Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Edgar
Arjuna pun mengikuti langkah Diana sambil membawa ikannya.
"Terima kasih, nak. Diana sedang mandi." kata Inara, ibunya Diana.
"Dia meninggalkan ikannya. Katanya dia harus cepat bersiap karena dokternya sudah datang."
"Iya. Dokter Edgar setiap 2 minggu sekali akan datang ke desa ini. Dia sudah hampir 2 tahun menjadi dokter bagi masyarakat di sini. Dan hal yang sangat luar biasa, kami tak pernah membayar setiap kali diperiksa olehnya. Obat-obatan semua dibayar oleh pak kepala desa."
"Dokter yang sangat mulia."
"Masyarakat di sini sangat sayang pada dokter Edgar."
"Diana memangnya sakit apa?"
"Dia sedang menjalani terapi karena kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu."
Arjuna pun pamit untuk kembali ke rumah kepala desa.
Beberapa penduduk nampak sudah duduk di bagian kolong rumah panggung itu. Sepertinya mereka sudah antri untuk diperiksa. Bagian kolong rumah pak Rudi memang ada satu ruangan yang ternyata ruangan itu khusus untuk ruangan pemeriksaan bagi penduduk yang datang berobat.
Arjuna memilih ikut tangga bagian belakang. Ia mengambil pakaian untuk mandi. Selesai mandi, ia turun kembali. Dari jarak jauh, ia memperhatikan semua yang datang berobat, terutama Diana yang kemudian datang bersama ibunya.
Hari sudah malam saat semua penduduk selesai diperiksa. Arjuna sebenarnya ingin berbincang dengan Diana namun gadis itu justru pergi bersama dengan Ling.
"Arjuna, ayo kamu juga diperiksa." ajak Rudi.
"Di periksa apanya?"
"Bekas-bekas lukamu."
"Lukanya sudah sembuh."
"Ayolah. Untung dokternya belum pergi." Rudi memaksa Arjuna untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
"Arjuna Pekins?" tanya dokter Edgar setelah ia dan Arjuna tinggal berdua saja di ruangan itu. Arjuna terkejut saat menyadari bahwa dokter mengenalnya.
Edgar tersenyum. "Jangan takut. Aku tak akan melaporkanmu pada pihak kerajaan karena aku tahu perjuanganmu."
Arjuna bernapas lega.
"Ayo buka bajumu. Biar aku lihat bekas luka-luka mu."
Arjuna pun membuka kaos yang dipakainya. Dokter Edgar segera memeriksanya. "Lukamu sudah sembuh. Aku akan berikan cream agar bekas lukanya hilang."
"Biar saja, dok. Biarlah bekas luka itu menjadi kenangan." Arjuna mengenakan lagi kaosnya. Ia kemudian menatap dokter Edgar. "Diana sakit apa?"
Edgar menatap Arjuna. "Kamu tertarik dengan Diana karena mirip dengan Fiana Adams?"
"Dokter tahu juga Fiana Adams?"
"Aku kan berasal dari kota yang sama denganmu. Jelita yang adalah sahabat dekat Fiana, adalah sahabat keluargaku juga."
Arjuna tertunduk lesu. "Berarti dokter tahu hubunganku dengan Fiana?"
"Aku tahu kalau kamu adalah suaminya. Fiana pernah bicara dengan ku."
"Apakah dokter tahu kasus bunuh diri yang dilakukan olehnya?"
"Aku yang menjemput jenasahnya dari rumah dan melaporkan kasus ini pada pihak berwajib."
Arjuna menggeleng sedih. "Aku tak percaya kalau dia bisa bunuh diri seperti itu. Pada hal kami sudah sepakat kalau dia akan menunggu sampai aku dibebaskan."
"Itu karena pangeran Jeremi sudah berencana untuk memindahkan tempat tinggal Fiana di istana. Fiana tertekan karena tak ada yang peduli dengannya. Rina bahkan tak bisa menolongnya lagi."
"Aku benci dengan semua permusuhan ini. Rasanya aku juga ingin bunuh diri."
Edgar menepuk pundak Arjuna. "Cobalah untuk menenangkan diri di sini."
"Dokter apakah menurut mu, Diana itu adalah jelmaannya Fiana?"
Edgar terkekeh. "Aku tak yakin. Namun yang aku tahu kalau di dunia ini, terkadang kita memiliki kembar walaupun terlahir dari rahim yang berbeda."
"Dokter bisa saja."
"Polisi sedang mencari keberadaan mu. Keluargamu memang mendapatkan banyak tekanan dari pihak kerajaan. orang tuamu sampai jatuh sakit."
"Kasihan mama."
"Bersabarlah selama 3 tahun di sini sampai kasusmu di tutup."
"Aku akan mencoba walaupun sebenarnya aku hampir gila karena sangat merindukan istriku. Tempat ini sangat terisolasi."
"Karena itu kamu aman di sini. Penduduk di sini memang menolak segala bentuk teknologi modern menyentuh tempat ini."
"Bagaimana dokter bisa sampai di sini?"
Edgar tersenyum. "Kisahnya panjang. Yang pasti aku juga dulu melarikan diri." Edgar membereskan semu peralatan yang dibawahnya dan dimasukan ke dalam tasnya.
"Dokter, bolehkah menghubungi orang tuaku dan mengatakan pada mereka kalau aku baik-baik saja?"
Dokter menggeleng. "Sebaiknya tak ada yang tahu keberadaan mu di sini. Karena aku juga tak mau tempat ini menjadi kacau dengan kedatangan orang-orang asing."
Arjuna pun tak memaksa lagi. Karena ia juga tak mau desa ini menjadi rusak hanya karena dirinya.
Selesai makan malam bersama keluarga pak kepala desa, dokter Edgar pamit pulang. Ia memang tak mau menginap di desa ini demi menjaga keamanan bersama.
**********
Tak terasa sudah 2 minggu Arjuna ada di desa ini.
Setiap pagi, ia akan ikut ke kebun atau juga ke sawah. Arjuna sudah mulai kehidupan para petani di sini.
Arjuna tetap menjadi idola para gadis walaupun mereka semua tahu kalau Arjuna hanya selalu memperhatikan Diana.
Seperti sore ini, Arjuna kembali pergi ke sungai. Ia tersenyum melihat Diana yang nampak sedang mencuci pakaian di dekat air terjun. Gadis itu hanya menggunakan kain sarung. Ia terlihat seksi dan kembali membuat Arjuna merasakan getar yang aneh di dadanya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Diana.
"Ingin datang saja. Memangnya tak boleh?" tanya Arjuna.
"Jangan menganggu aku."
"Aku tidak menganggu. Aku hanya memperhatikan."
"Itu sama saja menganggu."
Arjuna tersenyum senang karena Diana sudah mau berkomunikasi dengannya walaupun masih terlihat sedikit ketus nada bicaranya.
"Kalau begitu aku tak akan mengganggumu. Aku mau mandi saja."
Arjuna melepaskan sandal dan kaos nya, menyusahkan celana pendek. Diana langsung membelakangi cowok itu saat Arjuna sudah membuka kaosnya. Gadis itu pura-pura sibuk dengan cuciannya.
Arjuna menikmati air sungai yang sangat sejuk. Ia terus mandi sambil sesekali memperhatikan Diana.
"Aku tak mungkin suka padanya hanya karena wajahnya sangat mirip dengan Fiana." kata Arjuna pada dirinya sendiri.
Diana yang sudah selesai mencuci bermaksud akan segera pergi. Ia memasukan semua pakaiannya ke dalam keranjang pakaian yang di bawahnya. Namun saat dirinya akan keluar dari air, gadis itu terpeleset. Untung saja keranjangnya sudah ia letakan di pinggir sungai.
"Ah .....!"
Arjuna bergegas mendekati gadis itu. Kain sarung yang melilit tubuh Diana terbuka dan menunjukan tubuh bagian atasnya yang polos.
Arjuna mengangkat tubuh Diana setelah menaikan lagi kain sarung gadis itu.
Lutut Diana berdarah karena terbentur pada batu yang tajam. Arjuna melihat sekeliling dan menemukan rumput yang ia tahu bisa menghentikan pendarahan. Tubuh Diana didudukannya di atas batu lalu ia segera mengambil rumput itu.
"Ah, perih.....!" rengek Diana saat Arjuna menggosokkan rumput itu ke atas lukanya.
"Ayo, aku antar kamu pulang." kata Arjuna.
"Kaki ku masih sakit. Lagi pula, aku tak bisa lagi pulang ke rumahku. Aku harus ikut kemana kamu pergi."
"Kenapa?" tanya Arjuna heran.
"Kamu sudah melihat tubuhku tanpa pakaian. Menurut adat istiadat desa ini, kamu harus menikahi aku."
"Apa?" Arjuna terkejut.
"Jika kamu sudah menikah maka kamu hanya membayar denda. Namun jika kamu belum menikah, kamu harus menikahi gadis itu."
"Tidak mungkin. Tidak ada yang melihat kejadian tadi. Kita tak usah berterus terang." kata Arjuna. Ia tak mau menikahi Diana walaupun wajahnya mirip dengan Fiana.
"Kami melihat."
Arjuna menoleh ke arah suara itu. Ia kaget melihat ada dua orang gadis yang sedang duduk di atas pohon.
"Mereka siapa?" tanya Arjuna.
"Teman-teman ku. Setiap gadis di sini, dilarang sebenarnya pergi ke sungai sendirian."
Arjuna mengusap wajahnya kasar. "Tapi aku tak mau menikah."
Diana tiba-tiba memeluk Arjuna. "Aku sekarang milikmu."
Nah.....lho....ada apa ini?