NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: JARAK YANG BERBICARA 2

Mentari pagi kembali menyinari kawasan proyek di pedalaman Borneo.

Kabut yang semalam menyelimuti pepohonan perlahan menghilang, digantikan deru mesin alat berat yang kembali bekerja tanpa mengenal hari. Truk-truk bermuatan material melintas bergantian di jalan tanah merah, meninggalkan jejak debu yang beterbangan setiap kali roda besarnya menghantam permukaan jalan.

Rangga tiba di bangunan percetakan lebih awal daripada biasanya.

Ia baru saja membuka pintu gulung ketika suara notifikasi surat elektronik bertubi-tubi terdengar dari komputer kerjanya.

Satu.

Dua.

Lima.

Lalu terus bertambah.

Rangga menarik kursinya dan segera membuka kotak masuk.

Sebagian besar berasal dari divisi proyek.

Revisi gambar kerja.

Permintaan papan informasi.

Denah jalur evakuasi.

Dokumen keselamatan kerja.

Hingga perubahan desain mendadak yang harus selesai sebelum rapat koordinasi siang nanti.

Rangga mengembuskan napas perlahan.

"Hari ini bakal panjang."

Belum sempat ia menyalakan mesin cetak, Doni sudah datang sambil membawa beberapa gulungan bahan cetak dari gudang.

"Pagi, Mas."

"Pagi."

Doni meletakkan gulungan itu di dekat meja kerja.

"Tadi bagian logistik nitip pesan."

"Apa?"

"Mereka minta tambahan lima belas papan penunjuk arah. Katanya ada pembukaan jalur baru."

Rangga mengangguk sambil mencatatnya di buku kerja.

"Masukkan ke antrean setelah denah keselamatan."

"Siap."

Belum lama mereka mulai bekerja, seorang staf administrasi proyek datang tergesa-gesa.

"Mas Rangga."

"Iya?"

"Bisa dibantu revisi cetakan ini? Direksi minta ukuran logonya diperbesar."

Rangga menerima berkas itu.

"Rapatnya jam berapa?"

"Jam sebelas."

Ia melirik jam dinding.

Masih pukul delapan lewat dua puluh.

"Cukup."

"Insyaallah selesai."

Staf itu mengangguk lega sebelum kembali berlari menuju kantor administrasi.

Doni tersenyum kecil.

"Mas baru beberapa minggu di sini, tapi semua orang sudah langsung cari Mas."

Rangga tetap menatap layar komputer.

"Bukan cari aku."

"Mereka cuma butuh pekerjaannya cepat selesai."

"Tetap saja."

Doni membantu memasang bahan cetak ke dalam mesin.

"Kalau hasil kerjanya mengecewakan, mereka juga nggak bakal datang terus."

Rangga tidak menjawab.

Ia lebih memilih memusatkan perhatian pada layar monitor yang dipenuhi berbagai desain.

Ucapan Doni memang ada benarnya.

Kepercayaan tidak datang begitu saja.

Ia harus dibangun sedikit demi sedikit, lewat hasil kerja yang konsisten.

Waktu terus bergerak.

Suara mesin cetak tak pernah benar-benar berhenti.

Satu pekerjaan selesai.

Pekerjaan lain sudah menunggu.

Menjelang siang, meja kerja Rangga kembali dipenuhi map dan lembar revisi.

Bahkan makan siang yang telah disiapkan kantin baru sempat ia sentuh ketika nasi di piringnya mulai dingin.

"Mas..."

Doni berdiri di depan meja sambil membawa kotak makan.

"Istirahat dulu."

"Nanti."

"Kalau nanti terus, bisa sore."

Rangga baru mengalihkan pandangan dari monitor.

Ia tersenyum tipis.

"Baik, lima menit."

"Lima belas menit."

Doni mengoreksi sambil tertawa.

"Anggap saja perintah rekan kerja."

Rangga akhirnya menutup laptopnya.

Mungkin benar.

Tubuh juga membutuhkan jeda.

Karena mesin secanggih apa pun tetap harus dimatikan sejenak agar tidak mengalami panas berlebih.

Begitu pula manusia.

Meski memiliki mimpi sebesar apa pun, ia tetap membutuhkan waktu untuk menarik napas sebelum kembali melangkah.

Waktu istirahat siang terasa berlalu begitu cepat.

Belum sempat para pekerja menikmati secangkir kopi setelah makan, suara kendaraan operasional kembali memenuhi kawasan proyek. Aktivitas yang sempat melambat kembali bergerak dengan ritme yang sama padatnya seperti pagi tadi.

Rangga dan Doni sudah kembali berada di dalam bangunan percetakan.

Mesin cetak kembali berdengung tanpa henti.

Satu demi satu pesanan yang telah selesai disusun rapi sesuai divisinya masing-masing. Beberapa staf proyek datang silih berganti mengambil dokumen, sementara yang lain meninggalkan revisi baru di atas meja kerja.

"Mas Rangga."

Seorang staf dari divisi K3 masuk sambil membawa map biru.

"Maaf mengganggu lagi."

Rangga menoleh sambil tetap menggerakkan tetikus.

"Ada revisi lagi?"

"Iya, Mas."

Pria itu tersenyum canggung.

"Tadi pagi ada perubahan jalur evakuasi. Jadi petanya harus diperbarui."

Rangga menerima berkas tersebut.

Ia memperhatikan setiap perubahan dengan saksama sebelum mengangguk pelan.

"Baik. Saya kerjakan setelah pesanan yang ini selesai."

"Terima kasih, Mas."

Begitu staf itu pergi, Doni hanya bisa menggeleng sambil terkekeh.

"Belum selesai satu, datang lagi yang lain."

"Itulah proyek."

Rangga tetap tenang.

"Perubahannya cepat."

"Kalau kita lambat menyesuaikan, pekerjaan yang lain ikut tertunda."

Doni mengangguk setuju.

Ia semakin memahami mengapa Rangga jarang terlihat panik.

Bukan karena pekerjaannya sedikit.

Justru sebaliknya.

Pekerjaannya terlalu banyak untuk dihadapi dengan kepanikan.

Menjelang sore, layar komputer kembali menampilkan pemberitahuan surat elektronik baru.

Rangga membukanya.

Keningnya sedikit berkerut.

"Masalah lagi?"

tanya Doni.

"Bukan."

Rangga memutar layar monitornya.

"Permintaan tambahan."

Doni membaca sekilas daftar kebutuhan yang dikirim manajemen proyek.

Jumlah papan informasi bertambah.

Spanduk keselamatan ditambah.

Beberapa dokumen rapat juga diminta dalam ukuran besar.

"Besok pagi?"

"Iya."

Doni menghela napas.

"Berarti malam ini kita lembur."

Rangga tersenyum tipis.

"Sepertinya begitu."

Tak ada keluhan.

Keduanya langsung membagi pekerjaan.

Doni menyiapkan bahan cetak dan memotong media sesuai ukuran.

Sementara Rangga menyelesaikan seluruh desain dan memastikan setiap detail telah sesuai dengan standar yang diminta.

Matahari perlahan tenggelam.

Langit yang semula berwarna biru berubah jingga, lalu perlahan diselimuti warna keunguan.

Lampu-lampu di dalam bangunan mulai dinyalakan.

Suasana di luar semakin lengang.

Namun di dalam percetakan, suara mesin tetap bekerja tanpa mengenal waktu.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika pekerjaan terakhir akhirnya selesai dicetak.

Rangga meregangkan bahunya yang mulai terasa kaku.

Matanya sedikit perih karena terlalu lama menatap layar monitor.

Doni membawa dua gelas kopi panas yang baru dibuat dari dapur kecil di samping ruangan.

"Mas."

Rangga menerima gelas itu.

"Terima kasih."

Mereka duduk di depan bangunan, menikmati malam yang mulai sunyi.

Tak banyak percakapan.

Keduanya sama-sama menikmati jeda setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.

Beberapa menit kemudian, ponsel Rangga yang tergeletak di atas meja bergetar pelan.

Layar menyala.

Ada satu pesan masuk.

Nama pengirimnya membuat senyum kecil muncul di wajahnya.

Sari.

"Jangan lupa makan malam. Semoga hari ini lancar. 😊"

Rangga membaca pesan itu sekali lagi.

Lalu tanpa sadar melirik jam di layar ponselnya.

Pukul 20.17.

Ia baru teringat...

Sejak pagi tadi, ia belum sempat membuka aplikasi pesan sedikit pun.

Rasa bersalah tipis mulai menyelinap di dalam hatinya.

Segera ia mengetik balasan.

"Maaf baru sempat pegang HP. Hari ini banyak pekerjaan. Aku baru selesai sekarang. Alhamdulillah semuanya lancar."

Ia menekan tombol kirim.

Tak lama kemudian muncul tanda centang.

Namun belum berubah menjadi tanda telah dibaca.

Rangga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Mungkin Sari sudah beristirahat.

Atau mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta.

Ia mengembuskan napas pelan.

Malam itu, ia belum menyadari bahwa kesibukan yang terus bertambah perlahan mulai mengubah kebiasaan sederhana yang selama ini mereka jaga bersama.

Rangga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

Ia menghabiskan sisa kopi yang mulai mendingin, lalu berdiri dari bangku kayu di depan bangunan percetakan.

"Mari kita bereskan dulu sebelum istirahat," ujarnya.

Doni mengangguk.

Keduanya kembali masuk ke dalam ruangan.

Suara mesin yang sejak pagi bekerja tanpa henti kini telah benar-benar berhenti. Yang tersisa hanyalah dengung pelan pendingin ruangan dan aroma khas tinta yang masih menggantung di udara.

Rangga memeriksa hasil cetakan untuk terakhir kalinya.

Ia memastikan setiap dokumen telah dipisahkan sesuai divisi, kemudian menuliskan nama penerima pada masing-masing map agar tidak tertukar ketika diambil keesokan pagi.

"Sudah semua, Mas?"

tanya Doni.

Rangga menutup buku catatannya.

"Sudah."

"Besok tinggal diserahkan."

Doni mengembuskan napas lega.

"Hari ini lumayan juga."

"Bukan lumayan."

Rangga tersenyum kecil.

"Capek."

Mereka tertawa bersamaan.

Tawa singkat itu menjadi penutup hari yang panjang.

Saat berjalan kembali menuju mes, malam telah benar-benar larut.

Sebagian besar lampu di kawasan proyek mulai dipadamkan. Hanya beberapa titik penerangan yang masih menyala untuk petugas keamanan yang berjaga hingga pagi.

Langkah Rangga terasa lebih berat dibanding biasanya.

Tubuhnya lelah.

Punggungnya pegal.

Bahkan kedua matanya terasa enggan terbuka lebih lama.

Sesampainya di kamar, ia langsung meletakkan tas kerja di samping ranjang.

Ponselnya kembali ia keluarkan.

Belum ada balasan dari Sari.

Rangga membaca kembali pesan yang dikirim wanita itu.

"Jangan lupa makan malam. Semoga hari ini lancar."

Sederhana.

Namun cukup membuat hatinya terasa hangat.

Ia tersenyum tipis.

"Maaf ya, Sar..."

gumamnya pelan.

Ia ingin menelepon seperti biasanya.

Ingin mendengar suara Sari meski hanya beberapa menit.

Namun tubuhnya seakan kehilangan seluruh tenaga.

Rasa lelah mengalahkan niatnya.

Rangga meletakkan ponsel di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Besok saja..."

bisiknya lirih.

Tanpa sempat menyalakan kipas angin, ia merebahkan tubuh di atas ranjang.

Beberapa detik kemudian, napasnya mulai teratur.

Ia tertidur pulas.

Di atas meja, layar ponsel kembali menyala beberapa saat.

Sebuah balasan akhirnya masuk dari Jakarta.

"Alhamdulillah kalau lancar. Jangan terlalu capek, ya. Selamat istirahat."

Pesan itu tetap terkirim.

Namun tidak pernah terbaca malam itu.

Rangga telah lebih dulu terlelap setelah seharian menguras tenaga.

*****

Perubahan besar dalam sebuah hubungan sering kali tidak datang melalui pertengkaran atau kata-kata yang menyakitkan. Ia hadir perlahan, bersembunyi di balik rasa lelah, jadwal yang semakin padat, dan pesan-pesan yang baru sempat dibalas ketika hari hampir berakhir. Bukan karena kasih sayang memudar, melainkan karena kehidupan mulai menuntut ruang yang lebih besar di antara keduanya. Di situlah hati diuji, bukan hanya oleh jarak, tetapi juga oleh kemampuan untuk tetap saling memahami di tengah kesibukan yang terus bertambah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!