Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RAHASIA DI BALIK NISAN MARMER
Pesawat pribadi Arlan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma saat gerimis tipis mulai membasuh aspal. Kepulangan mereka dari Den Haag disambut oleh pengawalan ketat kepolisian—bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai aset negara yang harus dilindungi. Kemenangan di pengadilan internasional telah mengubah status Arlan dan Arumi menjadi simbol perlawanan terhadap oligarki medis.
Namun, Arlan tidak menuju ke kantornya. Ia juga tidak pulang ke apartemen yayasan. Mobil iring-iringan itu membelah kemacetan menuju kompleks pemakaman mewah di pinggiran Jakarta, tempat makam megah mendiang ayahnya, dr. Wirawan Arkananta, berdiri tegak dengan nisan marmer hitam setinggi dua meter.
"Kau yakin ingin melakukan ini, Arlan?" tanya Arumi, jemarinya bertautan erat dengan tangan suaminya di dalam mobil. "Menggali makam ayahmu... itu sangat berat secara emosional."
Arlan menatap keluar jendela, matanya tampak kelam. "Ibuku tidak akan berbohong soal ini di saat-saat terakhirnya. Ayahku adalah pria yang penuh rahasia. Dia membangun Arkananta Group dengan kecerdasan, tapi dia juga menghancurkannya dengan ketakutan. Jika kotak itu memang ada di sana, itu adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai kutukan keluarga ini."
Di area pemakaman yang sudah disterilkan oleh Dante dan timnya, dua orang penggali makam profesional bekerja dalam diam di bawah guyuran hujan yang mulai deras. Arlan, Arumi, dan Dante berdiri di bawah payung hitam besar, memperhatikan setiap gumpalan tanah yang diangkat.
Suasana terasa sangat mencekap. Bau tanah basah bercampur dengan aroma bunga kamboja yang layu menciptakan aura mistis yang menyesakkan. Setelah dua jam penggalian, salah satu linggis penggali membentur sesuatu yang keras di samping peti mati utama.
"Tuan, ada sebuah kotak baja kecil yang ditanam tepat di sisi kanan kepala jenazah," lapor penggali itu.
Dante melompat turun ke liang lahat, mengangkat kotak hitam seukuran tas jinjing yang terbungkus lapisan pelindung anti-korosi. Ia membawanya ke atas dan meletakkannya di sebuah meja kayu darurat yang sudah disiapkan.
Kotak itu tidak memiliki lubang kunci. Hanya ada sebuah panel kaca kecil di bagian atas—pemindai sidik jari dan retina yang masih aktif berkat baterai nuclear-cell jangka panjang.
Arlan melangkah maju. Tangannya gemetar sedikit. Ia menempelkan ibu jarinya ke panel tersebut. Sebuah sinar laser merah menyapu sidik jarinya, diikuti oleh bunyi klik mekanis yang berat.
Saat tutup kotak itu terbuka, Arumi menahan napas. Di dalamnya tidak ada emas atau permata. Hanya ada tumpukan map kulit tua, beberapa drive memori terenkripsi, dan sebuah surat fisik yang ditulis di atas kertas yang sudah menguning.
Arlan mengambil surat itu dan membacanya dengan suara rendah yang bergetar.
"Untuk Arlan, putraku satu-satunya yang kuharapkan lebih kuat dariku.
Jika kau membaca ini, artinya Victoria telah menyerah, atau kau telah berhasil menghancurkan dinding yang kubangun. Ketahuilah, Arkananta-Plus bukanlah kecelakaan. Itu adalah eksperimen yang dipaksakan oleh 'The Circle'—kelompok menteri dan pengusaha global yang membiayai studiku dulu. Aku mencoba berhenti, tapi mereka mengancam akan melenyapkanmu dan ibumu.
Di dalam kotak ini terdapat daftar setiap pejabat negara yang menerima suap, setiap menteri yang menandatangi izin edar obat cacat itu, dan skema pencucian uang yang melibatkan bank-bank besar. Gunakan ini sebagai senjatamu, atau sebagai pelindungmu. Maafkan ayahmu yang penakut ini."
Arumi menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... ayahmu dijepit dari segala sisi. Dia bukan hanya pelaku, dia juga sandera."
Arlan memejamkan mata, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Beban kebencian yang selama ini ia pikul terhadap mendiang ayahnya perlahan berubah menjadi rasa kasihan yang pahit. "Dia memilih untuk mati membawa rahasia ini agar aku bisa tumbuh besar tanpa bayang-bayang mereka. Tapi sekarang, aku akan menyelesaikan apa yang tidak berani dia selesaikan."
Namun, pembongkaran makam itu tidak luput dari pengawasan. Di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Menteng, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra mahal membanting gelas kristalnya ke lantai. Dia adalah Menteri Wirastho, salah satu orang terkuat di kabinet yang namanya tercantum dalam daftar hitam Wirawan.
"Arlan sudah mendapatkan kotaknya," geram Wirastho pada pengawalnya. "Aktifkan unit pembersihan. Aku tidak peduli jika Jakarta harus terbakar malam ini. Jangan biarkan data itu sampai ke tangan KPK atau publik."
Arlan menyadari bahaya yang mengancam. Ia memerintahkan rombongan untuk tidak kembali ke apartemen, melainkan menuju ke rumah sakit pusat yayasan tempat Ibu Arumi dan Leon berada di bawah penjagaan ketat.
"Dante, siapkan pertahanan perimeter. Mereka akan datang dengan kekuatan penuh," perintah Arlan saat mereka tiba di lobi rumah sakit.
Arumi segera berlari ke kamar ibunya, memeluk Leon yang sedang digendong suster Sarah. "Kita harus pindah ke safe room di lantai bawah tanah sekarang!"
Baru saja mereka memasuki lift, suara ledakan keras terdengar dari arah gerbang depan. Tim taktis bayaran yang disewa oleh Wirastho mulai merangsek masuk. Mereka tidak menggunakan taktik diam-diam; ini adalah serangan terbuka untuk melenyapkan bukti dan saksi.
Dante berdiri di tengah koridor dengan dua senapan mesin ringan. "Raka, bawa Arlan dan Arumi ke ruang server. Aku akan menahan mereka di sini!"
"Dante, kau tidak bisa melawan mereka sendirian!" teriak Arumi.
"Pergilah! Ini adalah cara terbaikku untuk membayar hutang darah pada ayah kalian!" balas Dante tanpa menoleh, langsung melepaskan tembakan ke arah penyerang yang mulai masuk dari tangga darurat.
Di dalam ruang server bawah tanah yang dingin, Arlan menghubungkan drive memori dari kotak hitam ayahnya ke server utama yayasan.
"Apa yang kau lakukan, Arlan?" tanya Arumi.
"Aku akan melakukan siaran langsung ke seluruh kanal media sosial dan stasiun televisi nasional.
Aku akan mengunggah semua data ini secara real-time ke server publik di luar negeri. Begitu data ini tersebar, membunuh kita tidak akan ada gunanya lagi bagi mereka," jawab Arlan, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Layar di seluruh penjuru Indonesia mendadak berubah. Wajah Arlan muncul di jutaan ponsel dan televisi.
"Rakyat Indonesia," suara Arlan bergema. "Nama saya Arlan Arkananta. Malam ini, saya akan mengungkap kebenaran di balik kematian ribuan orang yang selama ini dianggap sebagai 'takdir'. Di bawah video ini, Anda akan melihat daftar pejabat yang telah menjual nyawa Anda demi keuntungan pribadi."
Satu per satu, nama-nama besar muncul. Menteri, anggota dewan, hingga petinggi kepolisian. Seluruh negeri terguncang. Rakyat mulai keluar ke jalanan, mengepung kantor-kantor pejabat yang tercantum dalam daftar tersebut.
Di koridor atas, para penyerang mulai panik. Mereka menerima instruksi untuk mundur karena wajah mereka dan atasan mereka sudah menjadi buronan nasional dalam hitungan menit.
Pukul 05.00 pagi. Pasukan khusus TNI dan KPK tiba di rumah sakit, bukan untuk menangkap Arlan, melainkan untuk mengamankan bukti dan melindunginya. Menteri Wirastho ditangkap di bandara saat mencoba melarikan diri ke Singapura.
Arlan keluar dari ruang server dengan langkah gontai. Ia menemukan Dante tersandar di dinding koridor, napasnya tersengal dengan beberapa luka tembak di kaki dan lengan, namun ia masih hidup.
"Data sudah tersebar, Dante. Kau bisa berhenti berkelahi sekarang," ucap Arlan, membantu saudaranya itu berdiri.
Dante tersenyum tipis, memperlihatkan gigi yang ternoda darah. "Akhirnya... aku bisa tidur nyenyak."
Arumi datang membawa Leon, diikuti oleh ibunya yang didorong di kursi roda. Mereka berdiri di lobi rumah sakit, melihat matahari terbit yang menerangi kota Jakarta yang baru saja melewati malam paling bersejarahnya.
"Selesai, Arumi," bisik Arlan, memeluk istri dan anaknya. "Keluarga Arkananta yang lama sudah mati malam ini. Dan dari abunya, kita akan membangun sesuatu yang benar-benar untuk rakyat."
Beberapa minggu kemudian, Arlan dan Arumi berdiri di depan makam dr. Wirawan yang sudah dirapikan kembali. Tidak ada lagi suasana mencekam. Hanya ada ketenangan.
"Terima kasih, Ayah," ucap Arlan pelan. "Kau memberikan kuncinya, dan aku membukanya."
Arumi meletakkan seikat bunga melati di atas nisan itu. "Kita akan memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang harus tumbuh dalam ketakutan karena keserakahan medis."
Mereka berjalan pergi menuju mobil, di mana Leon sedang menunggu sambil tertawa. Kontrak seratus juta itu kini telah menjadi sejarah yang jauh, tergantikan oleh komitmen triliunan rupiah untuk kesehatan bangsa. Arlan Arkananta bukan lagi seorang CEO dingin; ia adalah ayah, suami, dan pejuang yang telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.