NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Silent

Sebuah ruangan luas dan sunyi terbentang, diterangi cahaya redup yang memantul di atas meja besar berbentuk persegi panjang. Inilah markas The Silent, tersembunyi di Naraya Utara, jauh dari kawasan tempat Rio tinggal di Naraya Barat.

Empat sosok duduk di masing-masing sudut meja, jarak di antara mereka terasa seperti batas wilayah yang tidak kasat mata.

Di pojok kanan dekat pintu duduk seorang lelaki bertubuh besar namun tidak terlalu berotot. Wajahnya dipenuhi senyum santai, matanya terpejam seolah sedang menikmati suasana. Dialah Alexander .

"Wah~ wah~ sepertinya beberapa bidak kita telah di kalahkan... bahkan Riko kecil ku bisa kalah, kukira potensi nya besar ~."

Ucapannya terdengar ringan, seperti candaan, meski maknanya tidak sesederhana itu.

Di pojok kiri dekat pintu, seorang perempuan dewasa duduk tegap. Rambutnya pendek, setelan jasnya rapi, dan kacamata yang ia kenakan memantulkan cahaya lampu. Nova menyilangkan kaki dengan tenang.

"Sudah kubilang itu tidak akan bisa di harapkan, karena itulah aku tidak memiliki bidak."

Nada suaranya datar, tanpa emosi berlebih, seolah semua ini sudah ia perhitungkan sejak awal.

Di pojok kanan jauh dari pintu, seorang pria tinggi dengan rambut merah panjang yang diikat rapi bersandar dengan wajah dingin. Setelan putihnya kontras dengan ekspresi tajam di matanya. Ia adalah Jager.

"Aku tidak peduli dengan Riko kecilmu, Alexander...,aku bingung dengan Peter ku yang di kalah kan, dan dia adalah yang terkuat di antara para bidak kita."

 Ada nada tidak terima dalam suaranya, seperti harga dirinya ikut dipatahkan.

Pojok kiri jauh dari pintu ditempati sosok paling mencolok. Tubuhnya besar dan penuh otot, setelan formal hitam yang ia kenakan tampak ketat menahan badannya. Aura tekanan terasa kuat dari arahnya. Seth menghantamkan telapak tangannya ke meja.

"Kalian terlalu berisik!!."

Ia menatap ketiganya dengan tatapan tajam.

"Aku tidak peduli siapa bidak yang terkuat, tetapi mereka kita pilih untuk menjadi penerus kita karena potensinya,Dan mereka semua malah membangkang?,Aneh sekali.."

Alexander hanya tertawa kecil, bahunya sedikit terangkat.

"Wah~ marah deh~."

Sebaliknya, wajah Jager justru makin serius.

"Bagaimana jika kita mengirimkan beberapa anggota, untuk menghabisi mereka, Aku merasa sudah di bohongi.." Usul itu meluncur dingin, tanpa ragu.

Nova menutup mulutnya sambil tertawa kecil, seakan mendengar sesuatu yang lucu.

"Lakukan lah apa yang kau mau, Aku lebih baik mengurus wilayah ku."

Empat petinggi The Silent pun kembali pada peran masing-masing.

 Alexander menguasai Naraya Barat, Jager menjaga Naraya Timur, Seth memegang Naraya Utara, dan Nova mengendalikan Naraya Selatan. Di ruangan itu, keputusan belum benar-benar diambil.

Alexander tersenyum lebar, senyum yang jelas-jelas bukan senyum orang baik.

"Itulah yang terjadi jika kau terlalu menyombongkan diri, Jager ..,kau selalu mengatakan bahwa Peter yang terkuat,Dan sekarang...kabur deh~ kabur~~."

Nada suaranya ringan, tapi setiap kata terasa seperti jarum kecil yang sengaja ditusukkan ke harga diri lawannya.

Provokasi itu bekerja sempurna. Mata Jager menajam, rahangnya mengeras, aura panas langsung terasa di sekelilingnya.

"Hey gendut!, bukankah mulutmu itu sedikit berisik?, bagaimana jika kita keluar?,akan ku sumpal mulutmu Denga kaus kaki ku!."

Ia berdiri dengan gerakan kasar, kursinya bergeser keras di lantai, jelas terpancing emosi.

Alexander tidak mundur sedikit pun. Ia justru berdiri sambil tertawa, bahunya terangkat santai.

"Wah~ Boleh saja tuh ~ ,Kelihatannya seru juga ~..."

Dua petinggi itu kini saling berhadapan di sisi meja, jarak mereka dekat, cukup dekat untuk berubah jadi bentrokan sungguhan kapan saja.

Di sisi lain, Nova menutup matanya sejenak dan menarik napas panjang.

"haah..., Seperti ini lah hari hari ku."

Nada suaranya lelah, karena terlalu sering melihat adegan yang sama.

Suasana tegang itu akhirnya pecah ketika suara keras menghantam ruangan.

"Brakkk!!!."

Seth memukul meja dengan satu tangan, suaranya menggema dan langsung memaksa perhatian semua orang tertuju padanya. Ia berdiri dengan wajah dingin dan sorot mata penuh tekanan.

"Hahh lebih baik kita kembali ke daerah kita masing masing..."

Alexander Menatap Seth dan lalu berjalan keluar ruangan."Ya Sudah deh~,aku pulang ~."

Lalu di ikuti oleh yang lainnya.

......................

......................

Pagi hari di rumah Rio terasa lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela, menyinari rumah yang rapi. Rio berdiri di depan pintu dengan seragam sekolahnya yang sudah lengkap.

"Rani.., Aku berangkat.." ucapnya sambil mengenakan tas di pundaknya.

Tidak lama setelah itu, Rani keluar dari rumah dengan seragam sekolahnya sendiri. Ia menoleh ke arah jalan dan mendapati Rio sudah tidak terlihat lagi. Rani terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

"sepertinya Kaka terlalu bersemangat,dan Kakak sudah tidak sedih lagi.." gumamnya, sedikit lega melihat perubahan itu.

Di jalan menuju sekolah, Rio melangkah dengan kecepatan biasa. seragam putihnya rapi, celana hitamnya bersih, dan dasi biru tergantung dengan benar. Almamater hitam sekolahnya membuatnya terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.

"Sepertinya aku berangkat terlalu pagi.." pikirnya sambil melihat sekeliling. Jalanan masih sepi, hanya sesekali dilewati orang yang berangkat kerja atau siswa lain yang berjalan sendiri.

Ia menghela napas pelan.

"Kalau saja aku tahu rumah teman-temanku, mungkin aku sudah mampir," lanjutnya dalam hati, nada pikirannya datar tanpa emosi berlebihan.

Rio kemudian meletakkan kedua tangannya di belakang leher sambil terus berjalan.

...----------------...

Di sekolah pagi itu, Rio tiba lebih awal dari biasanya. Gerbang masih terbuka setengah, dan halaman sekolah terasa lengang. Hanya ada beberapa murid yang baru datang, berjalan santai tanpa suara ramai seperti biasanya.

Rio melangkah menyusuri koridor menuju kelasnya sambil menoleh ke kanan dan kiri.

"Sepi sekali.., mungkin cuma murid rajin yang datang sepagi ini, dan jadi aku termasuk murid yang rajin?." gumamnya pelan.

Ia terkekeh sendiri. "Kalau mereka masuk pagi buat belajar, aku malah masuk pagi buat malas-malasan, hehe."

Langkahnya berhenti saat ia sampai di depan kelas. Begitu pintu terbuka, Rio langsung terdiam. Matanya melebar, lalu senyumnya muncul perlahan. Di dalam kelas itu, sudah ada seseorang yang duduk dengan santai.

"Wah, apa aku baru saja melihat sebuah keajaiban?" ucap Rio setengah bercanda.

Rivaldo menoleh ke arahnya, lalu tertawa kecil.

"Ha ha, kau bahkan masih sempat mengejekku," balasnya santai, seolah suasana canggung kemarin tidak pernah ada.

Rivaldo kemudian berdiri dan berjalan keluar kelas. Saat melewati Rio, ia menepuk bahunya dengan ringan.

"Aku punya info penting. Ikut aku ke lantai empat."

Rio tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk, masuk sebentar untuk menaruh tasnya di meja, lalu kembali keluar kelas. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengikuti Rivaldo menaiki tangga menuju lantai empat, dengan rasa penasaran yang mulai muncul pelan-pelan.

Rio menatap Rivaldo dengan wajah datar, sedikit menyipitkan mata.

"Jadi? apa yang kau ingin bicarakan?."

Rivaldo berbalik, memandang matahari pagi yang perlahan naik di ufuk langit sekolah. Cahaya oranye memantul di jendela gedung, membuat suasana terasa anehnya tenang.

"Apa kau tahu tentang The Silent?, Mereka mulai melakukan pergerakan, Karena aku."

Rio menoleh ke arahnya.

"The Silent?,apa itu aku tidak pernah mendengarnya."

Rivaldo bersandar pada pagar pembatas lantai empat.

"Organisasi yang hanya memikirkan tentang uang ,jika kau sudah memasuki tahun ke dua nanti kau akan mengetahuinya."

Rio melihat ke langit."Hmm tahun ke dua??."

Rivaldo melanjutkan penjelasannya."ya..Mereka memaksa agar kita bertarung untuk menentukan ketua di angkatan kita dan menyuruh mencari uang dengan cara apapun,lalu setiap bulannya kita di minta membayar uang tersebut."

Nada suaranya datar, tapi jelas menyimpan kejengkelan yang lama dipendam.

Muka Rio terlihat bingung.

"Apa maksudnya?, kita tinggal tidak bertarung? dan untuk apa kita membayarnya?."

Rivaldo menunduk, tangannya mengepal pelan.

"Aku juga tidak tahu. sepertinya mereka mencari orang kuat yang bisa di gunakan dalam kepentingan mereka, Karena itulah Murid tahun ke dua tidak pernah mencampuri urusan murid Tahun pertama."

Rio seperti menangkap sesuatu, sudut bibirnya terangkat tipis.

"hah jadi kau salah satu dari mereka yah?."

Rivaldo menoleh ke Rio.

"Sebenarnya Ketua dari daerah Selatan memilih ku sebagai penerusnya karena aku memiliki potensi dan bawahan,Tetapi aku di kalahkan oleh mu dan aku tidak ingin menemui nya lagi."

Rio membalikkan badan, menatap pemandangan sekolah dari ketinggian. "Jadi mereka akan mengambil mu kembali?,kau hanya harus pergi.."

Rivaldo menghela napas lalu jongkok, bahunya terasa berat.

"Jika saja semudah itu.. Mereka pasti akan mengirimkan beberapa anggota untuk menghabisi ku , karena aku sudah tahu terlalu banyak informasi tentang mereka."

Rio sedikit membungkuk dan memegang bahu Rivaldo.

"Hey kenapa kau ini , bukannya kau itu Rivaldo yang kuat itu?, kenapa malah membungkuk seperti ini?."

Rivaldo mendongak ke langit dan tersenyum tipis.

"Ah kau benar,aku adalah Rivaldo yang kuat ..”

Ia diam sejenak.

"Terimakasih, ..Rio."

Rio melangkah menuju pintu tangga.

"Ahh apaan sih?,aku tidak dengar ha ha."

Rivaldo menatap punggungnya dan tersenyum kecil.

"Dasar!!...Dia masih seperti biasanya.."

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!