Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
[Ding!]
[Sistem mendeteksi adanya blokade rantai pasokan bahan baku eksternal pada tingkat ekstrim.]
[Sistem menawarkan solusi eksklusif tingkat tinggi: Gerbang Peternakan Dimensi.]
Arka membelalakkan matanya membaca fitur baru dan sangat luar biasa yang baru saja ditawarkan oleh sistem ajaibnya tersebut.
"Jelaskan padaku apa fungsi gerbang dimensi itu dan berapa harga tunai yang harus aku bayar sistem." Perintah Arka dengan cepat tanpa mau membuang waktu.
[Gerbang Peternakan Dimensi adalah pintu portal khusus menuju area peternakan magis milik sistem yang menyediakan bahan baku segar premium tanpa batas setiap harinya.]
[Harga untuk mengaktifkan fitur ini secara permanen di dalam restoran adalah Rp. 500.000.000,- tunai.]
Melihat nominal harga yang sangat fantastis terpampang di layar birunya, Arka sempat terdiam dan ragu sejenak.
Uang setengah miliar itu adalah hampir seluruh sisa tabungan hasil kerja kerasnya berjualan di mal selama berminggu-minggu tanpa libur.
Jika ia menggunakan uang itu untuk membeli gerbang dimensi, saldo tabungannya akan kembali menyentuh angka yang sangat menyedihkan dan pas-pasan.
Namun di sisi lain, jika ia tidak membelinya sekarang, restorannya akan hancur berantakan sebelum sempat dibuka dan ia akan menanggung malu seumur hidup di depan Kevin.
"Hendra Kusuma, kau pikir uang besarmu itu bisa membunuhku perlahan-lahan? Aku punya sistem yang jauh lebih kaya dari seluruh harta keluargamu." Arka menyeringai dengan tatapan berani menantang takdir.
"Sistem, potong saldo lima ratus juta dari rekeningku sekarang juga dan buka gerbang dimensi itu di sini!" Arka memberikan persetujuan tanpa adanya sedikit pun keraguan lagi.
[Memproses transaksi pembayaran tunai tingkat tinggi... Berhasil.]
[Sisa Saldo Tunai Host: Rp. 20.000.000,-]
Tiba-tiba, udara di sudut dapur belakang Arka sedikit terdistorsi hingga terlihat bergelombang seperti efek fatamorgana di tengah padang pasir.
Sebuah pintu kayu usang namun memancarkan garis cahaya biru perlahan terbentuk dan menempel erat di dinding yang tadinya hanya tembok kosong melompong.
Arka berjalan perlahan mendekati pintu bercahaya itu dan memutar gagang pintunya yang terasa dingin dengan sangat hati-hati.
Klek.
Begitu pintu misterius itu terbuka, embusan angin segar yang membawa aroma padang rumput hijau langsung menerpa wajah Arka dengan lembut.
Ia melangkah masuk melewati ambang pintu dan terkesiap takjub melihat sebuah padang rumput hijau yang luar biasa luas membentang di dalam dimensi yang benar-benar berbeda.
Langit biru buatan sistem terlihat sangat cerah dan nyata, menciptakan suasana damai yang sangat kontras dengan hiruk pikuk kota di luar sana.
Di tengah padang rumput itu, ratusan ekor sapi kualitas premium yang berukuran raksasa dan ayam pedaging yang sangat montok sedang berkeliaran bebas dengan sangat sehat.
Di sudut ruangan tepat di samping pintu masuk dimensi itu, terdapat sebuah layar sentuh canggih berbentuk pilar futuristik.
Fungsi panel itu adalah untuk memesan potongan daging yang sudah disembelih dan dibersihkan secara higienis oleh sistem otomatis tanpa perlu campur tangan Arka.
"Ini benar-benar gila, aku tidak akan pernah lagi bergantung pada pemasok manusia dari dunia luar sampai kapan pun." Arka tertawa bahagia melihat kekayaan bahan bakunya yang mustahil untuk diblokir.
Arka segera menekan layar panel itu untuk memasukkan pesanannya sesuai dengan kebutuhan grand opening yang sangat mendesak.
Mesin canggih berteknologi magis dari dimensi itu langsung memproses pesanan dan memunculkan tumpukan kotak pendingin transparan yang sudah tertata rapi di atas lantai.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Arka untuk memindahkan ratusan kilogram daging buntut dan ayam potong dari dalam dimensi itu ke kulkas raksasanya di dunia nyata.
Setelah semua bahan baku aman terkendali, Arka kembali menutup pintu gerbang dimensi itu hingga pintunya kembali membaur dengan dinding sekitarnya seolah tidak pernah ada.
Beberapa saat kemudian, Arka melangkah keluar dari dapur menuju ruang makan dengan wajah yang sangat cerah dan tersenyum lebar.
"Nisa, masalah bahan baku sudah beres, temanku baru saja mengantarkan pesanan kita lewat pintu belakang dengan selamat." Arka sengaja berbohong demi menutupi rahasia ajaib sistemnya.
Nisa langsung menghentikan pekerjaannya dan berlari ke dapur lalu membelalakkan matanya melihat kulkas raksasa mereka yang kini penuh sesak dengan tumpukan daging segar kualitas nomor satu.
"Wah, puji Tuhan Mas Arka, teman rahasiamu itu pasti orang yang sangat hebat bisa lolos dari sabotase mafia sekelas Tuan Hendra." Nisa mengelus dadanya dengan perasaan lega yang teramat sangat.
"Tentu saja dia sangat hebat Nisa, sekarang mari kita mulai memasak bumbu dasar untuk besok pagi agar kita tidak kewalahan." Arka langsung memakai celemek hitam premiumnya dengan penuh kobaran semangat.
Srenggg!
Atraksi memasak Arka kembali dimulai, memotong dan membumbui ratusan kilogram daging dengan sangat efisien berkat keterampilan pisaunya yang sangat mematikan.
Bumbu madu pedas mulai ditumis di dalam wajan besar, menciptakan ledakan aroma manis dan pedas yang langsung menyengat rongga hidung.
Sementara itu, aroma sate daging lumer yang sedang dimarinasi memancarkan wangi ketumbar dan manisnya kecap yang sangat memabukkan jiwa.
Wangi harum rempah dan kaldu daging mulai menguar dari dalam dapur Elysium, menyebar keluar hingga membanjiri trotoar jalanan di depan restoran Arka.
Sistem bahkan secara sengaja mengarahkan embusan angin yang membawa aroma kuat itu untuk menembus masuk ke dalam lobi restoran bintang lima keluarga Kusuma yang berada tepat di sebelahnya.
Kevin yang sedang memantau persiapan penyambutan tamu dari lobi restorannya langsung menutup hidungnya dengan gerakan kasar dan panik.
"Sialan, wangi apa ini? Kenapa bau masakannya sampai menyengat tajam masuk ke restoran mewah kita?" Kevin berteriak kesal kepada Dimas yang sedang berdiri di dekatnya.
"S-saya kurang tahu Tuan Kevin, tapi sepertinya koki gembel sebelah itu sedang memasak sesuatu dalam skala yang luar biasa besar." Jawab Dimas dengan suara ketakutan melihat amarah bosnya.
"Skala besar katamu? Bukannya ayahku sudah mengancam semua pemasok daging se-kota ini untuk tidak menjual satu gram pun barang padanya?" Kevin mengerutkan keningnya dengan penuh kebingungan yang menyesakkan dada.
Dimas hanya bisa menelan ludahnya kasar karena ia juga sama sekali tidak mengerti bagaimana Arka bisa mendapatkan ratusan kilogram bahan baku di tengah blokade mafia yang begitu ketat.
"Tenang saja Tuan Kevin, mungkin itu cuma sisa daging busuk murahan yang ia beli secara ilegal di pasar gelap pagi tadi." Dimas mencoba menenangkan bosnya dengan alasan yang sangat dipaksakan namun masuk akal.
Kevin tersenyum sinis dan menyipitkan matanya menatap bangunan Elysium dari balik kaca jendela restorannya yang tebal.
"Nikmati saja sisa waktu kesombonganmu malam ini Arka, karena besok saat grand opening, aku sendiri yang akan datang dan mempermalukanmu di depan semua awak media kota ini." Bisik Kevin penuh kelicikan dan dendam kesumat yang mendidih.