Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pengakuan di Ruang ICU
Aku kembali ke rutinitas double-lifeku, tetapi kali ini perannya terbalik. Pagi hingga sore, aku adalah dokter yang kompeten di RS Merdeka. Malam hari, aku adalah perawat pribadi Arvino di ruang ICU RS Hardinata.
Koma. Kondisi Arvino stabil setelah operasi, tapi ia masih belum sadarkan diri. Aku menghabiskan malam-malamku di kursi di samping ranjangnya. Lili diurus oleh Sus Rini dan Nenek di rumah, tapi aku selalu memastikan Lili mendapat video call dariku sebelum ia tidur.
Ruang ICU terasa dingin, sunyi, hanya ada bunyi monitor detak jantung yang berirama konstan—beep... beep... beep...
Aku duduk di sana, membaca laporan medis Arvino. Kaki kanannya diperban gips tebal, wajahnya pucat dengan beberapa jahitan, dan selang infus terpasang di lengannya. Dia terbaring tak berdaya. Pria yang selama ini menyiksaku dengan kata-kata, kini tidak bisa berbuat apa-apa selain bernapas.
Aku merawatnya dengan telaten. Aku membersihkan darah kering di wajahnya, mengganti perban, dan memastikan infus serta obat-obatan masuk tepat waktu. Aku melakukan semua itu dengan tangan seorang profesional, tanpa emosi yang berlebihan.
Suatu malam, sekitar pukul dua pagi, aku sedang menyeka dahinya dengan kain basah yang dingin. Wajah Arvino terlihat damai dalam tidurnya yang panjang, bebas dari dendam dan amarah.
"Kau tahu, Kak," bisikku pada tubuhnya yang tak merespons. "Aku menyelamatkanmu bukan karena aku mencintaimu. Aku menyelamatkanmu karena aku tidak mau Lili menjadi anak yatim. Aku tidak mau dia kehilangan satu-satunya orang tua yang dia miliki, setelah kehilangan ibunya."
Aku meletakkan kain itu, lalu duduk di kursi. Aku menatapnya. Rasa cintaku yang dulu membara kini telah dingin menjadi rasa iba yang mendalam.
"Aku akan menceraikanmu saat kau sadar, Kak. Aku sudah menandatangani suratnya. Aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu. Dan aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan Lili."
Tiba-tiba, jari-jari tangan kirinya, yang kupegang untuk memeriksa nadinya, bergerak sedikit.
"Aku... aku minta maaf..."
Suaranya sangat pelan, serak, seperti desahan angin.
Aku terkejut, melompat dan mendekat. "Kak Vino? Kau sadar?"
Arvino tidak membuka mata. Dia masih terperangkap di alam bawah sadarnya. Namun, bibirnya bergerak lagi.
"Sarah... maafkan aku... aku tidak bisa... menyentuh... dia..."
Aku menarik napas panjang. Dia masih memikirkan Sarah. Dia masih terperangkap dalam pengkhianatan yang hampir terjadi di Bab 22.
Aku memegang tangannya. "Kak Vino, aku di sini. Aku Aluna. Kakak harus kuat. Kakak harus sadar."
Aku terus berbicara padanya tentang Lili, tentang Papa, tentang rumah sakit. Aku berbicara tentang apa pun yang bisa menariknya kembali ke dunia nyata.
Perlahan, kelopak mata Arvino bergetar. Dia mengerang pelan.
"Gelap..." bisiknya.
Aku segera menyalakan lampu kecil di samping ranjang.
"Aku takut gelap, Sarah..." Arvino masih mengira aku adalah Sarah.
"Aku Aluna, Kak. Bukan Sarah," kataku tegas, memaksakan diri untuk memanggilnya kembali.
Aku melihat matanya. Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya kabur, tapi ia melihatku. Aluna.
"A-aluna..." Suara Arvino sangat lemah, tapi itu adalah suara sadar yang pertama.
"Ya, Kak. Aku di sini. Jangan bergerak. Kakak baru selesai operasi," kataku, air mata kelegaan membanjiri wajahku.
Arvino menatapku lama. Tidak ada amarah di matanya, hanya kebingungan, rasa sakit, dan sepercik pengakuan. Pengakuan bahwa wanita yang ia benci, wanita yang ia sebut pembunuh, kini adalah wanita yang berada di sampingnya, merawatnya di titik terlemahnya.
Dia mencoba menggerakkan tangannya, tapi aku menahannya.
"Kau... kau menyelamatkanku?" tanyanya.
"Aku dokter, Kak. Itu tugasku," jawabku dingin.
Arvino memejamkan mata. Wajahnya menunjukkan rasa sakit yang mendalam, bukan karena luka fisiknya.
"Maafkan aku..." bisiknya lagi. Kali ini, kata itu bukan ditujukan pada Sarah, melainkan padaku.
"Maafkan aku... Aluna..."
Kata-kata itu, diucapkan oleh pria yang selama setahun ini menyiksaku, akhirnya menghancurkan pertahananku. Aku menundukkan kepala, membiarkan air mata jatuh di tangan kami yang saling menggenggam. Itu adalah permintaan maaf yang terlambat, permintaan maaf yang diucapkan di saat dia tidak berdaya.
...----------------...
Pagi harinya, Papa, Mama, dan Ardo datang menjenguk. Mereka lega melihat Arvino sudah sadar.
"Aluna! Kau luar biasa! Kau tidak meninggalkan tempat ini semalaman," puji Papa, matanya penuh syukur.
Aku hanya tersenyum kaku.
"Arvino," Mama mendekat. "Aluna yang menyelamatkanmu. Dia yang berdiri di ruang operasi selama lima jam. Jangan pernah lupakan itu."
Arvino, yang kini sadar sepenuhnya dan terperangkap di ranjang, hanya menatapku. Matanya dipenuhi rasa malu dan penyesalan yang mendalam.
Aku tahu, pernikahan kontrak ini akan segera berakhir. Tetapi fondasi kebencian Arvino telah hancur total. Kini, kami harus berhadapan dengan babak yang lebih sulit: menghadapi penyesalan dan mencoba mencari jalan keluar.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️