Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Cahaya matahari pagi Los Angeles menyusup masuk melalui celah gorden kamar Faelynn, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas karpet. Faelynn terbangun dengan perasaan yang sangat asing.
Biasanya, hal pertama yang ia rasakan adalah beban deadline atau rasa malas menghadapi sindiran tetangga. Namun pagi ini, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya—sebuah kesadaran yang menghantamnya seperti gelombang pasang: Kingsley ada di sini.
Ia menoleh ke arah sofa kecil di sudut kamarnya. Kingsley tertidur di sana dengan kaki panjangnya yang terpaksa menggantung karena sofa itu terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya. Pria itu masih mengenakan kaus hitamnya, namun wajahnya tampak jauh lebih rileks dibandingkan semalam. Dalam tidur, gurat-gurat kelelahan dari misi berbahaya itu sedikit memudar, menyisakan ketampanan yang sangat nyata.
Faelynn bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, tepat saat kakinya menyentuh lantai, mata Kingsley terbuka. Tidak ada proses "bangun tidur" yang lambat bagi seorang agen CIA. Dalam satu detik, matanya sudah tajam dan waspada, sebelum akhirnya melunak saat melihat Faelynn.
"Pagi, Sayang," suara Kingsley serak khas bangun tidur, namun getarannya cukup untuk membuat jantung Faelynn melakukan salto.
"P-pagi," jawab Faelynn, mendadak merasa sangat canggung. Semalam semuanya terasa seperti mimpi yang emosional, tapi pagi ini, di bawah sinar matahari yang terang, kehadiran Kingsley terasa sangat konkret. "Aku... aku akan mandi dan membantu Ibu menyiapkan sarapan."
Kingsley duduk tegak, merenggangkan otot-otot bahunya hingga terdengar bunyi gemeretak. "Butuh bantuan di dapur?"
"Tidak! Maksudku... kau istirahat saja dulu. Luka di pipimu masih harus dibersihkan nanti," ujar Faelynn cepat sebelum melesat masuk ke kamar mandi.
Di dapur, Melinda sudah sibuk dengan penggorengan. Aroma roti panggang, telur mata sapi, dan kopi hitam menyerbak memenuhi ruangan. Melinda tampak sepuluh tahun lebih muda pagi ini. Senyumnya tidak lepas dari bibirnya saat ia menata piring-piring.
"Fae, bangunkan kekasihmu. Suruh dia cuci muka. Ibu sudah buatkan sarapan spesial," ujar Melinda riang.
"Dia sudah bangun, Bu," sahut Faelynn sambil membantu menaruh gelas-gelas di meja makan.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar. Kingsley muncul di ruang makan. Ia sudah mencuci muka, rambut cokelat gelapnya sedikit basah dan acak-acakkan, memberikan kesan maskulin yang berantakan namun sangat menarik.
"Selamat pagi, Bu," sapa Kingsley dengan sopan.
"Pagi, Nak Kingsley! Duduklah, ayo makan. Harus makan yang banyak supaya lukanya cepat sembuh," Melinda menarik kursi untuk Kingsley, yang membuat Faelynn semakin merasa malu dengan perhatian ibunya yang berlebihan.
Suasana di meja makan dimulai dengan kecanggungan yang luar biasa bagi Faelynn. Ia hanya menunduk, sibuk memotong telur matanya menjadi bagian-bagian kecil yang tidak perlu. Sementara itu, Kingsley tampak jauh lebih tenang, meskipun ia sadar sedang menjadi pusat perhatian.
"Jadi..." Melinda memulai percakapan sambil menuangkan kopi untuk Kingsley. "Nak Kingsley ini bekerja sebagai apa sebenarnya? Faelynn bilang kamu diplomat, tapi melihat luka-luka itu... rasanya kamu seperti diplomat yang bekerja di medan perang."
Faelynn tersedak kopinya. Ia menatap Kingsley dengan tatapan penuh kode, 'Tolong jangan katakan kau agen rahasia yang hampir mati di bunker!'
Kingsley meletakkan garpunya, menatap Melinda dengan tatapan yang jujur namun terkendali. "Pekerjaan saya memang melibatkan banyak perjalanan ke zona-zona yang kurang stabil, Bu. Saya bagian dari tim khusus pengamanan informasi luar negeri. Luka ini... hanya kecelakaan kecil saat proses evakuasi kemarin."
"Oalah, pantesan sering hilang kabar," gumam Melinda sambil mengangguk-angguk percaya. "Tapi sekarang kamu sudah aman, kan? Tidak pergi-pergi lagi dalam waktu dekat?"
Kingsley melirik ke arah Faelynn yang masih menahan napas. "Saya punya waktu istirahat sekitar satu bulan, Bu. Dan saya berencana menghabiskan waktu itu di sini, memastikan putri Ibu tidak kesepian lagi."
Wajah Faelynn memanas. "Ibu, jangan tanya-tanya terus. Biarkan dia makan."
Kecanggungan itu memuncak saat Anna tiba-tiba muncul di pintu depan dengan kunci cadangannya. Ia masuk dengan wajah yang masih tampak muram, siap untuk memberikan ceramah pagi tentang "masa depan".
"Kak Fae, aku berpikir soal apa yang harus kita katakan pada tetangga soal kematian Kin—"
Kalimat Anna terputus di udara. Matanya membelalak lebar saat melihat seorang pria asing bertubuh raksasa sedang duduk di meja makan ibunya, menyesap kopi dengan tenang.
"Siapa... siapa ini?" tanya Anna gagap.
"Anna, perkenalkan, ini Kingsley. Kekasih kakakmu yang kita tangisi semalam," ujar Melinda dengan nada sedikit menyindir.
Anna menjatuhkan tasnya ke lantai. "Tapi... surat itu? Kabar itu?"
Kingsley berdiri, menunjukkan tingginya yang luar biasa di depan Anna yang mungil. "Surat itu adalah prosedur yang salah kirim, Anna. Saya minta maaf telah membuat keluargamu panik."
Anna hanya bisa melongo. Kingsley terlihat jauh lebih mengintimidasi dan jauh lebih tampan daripada semua pria yang pernah Anna kenalkan pada kakaknya. Aura kekuasaan dan kekuatan yang terpancar dari Kingsley membuat Anna mendadak merasa kecil.
"Ternyata... Kakak tidak bohong," bisik Anna pada dirinya sendiri.
Setelah sarapan yang penuh drama itu, Kingsley dan Faelynn duduk di balkon kecil mereka.
Kecanggungan mulai mencair, digantikan oleh rasa nyaman yang mendalam. Kingsley memperhatikan bagaimana Faelynn menatap kalung kompas yang kini melingkar di lehernya.
"Kau benar-benar memakainya," ujar Kingsley lembut.
"Aku pikir ini adalah satu-satunya kenang-kenangan yang tersisa darimu," jawab Faelynn pelan. Ia menoleh ke arah Kingsley.
"King, apa kau akan kembali ke sana lagi? Ke tempat yang membuatmu harus menulis surat seperti itu?"
Kingsley meraih tangan Faelynn, menggenggamnya erat. "Duniaku memang berbahaya, Lyn. Tapi sekarang aku punya alasan untuk lebih berhati-hati. Aku tidak akan membiarkan surat biru itu datang lagi ke pintu ini."
Faelynn menyandarkan kepalanya di bahu Kingsley yang lebar. Di kejauhan, ia melihat Mrs. Miller sedang menyiram tanaman di balkon sebelah, menatap mereka dengan mulut terbuka lebar. Faelynn hanya tersenyum tipis. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang.
Di sampingnya, ada seorang pria yang nyata—seorang pria yang telah menembus maut hanya untuk kembali padanya. Dan baginya, itu sudah cukup untuk menghapus semua trauma masa lalu.
"Ay..." bisik Faelynn.
"Ya, Sayang?"
"Ternyata kau memang lebih tinggi dari tiang listrik."
Kingsley tertawa, mengecup kening Faelynn dengan penuh kasih. "Dan kau tetap pendek yang menggemaskan."
Malam mungkin telah berlalu dengan air mata, namun pagi ini membawa janji yang baru. Di antara aroma kopi dan sisa-sisa kecanggungan, cinta mereka mulai berakar dalam realitas, bukan lagi sekadar untaian kata di layar ponsel.
Dan bagi Kingsley Emerson, misi terbesarnya saat ini bukan lagi menyelamatkan negara, melainkan menjaga senyum di wajah Faelynn Yosephine.