia tunggu-tunggu, yang akan mengunci sandiwara ini lebih dalam lagi.
Riton: Hai, Nana. Profilmu unik. Tertarik ngopi besok?
Ekantika menatap pesan itu, senyumnya melebar. Besok? Ia sudah berjanong ria bahwa ia berada di luar kota besok.
Ia harus menolak, tetapi menolak dengan cara Nana yang riang. Ia harus mempertahankan alibi perjalanan luar kota yang ia ciptakan di babak sebelumnya.
Ia mulai mengetik, jari-jarinya menari dengan kecepatan yang berbahaya:
Nana: Aduh Riton! Mau banget! Tapi besok aku masih di luar kota, nih, lagi ada urusan keluarga mendadak! Gimana kalau lusa? Aku janji akan cerita soal Tante CEO-ku yang lucu itu! 😉
Ia menekan kirim. Selesai. Lusa. Ia punya 48 jam untuk menyempurnakan Nana, untuk memastikan Riton tidak pernah menyadari bahwa ‘Tante CEO yang lucu’ itu adalah dirinya.
Ia menutup ponselnya, memejamkan mata, dan mulai merancang strategi ganda untuk 48 jam ke depan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk. Bukan dari Riton. Tapi dari Vina, asistennya.
Vina: Bu, ada kabar buruk. Rapat dewan direksi besok pagi dipindahkan ke online, Bapak-Bapak direksi minta Ibu memimpin dari luar kota. Katanya Ibu harus fokus.
Ekantika membuka matanya lebar-lebar. Ia harus memimpin rapat dewan direksi besok pagi… dari luar kota.
Ia meraih ponselnya, mencari nama Dimas. Ia harus segera menghubungi Dimas, membatalkan semua yang sudah ia rencanakan, dan menciptakan latar belakang video conference yang meyakinkan, lengkap dengan pemandangan sawah dan delay jaringan yang persuasif.
Ia baru saja menandatangani kontrak sandiwara yang jauh lebih rumit, berisiko tinggi, dan...
Ddrrttt!
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini Riton.
Riton: Oke, lusa. Tapi kamu janji cerita, ya. Aku penasaran sama kamu.
Ekantika tersenyum getir.
“Tentu, Riton,” bisiknya pada dirinya sendiri, menatap pantulan dirinya di jendela. “Aku juga penasaran. Seberapa jauh aku bisa menjalankan kebohongan ini sebelum kehancuranku datang?”
Ia harus segera mencari bala bantuan, seseorang yang dapat membantunya mengelola sandiwara gila ini, seseorang yang memiliki keahlian teknis untuk mendukung alibi Nana. Hanya ada satu orang yang bisa ia andalkan dalam kegilaan digital ini.
Ia meraih ponselnya, mencari nama di daftar kontak.
“Dimas,” desisnya, menekan tombol panggil. “Aku butuh bantuanmu, sekarang juga. Aku baru saja menciptakan identitas palsu dan aku rasa aku baru saja berkencan dengan junior kita yang dulu, yang sekarang adalah CEO, dan aku baru saja berbohong bahwa aku sedang berada di luar kota, padahal besok pagi aku harus memimpin rapat dewan direksi online dari luar kota. Aku butuh kamu membuatkan virtual background sawah, Dimas. Sawah yang meyakinkan, dengan suara ayam berkokok di latar belakang. Dan Dimas…”
Ekantika mengambil napas yang dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang sama sekali tidak profesional, tidak CEO, melainkan penuh hasrat membangkang.
“...Aku juga butuh kamu merancang skenario logistik dan script percakapan untuk kencan lusa. Riton itu mantan kekasih wanita manipulatif yang lebih tua, dan dia adalah trauma terbesarnya. Aku harus menjadi Nana yang sempurna, yang tidak hanya menghapus jejak digitalnya, tetapi juga menghapus segala keraguan Riton tentang perbedaan usia. Aku butuh strategi, Dimas. Strategi yang sangat terperinci, yang akan membuatnya jatuh cinta pada ilusi yang kubuat, dan aku butuh kamu mengubah semua data metadata foto-fotoku yang lama. Aku harus terlihat seperti seorang fresh grad berusia 26 tahun yang tidak pernah punya mantan suami dan tidak pernah menjadi janda. Dan aku butuh kamu meretas arsip kantor lama untuk menghapus foto itu, sekarang juga. Aku akan berada di luar kota besok, tetapi aku akan bekerja di kantor. Aku butuh kamu menjadi mentor karir palsuku jika Riton bertanya, dan aku butuh kamu mengubah semua informasi pribadi Nana menjadi seolah-olah dia tinggal di kos-kosan sempit di Tebet. Aku akan menjebakmu lebih dalam, Dimas. Kau siap?”
Di seberang telepon, Dimas terdiam.
“Ekantika, kamu gila. Apa yang sudah kamu lakukan?”
“Aku hanya sedang melakukan revolusi,” jawab Ekantika, lalu tersenyum jahat saat ia melihat notifikasi lain di layar: foto Riton. “Aku baru saja mengunduh aplikasi kencan, dan aku akan berkencan dengan trauma terbesarnya, dan besok aku harus memimpin rapat dewan direksi dari sawah virtual di Zoom.”
“Apa?!”