NovelToon NovelToon
Penjinak Hati Duda Hot

Penjinak Hati Duda Hot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

“Sadarlah, Kamu itu kunikahi semata-mata karena aku ingin mendapatkan keturunan bukan karena cinta! Janganlah menganggap kamu itu wanita yang paling berharga di hidupku! Jadi mulai detik ini kamu bukan lagi istriku! Pulanglah ke kampung halamanmu!”

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong menghancurkan dunianya Citra.

“Ya Allah takdir apa yang telah Engkau tetapkan dan gariskan untukku? Disaat diriku kehilangan calon buah hatiku disaat itu pula suamiku yang doyan nikah begitu tega menceraikan diriku.”

Citra meratapi nasibnya yang begitu malang diceraikan oleh suaminya disaat baru saja kehilangan calon anak kembarnya.

Semakin diperparah ketika suaminya tanpa belas kasih tidak mau membantu membayar biaya pengobatannya selama di rawat di rumah sakit.

Akankah Citra mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya yang begitu malang ataukah akan semakin terpuruk dalam jurang putus asa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Uap hangat dari kamar mandi terlihat masih mengepul ketika pintu terbuka. Ardhanza keluar hanya dengan handuk melilit di pinggangnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

Wajahnya terlihat santai sampai matanya tertuju pada sesuatu yang ada di ujung ranjang. Yaitu seorang perempuan duduk tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.

Ardhanza terhenti seketika. Kedua matanya membulat, otot rahangnya terkunci, dan detak jantungnya menabrak tulang rusuknya saking terkejutnya melihat apa yang terpampang di hadapannya.

“Bulshit!!” Geramnya.

Untuk sepersekian detik ia bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun begitu sadar siapa perempuan itu, kemarahannya sontak meledak.

“Inara apa-apaan ini!?” suaranya pecah menggelegar seakan mampu mengguncang seisi kamar penthouse itu.

Inara bangkit dari posisi duduknya tanpa ada rasa malu dan bersalah sedikitpun.

Dia tersenyum lebar sambil berjalan berlenggak lenggok,” kenapa kaget gitu sih sayang? Bukannya Abang sudah seringkali lihat aku tanpa busana bahkan kita sudah pernah melakukannya beberapa kali. Tapi, kenapa sekarang Abang kayak remaja yang belum pernah merasakan kebahagiaan karena sentuhanku.”

Senyumnya menggoda, caranya menatap penuh keyakinan bahwa Ardhanza akan jatuh ke dalam perangkapnya.

“Sayang… kenapa pasang wajah marah seperti itu?” ucap Inara manja, suaranya halus namun penuh manipulasi.

“Bukankah dulu kamu senang diperlakukan seperti ini? Apa pengen gaya yang lain ataukah pengen dengan sensasi yang berbeda?” Tanyanya tanpa rasa malu lagi.

Inara melangkah mendekat, ingin menyentuh calon suaminya itu, Ardhanza justru mundur beberapa langkah, ekspresinya semakin gelap.

Semua kenangan masa lalu yang dulu terasa menyenangkan kini berubah menjadi sumber jijik yang tak bisa ia jelaskan.

“Aku bilang berhenti! Jangan sentuh aku!” bentaknya, nadanya setajam silet.

Inara spontan dibuat terkejut, namun cepat-cepat menutupi rasa gugupnya dengan tawa kecil dan rayuan yang baru.

“Sayangku kok marah gitu sih. Seharusnya Abang cukup diam dan menikmati seperti biasanya nggak usah marah segala,” tukasnya.

Ia meraih ujung handuk Ardhanza, tetapi lelaki itu menepis tangannya begitu keras hingga Inara oleng ke belakang.

“Inara cukup. Kamu nggak ngerti ya?” Ardhanza menggeram, napasnya berat karena menahan amarah. “Aku nggak mau diperlakukan begini lagi olehmu!”

Inara berkedip bingung tak percaya dengan penolakan itu. Dulu Ardhanza akan langsung menariknya ke pelukan. Dulu semua berjalan sesuai rencananya. Dulu ramuan cinta itu bekerja, namun hari ini tidak seperti apa yang dibayangkannya.

“Kenapa berubah? Apa aku salah? Bukankah kamu dulu sangat menyukai gayaku yang seperti ini?” tanyanya yang mulai berakting pura-pura sedih dan kecewa.

“Berhenti bicarakan masa lalu!” potong Ardhanza tegas tidak ingin dibantah.

Ardhanza mengusap wajahnya frustasi,” ya Allah… kenapa kamu menjadi seliar ini sih!?”

Sejak beberapa hari lalu, setiap kali ia pulang dan mendengar suara Citra bershalawat, mengaji, atau menyenandungkan doa lembut saat menidurkan baby Jay dan baby Jia…

ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Ketentraman dari suara itu membuatnya merasa tenang. Dan ketenangan itu semakin menonjolkan betapa kosong dan dangkal hubungan fisiknya dengan Inara selama ini.

“Apa yang terjadi kepadaku!? Bukannya dulu seperti yang Inara katakan kalau aku nggak pernah menolak apa yang diperbuatnya dengan tubuhku. Tapi saat ini, sejujurnya aku sangat risih dan jijik,” batinnya Ardhanza yang bergidik ngeri-ngeri sedap melihat bentuk tubuhnya Inara yang seksi.

Maka tatapannya pada Inara kini bukan lagi tatapan cinta melainkan penolakan total.

“Aku muak dengan semua ini, aku minta kepadamu untuk berhenti menjadi seolah kamu adalah perempuan murahan!” ucap Ardhanza pelan, namun menghantam telinga Inara seperti palu godam.

“What the hell! Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa kali ini menolakku? Kalau seperti ini berarti memang ramuan cintanya efeknya semakin berkurang,”

Inara kembali mencoba mendekat, seolah menganggap perubahan sikap itu hanya drama sesaat.

“Ayolah, sayang… kamu pasti kangen aku. Kamu cuma lagi stres pasti Kamu hanya kelelahan sehingga menolak sentuhanku kan,” godanya Inara yang belum putus asa menggoda calon suaminya itu, ia mengulurkan tangan sambil berjalan lebih mendekat lagi.

Namun kali ini Ardhanza justru mengangkat tangan kanannya, memberi tanda tegas  untuk berhenti melangkah.

“STOP!!” ucapnya Ardhanza yang semakin meninggikan nada suaranya.

Sorot matanya tajam membuat Inara berhenti di tempat dan melotot tak percaya dengan apa yang barusan dilihat dan didengarnya.

“Kalau kamu masih punya harga diri, pakai bajumu dan cepat keluar dari kamar ini sekarang juga!” titahnya.

Nada suaranya datar terlalu tenang untuk seorang lelaki yang kemarahannya sudah ada di ubun-ubunnya. Justru itu yang membuatnya terdengar lebih menakutkan.

Malam itu, bukan hanya tubuh Inara yang terbuka, tetapi sedikit-sedikit topengnya juga mulai runtuh.

Ardhanza mungkin belum tahu semua rencananya, tapi satu hal sudah jelas kalau Inara tidak lagi memegang kendali atas dirinya.

Inara meraih handuk dari ranjang dan berdiri, bukan untuk menutupi tubuhnya, tetapi hanya agar bisa kembali mendekat dengan penuh percaya diri.

“Aku boleh gagal satu atau dua kali. Tapi, aku akan tetap menggoda dan merayunya agar jatuh ke dalam pelukanku, karena waktu kami sama-sama mabuk dia bukannya menyentuhku malah tertidur pulas dan terpaksa aku melampiaskan hasratku dengan pria random,” batinnya Inara.

Matanya menatap Ardhanza penuh tantangan.

“Danza, kenapa sih kamu berubah begini? Kamu dulu nggak pernah nolak aku loh,” ucap Inara dengan nada genit, bibirnya tersenyum menggoda seakan penolakan Ardhanza barusan hanya bagian dari permainan.

Ardhanza menggeleng kasar, wajahnya dingin, tidak sedikitpun tersisa ketertarikan yang dulu pernah ada.

“Berapa kali aku harus bilang ha!? Aku nggak mau, Inara! Apa kamu budeg sehingga tidak paham dengan ucapanku!? Ataukah kamu sudah gila?” sarkasnya Ardhanza yang mundur beberapa langkah ke belakang.

Nada suaranya naik satu oktaf, namun Inara seperti tidak peduli dengan kemarahan, kekesalannya Ardhanza.

“Kamu cuma lagi gengsi. Aku tahu kamu masih mau aku. Kamu cuma butuh aku untuk menghilangkan stres,” jawab Inara seenaknya, lalu mendekat lagi dan mencoba menempelkan tubuh bagian terdepannya yang semakin menonjol karena membusungkan dadanya pada tubuh atletisnya Ardhanza yang barusan selesai mandi.

“Cukup!” Ardhanza menghardik. “Aku sudah bilang jangan sentuh aku!” bentaknya.

“Sampai kapan mau pura-pura jadi suci, hah?” Inara membalas cepat, nada suaranya mulai pedas.

“Kamu pikir aku nggak tahu semua lelaki itu cuma butuh kehangatan dan belaian lembut dari perempuan dan Kamu juga sama saja, Danza.” tukasnya.

Ardhanza terdiam sejenak bukan karena ia tidak bisa membela diri, tetapi karena kata-kata Inara begitu hina dan menjijikkan yang terdengar di rungunya.

Tatapannya menajam, napasnya memburu menahan emosinya yang semakin meledak-ledak.

“Jangan pernah samakan aku dengan kamu yang cuma pakai tubuh untuk mendapatkan apa yang kamu mau, mungkin dulu aku terlalu bodoh sehingga bisa diperdaya olehmu tapi sekarang nggak lagi!” ucapnya perlahan tapi mengiris.

Wajah Inara berubah muram lalu  terlihat gelap kemudian ia tertawa sinis.

“Oh jadi kamu mau bilang kamu lebih baik? Padahal dulu kamu sendiri lah yang menginginkan tubuhku ini.”

“Yang dulu udah selesai!” Ardhanza membentak keras. “Dan aku nggak akan balik ke kebodohan itu!”

Inara tak menyerah. Ia malah berusaha meraih wajah Ardhanza, memaksa kontak fisik untuk menghidupkan kembali masa lalu yang ia pikir masih ada.

“Kamu milikku, Danza. Kamu bakal jadi ayah anakku nanti, dan..”

BUK!

Seketika itu juga Ardhanza mendorong tubuh Inara dengan tenaga spontan penuh amarah. Inara jatuh terjerembab ke lantai marmer dingin dengan suara keras.

“Argh!! Sakit!” Pekik Inara ketika terjatuh ke atas lantai yang cukup dingin malam itu.

Inara ternganga lebar, melongok terkejut, tidak menyangka lelaki yang dulu begitu lembut padanya bisa melakukan hal kasar kepadanya itu.

“Jangan pernah pakai anak untuk menjebakku,” ujar Ardhanza tanpa gemetar sedikit pun, penuh kemuakan dan ancaman yang terselubung.

“Kalau kamu masih punya akal, pakai pakaianmu sekarang. Dan keluar dari sini sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.” ucap tegas Ardhanza sembari menunjuk ke arah pintu.

Inara menatap ke arah Ardhanza dari lantai antara syok, marah, dan takut.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sangat menakutkan.

Ardhanza tidak lagi berada dalam genggamannya. Dan senyum manis serta godaan sensualnya sudah kehilangan kekuatan total saat ini.

Tubuh Inara yang terjatuh di lantai sempat meringis, namun bukannya marah atau tersinggung, dia justru tersenyum miring senyum penuh rencana.

Dengan sengaja ia memperlambat gerakannya sebelum bangkit, seolah ingin menarik perhatian Ardhanza lebih lama. Baginya pria mana yang akan menolak kemolekan tubuhnya dan keindahan benda pusakanya.

Namun laki-laki itu justru memalingkan wajahnya, menahan emosi dan jijik yang bertumpuk menjadi satu.

“Sudah cukup, Inara. Jangan pernah sentuh aku lagi,” suara Ardhanza dingin, tegas, dan jelas menunjukkan batas.

Inara bangkit perlahan, sembari memungut gaun seksi dan ketatnya.

Matanya berkilat, tak rela kehilangan kendali seperti sebelumnya yang selalu dilakukannya.

Dan kalimat itu pun dia lontarkan tanpa memikirkan apapun, “Ardhanza! Abang… aku hamil anakmu dan sudah dua bulan!”

Seketika dunia Ardhanza seperti berhenti berputar.

Ardhanza menoleh cepat, kedua alisnya mengerut tajam. “Apa?!” suaranya meninggi, bukan karena panik, tapi karena tidak percaya.

Inara menatapnya penuh dramatis, meletakkan tangannya di perut sendiri.

“Iya… dua bulan. Ini anak kita.”

Untuk beberapa detik Ardhanza hanya diam, seolah otaknya sedang menghitung tanggal, menganalisis, mencari celah kebenaran ataukah dusta yang diucapkan oleh Inara tentang kehamilannya, rahangnya mengeras.

Ardhanza hanya diam beberapa detik, kedua matanya menghujam tajam ke arah Inara.

Dia mencoba mengumpulkan logika, menghitung tanggal, mengingat kejadian dua bulan lalu, tapi ingatan itu gelap, kabur, dan tidak ada satupun yang terasa masuk akal.

“Nggak mungkin aku melakukan hubungan seperti itu dengannya. Kami memang seringkali melampaui batas tapi aku masih bisa bedakan walaupun aku mabok waktu itu.”

Melihat Ardhanza belum merespons, Inara langsung mengganti ekspresi. Wajah yang tadinya penuh tantangan berubah drastis.matanya membesar, bibirnya bergetar halus.

Ia menarik napas tersengal, seolah sedang menahan tangis.

“Danza… Abang nggak percaya sama aku?” suaranya lirih, dipaksakan bergetar.

Inara mengusap sudut matanya dengan gerakan lambat, dramatis, padahal tidak ada air mata sama sekali.

Dia menundukkan kepala, bahunya sengaja dibuat merosot, seakan sedang menanggung beban yang sangat berat.

Lalu ia menekuk tubuhnya sedikit, memeluk perutnya dengan kedua tangan seolah sedang melindungi sesuatu yang rapuh.

“Ini… anak Abang,” lanjutnya dengan suara bergetar.

“Aku sendirian jagain dia dua bulan ini, Abang bahkan nggak tahu apa aku baik-baik saja atau tidak selama masa ngidamku.”

Ia menggigit bibir bawahnya, pura-pura menahan isak, meski sebenarnya ia hanya memastikan Ardhanza melihat betapa rapuh dan sedihnya ia saat ini.

Kemudian ia mendongak perlahan, menatap Ardhanza dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, meski tidak ada air yang jatuh.

“Kenapa kamu lihat aku kayak gitu? Kok kamu ragu? Apa kamu kira aku bohong?” tanyanya, dengan suara serak buatan.

Ia melangkah setengah, tubuhnya sedikit gemetar seolah hampir jatuh dan gerakan itu sangat jelas dibuat untuk menimbulkan simpati.

“Tolong jangan jauhi aku, jangan jauhi  calon anak kita…” ujarnya lirih, kedua tangannya meremas ujung gaunnya dengan gugup palsu.

Inara bahkan mengulurkan satu tangan, seakan ingin diraih oleh Ardhanza. Jari-jarinya bergetar, gerakannya lambat dan penuh drama, sangat sengaja untuk menyentuh sisi lembut lelaki itu.

Namun sedikitpun tidak ada air mata yang benar-benar menetes.

Hanya kepura-puraan yang dipaksa mati-matian untuk menutupi kepanikan dan kebohongan yang ia harap dapat menyelamatkan posisinya.

Ardhanza mengamati semua itu, yaitu setiap detil ekspresi, gerak tubuh, dan getaran pura-pura di suara Inara.

Rahangnya semakin tegang matanya sampai menyipit.

Dan dadanya naik turun, jelas ia mulai mendidih oleh emosi yang jauh lebih dalam daripada sekadar marah.

1
Intan Melani
y banyak Napa thor upnya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak 😍
total 1 replies
Aqella Lindi
lanjut ya thor jgn lama
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah...
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎💎
Aqella Lindi
tetap d tguya thor semangat💪
Aqella Lindi
jgn lama2 ya thor nti lupa ceritany
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Evi Lusiana
dasar laki² gila lo yg nyakitin,nyerai in tp msih jg mo ngganggu hidupny dasr gak waras
Evi Lusiana
sungguh kluarga ardian yg toxic itu pst dpt balasan tlh menyakiti mendholimi mnsia ber akhlak baik sprti citra
Evi Lusiana
menggelikan satu kluarga toxic tunggu sj karma kalian
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
💃💃💃💃💃
Sastri Dalila
😅😅😅 semangat Citra
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak kak 🙏🏻🥰
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Adrian tabur tuai pasti ada .ingat apa yg kamu tuai itu yg akan kamu dpt, dasar mantan suami iblis
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Bagus Citra.. usah di balas dgn kejahatan pd org yg tlh berbuat jahat kpd kamu.
Sastri Dalila
👍👍👍
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
semoga bener Citra itu anak pak Ridho yg hilang. aduhhh Citra terima saja pekerjaan yg ditawarkan semoga kehidupan kamu berubah dgn lbh baik lagi.
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
rose pasti akan menerima nasib yg sama seperti Citra, jgn terlalu sombong kerna karma itu ada. apa yg dituai itu yg kamu dpt begitu juga dgn ibu serta sdra Andrian yg sudah menyakiti hati dan mental Cutra
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
siapa yg dtg ya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: ditebak kira-kira siapa???
total 1 replies
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
ayuh Citra ga usah peduli dgn kata2 pedas dari keluarga mantan sok percaya diri bgt mereka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!