No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Elang di Kota Topeng
Udara di Lembah Besi Tua belum benar-benar dingin dari uap darah monster Earth-Crusher, namun ancaman baru sudah membayangi langit. Di atas Kota Tanpa Wajah, belasan siluet mekanik berbentuk elang raksasa berputar-putar, mata lensa mereka yang merah memindai setiap sudut pemukiman dari ketinggian.
"Secara logika," Ming Luo mencoba berdiri, kakinya masih sedikit kaku namun warna kulitnya sudah kembali normal, "penyamaran kita di Kota Tanpa Wajah ini seharusnya bertahan minimal satu minggu. Mereka menggunakan pelacak frekuensi energi naga, Yuan. Ao Kuang terlalu 'berisik' saat kau menembak monster tadi."
“SALAHKAN AKU SAJA TERUS, JENDERAL CACAT!” geram Ao Kuang di batin Yuan, meski suaranya terdengar sedikit letih.
Yuan menatap Yue Yin. "Kau bilang ada tamu tak diundang. Berapa banyak?"
Yue Yin melipat tangannya di dada, jarum-jarum peraknya sudah kembali terselip di sela jemari. "Satu legiun Unit Elang Sayap Perak. Mereka dipimpin oleh Komandan Feng, pria yang dikenal tidak akan berhenti sebelum targetnya menjadi debu. Dan masalahnya, mereka membawa 'Penekan Suaka'—meriam energi yang bisa meruntuhkan segel pelindung kota ini dalam hitungan menit."
Mereka bergerak cepat kembali ke kota. Di gerbang utama, penduduk Kota Tanpa Wajah yang memakai topeng mulai panik. Komunikasi isyarat tangan mereka menjadi kacau. Di luar gerbang, barisan prajurit berbaju zirah perak berdiri dengan formasi yang sangat rapat.
Seorang pria dengan jubah militer berwarna abu-abu gelap berdiri di depan barisan. Itu adalah Komandan Feng. Di sampingnya, sebuah mesin raksasa berbentuk cakram mulai berputar, mengumpulkan cahaya biru yang menyakitkan mata.
"Penduduk Kota Tanpa Wajah!" suara Feng menggelegar melalui pengeras suara magis. "Serahkan Pemanah Naga dan pengkhianat Ming Luo dalam waktu lima belas menit, atau kami akan menghapus kota ini dari koordinat dunia!"
Yue Yin mendesis marah. "Berani-beraninya mereka mengancam rumahku."
"Yue Yin," Yuan melangkah maju, Busur Kerangka Naganya mulai mengeluarkan asap hitam. "Bawa pendudukmu masuk ke bunker bawah tanah. Biar aku dan Ming Luo yang menghadapi mereka."
"Jangan sombong, Bocah Naga," Yue Yin menoleh dengan tatapan tajam. "Ini kotaku. Dan secara logika—biar aku gunakan bahasamu, Jenderal—memberikan kalian berdua secara cuma-cuma adalah kerugian besar bagi investasiku pada bunga Nightshade tadi."
Ming Luo menyeringai, ia mencabut pedang giok merahnya yang retak. "Baiklah, Yue Yin. Jika kau bersedia membantu, aku punya rencana. Secara logika, formasi Sayap Perak itu memiliki kelemahan di bagian transmisi energi meriam mereka. Jika kita bisa menciptakan gangguan visual, Yuan bisa membidik inti energinya."
"Aku bisa memberikanmu kabut beracun yang paling pekat," sahut Yue Yin. "Tapi kau harus memastikan tidak ada satu pun elang mekanik itu yang lolos untuk melaporkan posisi bunker kami."
"Sepakat," ucap Yuan singkat.
Yue Yin melemparkan lima botol keramik sekaligus ke udara. Saat botol-botol itu pecah oleh sentuhan jarumnya, kabut hijau zamrud yang sangat tebal menyebar dengan cepat, menelan gerbang kota dan barisan pasukan kavaleri di depannya.
"Tembak!" perintah Komandan Feng dari balik kabut.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan energi mulai menghantam tembok kota. Serpihan kayu dan batu beterbangan. Di tengah kekacauan itu, Yuan melompat ke atas atap bangunan tertinggi. Pandangannya tidak terganggu oleh kabut; berkat mata naga Ao Kuang, ia bisa melihat aliran energi panas dari mesin meriam tersebut.
"Ming Luo! Sekarang!" teriak Yuan.
Ming Luo berlari di sela-sela kabut, gerakannya seperti hantu. Ia menggunakan teknik Editor-nya untuk memanipulasi bayangan di dalam kabut, menciptakan ribuan proyeksi diri yang membingungkan para prajurit Sayap Perak.
"TEKNIK AUDIT: FRAKTAL BAYANGAN!"
Prajurit Kekaisaran mulai menembak secara membabi buta ke arah bayangan-bayangan Ming Luo, sementara Yue Yin muncul dari kegelapan untuk menusukkan jarum melumpuhkannya ke sendi-sendi zirah mereka.
Yuan menarik tali busurnya hingga maksimal. Darahnya mulai mendidih. Kali ini, ia tidak membidik manusia. Ia membidik cakram energi di tengah mesin Penekan Suaka.
"Ao Kuang... berikan aku daya hancur murni. Tanpa racun, tanpa kutukan. Hanya kehancuran!"
Anak panah cahaya hitam itu meluncur, membelah kabut hijau Yue Yin dan menciptakan garis vakum di udara. Komandan Feng mencoba menangkisnya dengan pedang besarnya, namun kekuatan panah itu terlalu besar.
CRAAAAACK!
Anak panah itu menghantam inti meriam. Terjadi keheningan sesaat sebelum ledakan biru raksasa menelan barisan depan Unit Elang. Gelombang kejutnya melemparkan tubuh-tubuh prajurit seperti daun kering yang tertiup badai.
Namun, di tengah asap ledakan, sebuah bayangan melesat dengan kecepatan yang tak masuk akal menuju ke arah Yuan di atas atap. Itu adalah Komandan Feng, zirahnya hancur sebagian, namun matanya menyala dengan kegilaan tempur.
"PEMANAH NAGA! KEPALAMU AKAN MENJADI TIKET PROMOSIKU!"
Feng mengayunkan pedangnya, menciptakan tebasan energi vertikal yang membelah atap bangunan tempat Yuan berdiri. Yuan terjatuh, namun sebelum ia menghantam tanah, sebuah tangan menarik jubahnya.
Ming Luo muncul, menangkis serangan susulan Feng dengan pedang gioknya yang kini patah menjadi dua. "Secara logika, Komandan... kau sudah kalah taruhan."
Yue Yin—muncul dari belakang Feng, sebuah jarum panjang sudah menempel di leher sang komandan. "Satu gerak lagi, dan racun Sembilan Gerbang Neraka akan membekukan jantungmu dalam satu detik."
Pertempuran berhenti seketika. Sisa-sisa pasukan Sayap Perak yang masih hidup mundur dengan gemetar melihat pemimpin mereka disandera.
Namun, Yuan tidak merasa menang. Ia menatap ke langit. Di sana, sebuah elang mekanik berukuran jauh lebih besar—sang Elang Induk—mulai muncul dari balik awan. Kekaisaran tidak mengirimkan satu legiun. Mereka mengirimkan seluruh armada.
"Ini belum selesai," bisik Yuan, memegangi dadanya yang sesak. "Mereka tidak akan membiarkan kita bernapas."
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏