Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bendera Putih Dan Krucuk-krucuk
Citra mengira Bu RT sudah pergi cukup lama. Entah ke mana, sepertinya Bu RT tidak akan kembali segera. Setelah memeriksa seluruh rumah, Citra juga tidak menemukan Pak RT. Entah ke mana kedua orang tuanya pergi, Citra tidak terlalu memikirkannya. Dia malah berencana mengambil makanan untuk Dodik tanpa sepengetahuan mereka.
Setelah berhasil mengambil makanan, Citra meletakkannya di atas lemari di samping ranjang. Kemudian dia menggoyang-goyangkan tubuh Dodik yang tengah tertidur. “Yah, bangunlah,” katanya membangunkan.
Dodik pun terbangun. Rasa lapar yang berusaha diabaikannya kini terbangun juga.
“Ada apa?” sahut Dodik dengan suara lemas.
“Aku membawa makanan. Makanlah,” kata Citra.
“Enggak usah. Kamu bawa balik aja,” tolak Dodik.
“Tapi kamu belum makan dari kemarin,” tutur Citra khawatir.
“Apa ibu mertua yang menyuruhmu?” tanya Dodik.
“Enggak …. Sebenarnya aku mengambilnya sendiri.” Dasar Citra. Dia terlalu jujur.
“Kalau gitu aku enggak mau makan,” tolak Dodik.
“Kalau kamu khawatir sama ibu, tenang aja, ibu hanya kesal sebentar, dia akan tenang kembali. Aku yang akan bicara dengannya,” bujuk Citra.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” sahut suara lain tiba-tiba.
Citra menoleh. Bola matanya langsung membundar saat melihat Bu RT di tengah-tengah pintu dan mulai berjalan ke arahnya.
“I-ibu … Ibu udah pulang?” sapa Citra gugup.
Dodik langsung bangun. Dia pun duduk di atas ranjang.
Bu RT mengabaikan sapaan Citra. Dia langsung menadahkan tangannya. “Mana makanannya,” katanya menagih.
“Enggak, Bu. Itu makanan buat suamiku.” Citra menolak memberikan makanan itu.
“Bukannya dia udah nolak?”
“Enggak, kok, Bu. Dia akan makan nanti. Dia hanya merasa enggak enak sama Ibu. Makanya, berbaiklah, Bu. Jangan terlalu menyulitkannya,” pinta Citra.
“Aku enggak pernah menyulitkan tuanmu. Dia yang menyulitkan diri sendiri. Apa susahnya minta langsung kepadaku,” sahut Bu RT ketus.
“Dia bukan orang yang bisa meminta ke orang lain, Bu. Bahkan sebelum dia berpikir untuk meminta sesuatu, orang lain sudah memberikannya,” tutur Citra.
“Aku enggak tahu siapa tuanmu sebenarnya dan aku enggak mau tahu. Tapi aku enggak akan kasih apa pun, kecuali kalau dia mau minta. Kenapa aku harus memberikannya makanan begitu saja? Bagiku, dia bahkan enggak layak mendapatkan makanan apa pun,” balas Bu RT ketus.
“Jangan keras-keras, Bu.”
“Tuanmu yang terlalu lemah. Kalau dia emang enggak mau minta makanan dariku, seenggaknya dia harus berusaha mencarinya sendiri. Tapi dia malah terus-terusan terbaring di sini. Apa dia mengira makanannya akan jatuh dari langit? Dia bahkan bukan nabi atau orang yang patut diteladani. Dia hanya seorang pemalas,” sindir Bu RT.
“Tapi kan dia yang udah bantu aku keluar dari hukuman warga. Setidaknya biarkan dia merasa nyaman untuk beberapa bulan ini,” bela Citra.
“Apa aku yang menyuruhnya menikahimu? Kalau dia emang enggak nyaman di sini, maka dia bisa pergi dan aku bisa merasa lebih senang. Lagian aku enggak tersanjung sedikit pun dengan bantuannya. Ah … itu bukan bantuan, tapi pertanggung jawaban. Emangnya salah siapa masalah ini terjadi? Salah siapa pernikahanmu dengan Radi sampai dibatalkan? Kalau tuanmu enggak tidur sembarangan, semua ini enggak akan terjadi!” tegas Bu RT.
“Lalu apa Ibu kira dia yang paling senang dengan semua ini? Apa dia tidur di kandang hanya dengan memakai celana karena dia sangat menyukainya? Enggak, Bu! Justru dia yang paling malang di antara kita. Aku sangat berterima kasih kepadanya karena dia masih mau menikahiku dan tinggal di sini padahal sebelumnya dia bahkan enggak pernah tidur di atas kasur kapuk. Dia masih mau mengulurkan tangannya padaku yang hanya perempuan kampung padahal dia adalah anak tunggal—“ Perkataan Citra berhenti karena Dodik memegang tangannya Tiba-tiba.
Citra menoleh. Kini Dodik mengedipkan matanya mengisyaratkannya untuk tenang. Kemudian Dodik bangun. “Berikan aku makanannya, Bu,” pinta Dodik.
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik