Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Saat Arka Merebahkan tubuhnya di kasur, Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Arka menggeser ikon hijau. "Halo?"
"Selamat malam, apakah ini benar dengan Mas Arka?" suara wanita yang sangat lembut namun elegan terdengar dari seberang telepon.
"Iya benar, ini Arka. Ini siapa ya?"
"Ini Clara, Mas. Putri Pak Hartawan yang tadi di restoran," jawab suara itu ceria. "Maaf ya telepon malam-malam begini. Nggak papakan?" tanya Clara.
"Oh, Nona Clara. Nggak apa-apa kok. Gimana kondisi Pak Hartawan sekarang?" tanya Arka memastikan, meski sistemnya sudah memberi garansi keselamatan.
"Papi sudah di kamar perawatan VIP rumah sakit, Mas. Dokternya bilang penanganan awal Mas Arka tadi bener-bener keajaiban. Sumbatannya langsung lepas sebelum sempat merusak jaringan otot jantung Papi. Papi baru aja tertidur setelah minum obat."
"Syukurlah kalau begitu. Bapak harus banyak istirahat dulu tuh, Mbak," sahut Arka ramah.
"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak ya..." Clara menghentikan kalimatnya sejenak, suaranya terdengar sedikit ragu namun manis. "Hm... Mas Arka, kira-kira besok siang Mas Arka ada acara nggak?"
Arka mengelus dagunya. "Acara? Palingan rebahan sambil nunggu sistem kasih misi baru," batinnya.
"Besok siang sepertinya jadwal saya lumayan senggang, Nona Clara. Kenapa tuh?"
"Seperti janji saya tadi, saya mau ngajak Mas Arka makan siang. Kali ini tempatnya dipastikan aman, pilihan koki gizi keluarga kami. Sekalian... Papi tadi sebelum tidur pesan, kalau dia ingin berterima kasih dengan layak."
Arka membelalakkan mata. "Berterima kasih dengan layak?!"
"Wah, boleh deh, Nona Clara. Besok kirim aja lokasi dan jamnya lewat WhatsApp ya."
"Siap, Mas Arka! Sampai ketemu besok siang ya. Selamat malam, Mas," pamit Clara sebelum memutus sambungan telepon.
Arka menyandarkan punggungnya di dipan tempat tidurnya sambil menyunggingkan senyum lebar.
"Baru aja lepas dari Pajak Global untuk mobil ku, sekarang malah bertemu dengan konglomerat. Emang bener kata orang tua, rezeki anak soleh nggak kemana."
Arka mengambil bantal guling dan memeluknya. "Ah... aku tidur yang nyenyak malam ini," kata Arka sambil tertidur nyenyak.
...❤❤❤❤❤❤❤...
Keesokan paginya, Arka terbangun dengan tubuh yang terasa sangat segar.
Ia tersenyum, melangkah mendekati pintu kaca besar yang menghubungkan kamar utamanya dengan balkon luar. Sinar matahari pagi menerobos hangat, menyapa wajahnya.
"Ah, pagi yang sangat indah di rumah baru," kata Arka seraya merenggangkan tubuhnya, menikmati alunan angin pagi yang berembus lembut.
Dari tempatnya berdiri, Arka menatap takjub pemandangan di bawahnya.
Hamparan taman bunga beraneka warna mekar dengan anggun, mengelilingi sebuah air pancur berukir batu marmer yang terus mengalirkan air jernih. Suara gemericik airnya memberikan kedamaian tersendiri.
Meskipun terletak tepat di tengah hiruk-pikuk pusat kota, rumah mewah hadiah dari Sistem ini seolah memiliki pelindung tak kasatmata.
Udara di sini begitu murni, sejuk, dan bebas dari polusi polusi kendaraan.
Arka menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan keasrian yang langka itu. "Luar biasa. Sistem benar-benar tidak main-main memberikan hadiah," batinnya terkagum-kagum.
Saat ia sedang menikmati pemandangan, suara ketukan halus terdengar dari balik pintu kamar.
[Permisi, Tuan Arka. Apakah Anda sudah bangun?]
Terdengar suara robot yang sopan dan ramah terdengar dari luar.
Arka membalikkan badan. lalu mendekati pintu.
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah robot berbentuk hampir mirip seperti manusia.
Di belakangnya, dua buah robot lainnya membawa troli berisi aneka hidangan sarapan yang aromanya langsung menggugah selera.
[Selamat pagi, Tuan. Saya Robot T, kepala rumah tangga yang telah ditugaskan Sistem untuk mengurus kediaman Anda]
Arka sedikit canggung. Ia belum terbiasa dilayani seperti seorang bangsawan, apa lagi di layani oleh robot
"Ah, ya, Selamat pagi Robot T. Tidak perlu terlalu formal padaku, santai saja."
[Baik, Tuan Arka. Kami sudah menyiapkan sarapan di meja balkon jika Tuan berkenan menyantapnya di sini sambil menikmati udara pagi]