NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warung Tenda Dan Benang Baru (Ending)

Satu bulan berlalu. Kota sudah kembali tenang, meski berita tentang penangkapan Komisaris Besar Adiwangsa masih menjadi headline di mana-mana. Brankas rahasianya terbongkar, ribuan bukti kejahatan "Penenun" terkuak, dan gedung kepolisian sedang dalam proses pembersihan besar-besaran dari sisa-sisa pengikutnya.

Malam itu, di sebuah warung tenda pecel lele pinggir jalan, Reyhan, Kiara, dan Rendy duduk mengelilingi meja kayu yang berminyak. Reyhan sudah tidak lagi dibalut perban. Ia tampak gagah mengenakan jaket kulit baru yang dibelinya dari bonus promosi jabatan.

"Aduh... sambalnya pedas banget! Ini sambal apa racun tikus sih?" keluh Reyhan sambil mengipasi mulutnya yang kepedasan.

"Cerewet banget sih, Inspektur," sindir Rendy sambil mencocol lele gorengnya. "Tuxedo mahal kemarin sudah lunas belum?"

"Udah dong, jangan meremehkan gaji Inspektur baru," Reyhan menyeringai bangga.

Kiara hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka. Ia menyesap teh hangatnya, merasa lega karena tidak ada lagi benang merah yang melilit leher orang-orang di sekitarnya. "Tapi Rey, kamu benar-benar nggak mau ambil cuti dulu? Kamu baru saja menjatuhkan ayahmu sendiri."

Reyhan terdiam sejenak. Ia menatap langit malam yang kelam di atas tenda warung. "Ayahku sudah mati sejak lama, Kiara. Yang aku tangkap kemarin cuma monster yang memakai wajahnya. Gue... gue baik-baik saja selama gue punya kalian berdua buat diejek."

Tiba-tiba, suara statis dari radio butut di warung tenda itu memecah suasana. Sebuah berita sekilas mengudara:

"...Ditemukan mayat seorang pengusaha tekstil terkenal di gudang pabriknya. Korban ditemukan dalam keadaan tidak wajar, mulutnya dijahit dengan benang sutra berwarna... emas."

Hening. Reyhan, Kiara, dan Rendy serentak berhenti mengunyah. Mereka saling berpandangan dengan tatapan yang kembali menegang.

"Warna... emas?" bisik Kiara, wajahnya memucat seketika. "Itu bukan pola Adiwangsa. Benang Adiwangsa selalu merah darah."

Rendy langsung mengeluarkan ponselnya, jemarinya bergerak cepat di atas layar. "Ini pola baru. Seseorang sedang meniru takdir Adiwangsa, atau... ini adalah 'Tangan Kanan' yang selama ini disembunyikan."

Reyhan menghela napas panjang, menghabiskan sisa teh hangatnya dalam satu tegukan. Ia berdiri, merapikan jaket kulitnya dengan gaya santai namun penuh tekad.

"Aduh... baru saja mau santai makan lele," gumam Reyhan. Tatapan matanya mendadak berubah dingin dan tajam—tatapan seorang predator. "Sepertinya liburan kita harus ditunda. Rendy, siapkan kamera lo. Kiara, buka mata lo lebar-lebar. Dan gue..." Reyhan meraba pisau keramik di balik jaketnya, "gue harus menyiapkan gunting baru."

Mereka melangkah keluar dari warung tenda. Angin malam berembus lebih kencang, menerbangkan debu jalanan yang berkilau di bawah lampu merkuri. Reyhan berhenti sejenak, merogoh saku jaketnya dan menemukan sesuatu yang ia ambil saat di reruntuhan tempo hari.

Sebuah kancing emas kecil.

Kancing itu jatuh dari saku Adiwangsa saat mereka bergulat. Reyhan menimang benda itu. Warnanya emas murni, berkilau dengan cara yang tidak wajar dan mengerikan.

"Rey? Ada apa?" Kiara mendekat.

"Ayahku selalu bilang kalau dia adalah puncak dari segalanya," gumam Reyhan pelan. "Tapi kancing ini... jahitan di belakangnya terlalu sempurna. Bahkan Adiwangsa nggak punya kemampuan untuk menjahit sedetail ini."

Tiba-tiba, ponsel Rendy berdering keras. Wajah Rendy berubah tegang saat melihat notifikasi dari informannya.

"Guys... lihat ini," Rendy menunjukkan sebuah foto. Di dinding ruang rawat korban yang mulutnya dijahit benang emas itu, tertulis sebuah pesan menggunakan tinta emas yang hanya terlihat di bawah cahaya ultraviolet:

"Selamat atas kelulusannya, Inspektur Reyhan. Ayahmu hanyalah sketsa. Mari kita mulai melukis dengan warna yang sebenarnya."

Reyhan mengepalkan tangannya, meremukkan kancing emas itu hingga jemarinya terasa panas. Ia menyadari satu hal pahit: Adiwangsa bukanlah sang pencipta. Adiwangsa hanyalah seorang "murid" yang gagal, dan kini, sang "Guru" yang asli telah muncul ke permukaan.

"Ayo berangkat," ujar Reyhan dengan suara rendah yang penuh otoritas. Ia mengenakan kacamata hitamnya, menyembunyikan kilat amarah di matanya. "Pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai."

Mereka bertiga berjalan menjauh, bayangan mereka memanjang di aspal jalanan, menghilang ke dalam kegelapan kota yang kini terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.

TAMAT - SEASON 1

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!