Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Panik
Berita tentang huru-hara pelantikan presiden paman Sam itu menggemparkan dunia. Alea terlihat syok manakala mengetahui suaminya sebagai pengawal utama sang calon presiden.
Tangannya gemetar hingga sendok yang dipegangnya jatuh dipiring. Air matanya sudah mengembang." Daniel....!" desis nya ketakutan.
Ia mengambil ponselnya untuk memastikan keadaan suaminya. Alea terlihat panik hingga tidak peduli dengan kandungannya. Ia menghubungi orang kepercayaannya yang ada di Amerika. Bagaimanapun juga ia tetap membutuhkan suaminya.
"Daniel, aku mohon kamu tetap bertahan sayang...!" desis Alea dalam doanya sambil menunggu panggilan tersambung.
"Nona Alea. Sepertinya tuan Daniel dan calon presiden terjebak dalam bahaya", ucap orang kepercayaannya yang saat ini sedang meliputi berita.
"Dengarkan aku Felix...! aku memberimu sesuatu waktu itu yang aku bilang jangan dulu buka sampai aku minta membukanya bukan?" ucap Alea menahan air matanya yang tercekat di tenggorokan.
"Ia nona. Aku masih menyimpannya dan aku bawa bersamaku selalu", ucap Felix.
"Kalau begitu bukalah kotak itu perlahan dan tekan katup botol. Setelah itu menjauhlah dari kotak itu...!" titah Alea dan Felix melakukannya dengan penuh tanya.
"Kenapa harus menjauh? apakah isinya bom?" gumam Felix membuka kotak pandora itu dengan hati-hati. Ia menekan katup disamping kotak itu tiba-tiba ada asap putih menebal hingga dirinya spontan menjauhi benda itu yang tiba-tiba melesat membentuk sebuah piringan terbang dengan banyak bulatan mata disekelilingnya.
Nafas Felix seakan berhenti melihat benda itu tiba-tiba menghilang entah ke mana. Pergerakannya begitu cepat untuk mencari titik keberadaan Daniel saat ini. GPS yang dipasang dicincin kawin Daniel yang menjadi pusat titik temu piringan terbang itu dapat menemukannya.
Mobil yang sedang melaju kencang menghindari tembakan beruntun dari arah mana saja membuat Daniel tetap tenang dan sabar hingga bisa melaju dengan cepat ke arah gedung parlemen di mana ayahnya akan dilantik menjadi seorang kepala negara. Kini mereka tinggal berdua. Helikopter yang ada di atas sana masih memantau kendaraan presiden yang sudah terpisah dari rombongan pengawal.
"Apakah ayah baik-baik saja?" tanya Daniel sambil melirik kaca spion.
"Jangan kuatirkan ayah karena tubuh ayah sudah terlapisi silikon anti peluru kecuali wajah dan kepala", ucap tuan Roy yang diam-diam kagum melihat ketangkasan putranya dalam menghindari tembakan peluru musuh walaupun mobil mereka anti peluru.
Daniel tidak ingin lagi melihat tembakan musuh karena mereka sedang ditunggu oleh ribuan manusia yang menantikan momen bersejarah hari ini. Namun Daniel mulai bingung saat melirik kaca spion di mana mobil para pengacau di belakang sana tiba-tiba meledak.
"Apa yang terjadi di belakang sana?" gumam tuan Roy pada putranya.
"Entahlah ayah. Tidak usah pedulikan mereka....!" ucap Daniel fokus menyetir namun hatinya cukup lega karena mereka sudah jauh dari bahaya.
Daniel melirik ponselnya yang sedari tadi terus berdering. Dahinya mengkerut di mana nama cintaku Alea ada di layar itu. Daniel menggeser tombol hijau itu sambil menyalakan bluetooth mobil agar suara Alea bisa tersambung.
"Assalamualaikum...!" ucap Alea seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Waalaikumsalam sayang. Apa kabarmu Alea...!" tanya Daniel penuh kerinduan dengan wajah berbinar.
"Apakah kamu baik-baik saja Daniel?" tanya Alea pura-pura tidak tahu keadaannya Daniel saat ini.
"Sangat baik berkat doamu, sayang...!" ucap Daniel.
"Syukurlah. Kalau begitu hati-hati. Jaga dirimu dan jangan lupa sholat...!" ucap Alea ditutupi salam. Ia masih saja menjaga gengsinya walaupun hati kecilnya berharap lebih banyak pada Daniel.
"Jaga dirimu juga sayang...! jangan lupa makan dan jauhi setress. Aku sangat merindukanmu...!" ucap Daniel namun tidak memuaskan Alea. Daniel menutupi obrolan mereka dengan salam.
Alea menatap ponselnya dengan hati gundah. " Hanya itu saja ucapannya? kenapa dia selalu menyebalkan sekali", gumam Alea sedih. Mungkin bawaan bayi atau hatinya yang benar-benar merindukan calon ayah anaknya itu.
Tanpa Daniel ketahui jika saat ini ia dikawal oleh piring terbang yang kasat mata yang sedari tadi melumpuhkan lawan dari tempat tersembunyi. Piringan itu melancarkan serangan penembak jitu yang merupakan musuh saingan politik tuan Roy.
Bahkan piringan terbang itu menembak beberapa drone musuh yang juga mengikuti Daniel.
Mobil Daniel tiba dengan selamat di gedung pelantikan yang langsung disambut tepuk tangan dari rakyat yang sejak tadi begitu cemas akan keselamatan tuan Roy calon presiden mereka. Yel-yel spontan dari rakyat Amerika yang dihadiahkan kepada tuan Roy.
Beberapa menit kemudian tuan Roy sudah siap dilantik menjadi seorang kepala negara. Hening sesaat kala tuan Roy mengambil sumpah jabatannya. Kamera media lokal maupun asing mengarah ke sang presiden termasuk wartawan Felix. Felix juga mengambil sosok fenomena agen rahasia FBI yang tidak lain adalah Daniel.
Alea menarik nafas lega melihat suaminya berdiri dengan gagah tidak jauh dari presiden.
"Apakah kau tidak tahu aku sangat merindukanmu, hmmm?!" geram Alea dengan perasaan haru biru.
Jika Alea sedang menatap rindu wajah suaminya di layar ponselnya, tidak dengan para karyawannya yang lagi heboh di grup WhatsApp.
"Apakah kalian tidak lihat kalau Daniel berada dekat dengan presiden? bagaimana bisa dia berada tidak jauh dengan presiden? bukankah dia seorang pengusaha? kenapa bisa ada di acara negarawan? apa jangan-jangan dia adalah putra seorang presiden?" tebak mereka satu persatu di grup WhatsApp itu.
Beberapa menit kemudian, tuan Roy sudah sah menjadi presiden terpilih di negara adikuasa itu. Ia didampingi wakilnya yang wajahnya terlihat kurang bersemangat. Daniel bisa menangkap perubahan wajah sang wakil presiden. Mantan presiden sebelumnya memberi selamat pada presiden sebelum presiden menyampaikan pidatonya pertama kali pada rakyatnya yang berteriak histeris karena rasa bangga bahagia mereka melihat sang kepala negara.
"Selamat siang untuk rakyatku. Aku bangga memiliki kalian yang tetap memperjuangkan ku diantara persaingan politik yang sangat ketat. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian kepadaku dengan memperbaiki bangsa ini agar aman terkendali. Baik dari kesejahteraan kalian yang meliputi banyak hal begitu juga keamanan negara ini yang sistemnya harus diubah. Kita tidak akan tunduk kepada para penguasa terselubung yang bersembunyi dibalik kekayaan mereka demi ambisi untuk merampas hak rakyat untuk hidup merdeka tanpa terjerat pasal-pasal yang diatur seenaknya oleh oknum hukum yang lebih mementingkan pejabat yang berkhianat demi harta", ucap sang presiden begitu semangat memancing antusias rakyatnya yang rindu akan perubahan.
Sementara itu piringan terbang milik Alea berada di atas sang presiden untuk mengawasi benda-benda berbahaya yang mungkin akan mencelakai sang presiden. Daniel yang sudah tidak kuat menahan rindunya pada Alea akhirnya menghubungi Alea. Daniel lupa kalau perbedaan waktu Jakarta dan negaranya saat ini berbeda.
"Yah, pasti dia sudah tidur", gumam Daniel kecewa. Daniel kembali menghampiri presiden yang sedang mengambil gelas air untuk diteguk.
"Tunggu ayah....!" ucap Daniel membuat para pejabat lain terkesima.
"Ayah....?"
"Bukankah pria itu adalah buronan?" ucap yang lainnya yang baru menyadari wajah Daniel yang tidak asing bagi mereka.
"Tuan presiden. Bukankah dia adalah pembunuh yang telah menghabisi tuan Marlon?" tanya wakil presiden yang bernama tuan Gustav.
"Apakah kamu yakin dia yang membunuh tuan Marlon Gustav?" tanya tuan Roy dengan suara datar.