Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Rumit
Terimakasih yang udah baca bab ini. Tungguin terus ya.
•
•
"Aku duluan ya."
"Oke, hati-hati, Al," kata Siska sebelum wanita itu melangkah keluar dari kantor tepat pukul 17.00 lewat sedikit.
Langit mulai temaram, angin sore berembus pelan, dan keriuhan kota mulai terasa. Alina berdiri di trotoar, menunggu taksi daring yang sudah dipesannya. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri dengan tatapan gelisah.
"Tumben lama banget," gumamnya lirih.
Tak jauh dari sana, Revan duduk di balik kemudi mobilnya, sementara Devi berada di sampingnya. Mereka mengamati Alina dari kejauhan.
"Maaf, Neng. Tadi terjebak macet sebentar," ujar sopir taksi saat mobilnya akhirnya berhenti di depan Alina.
“Enggak apa-apa, Pak,” sahut Alina dengan senyum tipis sebelum masuk ke dalam kabin.
Pintu tertutup, dan taksi itu pun melaju.
Mobil Revan perlahan mengikuti dari belakang, menjaga jarak agar kehadirannya tidak disadari. Namun, mereka bukan satu-satunya yang menuju ke sana. Dari arah lain, sepasang suami istri juga tengah berkendara menuju kediaman Alina.
Di dalam mobil, Revan melirik ponselnya yang menyala di dashboard.
“Bantu angkat, Sayang,” pintanya pada Devi tanpa mengalihkan fokus dari jalanan.
Devi meraih ponsel tersebut dan membaca nama yang tertera di layar.
“...Mama kamu yang telepon, Van.”
“Jawab saja.”
Devi sempat ragu sebelum akhirnya menggeser tombol hijau. “Ha... halo, Tante.”
“Di mana putraku?” tanya Jesika dengan nada bicara yang datar.
Devi melirik Revan sekilas. “Lagi menyetir, Tante,” jawabnya pelan.
“Ada apa, Ma?” sahut Revan langsung.
“Kamu sudah menjemput Rania, kan?”
“Sudah. Dia aku titipkan di rumah Devi. Di sana juga ada Rio,” jawab Revan.
“Kenapa kamu bawa ke situ!?” suara Jesika terdengar penuh kekesalan.
“Enggak apa-apa, Ma. Daripada Rania cuma di rumah sama pembantu. Lebih baik di sana,” balas Revan.
Keheningan sempat tercipta sejenak.
“Mama sekarang sudah menemukan alamat rumah Alina,” kata Jesika tiba-tiba.
“Apa!?” Revan terperanjat.
“Dan sekarang Mama sama Papa lagi dalam perjalanan ke sana.”
Revan dan Devi saling melempar pandang.
“Kamu juga harus datang,” lanjut Jesika memerintah.
“Ma... ada yang ingin aku bicarakan juga ke Mama,” ucap Revan dengan nada bicara yang lebih serius.
“Apa?”
“Nanti saja, kalau kita sudah bertemu.”
“Hm. Baiklah.”
Setelah sambungan terputus, Devi meletakkan kembali ponsel Revan.
“Mama kamu ke sana juga?” tanya Devi memastikan.
“Hum,” gumam Revan, matanya menatap lurus ke depan. “Nanti kita bicarakan ke Mama... kalau aku mau tes DNA Aeris.”
Taksi yang ditumpangi Alina akhirnya sampai di depan rumahnya. Setelah membayar, Alina bergegas masuk dengan langkah seribu, merasa cemas karena sudah terlalu lama meninggalkan Aeris sendirian.
Mobil Revan berhenti tak jauh dari rumah itu.
“Di sini dia tinggal...” gumam Revan, mengamati bangunan di depannya.
“Enggak jauh dari kantor ternyata,” sahut Devi.
Revan tersenyum miring. “Dulu dia sering menghina kamu tinggal di rumah butut... Tapi sekarang? Lihat saja sendiri... dia malah tinggal di tempat seperti ini.”
“Sudahlah... jangan diungkit lagi,” balas Devi lembut.
“Kita menunggu Mama kamu di sini?” tanya Devi lagi.
"Hum, aku harus cegat Mama sebelum dia menemui mereka," kata Revan.
••••
“Mama nggak bawa apa-apa buat Aeris?” tanya bocah itu begitu Alina selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar.
“Maaf, Mama lupa,” jawab Alina sambil meringis merasa bersalah.
“Padahal Aeris sudah nunggu martabak manis dari Mama!” gerutunya sambil cemberut dan menyilangkan tangan di dada.
“Nanti kita beli, ya.”
“Mama beneran lupa, saking semangatnya mau cepat-cepat ketemu kamu.”
“Sekarang Aeris tagih janji Mama buat cerita soal keluarga Om Toilet!” serunya tiba-tiba, menarik tangan Alina menuju sofa.
“Mm... nggak mau makan dulu?” Alina mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aeris sudah kenyang!” jawabnya cepat. “Ayo, Ma! Cerita!”
Alina tersenyum pasrah dan duduk di samping Aeris yang kini menatapnya dengan sangat serius.
“So?” tanya Aeris penasaran.
“Kamu mau tahu... hubungan Mama sama mereka?”
Aeris mengangguk penuh semangat.
“Jadi... Nenek Kamelia dan Tante Jesika itu dulu bersahabat, sudah lama sekali,” ujar Alina perlahan.
“Mereka sangat dekat, sampai akhirnya Mama dijodohkan dengan anaknya...”
Alina terdiam, ingatannya kembali terlempar ke masa lalu.
•
•
“Ini alamatnya, Pa?” tanya Jesika.
Felix mengangguk pelan. Namun, perhatian Jesika justru teralih pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka.
“Itu... sepertinya mobil Revan deh, Pa,” ucapnya sambil mengernyitkan dahi.
“Mungkin dia sampai duluan.”
Keduanya pun turun dari mobil. Jesika mendekati mobil yang kaca depannya tertutup rapat itu. Karena penasaran, ia menempelkan wajahnya ke jendela—dan di detik berikutnya, matanya membelalak sempurna saat melihat dengan jelas Revan sedang mencium Devi di dalam mobil.
Brak! Brak! Brak!
Jesika seketika menggedor kaca pintu mobil tersebut.
Sontak Devi dan Revan tersentak kaget. Devi buru-buru mendorong dada Revan, sementara pria itu hanya berdecak kesal melihat mamanya dari balik jendela.
"Mengganggu momen orang saja," gerutunya pelan.
Devi berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Wajahnya pucat pasi dan gugup, takut jika wanita itu akan memarahinya habis-habisan.
"Ayo turun," kata Revan tenang.
"Ta... tapi..."
"Nggak apa-apa. Biar Mama tahu kalau aku sama kamu memang harus dinikahkan."
Begitu Revan keluar dari mobil, tanpa basa-basi, Jesika langsung menghadiahi putranya sebuah pukulan kencang.
"Bisa-bisanya kamu bermesraan di mobil!? Apa kamu menjadikan dia sekretaris kamu supaya kamu bisa terus berduaan dengannya, ha!?"
"Ma, makanya restui aku sama Devi nikah," jawab Revan dengan nada datar, seolah tanpa beban.
"Ma, sudah," potong Felix mencoba menengahi.
Jesika menatap tajam ke arah Devi yang baru saja turun. Ia mengeram pelan saat melihat bekas kemerahan di leher gadis itu.
"Sekarang kita sudah di sini, ayo kita temui Alina dan selesaikan semuanya baik-baik," ajak Felix sambil mulai melangkah.
"Tunggu, Pa!" Revan cepat-cepat menahan langkah ayahnya.
"Kita tidak akan menemui Alina sekarang. Aku sudah memikirkan cara lain untuk mencari tahu siapa sebenarnya Aeris."
"Kenapa lagi!? Kita sudah di depan rumahnya!" seru Jesika emosi.
"Jangan terburu-buru, Ma. Aku ingin melakukan tes DNA pada Aeris. Dengan begitu, setelah hasilnya keluar, semuanya akan jelas," jelas Revan.
"Tes DNA?" ulang Felix dengan dahi berkerut.
"Iya, Pa. Nggak usah pusing memikirkan siapa ayah Aeris. Lakukan saja tes DNA. Kalau terbukti dia anakku, aku akan tanggung jawab. Tapi kalau tidak, aku lepas tangan dan masalah ini selesai. Jadi Mama bisa kasih restu buat aku dan Devi melangkah ke jenjang selanjutnya," papar Revan panjang lebar.
"Bagaimana kamu akan melakukan tes itu? Bagaimana kita akan menemui Aeris?" tanya Felix lagi.
"Tenang saja, itu gampang. Yang penting sekarang kita sudah tahu lokasi rumah mereka," kata Revan dengan senyum tipis yang penuh rencana.
Jesika terdiam. Matanya menatap rumah sederhana milik Alina. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang—ada pergolakan antara yakin atau tidak bahwa Aeris adalah cucunya.
"Kalau kita menanyainya langsung, dia pasti akan mengelak," tambah Revan. "Jadi lebih baik kita lakukan tes DNA."
"Tanpa sepengetahuan Alina?"
"Ya," jawab Revan mantap.
Jesika menatap tajam putranya.
"Kalau terbukti Aeris itu anak kamu, dan Alina sampai kabur membawa Aeris gara-gara kamu sama Devi... Mama akan persulit hubungan kalian!" ancam Jesika serius.
Devi menelan ludah dengan susah payah. Ketegangan menyelimuti wajahnya, sementara Revan tetap memasang ekspresi santai.
"Kalau begitu... aku buat Devi hamil saja, biar Mama nggak punya pilihan lain selain menikahkan kami."
"Argh! Sakit, Ma!"
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏