Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Di Sembunyikan
Di dalam mobil Mahendra
" Jadi katakan, siapa pria beruntung itu yang bisa mendapatkan hati mu katakan pada ku. Dan kenapa kamu tidak pernah cerita sih sama kakak, Silla jangan sampai kamu pilih sesorang yang tidak jelas. " Gumam Mahendra penuh tanda tanya.
Gadis itu terkekeh pelan
" Aku udah kenal dia 2 tahun kak, kami menjalin hubungan jarak jauh karena aku di jogja dan dia di Singapura. Pertemuan kami 2 tahun lalu saat dia menjadi dokter forensik di sebuah kejadian di mana aku juga ada di sana sebagai dokter psikiater salah satu korban. " Silla menjalas semua kedekatan nya dengan calon suaminya itu.
" Nama nya Brayen Antonius. Dia dari keluarga baik baik kok latar belakang nya juga sangat baik, aku juga pasti sangat selektif mencari pasangan kak. " Silla benar-benar berusaha membuat Mahendra percaya akan pilihannya itu.
Mahendra hanya bisa diam mendengar dan menghela nafas nya pelan.
" Jika dia melakukan hal gila dan menyakiti mu katakan padaku maka akan aku buat dia tidak akan melihat matahari besok pagi. ".
" Kak Mahen kok gitu, belum juga apa apa udah ngancem gak lucu tau. " Silla mengerucut bibirnya mengoda Mahendra. Dia tahu jika Mahendra hanya khawatir akan dirinya bukan karena tidak menyukai pilihan nya.
" Kamu tahu, kakak laki-laki akan begitu terluka jika suatu saat nanti melihat adiknya yang dia jaga sebaik mungkin tiba-tiba terluka. Bukan dalam hal fisik saja tapi hati dan jiwa raga nya.. " Gumam Mahendra mengelus lembut puncak kepala Silla dengan penuh kasih sayang.
" Silla janji jika kak jika dia berani menyakiti Silla secara apapun itu maka Silla akan langsung menghubungi kak Mahen. " Gadis itu bergelayutan manja di lengan pria itu.
Mobil itu berjalan jauh di pusat kota di mana boutique yang selalu di datangi oleh keluarga keluarga kaya berada, Mahendra akan mewujudkan pernikahan yang dulu selalu di impikan adik sepupunya itu.
" Ah Silla lupa.. " Mahendra menatap gadis itu bingung.
" Lupa apa?. "
" Gadis yang ada di rumah tante Ratna rumah mu itu dia sudah pamit pergi tadi pagi kak. " Seketika Mahendra menghentikan mobil nya mendadak untung saja tidak ada mobil di belakang mereka.
" Kak Mahen... " Pekik Silla keras. Hampir saja keningnya terbentur mobil akibat Mahendra mengerem mendadak.
" Pergi kemana, kenapa tidak ada yang menghubungi ku. Kakak minta Silla, kakak kaget tadi kamu ngomong kalau Intan pergi dari rumah Cendana. " Mahendra dengan cepat menepikan mobilnya agak jauh dari jalanan.
" Wajahnya panik, ada sesuatu yang dia sembunyikan. " Batin Silla diam.
" Kapan dan dia bilang mau ke mana?. "
Silla mengedipkan mata nya pelan.
" Silla gak tau, katanya dia mau membuka lembaran baru hidup nya di rumah baru yang dia beli. Karena kalau terus di rumah itu dia akan teringat terus tentang kenangan lama nya. Tadi om Agung juga bilang untuk nunggu kakak pulang tapi dia berfikir jika kak Mahen pasti lagi sibuk banget. " Jelas Silla membuat Mahendra terdiam.
" Kakak kenapa sih?. "
" Kita gak jadi ke boutique ya, kita kerumah Intan kakak khawatir dengan keadaannya. Atau jika kamu mau kakak anter ke boutique dan nanti kamu pulang bawa mobil kakak biar nanti kakak pesen tadi saja. " Silla semakin bingung dengan sikap Mahendra pada Intan.
" Intan ikut kakak aja. " Mahendra tersenyum singkat kemudian langsung tancap gas pergi menuju rumah Intan yang jaraknya cukup jauh dari perkotaan.
***
Sore hari yang sepi. Intan hanya terdiam beberapa jam lalu gadis itu sudah berbelanja dan berkenalan dengan penduduk desa itu yang cukup ramah padanya.
Intan membeli banyak keperluan untuk dirinya dari makanan bahan pokok bumbu dan segalanya, rumah itu sudah nampak hidup tinggal besok gadis itu berencana membersihkan rumput di halaman nya.
Jam sudah menujukan pukul 18.15 malam lampu lampu jalan nampak sudah hidup dari tadi beberapa anak anak berlarian menuju masjid di ujung desa, rumah yang Intan pilih adalah rumah dengan jalanan tidak pernah sepi karena menjadi jalan pokok desa itu.
" Seandainya masih ada ibu pasti beliau seneng banget liat anak anak yang berlarian ke masjid. " Gumam Intan pelan kemudian segera masuk kedalam rumah menutup rumah nya dengan rapat menyambut malam.
Tak lama gadis itu membuat secangkir teh hangat untuk nya terdengar suara ketukan pintu rumah nya yang membuat nya heran siapa yang bertamu kerumah nya itu.
" Apa tetangga yang ingin melihat ku?. " Gumamnya pelan meletakan secangkir teh nya ke atas meja dan bergegas membuka pintu.
" Iya tunggu sebentar. " Seru nya keras.
Clek
" Intannnn... " Silla dengan semangat langsung memeluk gadis itu dengan erat. Sedangkan mata gadis itu tertuju pada Mahendra yang menatapnya diam.
" Dokter Silla dan kak Mahen kok kesini?. Ah maksud Intan kenapa kalian berkunjung tanpa memberitahu Intan?. Ayo silakan masuk.. " Intan mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah.
" Makasih Intan, tadi kak Mahendra yang ngajak aku kesini dia seperti khwatir banget sama kamu jadi kami disini sekarang. " Ucap Silla dengan semangat.
" Kalian duduk dulu Intan buatkan teh yah, pasti dingin kan berjalan kaki ke sini. " Gadis itu langsung bergegas menuju dapur yang ada di berbeda ruangan dengan ruang tamu itu.
" Kamu tunggu di sini kakak mau ke dapur sebentar. " Mahendra berdiri dan meninggal kan Silla sendiri di ruang tamu yang merasa aneh dengan sikap Mahendra.
" Sebenarnya mereka kenapa sih, apa mereka punya hubungan spesial?. " Batin Silla penasaran.
Di Dapur Intan
" Hey, kenapa tidak memberitahu ku jika kamu mau pergi dan kenapa semendadak ini Intan?. " Mahendra datang dan langsung membalik tubuh mungil Intan memojokan gadis itu pada meja dapur di rumah nya.
" Intan... Intan hanya mau sendiri kak, lagian kita tidak lebih dari seorang teman dan anak majikan jadi Intan atau pun kak Mahendra tidak memiliki ikatan emosional di mana kita harus saling tahu tentang semua hal kak. " Ucap Intan pelan dan juga terkejut.
" Intan aku tahu kita tidak memiliki hubungan apapun dan kita baru saja kenal, tapi bik Ami menitipkan kamu sama aku dan itu aku anggap sebagai amanat Intan. Jika terjadi sesuatu pada mu bagaimana?. " Intan melihat kilau kekhawatiran yang tulus dari mata Mahendra.
" Jika seperti ini terus rasa nya akan semakin jelas dan besar kak, aku takut jika semua nya semakin menjadi. Kita tidak akan pernah bisa bersama dan aku akan pastikan itu semua. " Batin Intan pedih.
" Aku hanya mengkhawatirkan mu Intan itu saja tidak lebih, maaf jika aku terlalu over sama kamu atau membuat mu takut.. " Mahendra memundurkan tubuh nya memberi jarak pada gadis itu.
Intan menunduk sedih saat tubuh itu menjauh darinya. Mahendra nampak mengacak rambut nya kesal dan terlihat menghela nafas nya beberapa kali.
" Aku sedang bingung ada apa dengan ku, kenapa hati ku gelisah saat mendengar gadis itu pergi dan tidak bisa dekat dengan nya lagi. " Batin Mahendra berkecamuk.
" Ada ikatan emosional di antar mereka yang belum mereka sadari sendiri atau memang mereka sembunyikan?. " Gumam Silla dari kejauhan melihat keintensan kedekatan Mahendra dan Intan.