Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. KETIKA AMPUNAN DATANG TERLAMBAT
..."Ada maaf yang tidak sempat diucapkan, dan ada tangan yang terlambat untuk digenggam."...
...---•---...
Sore menjelang ketika seorang perempuan tua datang tergesa-gesa, mukanya basah oleh keringat. "Ndoro! Ndoro! Mbok Sarmi jatuh! Dia tidak sadarkan diri!"
Doni langsung bangkit. Mbok Sarmi. Perempuan yang dulu mengusirnya. Perempuan yang sekarang sekarat pelan karena hatinya hancur. Dia sudah tahu ini akan terjadi. Hati yang rusak tidak bisa disembuhkan. Tapi mendengar namanya disebut seperti ini tetap membuat jantungnya berdebar.
"Dimana?"
"Di gubuk Pak Karso! Dia jatuh di depan pintu!"
Doni berlari. Karyo di belakangnya. Mereka menyusuri jalan setapak dengan napas terengah, melewati kebun dan parit kecil, sampai akhirnya tiba di gubuk Pak Karso. Kerumunan kecil sudah terbentuk. Mbok Wulan berlutut di samping tubuh Mbok Sarmi yang tergeletak di tanah, wajahnya kuning seperti lilin, matanya terbuka tapi kosong.
Doni langsung berlutut, memeriksa nadi. Lemah. Sangat lemah. Napasnya dangkal dan lambat. Kulitnya dingin. Perutnya membesar karena cairan yang terkumpul di dalam, dan ada bau manis busuk yang samar keluar dari mulutnya. Koma hati. Tahap akhir.
"Angkat dia ke dalam," perintah Doni. "Pelan-pelan."
Karyo dan Pak Karso mengangkat Mbok Sarmi dengan hati-hati, membawanya masuk ke dalam gubuk dan membaringkannya di tikar. Doni mengikuti, lututnya menyentuh lantai tanah yang dingin. Dia memeriksa lagi, lebih teliti. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Hatinya sudah terlalu rusak. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Ini hanya soal waktu.
Tapi dia tidak bisa membiarkannya mati sendirian. Tidak seperti ini.
"Beri dia air," kata Doni pelan. "Basahi bibirnya. Dan tetap di sisinya."
Mbok Wulan mengangguk, matanya berkaca-kaca.
Doni duduk di samping Mbok Sarmi, mengamati napasnya yang semakin lambat. Ingatan lama muncul. Ingatan dari tubuh yang dulu dia tempati. Mbok Sarmi yang berteriak padanya, menyebutnya pembawa sial, menendangnya keluar dari rumah di malam hujan. Bocah kecil yang kelaparan dan ketakutan, berjalan tanpa tahu harus kemana.
Tapi sekarang, di depannya, bukan lagi perempuan kejam itu. Hanya perempuan tua yang ketakutan dan menyesal, yang datang meminta maaf terlambat, yang sekarang sekarat tanpa siapa-siapa.
Doni mengulurkan tangan, memegang tangan Mbok Sarmi yang dingin dan kurus. "Aku di sini," bisiknya. "Kau tidak sendiri."
Mata Mbok Sarmi bergerak sedikit, menatap ke arahnya. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara. Hanya napas yang lemah, tersendat, mencari kata-kata yang tidak akan pernah keluar.
Doni mengeratkan genggamannya. "Aku di sini. Semuanya sudah baik-baik saja."
Air mata jatuh dari sudut mata Mbok Sarmi. Tangannya menggenggam tangan Doni dengan kekuatan terakhir yang dia punya. Genggaman yang gemetar. Genggaman yang memohon. Genggaman yang mengatakan semua yang tidak bisa diucapkan.
Lalu, perlahan, napasnya melambat.
Dada naik.
Turun.
Naik lagi.
Turun.
Berhenti.
Doni menutup mata, merasakan tangan itu melemas di tangannya. Perlahan, sangat perlahan, dia melepaskan genggaman itu, lalu menutup kelopak mata Mbok Sarmi dengan ujung jarinya.
Diam mengisi ruangan. Hanya suara gemerisik bambu tertiup angin. Mbok Wulan terisak pelan di pojok, wajahnya tertutup selendang. Pak Karso berdiri diam dengan kepala tertunduk. Karyo menatap Doni dengan garis di dahinya yang dalam.
"Dia sudah tidak kesakitan lagi," kata Doni pelan.
Tapi kata-kata itu tidak mengubah apapun. Karena di dalam hatinya, dia tahu, ini hanya awal dari banyak kematian yang akan dia saksikan. Banyak orang yang akan dia gagal selamatkan. Banyak tangan yang akan melemas di tangannya.
Dan dia tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan sebelum semua ini menghancurkannya.
...---•---...
Malam tiba dengan dingin yang menusuk tulang. Doni duduk sendirian di luar gubuk, menatap langit gelap tanpa bintang. Di tangannya, selembar kertas kusut. Surat dari Tuan Kasim yang datang sore tadi, mengundangnya ke rumah besok pagi. Ada sesuatu penting yang perlu dibicarakan.
Doni tidak tahu apa. Tapi dia terlalu lelah untuk peduli.
Di kejauhan, pelita-pelita kecil menyala di gubuk-gubuk kampung. Kehidupan terus berjalan. Orang terus sakit. Orang terus mati. Dan dia, entah dia mau atau tidak, harus terus berdiri di garis tipis antara hidup dan mati.
Karena tidak ada orang lain yang bisa.
Karena jika dia berhenti, tidak ada yang akan menggantikannya.
Angin malam bertiup, membawa bau tanah basah dan asap kayu. Doni menarik napas dalam, merasakan dinginnya mengisi paru-parunya. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena kelelahan yang sudah meresap hingga ke tulang.
Lima gulden per bulan. Angka itu terus berputar di kepalanya. Dokter Belanda yang ingin menyingkirkannya. Ancaman itu menggantung seperti bayangan.
Dan Mbok Sarmi yang mati dengan penyesalan di matanya.
Tiga beban berbeda. Tiga masalah yang tidak punya solusi mudah.
Doni menutup mata, membiarkan kegelapan menelannya untuk sesaat. Hanya sesaat. Karena besok, matahari akan terbit lagi. Antrean akan panjang lagi. Dan dia harus berdiri lagi.
Sampai kapan?
Pertanyaan itu berbisik di sudut pikirannya, tapi dia tidak punya jawaban.
Yang dia punya hanya kemauan untuk bertahan satu hari lagi.
Hanya satu hari lagi.
Berulang kali.
Sampai suatu hari, mungkin, ada yang berubah.
...---•---...
...BERSAMBUNG...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲