NovelToon NovelToon
Dipanggil Ke Dunia Lain Untuk Kedua Kalinya

Dipanggil Ke Dunia Lain Untuk Kedua Kalinya

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Dunia Lain / Fantasi Isekai / Elf / Harem / Menyembunyikan Identitas / Light Novel / Tamat
Popularitas:97.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

[Note : Update jika Author tidak sibuk]

Seorang siswa bernama Ash Kisaragi mendapati dirinya terpanggil ke dunia lain bersama teman sekelasnya. Kala itu mereka bertemu dengan seorang Dewi dan mendapatkan sebuah skill sesuai dengan yang mereka inginkan sebagai bekal ke dunia lain. Namun, berbeda dengan teman sekelasnya Ash mengambil semua skill yang tidak masuk dalam kategori skill petarung.

Setelah perpindahan dunia, Ash langsung pergi meninggalkan teman satu kelasnya. Ternyata ini bukan kali pertama Ash dipanggil ke dunia lain, ia tak ingin menjadi seorang pahlawan dan ingin hidup santai.

Namun ada begitu banyak masalah yang datang padanya, hingga ia bertemu dengan dewi yang pernah memanggilnya di pemanggilan pertama. Setelah itu Ash kembali mengemban nasib dunia, sebuah misi baru telah terukir padanya.

Kisah Pahlawan Yang Pernah Mengalahkan Raja Iblis Dan Dipanggil Kembali Untuk Menjadi Pahlawan Sekali Lagi. Namun kali ini musuh utamanya bukanlah raja iblis melainkan dewa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Misi Yang Telah Terukir Kembali

Di Ibu Kota Kerajaan, Keesokan Paginya Setelah Parade Pahlawan

Setelah parade yang meriah, para pahlawan kini berkumpul di lapangan latihan kerajaan. Udara pagi terasa segar, tetapi ketegangan di antara mereka semakin mengental. Di hadapan mereka, tujuh sosok berdiri dengan aura yang begitu kuat hingga membuat suasana menjadi berat. Mata para pahlawan beralih satu per satu ke arah para instruktur yang akan melatih mereka.

Setiap dari tujuh instruktur itu memancarkan energi yang begitu dahsyat, bahkan sebagian pahlawan merasakan tubuh mereka gemetar tanpa sadar. Mereka tidak bisa bergerak akibat tekanan aura yang mengelilingi mereka, seperti dilingkupi oleh kekuatan yang tak terlihat tetapi sangat nyata.

Seorang Dragonoid yang tampak paling mencolok maju ke depan. "Hari ini, aku yang akan menjadi instruktur kalian," suaranya dalam dan tegas. "Namaku Veldora. Ingat baik-baik, karena kalian akan banyak berurusan denganku."

Sebuah suara lembut terdengar dari arah Dryad, seorang gadis dengan rambut hijau daun yang tampak seperti peri hutan. "Apa Veldora saja yang akan mengajar mereka hari ini?" tanyanya dengan mata berkilau penuh penasaran.

Veldora melirik ke arahnya dengan senyum tipis. "Ya, cukup aku saja. Ini akan lebih dari cukup untuk mereka hari ini," balasnya singkat.

"Kalau begitu, kami pamit dulu." Tanpa basa-basi, para instruktur lainnya—seorang Elf, Beastman, Flugel, Dwarf, Seiren, dan Dryad—perlahan meninggalkan lapangan, membiarkan Veldora yang memulai pelatihan hari itu.

Begitu instruktur lain meninggalkan lapangan, pelatihan pun dimulai. Sejak saat itu, para pahlawan memasuki dunia pelatihan yang benar-benar seperti neraka. Tak ada waktu untuk beristirahat atau mengeluh. Mereka berlatih seperti sedang menghadapi pertempuran nyata; serangan, pertahanan, dan sihir dipraktikkan tanpa henti. Setiap kali mereka terluka, sihir penyembuhan segera diterapkan, namun bukannya memberi mereka jeda, mereka justru dipaksa kembali ke arena latihan secepat mungkin. Proses ini terus berulang, membiarkan mereka merasakan kelelahan yang amat dalam, baik secara fisik maupun mental.

Suara tawa keras Veldora sering kali terdengar di tengah jeritan lelah para pahlawan. "Kalian ingin menjadi pahlawan, bukan? Jangan tunjukkan wajah menyerah di depanku!"

Hari demi hari pelatihan neraka ini akan berlanjut, dengan instruktur yang bergantian setiap harinya. Setiap instruktur memiliki metode pelatihan yang berbeda, tetapi satu hal yang pasti—mereka tidak akan membiarkan para pahlawan ini menjalani tugas mereka dengan setengah hati.

...----------------...

Ruang Makan Istana, Sore Hari Setelah Pelatihan

Di dalam ruang makan istana, suasana sangat berbeda. Para pahlawan duduk dengan wajah lesu, menikmati waktu makan mereka dengan penuh rasa syukur. Momen makan ini seperti oase di tengah padang pasir bagi mereka—kesempatan untuk meredakan lelah tubuh dan pikiran setelah hari yang begitu berat.

Piring-piring berisi daging panggang dan sayuran mengisi meja, tetapi tidak ada yang berbicara banyak. Para pahlawan hanya fokus pada satu hal—memulihkan energi mereka.

Ketika pintu ruang makan terbuka, sang Raja muncul bersama dengan beberapa anggota Seven Stars of Hope. Kehadiran mereka membuat suasana ruangan berubah seketika.

"Bagaimana pelatihan hari ini?" tanya Raja, suaranya tegas tetapi ramah.

Para pahlawan serentak menundukkan kepala, tidak ada yang ingin menjawab secara langsung. Rasa lelah terpancar dari wajah mereka, dan mereka hanya menghela napas panjang sebagai respons.

Namun, sebelum suasana menjadi canggung lebih lanjut, seorang kesatria tiba-tiba memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. "Yang Mulia! Saya membawa kabar penting!" katanya dengan napas terengah-engah.

Raja memandangnya serius. "Ada apa?"

"Stampede, Yang Mulia! Kota Ranvel sedang diserang oleh Stampede yang dipimpin oleh Naga Hitam!" Kesatria itu terdengar cemas. "Selain itu... jumlah monsternya sangat banyak, lebih dari yang pernah kami perkirakan."

Wajah Raja memucat sejenak, tetapi segera ia mengalihkan pandangannya ke arah Seven Stars of Hope. "Veldora, apa kau bisa—"

"Ya, kami akan segera berangkat ke sana," jawab Veldora sebelum Raja sempat menyelesaikan kalimatnya.

Namun, belum sempat mereka bergerak, seorang kesatria lain bergegas masuk. "Yang Mulia! Stampede telah berakhir dengan kemenangan kota Ranvel!"

Raja terdiam, matanya melebar dengan terkejut. "Bagaimana mungkin... dua laporan yang berbeda datang begitu cepat?"

Dryad yang bernama Lily tersenyum lembut. "Itu karena pesan pertama dikirimkan lewat elang pembawa pesan, sementara yang kedua melalui Magic Item: Scroll Message. Waktu pengantaran jelas berbeda."

Kesatria itu mengangguk setuju. "Ya, tepat sekali, Nona Lily."

Raja menghela napas lega, tetapi masih penasaran. "Bagaimana cara kota Ranvel memenangkan pertempuran itu?"

"Menurut laporan, seluruh monster lenyap hanya dengan satu sihir yang dilemparkan oleh seorang pemuda berambut hitam. Ia juga berhasil mengalahkan Naga Hitam seorang diri," jelas kesatria itu.

Ruangan itu seketika sunyi. Sihir... hanya dengan satu sihir bisa menghancurkan lautan monster dan menaklukkan naga hitam? Semua yang ada di ruangan itu saling memandang dengan penuh rasa tidak percaya.

"Extinction Ray," lanjut kesatria itu. "Itulah nama sihir yang dia gunakan, bahkan para penyihir istana tak pernah mendengar tentang sihir ini sebelumnya."

Seorang Elf yang bernama Elvina terdiam, tangannya menyangga dagu, pikirannya terlihat terganggu oleh sesuatu. "Extinction Ray... satu-satunya orang yang kukenal yang mampu menggunakan sihir ini adalah..."

"Ash," batinnya berbisik, matanya terbelalak dalam kejutan.

"Elvina?" Veldora menatapnya dengan heran, tetapi Elvina tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat menggeleng.

"Maaf, aku hanya mengingat sesuatu," jawab Elvina dengan nada datar, tetapi pikirannya masih tertuju pada sosok Ash.

...----------------...

Di Kota Ranvel, Bagian Pinggiran Kota

Di pinggiran kota Ranvel, meskipun serangan Stampede telah usai, suasana tetap ramai. Sebuah toko kecil yang terletak di sudut kota menjadi pusat perhatian. Toko itu menjual berbagai macam peralatan, ramuan, hingga beberapa senjata dalam jumlah terbatas. Di luar pintu, beberapa penduduk berkumpul, mengantri untuk membeli keperluan mereka.

Di dalam toko, Luna, dengan rambut hitam panjangnya, tampak sibuk memeriksa rak-rak ramuan. "Hei, apa kita masih punya stok Heal Potion?" tanya Luna sambil menoleh ke arah ruang kerja di belakang.

Ash, pemilik toko dan juga seorang petualang dengan rambut hitam, menjawab dari balik meja kerjanya. "Maaf, stok yang ada di rak itu adalah yang terakhir. Bahan-bahan untuk membuatnya sudah habis, kita harus menunggu kiriman berikutnya."

Toko Ash memang ramai sejak serangan Stampede beberapa hari lalu. Semua orang datang ke toko ini berkat rekomendasi para gadis dan karena perannya dalam menghentikan Stampede. Meski demikian, Ash menjalani hari-harinya dengan damai. Berkat kemampuannya yang luar biasa, ia berhasil mengembangkan berbagai Job miliknya hingga ke level maksimal, yang memberinya banyak kemampuan baru, termasuk Dismantle, Magic Seal Item, Smelting, dan Inventory.

Ash tersenyum kecil saat merenung sejenak tentang kemampuannya yang baru. Dismantle membuatnya mudah memisahkan material dari monster dan tanaman tanpa mengurangi kualitasnya. Magic Seal Item memungkinkan peralatan dan furnitur diubah menjadi bentuk portabel yang mudah dibawa. Smelting memungkinkan Ash melebur berbagai mineral hingga Kristal Ajaib, sementara Inventory menciptakan ruang tanpa batas untuk menyimpan barang, menjadikannya skill impian bagi setiap pedagang.

Semua ini membuat hidup Ash lebih mudah, terutama saat toko mulai kehabisan stok dan ia harus sering berurusan dengan material untuk pembuatan barang-barangnya.

Hampir satu bulan berlalu sejak pembukaan toko, dan kini masa sewa bangunan sudah hampir habis. Ash telah menyiapkan sebuah kereta kuda yang akan membawanya dan para gadis ke ibu kota. Selain itu, ada tujuan lain yang ingin dicapai Ash—mengambil senjata legendaris miliknya yang disimpan di ibu kota.

Di luar toko, Luna menyapu pandangannya ke arah kereta kuda yang sudah siap di depan pintu. "Apa semua barang sudah dimasukkan?" tanyanya dengan wajah serius.

Ash, yang muncul dari dalam toko, memeriksa kereta sebentar. "Ya, sebagian besar barang sudah ada di Inventory. Yang tersisa di sini hanya barang-barang pribadi kalian."

Para gadis—Luna, Koharu, Tama, dan Azusa—saling melirik dan mengangguk, memastikan tak ada yang tertinggal. "Sudah semuanya," jawab Koharu meyakinkan.

Ash menutup pintu toko untuk terakhir kalinya dan mengangguk dengan lega. "Kalau begitu, aku akan membawa kereta ke gerbang kota. Bisa kalian mampir ke Guild dan mengambil misi pengantar surat yang searah dengan tujuan kita ke ibu kota?"

Luna melirik ke arah teman-temannya sejenak sebelum menjawab, "Ya, kurasa itu bisa diatur."

"Bagus, dengan begitu kita bisa mendapat sedikit uang tambahan selama perjalanan," ujar Ash dengan senyum penuh arti. "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui."

Di kepalanya, Ash teringat seseorang—Erine. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dewi misterius itu muncul. Dalam beberapa minggu terakhir, Erine hanya muncul sesekali, memberikan informasi penting tentang dunia dan kejadian-kejadian besar. Ash sedikit bertanya-tanya, ke mana perginya Erine saat ini?

Namun, pikiran itu segera ia abaikan. Fokusnya kini adalah perjalanan ke ibu kota. Beberapa menit berlalu, para gadis akhirnya tiba di gerbang kota membawa selembar kertas misi dari Guild. Misi itu adalah pengantaran surat ke Kota Sirius, sebuah kota yang terletak tidak jauh dari ibu kota.

Ash tersenyum puas melihat para gadis sudah siap. "Kalau begitu, ayo kita berangkat."

Dengan satu gerakan, Ash memacu kereta kuda mereka, menuju ibu kota yang kini menunggu mereka dengan tantangan dan petualangan baru yang tak terduga.

1
Nadja 🎀
kpn Next chapter???
Protocetus
kapan lanjut lagi?
Jakaria Hidayat
Luar biasa
Frando Wijaya
btw next Thor 😃
Frando Wijaya
hmm....apakh ada next eps lg? d lht lg blom selesai cerita ini
Europa.
mantep ngeharem dah tuh🗿
Sena Sena: JJk cok katanya penyendiri mau hidup tenang jadi orang biasa lah malah ngizinin si beban² ikut.. apalah
total 1 replies
Europa.
bahh serasa nonton hittoribocchi eps 2🗿
Europa.
hitoribocchi/Sweat/
Europa.
ahh/Sweat/
Europa.
yoshh heroin kahh
Europa.
wajarlah, pengen jdi mc mereka🗿
Europa.
tmnnya tachibana😭
Europa.
baca jdul jdi keinget suatu anime🗿
Story
Entah kenapa kok aku rada geli ya/Sweat/
Story
Apa-apaan ini
Story
Nikmatilah selagi kau belum melihat sisi buruknya. /Skull/
Story
Jangan terlalu terobsesi dengan dunia fantasy nanti kena mental saat melihat sisi buruk dari dunia yang kalian impikan. /Skull//Skull//Skull/
Story
Sudah aku duga. /Skull/
Story
Kok gk asing. Apa kau pake ChatGPT buat review kah thor, atau buat penyempurnaan aja?
Katsumi: gak terlalu beda sama naskah aslinya, paling cuma benerin beberapa kata aja
total 2 replies
Story
Bau² ketakutan akan kematian tercium/Skull//Skull//Skull/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!