Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Gerbang Naga dan Penjara Tanpa Matahari
Bab 25: Gerbang Naga dan Penjara Tanpa Matahari
Wilwatikta, Ibu Kota Kekaisaran Arcapada.
Kota ini adalah permata yang dibangun di atas darah dan emas. Dikelilingi oleh tembok benteng setinggi lima puluh meter yang terbuat dari batu andesit hitam legam, kota ini dibagi menjadi tiga tingkatan (Ring) yang memisahkan takdir penghuninya:
Ring Luar: Lautan gubuk kumuh tempat jutaan rakyat jelata hidup berdesakan seperti semut, asap industri menutupi langit mereka setiap hari.
Ring Tengah: Kawasan perdagangan yang rapi, tempat para pedagang dan pejabat rendah menikmati hidup yang nyaman.
Ring Dalam (Istana Langit): Dibangun di atas plato buatan yang melayang seratus meter di udara, ditopang oleh pilar-pilar raksasa dan teknologi anti-gravitasi kuno peninggalan leluhur. Di sinilah Catur Wangsa dan Kaisar tinggal, memandang rakyat mereka dari atas awan.
Kapal Udara Elang Hitam terbang rendah melintasi Ring Luar, menuju pangkalan militer di kaki Ring Dalam.
[POV: Raden Bara Wirasena]
Bara duduk bersandar di dinding dingin palka kapal. Tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai hitam pekat yang terbuat dari Batu Laut (Sea Stone).
Batu ini bukan batu biasa. Ia memiliki sifat alami menyerap Prana. Rasanya seperti ada lintah tak kasat mata yang terus-menerus menyedot tenaga dalamnya. Setiap kali Bara mencoba memantik api di nadinya, energi itu langsung hilang, digantikan rasa mual dan lemas yang luar biasa.
"Bertahanlah, Mitra," suara Garuda terdengar sayup-sayup di kepalanya, seperti sinyal radio yang buruk. "Batu sialan ini juga menekan kesadaranku. Aku akan tidur sebentar untuk menghemat energi. Jangan mati saat aku tidur."
"Tidur yang nyenyak, Burung Tua," batin Bara lemah. "Maaf aku menyeretmu ke dalam sangkar lagi."
Bara menyeret tubuhnya ke pinggir jendela jeruji kecil. Dia melihat ke bawah. Pemandangan Ibu Kota terhampar luas. Megah. Mengerikan.
"Indah, bukan?"
Suara berat dan mekanis terdengar. Jenderal Wirabumi berdiri di dekat sel jeruji Bara. Helm bantengnya sudah dilepas, memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya yang keras, berambut cepak memutih, dengan bekas luka cakar memanjang di lehernya.
"Indah dari jauh," jawab Bara serak, tatapannya tajam. "Tapi dari dekat, baunya seperti got yang disemprot parfum mahal."
Wirabumi mendengus pelan, setengah geli, setengah meremehkan. "Kota ini adalah jantung peradaban. Tanpa ketertiban di sini, seluruh benua akan jatuh kembali ke zaman barbar, di mana siluman memakan manusia sesuka hati."
"Ketertiban yang dibangun di atas mayat anak-anak sekolah?" tanya Bara sinis.
"Semua fondasi butuh tumbal, Nak," Wirabumi berbalik, menatap Bara dengan mata bajanya. "Kau kuat. Sangat kuat untuk usiamu. Sayang sekali kau memilih jalan menjadi musuh negara."
"Aku tidak memilih musuh. Musuh yang memilihku."
Kapal mendarat dengan guncangan pelan. Pintu palka terbuka. Cahaya matahari sore yang menyilaukan masuk.
Di luar, ratusan prajurit berbaju zirah perak sudah berbaris rapi. Di belakang mereka, sebuah kereta tahanan besi tanpa jendela menunggu.
Di samping kereta tahanan itu, ada kereta kuda mewah berlapis emas.
Ki Rangga Agnimara diturunkan dari kapal. Dia tidak diborgol. Dia bahkan diberi jubah baru untuk menutupi pakaiannya yang hangus.
"Lihat itu," Ki Rangga menyeringai saat berpapasan dengan Bara yang diseret prajurit. Wajahnya masih pucat sisa ketakutan, tapi kesombongannya sudah kembali pulih sepenuhnya. "Aku akan ke Istana untuk 'memberi keterangan' sebagai saksi kehormatan. Sementara kau... kau akan membusuk di lubang tikus."
Bara berhenti sejenak. Para prajurit mencoba mendorongnya, tapi Bara menahan kakinya. Dia menatap lurus ke mata Ki Rangga.
"Nikmati kasur empukmu selagi bisa, Paman," bisik Bara. "Karena saat aku keluar nanti... tidak ada lubang di dunia ini yang cukup dalam untukmu bersembunyi."
Senyum Rangga luntur seketika.
"Bawa dia pergi!" teriak Rangga panik. "Cepat!"
"Bawa tahanan ke Penjara Benteng Besi," perintah Wirabumi pada kepala sipir. "Tempatkan di Sektor Bawah Tanah Level 5. Sel Isolasi."
"Level 5?" Kepala sipir, pria gemuk dengan kumis lele, terkejut. "Tapi Jenderal, itu tempat untuk monster kelas bencana dan mantan jenderal pemberontak. Dia cuma bocah..."
"Lakukan," potong Wirabumi. "Dan jangan pernah melepas borgolnya, bahkan saat dia makan atau buang air. Jika borgol itu lepas satu detik saja, kalian semua mati."
Sipir itu menelan ludah, menatap Bara dengan ngeri. "S-Siap, Jenderal!"
[POV: Penjara Benteng Besi - Sektor Bawah Tanah]
Penjara Benteng Besi adalah mimpi buruk arsitektur. Bangunan ini tidak menjulang ke atas, tapi menancap ke dalam perut bumi seperti paku raksasa. Semakin dalam levelnya, semakin berbahaya penghuninya.
Level 1-2 untuk kriminal biasa.
Level 3-4 untuk pendekar jahat.
Level 5... adalah Neraka Sunyi.
Bara diseret melewati lorong-lorong batu yang lembap dan berlumut. Tidak ada obor di sini. Hanya lumut bercahaya (Bioluminescence) yang memberikan penerangan remang-remang kehijauan. Udara berbau amis, karat, dan keputusasaan yang purba.
"Masuk, Sampah!"
Sipir menendang Bara masuk ke dalam sel sempit berukuran 2x2 meter. Dindingnya terbuat dari blok Batu Laut murni. Jerujinya setebal lengan orang dewasa.
KLANG.
Pintu besi dikunci. Suara kuncinya bergema, menandakan akhir dari kebebasan.
Bara sendirian dalam kegelapan.
Dia mencoba menarik napas dalam, mencoba meditasi. Nihil. Jalur meridiannya terkunci total. Tubuhnya yang biasanya hangat oleh api kini terasa dingin mengigil. Luka-luka di punggungnya mulai terasa nyeri lagi.
"Hebat," gumam Bara, menyandarkan kepala ke dinding batu yang dingin. "Sekarang aku benar-benar manusia biasa. Tanpa api. Tanpa Garuda."
"Lapar..." perutnya berbunyi.
"Hei, Anak Baru."
Suara serak terdengar dari sel di sebelahnya. Dinding pemisahnya memiliki celah ventilasi kecil seukuran tikus di bagian bawah.
Bara menoleh tajam. "Siapa?"
"Kau berisik," suara itu terdengar tua, lemah, tapi ada nada jenaka di dalamnya. "Mengeluh lapar di jam pertama? Tunggu sampai kau makan bubur kecoa di hari ketiga, baru kau tahu arti lapar yang sebenarnya."
"Bubur kecoa? Menu yang menarik," jawab Bara sarkas, berusaha tetap waspada. "Namaku Bara."
"Nama tidak penting di sini. Di sini kita cuma nomor," jawab suara itu. "Aku Nomor 101. Kau pasti penjahat besar ya? Mereka menempatkanmu di Sel 102. Itu bekas sel 'Si Jagal Darah' yang dieksekusi minggu lalu karena memakan sepuluh prajurit."
"Aku cuma murid sekolah yang nakal. Sedikit membakar asrama," jawab Bara.
Terdengar tawa kering dan batuk dari sebelah. "Murid sekolah? Di Level 5? Hahaha! Nak, Level 5 isinya cuma dua jenis: Monster yang terlalu kuat untuk dibunuh, atau Politik yang terlalu kotor untuk dibiarkan hidup. Kau yang mana?"
Bara diam sejenak. Matanya menatap kegelapan.
"Mungkin yang kedua. Tapi berpotensi jadi yang pertama."
"Sombong. Aku suka," kata Nomor 101. "Dengar, Nak. Di tempat ini, Prana tidak berguna. Yang berguna cuma Tekad dan Telinga."
"Telinga?"
"Ya. Dinding batu ini tebal, tapi menghantarkan suara dengan baik. Kalau kau mau selamat, belajarlah mendengar. Mendengar langkah sipir, mendengar bisikan tikus, dan mendengar... rahasia."
Bara mendekatkan telinganya ke dinding. Benar saja.
Dia bisa mendengar detak jantung penghuni sel sebelah. Lambat. Sangat lambat. Seperti beruang yang sedang hibernasi panjang. Detak jantung seseorang yang menyembunyikan kekuatan dahsyat.
"Siapa kau sebenarnya, Pak Tua?" tanya Bara, instingnya mengatakan orang ini bukan kriminal biasa.
"Aku?" Hening sejenak. "Dulu orang memanggilku Empu Angin. Tapi sekarang aku cuma kakek tua yang menunggu mati."
Mata Bara membelalak dalam kegelapan.
Empu Angin.
Salah satu dari Sembilan Pendekar Dewa yang dulu menyegel Garuda bersama ayahnya, Raden Wijaya. Legenda mengatakan dia menghilang setelah perang besar. Ternyata dia membusuk di sini?
"Empu Angin..." bisik Bara, suaranya bergetar. "Kau... kau kenal Raden Wijaya?"
Suara di sebelah terhenti. Hening yang lama dan berat. Aura membunuh yang tipis merembes lewat celah dinding.
"Jangan sebut nama itu," suara Empu Angin berubah dingin dan tajam, kehilangan nada jenakanya. "Kecuali kau mau mati lebih cepat daripada jadwal eksekusimu."
Glosarium & Catatan Kaki Bab 25
Wilwatikta: Nama historis untuk ibu kota Majapahit. Di dunia novel ini, digambarkan sebagai perpaduan arsitektur candi kuno dengan teknologi fantasi (Arcanepunk).
Batu Laut (Sea Stone): Mineral langka yang memancarkan frekuensi antitesis terhadap Prana. Digunakan untuk membelenggu pendekar tingkat tinggi. Konsep yang umum di genre fantasi untuk menyeimbangkan kekuatan MC (nerf sementara).
Empu Angin: Tokoh kunci baru. Salah satu dari "Generasi Lama" yang mengetahui sejarah asli penyegelan Garuda. Kehadirannya akan menjadi mentor bagi Bara untuk belajar bertarung tanpa bergantung pada api semata.
Sektor Level 5: Penjara dengan keamanan maksimum, menunjukkan betapa berbahayanya Bara dianggap oleh negara.