Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua puluh empat
Reza baru saja tiba di kantor tepat pukul sepuluh pagi. Hampir dua jam lamanya ia terjebak dalam kemacetan. Ia sudah sangat kelaparan karena tadi ia belum sempat untuk sarapan.
"Anda mau pesan makanan apa, tuan?" tanya Todi begitu sampai di ruangan kerja Reza.
"Apa saja yang penting tidak terlalu berat." jawabnya lalu duduk di kursi kerjanya.
"Baik, tuan. Saya permisi dulu." pamit Todi.
Reza tidak menyia-nyiakan waktunya, ia langsung memeriksa pekerjaannya.
Hari ini akan menjadi hari yang cukup sibuk untuknya.
...****************...
Tok....tok...tok...
"Iya, masuk!" perintah Reza pada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Tuan, saya ingin memberi tahu bahwa semua orang sudah menunggu di ruang rapat." jelas Todi.
Ia melirik kearah tas makanan yang ada di atas meja. Makanan itu dibelinya pukul setengah sebelas siang tadi. Dan kini jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Reza tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Padahal karyawan yang lain termasuk dirinya sudah kembali dari makan siang mereka.
"Anda belum makan, tuan?" tanyanya pada Reza, mengingat jika pria itu punya riwayat asam lambung yang cukup parah saat sedang naik.
"Iya, sebentar lagi. Ini sudah hampir selesai." ia masih tetap fokus pada tumpukkan dokumen di hadapannya.
"Tuan! Ini sudah siang, apa anda ingin memesan sesuatu untuk makan siang?" Todi berusaha untuk mengingatkan atasannya itu.
"Nanti saja setelah rapat selesai." jawabnya ,lalu beranjak dari kursinya.
Ia memakai jas yang tadinya ia gantung di sandaran kursinya. Lalu bersiap untuk keluar.
"Apa anda tidak makan saja lebih dulu, tuan? Rapat ini masih bisa ditunda sebentar lagi." Tanyanya memastikan.
Reza menghela nafasnya. Ia tampak berpikir sejenak. Kebiasaannya yang selalu menunda-nunda waktu makan saat sibuk bekerja, memang tidak bisa diubah sejak dulu. Padahal dia sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena asam lambungnya naik.
"Haa... Baiklah! Pesankan saja makanan dari kantin kantor. Setelah itu minta OB untuk membawanya ke ruang meeting. Aku akan makan siang di sana saja." perintahnya pada Todi.
"Baik, tuan." ucap Todi.
Reza pergi lebih dulu ke ruang rapat. Kepala cabang yang lebih dulu menyambutnya. Pria paruh baya itu tampak berbincang padanya sebentar di pintu masuk.
Reza lalu duduk di kursinya. Posisinya ada di kepala meja. Sementara kepala cabang duduk di kursi sisi kanannya. Dan di sebelah kirinya ada Bu Sisil, manajer departemen.
"Baiklah! Kita akan mulai rapat hari ini." ucap Reza.
Rapat lalu segera di mulai. Rapat tahunan bagian departemen ini diadakan untuk membahas tentang evaluasi kinerja tahun lalu , membahas arah strategis ke depan dan juga memastikan komunikasi serta kolaborasi yang efektif di antara anggota tim.
Satu persatu manajer dari setiap departemen memberikan presentasi tentang kinerja departemen selama setahun terakhir.
Dan kini tibalah departemen pemasaran yang diwakili oleh Randi memberikan presentasinya.
Randi lalu berdiri dari kursinya untuk mulai membacakan isi dari presentasinya. Ia tampak sangat percaya diri karena telah meningkatkan kinerjanya dalam beberapa bulan terakhir ini.
"Selamat...." Randi berhenti bicara ketika mendengar suara ketukan di pintu masuk.
Seorang pria yang memakai seragam berwarna biru muda memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi makanan dan juga segelas air putih hangat.
"Taruh di sini saja makanannya." perintah Reza pada pria yang bertugas sebagai office boy di perusahaan tersebut.
Pria itu meletakkan piring makanan dan gelas air putih yang dibawanya tepat di hadapan Reza.
"Terima kasih. Kau bisa duduk di sana sementara menunggu ku selesai makan." perintahnya pada pria itu sambil menunjuk sebuah kursi yang ada di sudut ruangan.
Kenapa tuan malah menyuruhku untuk menunggu di sini. Aku kan bisa kembali untuk mengambilnya nanti. Tapi terserah sajalah. Dia kan atasannya. OB itu lalu duduk di kursi dan menunggu dengan tenang.
"Hmm.. Maaf pak Randi! Tidak apa-apa 'kan jika saya mendengar presentasi anda sambil makan siang?" Reza tersenyum padanya.
"Tidak apa-apa, tuan. Silahkan saja! Hmm... Saya akan mulai membacakan presentasi saya. Silahkan anda melihat detailnya melalui layar LED." Randi berjalan menuju layar LED besar yang menampilkan data-data yang telah ia siapkan.
Reza melihatnya sekilas layar LED besar di hadapannya lalu mulai memakan makanannya.
Sesekali pria itu tampak mengajukan pertanyaan pada Randi untuk menguji kemampuannya. Reza mengakui jika pria itu memang memiliki kemapuan otak yang mumpuni sehingga hanya dalam beberapa bulan saja ia mampu menduduki posisinya yang sekarang.
Reza tersenyum lirih ketika mengingat Amara. Sayangnya kemampuan otaknya yang pintar itu harus dibarengi oleh akhlaknya yang minus. Haa... Apa ini semacam karma yang harus kau tanggung karena mencampakkan aku?
Ia menghela nafasnya sejenak. Lalu mengakhiri rapat setelah semua orang selesai memberikan presentasinya.
Ia lalu beranjak dari tempatnya. OB yang sedari tadi menunggunya sambil terkantuk-kantuk, langsung beranjak dari kursinya untuk mengambil piring dan gelas yang telah kosong itu.
"Tunggu!" seru Reza ketika melihat pria itu hendak keluar dari ruangan.
"Iya, tuan?"
"Tolong bawakan kopi hitam tanpa gula ke ruangan ku." perintahnya.
"Baik, tuan!" pria itu lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Para staff yang lain satu persatu mulai meninggalkan ruang rapat. Begitupun dengan Reza.
"Tunggu sebentar, tuan!" seru pak Wirya, kepala cabang di perusahaan ini.
"Iya. Ada apa?" tanyanya.
"Hmm .. Begini, tuan? Saya ingin bertanya, apakah anda akan hadir di pesta perayaan akhir tahun yang akan diadakan akhir bulan depan? Karena selama ini anda tidak pernah hadir di acara yang diadakan oleh kantor cabang. Biasanya anda hanya hadir di perayaan yang diadakan di kantor pusat. Jadi, mungkin saja kali ini anda berkenan untuk hadir di acara yang akan kami adakan." tanyanya dengan hati-hati dan penuh harap.
Reza tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. Iya, selama ini ia memang tidak pernah tertarik untuk hadir di acara yang diadakan di kantor cabang manapun karena itu cukup merepotkan. Mengingat ia mempunyai sebelas kantor cabang yang tersebar di beberapa kota besar. Tidak mungkin ia bisa hadir di semua kantor cabang. Akhirnya ia memilih untuk hadir di kantor pusat saja sebagai perwakilan. Ia biasanya hanya mengundang beberapa staf dari setiap kantor cabang untuk turut hadir di kantor pusat.
Namun kali ini ia mempunyai sesuatu yang merubah pikirannya. Ia sebenarnya masih meragukan hal tersebut. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba keberuntungannya.
"Hmm... Iya. Saya rasa kali ini saya bisa menghadiri acara yang kalian adakan." jelasnya.
"Benarkah? Saya pasti akan mempersiapkan acara itu sebaik mungkin agar anda tidak menyesal telah datang ke acara ini. Kantor ini akan di hias dengan sangat mewah." jelasnya dengan antusias.
"Kantor? Tidak. Adakan acara itu di hotel saja. Semua biayanya akan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan. Tetapi dengan satu syarat." ucapnya.
Pak Wirya seketika terdiam ketika mendengar kata "syarat" yang diucapkan oleh atasannya itu. "Syarat apa itu, tuan?" tanyanya mendadak cemas.
"Setiap orang harus turut serta membawa pasangannya." Reza tampak tersenyum pada pria paruh baya itu.
"Oh!" dia tampak lega. "Apa hanya itu saja, tuan? Tetapi bagaimana jika ada karyawan yang masih melajang?" tanyanya bingung.
"Terserah. Dia bisa membawa adik, ibu atau neneknya ke acara ini." jelas Reza.
"Haha... Baiklah, tuan! Saya akan segera membentuk tim untuk membahas tentang acara ini. Kalau begitu saya undur diri dulu, tuan!" pamitnya.
Reza tampak tersenyum ketika tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di kepalanya.
"Aku harus membuatnya hadir di acara tersebut."
Entah apa yang sedang ada dipikirannya saat ini. Namun, di sisi lain angin berhembus lebih kencang hingga membuat tengkuk seorang wanita merinding seketika.
"Kenapa kau tiba-tiba bergidik seperti itu?" tanya Samira pada Amara yang sedang menyusun bunga-bunga di dalam vas.
"Entahlah, nona. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri sendiri." ia terkekeh geli.
"Kau ada-ada saja!" wanita itu tersenyum. "Oh, iya! Tempo hari kau mengatakan jika adikmu membutuhkan pekerjaan, bukan?" tanyanyanya.
"Iya, nona. Apa ada lowongan pekerjaan yang anda tahu?" Amara bertanya balik padanya.
"Iya. Kemarin malam mas Syaiful mengatakan jika ia akan berhenti bekerja mulai besok. Hah! Kenapa dia harus berhenti di saat-saat seperti ini." ia tampak memijat pangkal hidungnya karena merasa pusing.
Amara mendengarkannya sambil menata bunga-bunga di dalam toko.
"Kita akan membutuhkan kurir baru untuk menggantikannya segera. Apalagi pesanan mulai membludak akhir-akhir ini karena sebentar lagi akan memasuki penghujung tahun. Aku mungkin tidak akan mampu untuk mengurus bagian pengantaran sendirian. Jadi jika adikmu bersedia, dia bisa mulai bekerja besok. Tapi, dia sudah benar-benar memiliki SIM dan juga mengetahui pasti tentang seluk-beluk kota ini, 'kan?" tanyanya memastikan pada Amara.
Amara seketika tampak antusias mendengarnya. "Iya, tentu saja, nona. Dia sudah memiliki SIM dan hapal seluk-beluk kota ini." jelasnya.
"Baguslah jika seperti itu. Tapi kau juga harus memastikan jika dia bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya."
"Iya, nona. Saya bisa menjamin hal itu. Saya akan menggunakan diri saya sebagai jaminannya." ia tampak yakin.
"Haha.... Kau sepertinya sangat percaya diri dengan hal itu. Baiklah! Suruh dia datang ke toko besok siang. Aku akan menjelaskan tugasnya sebagai kurir."
"Iya, nona." Amara terlihat sangat senang. Ia sudah tak sabar memberikan kabar baik ini pada Wahyu .
...****************...