Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kaila berlari menuju kamar tempat di mana adiknya berada, segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya kemudian kembali menutup pintu kemudian menguncinya dengan napas terengah-engah. Keano yang tengah duduk di tepi ranjang seketika berdiri tegak, memandang wajah sang kakak dengan kening dikerutkan.
"Kakak kenapa? Kayak habis ngeliat setan aja sih?" tanyanya dengan datar.
Kaila melangkah mendekati adiknya dengan wajah pucat. "Kita harus segera kabur dari sini, Keano. Kita harus pulang ke rumah Om Radit sekarang juga."
"Lho, kenapa? Baru juga nyampe, ko udah mau pulang lagi? Sebenarnya Kakak kenapa sih?"
"Udah, jangan banyak nanya. Kaka jelasin di jalan, ya. Pokoknya, kita harus segera kabur dari rumah ini."
"Kenapa harus kabur? Kenapa gak minta Ayah anterin kita pulang ke rumah Om Radit?"
Kaila menarik pergelangan tangan Keano seraya menatap jendela yang berada di sisi kanan lalu membawanya melangkah mendekatinya. "Ayah itu jahat, Keano. Dia gak bakalan nganterin kita pulang. Udah, pokoknya kita kabur sekarang juga."
Keano menepis telapak tangan Kaila dengan kasar. "Nggak mau. Emangnya kakak tau di mana rumah Om Radit? Terus, kita mau jalan kaki, gitu?"
Kaila terdiam seraya menarik napas dalam-dalam, menatap jendela kaca dengan tirai terbuka, menyajikan pemandangan halaman yang tidak terlalu luas di luar sana. Ya, ia sendiri tidak tahu alamat kediaman pria bernama Raditya Nathan Wijaya. Dirinya hanya mengetahui rumah tersebut, tapi tidak tahu alamat pastinya.
"Kakak tau ko," jawab Kaila, berbohong tentu saja. Ia hanya ingin segera keluar dari rumah sang ayah setelah mendengar percakapan Ilham dan istri barunya itu.
"Beneran Kakak tau?"
Kaila menganggukkan kepala dengan wajah datar, mencoba untuk meyakinkan.
"Tapi kasih tau aku dulu, kenapa kita harus kabur dari rumah ini?" tanya Keano menuntut kejelasan.
Kaila menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan dengan mata terpejam lalu kembali menatap wajah sang adik. "Ayah udah berubah, Keano. Dia gak kayak dulu lagi. Aku sih yakin, Ayah seperti itu gara-gara istri barunya. Dengerin Kakak, Ayah dan Tante Dona mau ngebuang kita kalau Ibu nggak ngebatalin pernikahannya sama Om Radit."
"Ngebuang kita?" gumam Keano seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan dengan perasaan bingung. "Nggak mungkin, Kak. Ayah gak mungkin ngebuang kita. Ayah sayang sama aku, sama Kakak juga."
Kaila mengusap wajahnya kasar dengan perasaan kesal. "Astaga, Keano. Kakak denger sendiri Ayah ngomong kayak gitu. Kamu harus percaya sama Kakak."
Keano terdiam dengan mata berkaca-kaca. Sulit rasanya mempercayai ucapan sang kakak, ayahnya itu begituu menyayanginya, mana mungkin tega membuang mereka begitu saja? Keano larut dalam lamunan dan mulai terisak.
"Kamu mau ikut sama Kakak nggak?" bentak Kaila dengan suara lantang.
"Kenapa Kakak ngebentak aku?" rengek Keano seraya terisak.
"Ko malah nangis sih? Kamu mau ikut sama Kakak atau tetap di sini sama Tante Dona? Dia itu Ibu tiri jahat, Keano."
"Ya udah, aku mau ikut sama Kakak. Tapi--"
"Tapi kenapa lagi, Keano? Astaga. Kita gak punya waktu lagi, kita harus memberi tahu Ibu rencana Ayah buat ngebuang kita. Aku gak mau dibuang, nggak mau!"
Keano menganggukkan kepala seraya menyeka kedua matanya yang berair. Sementara Kaila, telapak tangannya perlahan bergerak menyentuh jendela kaca, membukanya, kemudian meminta sang adik untuk naik dan loncat keluar dari dalam kamar.
***
Dua jam kemudian tepatnya pukul 14.00, Ilham mengetuk pintu kamar di mana anak-anaknya beristirahat di dalam sana seraya menyerukan nama keduanya.
"Kaila, Keano, boleh Ayah masuk?" tanyanya seraya memutar kenop pintu hendak membukanya, tapi pintu bercat coklat itu terkunci membuatnya mengetuknya kembali. "Sayang, ko pintunya dikunci? Buka pintunya, Kaila. Ayah mau masuk!"
Sepi dan hening, Ilham tidak mendapatkan jawaban apapun. Bahkan, dirinya harus mengetuknya kembali dengan sedikit bertenaga hingga menimbulkan suara nyaring.
"Kaila! Buka pintunya!" teriaknya, mulai kesal.
"Ada apa si, Mas? Ko teriak-teriak gitu?" tanya Dona, melangkah menghampiri Ilham dari arah samping.
"Kamar anak-anak ko dikunci, ya? Mas panggil-panggil gak ada yang nyaut, Dona? Mas takut mereka kenapa-napa?" jawab Ilham, mulai khawatir.
Dona menghentikan langkah tepat di depan suaminya. "Palingan juga mereka tidur, Mas," jawabnya dengan santai.
"Kalau mereka tidur, masa gak bangun pintunya Mas gedor-gedor?"
Dona hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah santai. Ia bahkan tidak khawatir dengan keadaan kedua anak tirinya itu. Baginya, kehadiran mereka sudah sangat merepotkan dan membuatnya tidak nyaman.
"Apa Mas jebol aja pintunya, ya?"
"Terserah kamu aja, Mas," jawab Dona lagi, lalu melangkah menuju sofa kemudian duduk dengan bersilang kaki.
Tanpa berpikir panjang lagi, Ilham mencoba untuk mendobrak pintu kamar. Berkali-kali ia menabrakkan tubuhnya berharap pintu tersebut akan terbuka dan ia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anaknya. Tidak peduli dengan rasa sakit, Ilham tidak menyerah, berkali-kali menabrakkan tubuhnya di pintu hingga benar-benar terbuka lebar dan ia pun terhempas hingga terjatuh di lantai.
"Astaga!" decak Dona, hanya diam menyaksikan dengan wajah kesal. "Baru sehari tinggal di sini udah ngerusak pintu kamar. Gimana kalau mereka tinggal berbulan-bulan? Bisa roboh ni rumah."
"Dona, anak-anak gak ada di kamar? Kamu tau mereka ke mana?" teriak Ilham dari dalam kamar.
Dona sontak berdiri tegak. "Maksud kamu apa, Mas? Nggak mungkin mereka gak ada di kamar, orang tadi kamarnya dikunci dari dalam, 'kan?" tanyanya, melangkah memasuki kamar dengan bingung.
"Jendelanya terbuka, Dona. Kayaknya mereka kabur dari jendela!" seru Ilham, berdiri di depan jendela yang masih terbuka lebar.
Dona melangkah cepat, menghampiri suaminya dengan kesal. "Astaga, dasar anak-anak nggak tau diri. Buat apa mereka kabur dari jendela? Emangnya rumah ini gak ada pintunya apa?"
Dengan napas tersengal-sengal dan menahan kesal, Ilham menoleh dan memandang wajah Dona dengan tajam. Kedua tangannya seketika mengepal. Bukannya merasa khawatir, istrinya itu malah melontarkan kata-kata yang membuatnya murka.
"Apa kamu bilang? Anak nggak tau diri?" bentaknya dengan emosi. "Mereka itu darah daging Mas, Dona. Mereka anak sambung kamu juga, ko tega kamu ngomong kayak gitu, hah? Seharusnya kamu khawatir, bukan malah memaki mereka kayak gini!"
"Ko kamu jadi nyalahin aku, Mas? Salah aku apa?"
"Apa jangan-jangan, kamu ngomong sesuatu sama mereka hingga mereka kabur dari rumah ini, Dona?"
"Nggak, aku gak ngomong-ngomong apa sama anak-anak kamu, Mas. Astaga, jangan asal nuduh kayak gini dong!"
"Mas gak percaya. Kamu nggak suka 'kan mereka tinggal di sini? Bisa aja kamu ngomong sesuatu dan menakut-nakuti mereka, itu sebabnya mereka kabur karena mereka takut sama kamu."
Dona menggeleng-gelengkan kepala dengan kedua mata berkaca-kaca. "Tega kamu, Mas. Tega kamu nuduh aku kayak gini!"
"Pokoknya, kalau sampe anak-anak kenapa-napa, Mas akan menceraikan kamu, Dona!"
Bersambung ....