NovelToon NovelToon
Gara-gara Kepergok Pak Ustadz

Gara-gara Kepergok Pak Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / Action / Cinta setelah menikah
Popularitas:45.7k
Nilai: 5
Nama Author: Imelda Savitri

"Nikah Dadakan"

Itulah yang tengah di alami oleh seorang gadis yang kerap di sapa Murni itu. Hanya karena terjebak dalam sebuah kesalahpahaman yang tak bisa dibantah, membuat Murni terpaksa menikah dengan seorang pria asing, tanpa tahu identitas bahkan nama pria yang berakhir menjadi suaminya itu.

Apakah ini takdir yang terselip berkah? Atau justru awal dari serangkaian luka?

Bagaimana kehidupan pernikahan yang tanpa diminta itu? Mampukan pasangan tersebut mempertahankan pernikahan mereka atau justru malah mengakhiri ikatan hubungan tersebut?

Cerita ini lahir dari rasa penasaran sang penulis tentang pernikahan yang hadir bukan dari cinta, tapi karena keadaan. Happy reading dan semoga para readers suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Savitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah II

Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, Murni terpaku di tempatnya. Ketika matanya menjelajahi seluruh isi ruangan yang didominasi warna coklat kayu dan krem yang hangat. Apartemen bergaya studio itu tidak memiliki banyak sekat, yang membuatnya terlihat luas dan rapi.

Kaan menyalakan lampu, membuat keseluruhan ruangan tampak lebih hidup. Cahaya lembut menyapu lantai kayu yang mengkilap, memperlihatkan interior elegan dibalut kesederhanaan.

Sebuah sofa coklat berada di tengah ruangan, menghadap televisi layar lebar yang menempel di dinding. Di sisi lain tampak dapur terbuka dengan rak-rak modern dan peralatan serba metalik.

Kaan meletakkan tas Murni di atas sofa lalu melangkah ke arah pintu samping.

“Ini... kamarmu." Katanya sambil menunjuk pintu pertama yang ada di sebelah kanan.

“Kalau butuh sesuatu, ini kamar saya.” Timpalnya, menunjuk pintu disebelah kiri yang merupakan pintu kamarnya.

Murni mengangguk kecil. “I-Iya, mas.” Balas Murni sedikit gugup karena merasa canggung.

Kaan sadar jika hubungan diantara mereka berdua masih belum bisa dikatakan dekat. Dan ia juga tak ingin memaksa Murni untuk tinggal satu kamar dengannya, apalagi setelah melihat betapa gugupnya wanita itu sejak tadi.

Suasana di antara mereka terasa senyap. Hanya ada bunyi AC yang mengalun lembut dan detik jam dinding.

Untuk mencairkan suasana hening di antara mereka, Kaan beralih berjalan menuju ruang tamu.

“Um... This is the TV. Kalau bosan, kamu bisa nonton. TV-nya sudah saya setel. So, kamu tinggal memilih film yang ingin ditonton." Jelasnya, tanpa menoleh.

Murni melangkah perlahan mendekati televisi itu. Matanya membesar ketika melihat ukuran layar yang hampir seukuran jendela kamar rumahnya di kampung.

“Besarnya… kayak papan pengumuman di balai desa.”

Jujur saja, Murni baru pertama kali melihat TV selebar dan setipis itu, sebab selama ini ia menonton televisi menggunakan TV tabung. Itupun ia hanya bisa menonton tv di rumah Ayu karena ia tidak punya.

Kaan menjangkau remote yang tergeletak di atas meja, lalu menyerahkannya ke Murni. “Ini remote-nya.”

Murni menerima benda itu dengan kedua tangannya dan menggenggamnya pelan seperti memegang sesuatu yang rapuh. Jarinya menggantung di atas tombol-tombol tanpa berani menekan.

Melihat itu, Kaan mendekat dan berdiri di belakangnya. “Tombol yang merah ini tombol power, untuk menyalakan TV.” Jelasnya, suaranya terdengar rendah, nyaris seperti bisikan.

Lalu jari Kaan bergerak dan menekan tombol power itu.

Dalam sekejap, layar besar pun menyala, menampilkan siaran berita berupa potongan kejadian terkini di kota.

Lalu suara Kaan kembali terdengar ketika menjelaskan beberapa fitur yang ada di remote.

"Ini untuk mengganti saluran, ini untuk merekam acara yang tidak sempat kamu tonton, and ini untuk menyetel volume." Jelas Kaan sambil menunjuk beberapa tombol.

Tapi bagi Murni, apa pun yang muncul di layar terasa kabur. Ia hanya mendengar suara Kaan, yang menjelaskan volume, saluran, dan fitur lainnya.

Murni meneguk ludah tanpa sadar. Saat Kaan mencondongkan tubuhnya sedikit, ia bahkan merasa jika punggungnya sudah menempel di dada bidang Kaan. Sesekali Murni bisa merasakan hembusan napas hangat yang mengenai sisi wajahnya, terasa halus, namun cukup untuk membuat kulitnya bergidik.

Kaan terus bicara, sementara lawan bicaranya tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasannya, akibat konsentrasi Murni yang sudah buyar kemana-mana. Murni hanya bisa mengangguk pelan sambil menatap layar, padahal pikirannya sibuk menahan degup jantung yang semakin makin liar.

Jarak mereka terlalu dekat. Dan suara Kaan yang berat, ditambah kehangatan tubuhnya di belakang semuanya terasa membingungkan bagi Murni.

Sampai akhirnya Kaan selesai menjelaskan semua tombol di remote dan fitur-fitur yang bisa digunakan untuk menonton.

“Paham?” tanyanya pelan, masih berdiri dekat di belakang Murni.

Murni sempat tersentak kecil, lalu buru-buru mengangguk. “Uh... Iya paham ma-”

Duk!

“Akh!” Sebuah erangan pendek terdengar dari belakangnya.

Murni spontan berbalik dengan wajah panik.

“Eh! Mas kenapa?”

Kaan segera mengusap dagunya dengan ekspresi meringis. "Sshhtt.."

"Astagfirullah, maaf mas. Aku ndak sengaja... Sakit banget ya mas?" Tanya Murni dengan terburu-buru, alisnya bertaut bersamaan dengan kedua matanya yang membesar, menelusuri wajah Kaan dengan cemas.

“No problem." Jawab Kaan sedikit terkekeh meski jelas masih kesakitan.

Murni langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah. “Sekali lagi maaf mas."

Kaan hanya mengangguk pelan sambil mengangkat sebelah tangan, seolah berkata ‘tidak apa-apa’. Lalu ia menarik napas pendek dan berkata santai, “Ayo, saya tunjukkan dapurnya sekarang.”

Mereka pun bergeser ke arah dapur. Di sana, cahaya lampu hangat menyinari area dapur minimalis yang modern. Warna-warna netral mendominasi ruangan tersebut, seperti putih, coklat kayu, dan sedikit aksen hitam pada perlengkapan.

“Ini kulkasnya, isinya hanya ada minuman, tapi nanti kita bisa belanja bahan-bahan makanan bersama.” kata Kaan sambil menunjuk satu per satu benda yang ada.

“Ini microwave, mudah dipakai, nanti saya tunjukkan penggunaanya." Jelasnya, dan kembali menjelaskan benda-benda yang terbilang canggih disana agar istrinya itu tidak kebingungan ketika menggunakan nya.

Murni mengangguk-angguk pelan, matanya membesar ketika melihat bentuk dan tombol-tombol dari tiap benda canggih yang Kaan tunjukkan. Sebagian terasa familiar, sementara sebagiannya lagi terasa seperti barang dari dunia lain baginya.

“Kalau yang ini?” Tanya Murni sambil menunjuk mesin berbentuk persegi tinggi dengan sudut-sudut melengkung, bagian depannya mengilap seperti logam, dan ada teko kaca bening yang duduk manis di atas pelat pemanas hitam.

"Ini mesin pembuat kopi biasa." Jawab Kaan sambil menyentuh bagian atas mesin.

"Ooh…” Murni manggut-manggut, walau wajahnya masih setengah bingung.

Kaan menyandarkan tubuh ke dinding dapur dengan ekspresi ringan. “Kalau kamu mau masak apa pun, pakai saja semuanya. Nanti saya bantu jelaskan cara penggunaan alat yang tidak kamu tahu.”

Murni menoleh cepat. “Mas Kaan bisa masak?”

“Uh... Yeah, saya bisa." Jawabnya akhirnya, tapi nada suaranya terdengar sedikit naik di akhir, seolah kalimat itu lebih seperti pertanyaan daripada pernyataan.

Murni tersenyum kecil. “Kalau ada waktu Mas mau ajarin aku bikin makanan orang-orang kota?" Tanya Murni.

Kaan hanya mengangguk ringan, menandakan ia setuju.

Kemudian Kaan membiarkan Murni melihat-lihat dapur sendirian. Istrinya itu tampak antusias mengamati tiap peralatan, meskipun sesekali alisnya berkerut ketika melihat peralatan asing yang terbilang baru dilihatnya.

Kaan melirik jam tangannya. Jarum pendek sudah melewati angka sepuluh, dan jarum panjang mendekati angka sembilan yang menunjukkan jika saat itu pukul 10:45.

Ia sempat tertegun, sebelum akhirnya memanggil Murni. "Murni."

Murni segera menoleh dari depan kompor, “Iya, Mas?”

"Saya harus berangkat ke kantor sekarang. Kalau kamu butuh apa-apa, langsung telepon saya”

Murni mengangguk. “Iya, Mas.”

Kaan bergegas keluar dari dapur, menuju pintu utama. Tangannya hampir mencapai kenop ketika satu hal melintas di pikirannya, membuatnya menghentikan langkahnya.

Ia berbalik, dan tepat saat itu, Murni baru saja keluar dari dapur dan berdiri tak jauh darinya.

"Ah yeah,” ucap Kaan, suaranya sedikit lebih serius. “Kalau ada orang asing datang, jangan pernah buka pintunya. Kalau ada orang asing yang terlihat mencurigakan segera telepon saya. Paham?”

Murni mengangguk cepat. “Paham mas.”

“Masih ingat cara menelponnya, seperti yang saya ajari kemarin?”

Murni mengangguk lagi, kali ini dengan senyum kecil. “Ingat, Mas.”

Sejak ponsel jadul miliknya hangus dilahap api, Kaan sempat membelikannya ponsel pintar baru dan mengajarinya cara memakainya. Meski awalnya canggung, Murni tetap berusaha mengingat semua yang diajarkan Kaan dan mencoba beradaptasi dengan ponsel layar sentuhnya.

Kaan akhirnya memutar kenop pintu.

“Mas!”

Langkahnya terhenti lagi, dan menoleh cepat kebelakang.

Murni mendekat, lalu tanpa ragu meraih tangan Kaan dan menyalaminya pelan. “Hati-hati, Mas.”

Kaan sempat tertegun, lagi-lagi ia terkejut dengan tindakan yang baru-baru ini ia terima.

“Ah… y-yeah." Balasnya akhirnya, sedikit kikuk.

Sebelum akhirnya ia membuka pintu dan melangkah keluar, lalu menutupnya kembali di belakangnya, meninggalkan Murni sendiri di dalam apartemen untuk pertama kalinya.

Selepas keberadaan Kaan pergi, keheningan seketika menyelimuti seluruh ruangan. Murni memilih duduk di sofa, sembari tangannya menyentuh ujung bantal kecil sofa itu, sesekali matanya menyapu sekeliling apartemen yang masih terasa asing baginya.

Dddrrr... Dddrrr...

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Murni segera mengeluarkan ponselnya yang ia simpan di dalam tas bawaan.

Adam

Murni langsung menggulir layar ponselnya seperti yang telah dia pelajari dari Kaan kemarin. Ia menekan ikon hijau.

“Assalamualaikum.” Suara lembut dan akrab langsung terdengar.

“Waalaikumsalam, Mak! Emak sehat?” Murni sontak berseri-seri, wajahnya langsung berbinar hanya karena mendengar suara ibunya.

“Alhamdulillah sehat, kamu bagaimana, sehat nak?”

“Sehat, Mak. Alhamdulillah.” Jawabnya dengan nada ceria.

Suara Mita terdengar lega di seberang, lalu menanyakan bagaimana kehidupan Murni di tempat barunya. “Kamu di sana gimana? Sudah bisa nyatu belum sama lingkungan?”

Murni menyesuaikan duduknya, membetulkan posisi ponsel di telinganya. “Alhamdulillah, mak. Awal-awal memang canggung, apalagi pas pertama datang ke rumah Mas Kaan. Tapi semuanya baik-baik aja, Mas Kaan juga baik. Sekarang kami tinggal berdua di apartemen miliknya.”

“Oh, sudah pindah ke apartemen?” Suara Mita terdengar terkejut sekaligus khawatir.

"Apartemen itu apa nak?" Lanjutnya sebelum Murni sempat menjawab pertanyaan pertama.

“Itu mak, tinggal di rumah tapi rumahnya di dalam gedung yang tinggi. Kayak..." Murni mencoba mencari kecocokan yang pas biar ibunya paham apa yang ia jelaskan.

"Kayak hotel mak! Apartemennya bagus. Luas, bersih… peralatannya juga aneh-aneh semua, tapi Mas Kaan sabar banget ngajarin." Kata Murni sambil tersenyum sendiri.

Ia pun mulai menceritakan semuanya dari pertama datang, bertemu dengan keluarga Kaan, hingga hari-harinya belajar hal-hal baru. Namun, ada satu hal yang sengaja ia simpan, yakni mengenai peristiwa penyerangan beberapa minggu lalu. Karena ia yang tak ingin membuat keluarganya khawatir.

1
Nar Sih
ahir nya murni muncul lgi
Batsa Pamungkas Surya
up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up up
Batsa Pamungkas Surya: owh seperti ituuuu
total 2 replies
Nar Sih
ternyata kaan bisa juga ya mkn dan berbaur dgn karyawan nya ,contoh pimpinan yg baik nih ☺️
Nar Sih
oalah murni,,kmu kok lucu bener yaa,ahir nya kmu tau kan arti dari tulisan kaan yg di kirim pada mu,semagat murni terus dekati kaan sampai bnr,,jdi suami mu yg seutuh nya💪☺️
Lucy: hihi iya kak, murni kudu maju teros jangan kasih kendor
total 1 replies
luvvuyy🙈
aduhhh jd salah paham ni pstiii😭
Lucy: puasti/Chuckle/
total 1 replies
Baby Vell
hai thor aku makpir
Baby Vell: iya ka
total 2 replies
luvvuyy🙈
haiii
Lucy: hii kak😌 makasih loh udh coba baca, aku masih baru soal nulis novel pernikahan gini kak, kalau ada yg gak msuk akal, kasih tau aja ya😋
total 1 replies
Novi Susianti
sampai aku cari arti "l feel the same"😃😂
Lucy: /Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Nar Sih
bersabar lah murni ,dan yakinlah pasti lama,,kaan juga cinta pada mu trus kmu bisa punya ank juga dri nya
Nar Sih
semoga dgn iseng nya savelda bisa membuat hubungan kaan dan murni lebih baik lgi
Lucy: moga aja kak😁
total 1 replies
Nar Sih
lanjutt kak ,bikin murni kuat dan tangguh hinga pantas bersanding dgn kaan
Batsa Pamungkas Surya
kok saya waktu SMA di kasih pelajaran seperti itu ya
saya lulus SMA th 1997
Batsa Pamungkas Surya: ea sich.. mungkin di kira anak anak bisa lihat di google
total 2 replies
Nar Sih
bingung dgn sikap kaan ,yg kata nya suami tpi aneh ..ngak ada manis nya ,sabar ya murni kamu harus kuat dan jdilah wanita tangguh
Nar Sih
kasihan murni nya mesti sabar dan di paksa bljar kuat demi sebuah status istri dri keluarga harington ,semagatt murni kmu pasti bisa💪💪
Lucy: pasti kak. kak, kira-kira tulisannya bener gak sih? soalnya aku akhir" ini kena writing block bah, jadi bingung mau menjabarkan alur nya gimana😭
total 1 replies
Nar Sih
lama ngk up ahir nya hadir lgi walau cerita nya kadang membuat ku bungung kak thorr
Lucy: hehehe makasih udh rajin baca kak
total 1 replies
Nar Sih
masih bingung dgn murni dan kaan kak thorr
Lucy: kak, maaf ya, beberapa hari ini aku kayaknya belum bisa up😞 karena kesibukan lamaran kerja kak, tapi ku usaha kan up dua hari nanti
total 1 replies
Nar Sih
siip lanjutt kakk
Ray Aza
jangan terlalu lama berkutat dgn konflik sayang, keburu pembacanya kabur nanti. konflik boleh tp hrs dibarengi alur cerita yg berkembang jg jgn berhenti dikonflik trs. nti kek cerita seblmnya, kelamaan di mslh klimak cerita malah ga dpt. pas tokoh utama menang mlh rasanya jd b aja
Lucy: oke deh, thanks masukannya🫶
total 1 replies
Nar Sih
ternyata org yg kelihatan baik ternyata musuh ,dan untung nya ada yg nolongin murni disaat yg tepat
Nar Sih
sebetul nya sku bingung dgn crita ini kak ,masih penasaraan dgn siapa kaan kok murni ikut jdi korban nya
Lucy: masih berlanjut kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!