NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Mengidam

"Aya," panggil Naresta yang sedang duduk di kursi tepat di depan meja kasir.

"Iya, Mbak. Kenapa?" sahut Aya sambil menoleh dari arah rak.

Satu minggu telah berlalu sejak kejadian di toko. Setelah memasuki usia kehamilan yang semakin bertambah, baru kali ini Naresta mulai merasakan keinginan aneh terhadap makanan tertentu.

Perutnya pun mulai terlihat sedikit membuncit meskipun belum terlalu besar.

Naresta terdiam sambil memainkan ujung bajunya.

Aya yang melihatnya langsung mengernyit.

"Mbak kenapa?"

"Aku pengin sesuatu."

Aya mendekat.

"Pengen apa?"

Naresta menggeleng pelan.

"Nggak tahu."

Aya langsung memasang wajah bingung.

"Lho, Mbak pengin sesuatu tapi nggak tahu pengin apa?"

"Iya."

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Rasanya pengin makan sesuatu yang asem, pedas, tapi manis juga."

Aya semakin bingung.

"Itu makanan apa, Mbak?"

"Nah, itu dia. Aku juga nggak tahu."

Aya menahan tawa.

"Jangan-jangan mulai ngidam."

Naresta langsung menoleh.

"Kayaknya, deh."

Tiba-tiba Elvan muncul dari arah gudang sambil membawa satu dus mi instan.

"A-apa?"

Naresta menoleh kepada suaminya.

"Mas."

Elvan meletakkan dus tersebut.

"S-sayang m-mau a-apa?"

Naresta tersenyum kecil.

"Aku pengin makan sesuatu."

Elvan langsung mendekat dengan wajah serius.

"M-mau m-makan a-apa?"

Naresta kembali menggeleng.

"Nggak tahu."

Elvan terdiam.

Aya langsung terkekeh melihat ekspresinya.

"Mbak Naresta mulai ngidam, Mas."

Elvan menatap Aya, lalu kembali menatap istrinya.

"N-ngidam?"

"Iya, Mas."

Naresta mengangguk sambil mengusap perutnya.

"Kayaknya anak kita mulai minta yang aneh-aneh."

Elvan langsung menatap perut istrinya.

"B-bayi m-mau m-makan?"

Naresta dan Aya langsung tertawa kecil.

"Bukan bayinya yang makan langsung, Mas," jawab Naresta sambil tersenyum.

Elvan kembali menatap wajah istrinya.

"T-terus S-sayang m-mau a-apa?"

Naresta berpikir beberapa saat.

Kemudian matanya tiba-tiba berbinar.

"Mas..."

"I-iya?"

"Aku tahu aku mau apa."

Elvan langsung terlihat siap.

"A-apa?"

Naresta tersenyum lebar.

"Rujak."

Aya langsung mengangguk.

"Nah, akhirnya ketemu juga."

Naresta kembali mengusap perutnya sambil tersenyum puas.

"Tapi aku mau rujaknya yang buahnya masih dingin, bumbunya pedas, terus kacangnya banyak."

Elvan menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"I-iya. A-aku c-cari."

Aya langsung menahan tawa.

"Mas Elvan langsung gercep sekarang."

"Mas, jangan pergi sendiri. Aku tidak mau," ucap Naresta sambil cepat-cepat memegang tangan Elvan.

Elvan yang sudah hendak melangkah langsung berhenti.

"K-kenapa?"

Naresta menatap suaminya.

"Aku takut Mas kenapa-kenapa di jalan."

Elvan menundukkan kepalanya.

"T-tapi S-sayang m-mau r-rujak."

"Iya, aku mau rujak. Tapi bukan berarti Mas harus pergi sendiri."

Aya yang sejak tadi mendengarkan langsung menyahut.

"Mas Elvan memang jangan pergi sendiri. Biar nanti saya yang beli."

Naresta langsung menggeleng.

"Mbak Aya juga nggak usah. Toko lagi ramai."

"Terus rujaknya gimana, Mbak?"

Naresta terdiam sejenak.

Elvan kembali menatap istrinya.

"A-aku b-bisa."

Naresta menggeleng pelan.

"Aku tahu Mas bisa."

Ia menggenggam tangan suaminya lebih erat.

"Tapi aku tetap nggak tenang kalau Mas pergi sendiri."

Elvan tampak berpikir sejenak.

"L-lalu?"

Naresta tersenyum.

"Nanti kalau toko sudah agak sepi, kita pergi sama-sama."

Elvan langsung melihat perut istrinya.

"T-tapi S-sayang t-tidak b-boleh c-capek."

"Nggak capek, Mas. Kita cuma beli rujak."

Elvan masih tampak ragu.

Naresta terkekeh melihat wajah suaminya.

"Mas sekarang cerewet banget, ya."

"B-bayi h-harus d-dijaga."

"Iya, calon Ayah."

Aya yang berdiri di dekat mereka langsung tersenyum geli.

"Kalau begini, saya nggak tahu siapa yang sebenarnya ngidam. Mbak Naresta yang pengin rujak atau Mas Elvan yang panik."

Naresta tertawa kecil.

"Mas Elvan yang panik."

Elvan langsung menggeleng.

"T-tidak."

"Iya."

"T-tidak."

"Iya, Mas."

Elvan akhirnya terdiam, membuat Naresta dan Aya tertawa kecil melihat ekspresinya.

Tak lama kemudian.

Tring!

"Halo, Mbak."

Naresta langsung menoleh ke arah pintu.

"Eh, Mbak Rina. Sudah lama, ya, nggak mampir ke toko."

Rina tersenyum sambil berjalan masuk.

"Iya, Mbak. Kemarin suami saya sakit."

Naresta langsung menunjukkan wajah khawatir.

"Mas Dimas sakit? Sakit apa, Mbak?"

"Demam beberapa hari. Dia juga jadi susah makan, jadi saya nggak berani ninggalin dia terlalu lama."

"Ya Allah. Sekarang bagaimana kondisinya?"

"Alhamdulillah sudah baikan, Mbak. Makanya hari ini saya baru bisa keluar."

Naresta mengembuskan napas lega.

"Syukurlah. Saya kira kenapa sampai lama nggak kelihatan."

Rina kemudian memperhatikan Naresta yang duduk di kursi dekat kasir.

"Lho, Mbak Naresta kenapa duduk terus? Biasanya saya datang Mbak sibuk ke sana kemari."

Aya yang sedang menyusun barang langsung menyahut dari samping.

"Mbak Naresta sekarang nggak boleh kecapekan."

Rina mengernyit penasaran.

"Kenapa?"

Aya tersenyum lebar.

"Ada yang lagi isi."

Mata Rina langsung membulat.

"M-mbak Naresta hamil?"

Naresta tersenyum sambil mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit.

"Alhamdulillah."

"Ya Allah, Mbak!"

Rina langsung terlihat sangat bahagia.

"Selamat, ya!"

"Terima kasih, Mbak."

"Sudah berapa bulan?"

"Sekitar tiga bulan lebih."

Rina tersenyum lebar.

"Alhamdulillah. Mas Elvan pasti senang banget."

Naresta langsung melirik suaminya yang sedang berada tidak jauh dari mereka.

"Senang banget sampai sekarang jadi cerewet."

Elvan langsung menoleh.

"T-tidak c-cerewet."

Rina tertawa kecil.

"Lho, Mas Elvan dengar ternyata."

Naresta ikut terkekeh.

"Dengar kalau dibilang cerewet saja cepat."

Elvan berjalan mendekat sambil membawa sebotol air mineral untuk istrinya.

"M-minum d-dulu."

Naresta menerima botol tersebut sambil tersenyum.

"Nah, lihat sendiri, kan, Mbak?"

Rina tersenyum melihat perhatian Elvan kepada istrinya.

"Bagus dong, Mbak. Berarti Mas Elvan benar-benar menjaga Mbak sama calon bayinya."

Naresta mengangguk pelan.

"Iya. Aku juga senang, kok."

Rina tersenyum.

"Mbak, roti cokelat kayak biasanya, ya, Mbak."

Naresta langsung tersenyum mengerti.

"Buat Mas Dimas, ya?"

"Iya, Mbak. Dia kemarin sakit, makannya susah sekali. Tapi pas saya kasih roti cokelat, dia mau makan."

"Oh, pantesan."

Naresta langsung menoleh ke arah rak roti.

"Mas."

Elvan yang sedang merapikan barang langsung menoleh.

"I-iya, S-sayang?"

"Tolong ambilkan roti cokelat satu pak buat Mbak Rina, ya."

Elvan mengangguk.

"I-iya."

Ia segera mengambil satu pak roti cokelat dan membawanya ke meja kasir.

"I-ini."

"Terima kasih, Mas Elvan," ucap Rina sambil tersenyum.

"S-sama-sama."

Naresta menerima roti tersebut, lalu meletakkannya di depan Rina.

"Ini, Mbak."

Rina mengangguk.

"Mas Dimas sekarang kalau lihat bungkus roti ini langsung senang."

Naresta terkekeh kecil.

"Berarti benar-benar kesukaannya, ya."

"Iya. Kadang saya sampai harus sembunyikan satu buat besok. Kalau kelihatan, pasti minta lagi."

Aya yang mendengar dari samping langsung tersenyum.

"Lucu juga Mas Dimas."

Rina ikut tertawa kecil.

"Begitulah, Mbak."

Naresta tiba-tiba teringat sesuatu.

"Eh, Mbak Rina."

"Iya?"

"Mas Dimas ikut nggak?"

"Nggak, Mbak. Saya suruh istirahat di rumah dulu."

"Oh, baguslah. Biar benar-benar pulih."

Rina mengangguk.

"Iya. Nanti kalau sudah sehat betul, baru saya ajak kemari lagi."

Naresta tersenyum.

"Mas Elvan pasti senang ada temannya lagi."

"Mas Dimas juga senang kok, Mbak. Katanya akhirnya dia punya teman," ucap Rina sambil tersenyum.

Naresta langsung menoleh ke arah Elvan.

"Dengar itu, Mas?"

Elvan yang masih berdiri di dekat rak roti mengangkat wajahnya.

"A-apa?"

"Mas Dimas bilang dia senang punya teman seperti Mas."

Elvan terdiam beberapa saat.

Lalu senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.

"T-teman..."

"Iya," sahut Rina. "Kemarin waktu sakit juga dia sempat tanya kapan bisa ketemu Mas Elvan lagi."

Elvan langsung berjalan sedikit mendekat.

"D-dia t-tanya a-aku?"

"Iya, Mas."

Senyum Elvan semakin terlihat.

"A-aku j-juga s-senang."

Naresta menatap suaminya dengan senyum lembut. Selama ini Elvan memang tidak memiliki banyak teman. Ia lebih sering berada di rumah atau membantu Naresta di toko.

"Kalau Mas Dimas sudah sehat, ajak saja kemari, Mbak."

"Iya. Nanti saya ajak."

Elvan langsung menganggukkan kepalanya.

"A-ajak D-dimas."

Rina tersenyum.

"Iya, Mas."

Aya yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikut tersenyum.

"Wah, nanti Mas Elvan punya teman ngobrol."

Naresta terkekeh kecil.

"Kalau dua-duanya sama-sama pendiam, yang ada duduk berdua tanpa ngobrol."

Rina langsung tertawa.

"Bisa jadi, Mbak."

Elvan justru terlihat bingung.

"A-aku b-bisa n-ngobrol."

Naresta menoleh kepadanya.

"Iya, Mas. Aku tahu."

Ia tersenyum menggoda.

"Tapi kalau sama aku saja Mas lebih banyak dengarnya."

Elvan mengangguk polos.

"S-soalnya S-sayang b-banyak b-bicara."

Rina langsung menutup mulut menahan tawa.

Aya bahkan langsung membalikkan badan sambil tertawa.

Naresta menatap suaminya tidak percaya.

"Mas!"

Elvan hanya tersenyum kecil, seolah tidak merasa baru saja mengatakan sesuatu yang membuat istrinya terkena balasan.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!