Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang dingin Dua Kapten Basket
Saat membuka pesan itu, Ellea hanya mampu mengucapkan istighfar di dalam hatinya. Dadanya berdenyut perih membaca untaian kata penuh intimidasi dari Sandra. Mengapa berada di dekat suaminya sendiri harus serumit dan seberbahaya ini?
"Ada apa? Masih ada yang belum dimengerti?" tanya Albiru tiba-tiba. Suara baritonnya yang terdengar tepat di samping telinga membuat Ellea tersentak.
Ellea buru-buru meremas kertas itu di dalam genggamannya, berusaha menyembunyikannya ke dalam kolong meja sebelum netra tajam Albiru menyadarinya. Namun, gerakan gugup Ellea justru memancing kecurigaan sang kapten sekolah.
Sepasang alis tebal Albiru bertaut. Ia menangkap basah kepanikan di wajah istrinya. "Apa yang elo sembunyikan?" selidik Albiru, nadanya menuntut penjelasan.
"E-enggak, aku nggak menyembunyikan apa-apa, Kak," jawab Ellea terbata. Ia merapatkan jemarinya, menyembunyikan gumpalan kertas itu erat-erat di bawah meja.
"Ellea!" panggil Albiru berat, memberikan tatapan memperingatkan. Pria itu mengulurkan tangan kanannya ke bawah meja, tepat di hadapan Ellea, meminta agar Ellea memberikan remasan kertas itu kepadanya. "Buka tangan lo."
"Kak, jangan!" bisik Ellea memohon. Ia tidak ingin Albiru memicu keributan baru di dalam kelas, apalagi ini melibatkan Sandra.
"Kemarikan, Ellea." Suara Albiru merendah, namun sarat akan titah mutlak yang tak bisa dibantah.
Karena tidak punya pilihan dan takut Albiru nekat merebutnya secara kasar, Ellea akhirnya menyerahkan gumpalan kertas itu dengan pasrah. Albiru menerimanya, lalu meratakan kembali kertas yang sudah lecek itu di atas paha untuk membaca isinya. Begitu matanya memindai untaian kalimat ancaman dari Sandra, rahang Albiru mengeras sesaat. Namun, ekspresinya dengan cepat berubah datar seolah hal itu bukanlah masalah besar.
Albiru melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Oh, jangan dianggap serius. Sandra memang seperti itu orangnya, suka cemburuan," ujar Albiru santai, mencoba menenangkan Ellea dengan caranya sendiri.
Mendengar tanggapan super cuek dari Albiru, Ellea melotot tajam di balik cadarnya. Rasa kecewa yang membubung membuat keberaniannya mendadak naik. Hanya itu? Tanggapan santai seolah tindakan perundungan verbal ini adalah hal lumrah?
"Oh, jadi cuma begitu?" bisik Ellea, nadanya bergetar menahan luapan emosi. "Ah, aku lupa ... pasti suamiku lebih memilih membela wanita yang dicintainya daripada memikirkan ketenanganku di sini."
Kalimat sinis yang keluar dari bibir Ellea seketika membuat Albiru bungkam. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas cepat di mata pria itu, namun sebelum Albiru sempat menyanggah, Ellea sudah memalingkan wajahnya lurus ke depan, mengabaikan sikap cuek Albiru sepenuhnya.
Namun, tepat setelah mengatakan itu, dada Ellea terasa nyeri luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan menyakitkan mulai berputar di kepalanya.
“Sebenarnya siapa aku di matamu, Albiru ? Apa aku hanyalah orang ketiga yang hadir dalam hubungan kamu dan Sandra? Jika kamu sudah sedekat itu selama tiga tahun ini, lalu untuk apa pernikahan atas dasar wasiat ini dipertahankan?” Pikirannya benar-benar buntu oleh rasa sakit hati.
Kringgg!
Bel penanda berakhirnya pelajaran pertama berbunyi nyaring. Bu Ratna segera merapikan buku-bukunya dan melangkah keluar kelas setelah mengucapkan salam. Begitu sang guru menghilang di balik pintu koridor, Sandra buru-buru bangkit dari kursinya dan melangkah anggun mendekat ke arah meja Albiru.
"Al! Besok kan ulang tahun gue, elo harus jadi orang pertama yang gue undang!" seru Sandra dengan suara manja yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa murid di sekitar mereka menoleh. Ia menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna merah muda dengan aksen glitter yang mewah ke atas meja Albiru.
Albiru menatap kartu itu sekilas sebelum memasukkannya ke dalam tas. "Hmm, ya. Thanks, gue pasti datang," balas Albiru pendek. Enggan berlama-lama terjebak dalam suasana canggung bersama Ellea yang masih mendiamkannya, pria itu langsung berdiri dari kursinya dan berjalan santai keluar kelas menuju koridor.
Sepeninggal Albiru, Sandra tidak langsung kembali ke tempat duduknya. Ia justru sengaja berdiri di tengah-tengah baris kelas, mengibaskan rambut bergelombangnya dengan gaya angkuh sebelum berbicara dengan lantang pada teman-teman sekelasnya.
"Guys! Kalian semua datang ya ke acara ulang tahun gue besok malam di club house! Nanti malam gue sebar undangannya di grup kelas!" seru Sandra disambut sorak-sorai antusias dari murid-murid lain.
Setelah mengumumkan hal itu, Sandra memutar tubuhnya perlahan, lalu berjalan mendekati meja Ellea. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya dengan jarak yang teramat dekat ke arah Ellea yang masih duduk tenang.
"Dan elo, pikirkan ancaman gue tadi, jauhi Albiru kalau lo masih ingin sekolah di sini,” bisik Sandra mengancam. Saat ia hendak pergi, Sandra menoleh kembali. “Ah ya, gue lupa. Jangan lupa datang juga ya, anak baru. Pakai baju norak lo itu, biar semua orang tahu siapa lo sebenarnya," ucap Sandra penuh nada penghinaan, sengaja menekankan kata 'norak' untuk menyindir pakaian syar'i dan cadar yang dikenakan Ellea.
Ellea tidak sepeser pun menggerakkan tubuhnya. Ia hanya menatap datar ke arah dua bola mata Sandra yang memancarkan kebencian. "Insya Allah, jika tidak ada halangan," jawab Ellea setenang air, membuat Sandra berdecak kesal karena tidak mendapatkan reaksi histeris yang ia harapkan.
Dalam sekejap, seisi kelas mulai riuh membicarakan konsep pesta ulang tahun Sandra yang kabarnya akan digelar sangat mewah. Sementara itu, Albiru yang memilih menjauh dari keributan kelas, melangkah gontai menyusuri koridor sekolah menuju ke lapangan basket indoor untuk menyegarkan pikirannya yang mendadak suntuk.
Suasana di lapangan basket indoor siang itu cukup ramai oleh anak-anak tim inti yang sedang melakukan latihan bebas. Albiru berjalan masuk, langsung menyambar sebuah bola basket yang menggelinding di dekat ring dan melakukan lay-up sempurna. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.
Dari arah pintu masuk lapangan, Andra melangkah lebar-lebar dengan gumpalan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Sejak kejadian di koridor pagi tadi, harga diri Andra sebagai pria yang mendekati Ellea benar-benar diinjak-injak oleh Albiru.
Bugh!
Andra dengan sengaja menepis bola basket dari tangan Albiru saat pria itu hendak melakukan dribble ulang. Bola itu memantul jauh ke sudut lapangan.
Albiru menghentikan gerakannya, memutar tubuhnya perlahan dengan rahang yang mengatup rapat. "Maksud elo apa, hah?!" bentak Albiru, maju satu langkah menantang dengan dada yang dibusungkan.
"Gue yang harusnya tanya sama lo, Albiru! Maksud lo apa pagi tadi bawa pergi Ellea?!" balas Andra tidak kalah sengit. Ia mencengkeram kerah seragam Albiru dengan kuat, membuat beberapa siswa di sekitar mereka langsung menghentikan aktivitas dan menatap ngeri. "Lo nggak ada hubungan apa-apa sama dia! Lo cuma sepupunya, kan? Jangan bertingkah seolah lo pemilik hidupnya, brengsek!"
Mendengar kata brengsek dan melihat tangan Andra yang lancang menyentuh seragamnya, pertahanan emosi Albiru runtuh sepenuhnya. Ditambah lagi, rasa cemburu yang berkecamuk sejak pagi membuat akal sehatnya hilang.
Bugh!
Satu pukulan mentah dari tangan kanan Albiru mendarat telak di rahang kiri Andra, membuat pria itu tersungkur ke lantai lapangan yang keras.
"Jangan pernah berani sebut nama dan dekati Ellea lagi," ucap Albiru cepat di tengah deru napasnya yang memburu, hampir saja ia membongkar rahasia besarnya karena emosi.
Andra yang tidak terima langsung bangkit berdiri dengan sudut bibir yang mulai berdarah. Ia menerjang maju, melayangkan pukulan balasan yang mengenai pipi kanan Albiru. "Sialan lo!"
Aksi baku hantam pun tidak terhindarkan lagi di tengah lapangan basket. Kedua singa sekolah itu saling jorok-menjorok, melayangkan pukulan demi pukulan tanpa memedulikan aturan sekolah lagi. Jeritan dan sorakan dari para siswa mulai menggema di dalam gedung olahraga tersebut. Kabar tentang perkelahian hebat antara Albiru dan Andra menyebar secepat kilat seperti badai ke seluruh penjuru sekolah.
"Eh, liat! Albiru sama Andra berantem di lapangan basket!" teriak salah satu siswa.
Dania yang melihat langsung berlari ke arah bangku Ellea. "El, Ellea? Albiru, sepupu elo lagi duel maut sama Andra."
“Apa!!” pekik Ellea terkejut.