Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Mata Leo seketika berbinar saat melihat taksi kuning itu melambat dan berhenti tepat di depan rumah kayu mereka. Kegelisahan yang menghimpit dadanya selama tiga hari terakhir seolah luruh dalam sekejap. Tanpa menunggu mesin taksi mati sempurna, ia sudah bangkit dari teras dan melangkah lebar menghampiri.
"Om Leo!" seru Lili bersemangat dari balik jendela.
Begitu pintu terbuka, Leo langsung berjongkok. Ia merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut Lili akan menghilang lagi. Leo menenggelamkan wajahnya di bahu kecil Lili, menghirup aroma rambut bocah itu yang sangat ia rindukan.
"Lili ke mana saja? Om kangen sekali," bisik Leo dengan suara serak.
Hatinya benar-benar lega melihat mereka kembali. Selama tiga hari ini, Leo nyaris gila karena didera rasa takut jika Raya sengaja memboyong Lili pergi untuk menghindarinya selamanya. Ia bahkan sempat mendatangi perkebunan teh untuk mencari informasi, namun para pekerja di sana hanya menggeleng. Mereka bilang Raya memang tertutup dan sering menghilang tiga atau empat hari dalam sebulan tanpa alasan yang jelas.
Leo melepaskan pelukannya perlahan. Ia sempat melirik Raya yang berdiri mematung di sisi taksi sebelum kembali menatap mata bulat Lili.
"Lili dari mana saja? Kenapa meninggalkan Om sendirian di sini?" tanya Leo lagi, mencoba mencari jawaban yang selama ini disembunyikan ibunya.
Lili terdiam. Ia tampak bingung, lidahnya terasa kelu karena teringat pesan "misi rahasia" dari ibunya. Bocah itu menoleh ke arah Raya, menatapnya dengan pandangan bertanya seolah sedang meminta bantuan untuk berbohong.
Melihat keraguan putrinya, Raya segera melangkah maju. Dengan gerakan cepat, ia meraih tangan kecil Lili dan menariknya lembut.
"Ayo masuk, Lili harus istirahat," potong Raya tegas.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Leo untuk bicara lebih jauh, Raya menuntun Lili masuk. Ia melewati Leo begitu saja, seolah pria itu hanyalah bagian dari udara kosong di halaman rumah mereka.
"Raya!" panggil Leo, suaranya menahan langkah wanita itu tepat di ambang pintu.
Raya berhenti sejenak, namun ia tidak berbalik. Ia hanya menoleh sedikit, memberikan tatapan yang sedingin es.
"Ke mana pun kami pergi, itu bukan urusanmu," ucap Raya datar.
Brak!
Pintu ditutup dengan suara yang cukup keras, meninggalkan Leo yang terpaku sendirian di tengah kepulan debu sisa taksi. Ia menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan tangan mengepal, menyadari bahwa meski jarak rumah mereka hanya sejauh beberapa langkah, dinding yang dibangun Raya terasa lebih tinggi dari gunung manapun.
Ia ingin berteriak bahwa ia peduli, bahwa ia ingin membantu. Namun, saat teringat sorot mata Raya yang penuh luka dan pertahanan diri yang sangat kuat, nyali Leo menciut. Ia sadar, memaksanya sekarang hanya akan membuat Raya semakin menjauh dan kembali menghilang.
Dengan berat hati, Leo mengembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak menjadi gangguan bagi mereka hari ini.
Ia membalikkan badan, menyeret langkahnya menuju rumahnya sendiri yang berada tepat di sebelah. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan ton. Hatinya bergemuruh, penuh dengan spekulasi dan kecemasan yang tak kunjung menemukan jawaban.
* * *
Keesokan harinya, kabut tipis masih menyelimuti perkebunan saat Leo sudah berdiri gagah dengan pakaian formal yang kontras dengan suasana desa. Kemeja yang disetrika sempurna dan sepatu kulit yang mengilat membuatnya tampak seperti orang asing dari dunia lain.
Di depan rumah kontrakannya yang sederhana, sebuah mobil hitam mewah telah terparkir rapi, tampak begitu mencolok di antara jalanan berbatu. Di sisinya, Roni, asisten pribadi Leo, berdiri tegap, meski wajahnya tampak sedikit tegang menghadapi suasana hati bosnya yang sedang tidak menentu.
"Masalah seperti ini saja kau tidak bisa mengurusnya sendiri?" tegur Leo ketus sambil merapikan jam tangannya.
"Tidak bisa, Pak. Dokumen ini harus Anda tanda tangani langsung di hadapan notaris," jawab Roni dengan suara pelan namun tegas.
"Kenapa tidak kau bawa saja dokumen itu ke sini? Kau punya kaki dan tangan, kan?" sahut Leo lagi, nada bicaranya dingin dan menuntut.
Roni hanya bisa menunduk. Ia sudah hafal betul tabiat atasannya yang terkenal angkuh dan tak segan mengeluarkan kata-kata tajam. "Klien meminta bertemu langsung dengan Anda, Pak. Mereka ingin kepastian segera."
"Cih... dasar tidak berguna," gumam Leo.
Egonya merasa terusik. Sejujurnya, alasan utamanya marah bukan karena dokumen itu, melainkan rasa enggan yang luar biasa untuk berjarak dari Raya dan Lili. Baru saja kemarin ia bernapas lega melihat mereka kembali, sekarang ia harus dipaksa menjauh lagi.
Tepat saat Leo hendak membuka pintu mobil, sebuah suara melengking kecil memecah ketegangan.
"Omm! Om mau ke mana?"
Leo menoleh. Lili berlari kecil menghampirinya dengan rambut yang masih berantakan khas bangun tidur. Wajah bocah itu tampak panik, matanya yang bulat mulai berkaca-kaca menatap penampilan rapi Leo.
"Om mau pergi ya? Om marah karena kemarin Lili tinggal sendirian?" tanya Lili dengan suara bergetar, seolah tinggal menunggu hitungan detik sebelum air matanya tumpah.
Melihat itu, pertahanan Leo runtuh seketika. Keangkuhannya menguap berganti rasa iba yang hangat. Ia segera berjongkok, mengabaikan celana mahalnya yang mungkin kotor terkena debu tanah, lalu mengusap pucuk kepala Lili dengan sangat lembut.
"Om pergi sebentar untuk kerja, Sayang. Nanti Om kembali lagi, kok," ucap Leo, suaranya melembut drastis, jauh berbeda dari saat ia bicara pada Roni tadi.
"Om janji ya perginya cuma sebentar?" Lili menatapnya penuh harap.
Tadi, saat pertama kali membuka mata, Lili langsung mengintip dari jendela kamar sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Namun, kantuknya hilang seketika saat melihat mobil mewah terparkir dan sosok Leo yang berpakaian sangat rapi. Ia mengira Leo sedang bersiap untuk pergi meninggalkannya selamanya karena marah atas sikap dingin ibunya kemarin.
"Om janji," bisik Leo sambil tersenyum tulus.
Di dalam perjalanan, suasana kabin mobil sangat sunyi, hanya ada suara deru mesin yang halus. Roni sesekali melirik atasannya dari kaca spion dengan dahi berkerut. Pikirannya penuh dengan tanda tanya besar.
Siapa bocah itu? Sejak kapan bosnya yang berhati batu itu bisa bersikap begitu manis?
Rasa penasaran Roni akhirnya mengalahkan rasa takutnya.
"Pak... maaf kalau saya lancang, tapi kenapa Anda betah tinggal di tempat... seperti itu? Kenapa tidak mencari vila atau hotel yang lebih layak? Bukankah pekerjaan di desa ini sudah selesai?" tanya Roni hati-hati. "Kenapa Anda tidak kembali ke kota saja?"
Leo yang sedang menyandarkan kepala sambil menatap pepohonan yang melintas di luar jendela, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah spion. Tatapannya datar, namun sanggup membuat bulu kuduk Roni berdiri.
"Tampaknya kau mulai sangat tertarik dengan urusan pribadiku, ya, Roni?" ucap Leo pelan, namun nadanya sarat akan peringatan.
Roni langsung menelan ludah dengan susah payah. Ia tersadar bahwa ia baru saja melangkah terlalu jauh masuk ke zona merah. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya bertanya," sahutnya gugup sambil kembali fokus ke jalan raya.