Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Batas Antara Penjaga dan Penyerang
Matahari sudah terbenam sepenuhnya, menyisakan langit yang berwarna merah tua perlahan berubah menjadi kelabu gelap. Cahaya redup hanya datang dari sisa api yang menyala di beberapa rumah warga yang berjarak agak jauh dari pabrik tua itu. Suasana makin sunyi, tapi ketenangan itu terasa palsu — seolah seluruh udara di sekitarnya menahan napas, menunggu sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Di dalam ruangan belakang, Kael, Mikhael, dan Arda masih berdiri mengelilingi papan lantai yang sudah dibersihkan dari tumpukan barang penutupnya. Suara napas Lio yang masih terengah-engah menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar selama beberapa detik, sampai akhirnya Kael memecah keheningan itu dengan nada tegas dan tenang.
“Mereka sudah bergerak, berarti kita tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi,” ucapnya sambil menoleh ke arah mereka satu per satu. “Pilihan kita cuma dua: membiarkan mereka masuk dan mengambil apa yang mereka inginkan, atau mempertahankan tempat ini sampai titik darah penghabisan.”
Mikhael sudah menyimpan semua peralatan medisnya ke dalam tas kulit yang ia bawa setiap hari. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi matanya menunjukkan ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. “Kalau kita biarkan mereka ambil begitu saja, nanti tidak hanya barang itu yang hilang. Mereka akan menganggap kita lemah, dan mulai menguasai seluruh wilayah ini satu per satu. Tidak ada lagi tempat aman bagi warga yang kita lindungi.”
“Tapi kita juga harus sadar,” tambahnya pelan, “mereka datang dengan persiapan matang. Kalau jumlahnya banyak, kita tidak bisa menang dengan cara biasa.”
Arda masih berdiri di samping papan lantai itu. Tangannya terulur, jari-jarinya menyentuh permukaan kayu yang sudah lapuk karena usia. Kali ini, tidak ada lagi senyum santai atau sikap malas yang biasa ia tunjukkan. Tatapannya tajam, dalam, seolah ia sedang berbicara bukan hanya dengan mereka, tapi juga dengan rahasia yang terpendam di bawah sana.
“Mereka memang datang dengan percaya diri,” katanya, suaranya rendah tapi jelas terdengar ke setiap sudut ruangan. “Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari. Bagi mereka ini cuma harta atau kekuasaan, tapi benda ini punya aturannya sendiri. Orang yang tidak paham akan menggunakannya, biasanya hanya akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.”
Ia menoleh, menatap Kael dengan pandangan yang lebih serius dari sebelumnya. “Kau tanya kenapa aku selama ini lebih banyak diam dan tidur? Bukan karena aku malas. Aku hanya menunggu saat yang tepat. Kalau aku terlalu sering bertindak, terlalu banyak menunjukkan kekuatan, maka bukan hanya Elang Darah yang akan datang. Pihak yang lebih besar, yang sudah lama melupakan keberadaanku, akan segera melacak ke mana aku berada. Aku ingin kalian tumbuh dan berdiri dengan kekuatan sendiri, bukan hanya bertahan hidup karena aku melindungi kalian terus-menerus.”
Pengakuan itu terasa berat, tapi sekaligus menjawab satu pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati mereka. Selama ini mereka mengira Arda hanya orang asing yang kebetulan singgah dan kuat secara fisik, ternyata ada alasan jauh lebih dalam di balik sikapnya yang sering kali terlihat acuh tak acuh.
Sebelum sempat ada yang menjawab, suara langkah kaki yang berat dan teratur mulai terdengar dari luar. Bunyinya jelas, tidak berusaha menyembunyikan kehadiran mereka — tanda bahwa mereka sudah merasa cukup kuat untuk tidak perlu bersembunyi lagi.
“Mereka sudah sampai,” bisik Lio sambil melangkah mundur mendekati dinding, tangannya sudah memegang pisau kecil yang selalu ia bawa.
Kael segera memberi isyarat. “Mikhael, kau bantu Lio mengamati pintu belakang dan jendela samping. Jangan biarkan ada yang menyelinap masuk lewat celah. Arda… kalau situasinya sudah benar-benar kritis, baru kau bertindak. Biarkan mereka melihat dulu apa yang kita punya, supaya mereka tidak mengira kita hanya kelompok jalanan biasa yang bisa diinjak seenaknya.”
Arda hanya mengangguk perlahan, lalu mundur sedikit ke sudut ruangan yang lebih gelap, menjadi sosok yang hampir tidak terlihat di antara bayangan.
Tidak lama kemudian, pintu depan didorong terbuka keras. Suara bunyi kayu yang berderak pecah menggema di seluruh ruangan. Cahaya obor yang dibawa masuk langsung menyilaukan pandangan, menerangi lantai yang berdebu dan tiang-tiang penyangga yang sudah menua.
Di depan masuklah sekelompok orang, sekitar dua belas orang, semuanya memegang senjata tajam dan kayu besi. Di tengah-tengah mereka berjalan sosok yang selama ini mereka dengar tapi belum pernah melihat secara dekat — Vorn, pemimpin lapangan Elang Darah.
Pakaiannya terbuat dari kain tebal berwarna gelap, dihiasi dengan benang emas yang membentuk lambang sayap elang di bagian dada. Wajahnya tegas, dipenuhi bekas luka yang menunjukkan bahwa ia sudah lama hidup di dunia pertarungan. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan pandangan yang penuh keyakinan, sampai akhirnya berhenti menatap Kael yang berdiri di tengah ruangan dengan tenang.
“Jadi inilah markas kelompok yang berani mengganggu rencana kami,” ucap Vorn, suaranya berat dan bergema, tanpa nada tergesa-gesa sedikit pun. “Kalian pikir dengan bersembunyi di tempat tua dan kotor ini, kalian bisa menyimpan sesuatu yang bukan milik kalian?”
Kael tidak mundur selangkah pun. Ia menatap balik dengan tatapan setara, tidak takut tapi juga tidak menantang secara berlebihan. “Tempat ini bukan milik siapa-siapa sekarang. Tapi selama kami ada di sini, kami berhak melindungi apa pun yang ada di dalamnya. Kalau kalian datang hanya untuk merampas, maka kalian harus melewati kami lebih dulu.”
Vorn tertawa pelan, tawa yang terdengar dingin dan penuh penghinaan. “Kalian memang berani. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanya akan membawa kematian lebih cepat. Kami sudah tahu rahasia tempat ini. Kami sudah tahu bahwa di bawah lantai ini tersimpan sesuatu yang sangat berharga. Serahkan sekarang, dan mungkin aku masih bisa membiarkan kalian pergi dengan selamat.”
“Kami tidak menyerahkan sesuatu yang bahkan kami sendiri belum paham tujuannya,” jawab Kael tegas. “Dan kalau kalian pikir kami akan menyerah begitu saja, kalian salah menilai kami.”
Saat itu juga, salah satu anak buah Vorn melangkah maju dengan cepat, mengayunkan tongkat besi ke arah Kael tanpa peringatan. Tapi sebelum tongkat itu sempat menyentuh, Kael sudah melompat mundur selangkah, lalu menendang pergelangan kaki orang itu dengan gerakan cepat dan terukur. Orang itu terhuyung jatuh, terkejut melihat reaksi yang lebih tangkas dari yang ia duga.
“Serang mereka!” teriak Vorn, wajahnya berubah menjadi dingin. “Tangkap siapa saja yang melawan, tapi jangan rusak bagian lantai belakang itu!”
Pertarungan pun meletus.
Suara benturan senjata, teriakan, dan bunyi kayu yang terinjak keras memenuhi ruangan yang sempit itu. Mikhael dan Lio di sisi belakang bergerak cepat, menangkis serangan yang datang dari arah samping. Mikhael yang selama ini terlihat hanya pandai mengobati luka, ternyata memiliki gerakan yang tenang tapi mematikan — ia menggunakan tongkat kayu panjang untuk menjaga jarak, mengarahkan pukulan ke titik-titik lemah tubuh lawan, bukan untuk melukai parah tapi cukup untuk melumpuhkan sementara.
“Dulu kakekku tidak hanya mengajari cara menyembuhkan,” ucapnya sambil menangkis serangan dengan tenang, suaranya terdengar seperti sedang bercerita biasa di tengah kekacauan. “Ia bilang, tabib harus tahu di mana letak titik sakit dan titik lemah, supaya bisa menyelamatkan nyawa… atau melindungi dirinya sendiri kalau terpaksa.”
Di sisi lain, Kael berhadapan langsung dengan dua orang yang terlihat lebih terlatih. Setiap gerakan mereka terkoordinasi, satu menyerang depan, satu menyelinap ke samping. Kael menghindar dengan lincah, menggunakan tiang dan tumpukan barang di sekitarnya untuk mempersempit ruang gerak mereka. Di dalam kepalanya, ia teringat kata-kata ayahnya yang sudah lama hilang: “Pertarungan bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang bisa mengatur posisi dan mengendalikan emosi.”
Namun, jumlah lawan makin banyak. Satu per satu mereka mendesak, membuat Kael dan kawan-kawannya perlahan mundur semakin dekat ke arah ruangan belakang tempat barang itu tersembunyi. Nafas mereka mulai terengah-engah, luka-luka kecil mulai muncul di lengan dan kaki mereka.
Vorn berdiri di tempat yang agak aman, mengamati jalannya pertarungan dengan tatapan tajam. Ia melihat bahwa kelompok ini tidak selemah yang ia duga, tapi ia yakin kelelahan akan segera menguasai mereka.
“Kalian bisa bertahan sebentar saja,” teriak Vorn sambil tersenyum sinis. “Tapi kalian tidak akan menang selamanya. Lebih baik menyerah sekarang sebelum ada yang benar-benar mati!”
Kael baru saja menghindari ayunan parang yang melesat melewati pundaknya, tapi kakinya tergelincir sedikit di atas lantai yang berdebu. Salah satu lawan segera memanfaatkan celah itu, mengangkat senjatanya untuk menghantamnya.
Namun sebelum serangan itu mendarat, sesuatu terjadi.
Dari sudut ruangan yang gelap, sebuah tangan terulur dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat mata. Ia menangkap gagang senjata itu tepat di tengah perjalanan, lalu menekannya sedikit saja. Bunyi logam yang bengkok terdengar nyaring, dan orang itu terlempar mundur beberapa langkah seolah tertabrak benda berat.
Arda akhirnya melangkah keluar dari kegelapan.
Ia tidak membawa senjata apa pun, bajunya masih sama lusuhnya seperti biasa, tapi sekarang ada perubahan besar pada dirinya. Tatapannya tidak lagi malas, tidak lagi datar — ia terlihat seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur panjang, dan sekarang memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
“Sudah cukup main-mainnya,” ucapnya, suaranya rendah tapi terasa seperti bergetar di dada setiap orang yang mendengarnya. “Kalian datang ke sini dengan alasan yang salah, dan sekarang kalian sudah melukai orang yang tidak bersalah. Kalau masih ingin melanjutkan, kalian harus menghadapi aku duluan.”
Vorn mengerutkan dahi, menatap sosok Arda dengan pandangan yang mulai dipenuhi rasa curiga dan takut. Ia pernah mendengar desas-desus tentang sosok misterius yang tinggal di tempat ini, tapi ia mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti orang.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Vorn, suaranya sedikit berubah nada.
Arda hanya melangkah maju selangkah, dan seketika itu juga beberapa orang di barisan depan secara tidak sadar mundur selangkah juga, merasakan tekanan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Orang yang hanya ingin hidup tenang,” jawab Arda pelan. “Tapi kalau kedamaian itu terus diganggu, aku juga bisa menjadi orang yang membuat kalian menyesal pernah melangkahkan kaki ke tempat ini.”
Di saat yang sama, di bawah lantai tempat mereka berdiri, tiba-tiba terasa getaran halus. Tidak kuat, tapi cukup terasa di telapak kaki. Cahaya samar mulai menyelinap keluar dari celah-celah papan kayu, berwarna keemasan yang lembut namun terasa sangat kuat, seolah menyatakan bahwa benda yang terpendam itu mulai merespons energi yang terbangun di atasnya.
Semua orang terdiam, menatap cahaya yang muncul perlahan itu dengan perasaan campur aduk — takut, heran, dan juga penuh rasa ingin tahu yang membara.
Dan di tengah keheningan itu, suara yang berat dan asing terdengar dari balik kerumunan, seolah datang dari kejauhan namun jelas terdengar di telinga mereka semua.
“Ternyata benar… ia masih ada di sini. Dan dia pun akhirnya muncul juga.”
Bersambung...