NovelToon NovelToon
Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Ruang Ajaib / Epik Petualangan / Roh Supernatural / Time Travel
Popularitas:59k
Nilai: 5
Nama Author: Nyx Author

🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”

Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.

Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.

Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.

>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”

Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.

Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?

Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.

Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.

📚 Happy reading 📚

⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

|Bakso ikan kepiting...

Maina…

Gadis itu menatap Tanaya dengan sorot mata tajam namun terkendali. Tidak ada kemarahan berlebihan di wajahnya—hanya kewaspadaan yang terlatih. Jemarinya mencengkeram pergelangan Tanaya dengan kuat, cukup untuk menghentikan, tidak lebih.

“Apa yang kau lakukan?” ucapnya rendah.

Tanaya tersentak. Matanya seketika membeku saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

Ia sangat mengenal gadis itu. Wajahnya kerap kali berputar dalam ingatannya—sosok paling sering di sebut namanya sebagai gadis langit milik suku Nahara. Nama itu selalu hadir dalam bisik-bisik kagum bersamaan dengan itu, ingatan buruk juga ikut menyelinap.

Dulu… Naya yang asli kerap berusaha mendekati Rua—terlalu sering, terlalu terang-terangan. Bahkan di hadapan Maina sendiri hingga membuat gadis itu tidak suka atas sikapnya.

Tanaya tahu—meski sekarang dirinya bukan Naya yang dulu, tapi tubuh ini tetap membawa jejak masa lalu itu padanya. Ingatan itu membuat dadanya terasa sempit, canggung, dan tak nyaman berada sedekat ini dengan gadis itu.

“A-aku—”

“Apa kau berusaha meracuni seluruh desa?”

Maina memotong tegas. Suaranya rendah, stabil, tanpa emosi berlebih—namun justru itulah yang membuatnya menggetarkan.

“Atau kau hanya ingin kembali menjadi pusat perhatian dengan cara berbahaya?”

Mendengar itu, Tanaya sontak mengernyitkan dahinya—tersinggung. Ia hendak menjelaskan tapi ucapannya tertahan saat gadis itu kembali bersuara.

“Aku tahu ini masakanmu”Tukas Maina lagi, kali ini lebih dingin“Tapi ini adalah jamuan untuk suku."

“Akan ada anak-anak, para tetua dan para wanita hamil yang memakannya. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat banyak orang sakit. Kau pikir aku akan diam saja melihatmu menambahkan sesuatu kedalam masakan yang bahkan tidak kukenal?”lanjutnya pelan tapi menusuk.

Dengan satu gerakan tegas, ia langsung menghempaskan tangan Tanaya membuat bubuk itu terlempar, dan berserakan di tanah.

Tanaya kembali tersentak. Napasnya tercekat, sambil menatap gadis di depannya dengan menahan getaran di dadanya.

"Apa yang kau—"

“Kau boleh pintar...” potong Maina lagi, suaranya lebih tajam.“kau boleh membawa hal-hal baru yang bahkan kami tidak pahami. Tapi jangan pernah lupa satu hal.”

Ia melangkah setengah langkah lebih dekat, jaraknya cukup dekat sehingga membuat Tanaya bisa mencium aroma minyak rambut dan asap kayu dari pakaian gadis itu.

“Jika terjadi sesuatu pada mereka… maka kelalaian itu akan menjadi milikku, bukan milikmu."

Maina menatap mata Tanaya dalam-dalam. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi kesalahan orang lain.

Hening. Dapur itu seakan membeku oleh perkataan Maina tadi.

Sinar senja menyusup di sela dedaunan, memantulkan cahaya keperakan diantara wajah-wajah kayu dan tanah. Angin berembus pelan dari arah hutan, membawa aroma daging rebus yang kini terasa berat oleh ketegangan.

Tanaya menelan ludahnya lirih. Dadanya terasa sesak mendengarnya, seolah udara di dapur itu mengental. Jemarinya mengepal pelan di sisi kain kulitnya, bukan untuk melawan—melainkan agar gemetarnya tak terlihat.

Ia perlahan mengangkat wajahnya.

“Aku paham kekhawatiranmu,” ucap Tanaya akhirnya, suaranya nyaris rapuh. Namun jelas terdengar di antara semilir angin dan senja.

Maina tak bergerak.

“Jika aku berniat mencelakai suku ini… aku tak akan melakukannya di dapur terbuka. Tidak di tengah persiapan jamuan, dan tidak saat semua mata tertuju pada masakanku.”

Ia menunduk sekilas, menatap bubuk yang tercecer di tanah.

“Dan untuk benda yang ku masukkan itu... Itu adalah kristal kering yang telah ku buat sendiri, untuk mengikat rasa daging laut agar tak cepat basi saat disajikan dalam jumlah besar.” jelasnya jujur mencoba memilih kata-kata seteliti mungkin agar mudah dipahami.

Tangannya perlahan terangkat—kali ini tanpa membawa apa pun.

“Aku tidak mencampurnya diam-diam karena berniat sembunyi,” lanjutnya, nada suaranya tetap rendah, namun mulai mengeras oleh keyakinan. “Aku melakukannya karena aku belum sempat meminta izin.”

Ia kembali menatap Maina yang masih mendengarkannya. Tatapannya menyimpan tekanan—tapi kini ada kecerdasan yang tak bisa diabaikan.

“Dan kau benar,” tambahnya lirih. “Kelalaianku akan menjadi masalah besar. Karena jika masakan ini berbahaya. Maka orang yang menghentikan dan mengambil keputusan di hadapan semua orang—adalah kau... Bukan aku."

"Tapi jangan katakan aku ceroboh tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.”lanjut tanaya menambahkan tanpa emosi berlebih, membuat Maina sontak menaikkan alisnya.

Bukan marah.

Melainkan… terkejut.

Untuk pertama kalinya, gadis itu menyadari Tanaya tidak sekadar patuh. Tapi ia paham akan tanggung jawab, dan tahu cara mengembalikannya dengan kata-kata yang tepat, tidak seperti dulu.

“Naya!”

Tak lama suara lain tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuat kedua gadis itu sontak menoleh bersamaan.

Dari sela-sela dapur, sosok Liran muncul dengan raut binar. Ia melangkah cepat melewati deretan makanan yang telah siap, aromanya menggoda setiap kali ia bergerak.

“Liran?” Tanaya sedikit terkejut. “Kau ke sini?”

“Ah! Akhirnya aku menemukanmu.” Liran tersenyum lega, lalu pandangannya bergeser.“Oh—Maina? Kau di sini rupanya. Ketua Sao mencarimu sejak tadi.”

Maina terdiam sejenak.

Tatapan matanya sempat kembali mengarah pada Tanaya—dingin, terukur seolah menyimpan banyak hal yang tak ia ucapkan. Lalu tanpa sepatah kata pun, ia berbalik anggun meninggalkan mereka berdua begitu saja.

“Kenapa dia?” Liran mengerutkan keningnya, menatap punggung Maina yang menjauh.

Tanaya menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa.”Senyum kecil terbit di bibirnya, meski samar.“Ah—ya... Bagaimana pembelajaran tadi? Apa semuanya berjalan lancar?”ucapnya, mengalihkan topik.

Liran menatapnya beberapa detik, seolah memastikan Tanaya benar-benar baik-baik saja. Lalu wajahnya mendadak berbinar, seperti teringat sesuatu. Ia langsung merogoh kain kulit di pinggangnya dan mengeluarkan sebuah benda.

“Naya… lihat ini.”

Ia memperlihatkan sebuah pisau dari pohon Lera—buatannya sendiri tadi. Ukurannya hampir sama dengan pisau milik Tanaya yang pernah dibuatkan Yaren. Bedanya, ujung pisau Tanaya sedikit melengkung ke atas, sementara milik Liran lurus dan runcing. Belum sepenuhnya tajam, namun tampak kokoh dan layak pakai.

“Aku tadi ikut membuatnya saat pembelajaran.”katanya agak gugup. “Aku berniat memakainya kalau aku berhasil terpilih jadi anggota berburu. Menurutmu… bagaimana?”

Tanaya menatap pisau itu lekat-lekat. Matanya langsung berbinar—ia melihat lebih dari sekadar senjata; ada kerja keras dan harapan di baliknya.

“Wah… ini bagus sekali,” ujarnya tulus. “Kau hebat, Liran. Aku yakin suatu hari kau pasti terpilih sebagai anggota berburu dan membawa pulang banyak hasil buruan.”

Pipi Liran langsung memanas. Ia terkekeh kikuk sambil mengusap belakang kepalanya.

Belum pernah ada yang memujinya dengan keyakinan seperti itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jika saja Yaren ada di sini, pasti pria itu sudah mengancamnya dan menyeretnya menjauh dari Tanaya.

“Ah—ehem.” Ia berdeham pelan, cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah panci-panci besar. “Oh iya… aku hampir lupa. Ketua Sao memintamu ke balai. Katanya, ia ingin kau memperkenalkan masakan hewan laut mu ke semua orang.”

Ia menunjuk ke arah tengah-tengah balai.“Beberapa bibi juga sudah mulai berjalan ke sini. Sepertinya makanannya akan segera di bawa."

“Ah! Benarkah?” Tanaya tersenyum lagi, kali ini lebih ringan, tanpa beban. “Kalau begitu, sebaiknya kita angkat saja yang ini. Mau membantuku?”

Ia menoleh ke arah Liran.

Liran tertawa kecil dan segera melangkah mendekat membantu mengangkat panci bakso ikan kepiting itu.

“Tentu saja. Ini justru yang paling kutunggu. Haiss... Perutku sejak siang sudah memberontak menanti masakan barumu.”

Mendengar itu, Tanaya tertawa kecil sambil ikut membantu. Mereka pun keluar bersama dengan membawa hidangan spesial itu menuju balai, meninggalkan bubuk yang masih berserakan di tanah—dan bayangan konflik yang belum sepenuhnya usai.

...>>>To Be Continued.......

1
Siska Sutartini
wah siapa itu? Rua kah? scara kan naya masih dirumah tetua Luseng kan. ditunggu upnya lagii ya Thor. lope sekebon dah ❤🧡💛💚💙💜🤎🤍💖
📚Nyxaleth🔮: Love u sekebon juga kakk... Makasihh banyakk dukungan nya🙏🥹
total 1 replies
Siska Sutartini
uhh akhirnya up banyak ya Thor setelah sekian purnama tak terlihat..aku bahkan hampir lupa jalan ceritanya 🤭😁
Wiji Lestari
naya bodoh...tau ada rua disitu...payah
Wiji Lestari
💪💪
┌⁠|⁠o⁠^⁠▽⁠^⁠o⁠|⁠┘⁠♪ peanuts
Author up yukk aku dh nunggu lama nih🤭🤭
BTS_ArmY FANS ❤️
semua oke .. jlan crita nya best tpi tokoh wanita nya trlalu lembut dan kurang tegas thor ... sering kli ketakutan .. tlg bwat tokoh wanita nya seseorang yg kuat dan tegas thor .. 🤭
Shena R
🙄🤣
hotma Puspasari
plagiat ni author nya ini kan cerita nami yang difizo
Shena R: Astaga kalau maubaca
Bacalah🙄😑
total 1 replies
Yani
Thorr, gimana ya kelanjutan crita nya 🥰
Iin Wahyuni
udh tamat ya thor kok nggk update2 thor💪
Herli Yani
ko GK update lagi thor
Iin Wahyuni
lanjut thor💪
Lala Kusumah
kapan update lagi nih, ditunggu ya 🙏🙏🙏
Ardia Bisandorong
nyesek banget awalannya 😭😭
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭
Dedi Dahlia
semangat thor di tunggu up datenya,lanjuut 😊😊🙏🙏
Herli Yani
lanjut Dong Thor
pocynelv
bagus../Rose//Smile/
pocynelv
omaakk..hbis lagi bab nya. btw semangat trus, karya kk selalu ku tunggu/Smile//Smile/
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
jangan sampai Naya sama Rua, dan semoga aja datang yang lebih segalanya untuk Naya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!