Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Undangan Arisan
Kehidupan rumah tangga di mansion Ardiansyah berjalan semakin harmonis, namun ketenangan Kimberly kembali diuji oleh hal yang sama sekali di luar dugaannya.
Bukan karena ancaman bom atau serangan musuh, melainkan selembar surat undangan berwarna merah muda dengan aroma parfum mawar yang sangat menyengat.
Pagi itu, Kimberly duduk di meja makan sambil membolak-balik surat tersebut, keningnya berkerut dalam.
"Ada apa, Kim?" tanya Justin yang baru saja duduk di kursinya.
Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja tanpa dasi, tampak jauh lebih santai, di samping piringnya, segelas jamu kunyit asam buatan Kimberly sudah tersaji hangat menggantikan brotowali yang kemarin sempat membuatnya trauma.
"Ini, Mas. Ada undangan arisan dari perumahan elit kompleks kita. Namanya 'Arisan Nyonya Sosialita Lavender'. Katanya, sebagai penghuni baru di kawasan bukit ini, aku wajib datang untuk perkenalan," kata Kimberly sambil mendesah pelan.
"Aduh, Mas... aku kan bingung. Mau bicara apa nanti sama ibu-ibu kota? Di desa, arisannya cuma pakai baju daster sambil ngocok arisan di dalam bambu."
Justin menyesap jamunya perlahan. Mendengar keluhan istrinya, dia hanya menatap datar surat merah muda tersebut.
"Kalau kau tidak mau datang, tidak usah datang. Biar kusuruh Marco meratakan rumah ketua arisannya hari ini juga."
"Mas!" Kimberly membelalakkan matanya, menepuk lengan kekar Justin dengan gemas.
"Jangan main ratakan rumah orang terus! Itu namanya silaturahmi tetangga. Aku mau datang, tapi... aku tidak punya pakaian yang pas. Maksudku, gaun-gaun di lemari itu terlalu mewah, seperti mau ke pesta pernikahan."
Justin menatap istrinya dengan lekat, keaslian Kimberly yang menolak terlihat berlebihan justru menjadi daya tarik yang selalu membuatnya terpikat.
Pria itu mengulurkan tangan, mengelus rambut hitam Kimberly yang hari ini dikuncir kuda sederhana.
"Pakai apa saja yang membuatmu nyaman, Mas. Kau adalah Nyonya Ardiansyah. Mereka yang harus menyesuaikan diri denganmu, bukan sebaliknya," ucap Justin tegas.
Di sudut ruangan, Marco kembali menahan napas agar tidak tersedak, sementara Kimberly tersenyum manis mendengar dukungan suaminya.
Siang harinya, dengan diantar oleh sebuah mobil sedan hitam biasa atas permintaan Kimberly yang menolak naik limosin gadis desa itu tiba di sebuah rumah megah bergaya mediterania yang terletak tiga blok dari mansion mereka.
Rumah itu adalah milik Ibu Sandra, istri dari seorang pengusaha properti terkemuka sekaligus ketua arisan.
Begitu melangkah masuk ke area halaman belakang yang disulap menjadi tempat minum teh indoor, Kimberly langsung menjadi pusat perhatian.
Sekitar sepuluh wanita paruh baya dengan pakaian bermerek, perhiasan emas berkerlip di jemari, dan rambut sasak tinggi langsung menghentikan obrolan mereka.
Kimberly melangkah anggun dengan pakaian pilihannya: sebuah tunik batik modern sederhana berwarna cokelat dipadukan dengan celana kain putih.
Rambutnya hanya dijepit rapi di bagian belakang, di pergelangan tangannya, gelang berlian dari Justin tertutup sedikit oleh lengan tuniknya, sementara cincin safir di jarinya berkilau lembut.
"Oh, ini Nyonya Ardiansyah yang baru itu ya? Silakan duduk, Jeng," sapa Ibu Sandra dengan senyum yang dipaksakan manis, matanya menilai penampilan Kimberly dari atas ke bawah, Kimberly duduk di salah satu kursi kosong.
"Selamat siang, Ibu-Ibu. Panggil saja saya Kimberly."
"Aduh, panggil Jeng saja biar akrab," timbrung Ibu kacamata tebal di sebelahnya, namanya Ibu Rika.
"Jeng Kimberly ini asalnya dari mana sih? Kok rasanya wajahnya baru lihat di kalangan kita. Suaminya kan Tuan Justin yang punya perusahaan logistik besar itu, ya? Tapi kok penampilannya... minimalis sekali ya, Jeng?"
Sindiran halus itu langsung membuat suasan meja menjadi agak canggung. Ibu-ibu yang lain mulai berbisik sambil menutup mulut dengan kipas tangan mereka, Kimberly tersenyum tenang, teringat pesan suaminya.
"Saya besar di desa, Bu. Biasa hidup sederhana. Bagi saya, pakaian yang penting bersih dan nyaman dipakai."
"Oh, pantesan..." Ibu Sandra terkekeh kecil, nadanya meremehkan.
"Tapi Jeng, di kompleks elit ini, penampilan itu investasi. Lihat ini, tas kulit buatan Italia punyaku ini indennya sampai enam bulan. Kalau Jeng Kimberly butuh rekomendasi desainer biar tidak kelihatan... maaf, terlalu sederhana, saya bisa bantu."
Sebelum Kimberly sempat membalas, pelayan rumah tersebut datang membawakan nampan berisi teh dan camilan premium.
Di tengah meja, terdapat sebuah teko keramik kuno berwarna hijau lumut yang tampak sangat mahal.
"Ini teh Matcha kualitas nomor satu dari Jepang, Jeng Kimberly. Rasanya sangat autentik dan mahal, tentu beda dengan teh celup biasa," pamer Ibu Sandra sambil menuangkan teh ke cangkir Kimberly.
Kimberly menyesap teh tersebut sedikit, sebagai mantan penjual jamu herbal yang mengerti segala jenis dedaunan dan akar-akaran, lidah Kimberly langsung mengenali sesuatu. Dia meletakkan cangkirnya perlahan.
"Tehnya memang harum, Bu Sandra. Tapi kalau boleh saya tahu, tekonya sudah berapa lama tidak dibersihkan dengan cuka putih?" tanya Kimberly polos, Ibu Sandra tersentak, wajahnya berubah sedikit masam.
"Maksud Jeng Kimberly apa? Ini teko antik dinasti Ming! Pelayan saya selalu mencucinya dengan bersih!"
"Bukan begitu, Bu," ucap Kimberly dengan nada lembut tanpa niat mengejek.
"Daun teh hijau murni seperti ini sangat peka terhadap lapisan logam atau sisa jamur di dalam pori-pori keramik kuno. Di dasar teko ini sepertinya ada endapan tanin lama yang mulai berjamur karena kurang kering saat disimpan. Kalau terus diminum, bisa membuat perut kembung dan diare. Kebetulan saya dulu di desa sering membuat ramuan herbal, jadi agak paham soal kebersihan wadah penyimpanan daun."
Mendengar penjelasan ilmiah yang begitu tenang dari Kimberly, ibu-ibu yang lain langsung meletakkan cangkir mereka dengan wajah panik, Ibu Rika bahkan langsung mengelap lidahnya dengan tisu.
Wajah Ibu Sandra memerah padam menahan malu. Dia berniat membalas kata-kata Kimberly, namun perhatian semua orang mendadak teralihkan oleh suara deru mobil yang berhenti di depan rumah.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap berjas hitam masuk ke area halaman belakang dengan langkah tergesa-gesa. Itu Marco.
Ibu-ibu sosialita itu langsung menahan napas melihat sosok pria tampan namun berwajah dingin yang tampak seperti pengawal pribadi kelas atas, Marco berjalan lurus ke arah Kimberly, lalu membungkuk hormat dengan sangat dalam.
"Nyonya Besar," panggil Marco dengan suara berat yang menggema di ruangan.
"Tuan Besar Justin meminta saya mengantarkan ini. Beliau khawatir Anda merasa camilan di sini kurang sesuai dengan selera Anda."
Marco meletakkan sebuah kotak makan tingkat berbahan kayu jati mewah di atas meja, ketika dibuka, aroma harum sayur lodeh yang gurih dan tahu tempe goreng hangat langsung menyeruak, mengalahkan wangi parfum mawar di ruangan itu.
Tidak hanya itu, Marco juga meletakkan sebuah tas belanja besar berlogo brand fesyen dunia terkenal yang harganya setara dengan satu unit mobil mewah di atas kursi samping Kimberly.
"Tuan Besar juga bilang, jika ada orang di ruangan ini yang berisik soal tas, Anda boleh memberikan tas ini kepada pelayan rumah ini sebagai lap meja."
Seluruh ibu-ibu sosialita di meja itu bungkam seribu bahasa, mata mereka terbelalak menatap tas mewah yang diletakkan begitu saja seperti barang belanjaan pasar, lalu beralih menatap kotak makanan berisi menu desa yang dijaga oleh seorang pengawal pribadi yang tampak siap mematahkan leher siapa saja.
Ibu Sandra menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa gadis desa di depan mereka ini memiliki pelindung yang kekuasaannya jauh di atas suami-suami mereka.
Kimberly hanya bisa menepuk dahinya pelan, merasa gemas sekaligus terharu dengan kelakuan protektif suaminya yang sangat berlebihan ini, dia menoleh pada Marco dengan senyum tertahan.
"Terima kasih, Marco. Katakan pada Mas Justin, sayur lodehnya akan kuhabiskan di sini bersama Ibu-Ibu."
Kimberly kemudian menatap para sosialita yang kini mendadak duduk dengan posisi sangat tegak dan sopan.
"Ibu-Ibu, mau coba sayur lodeh buatan rumah saya? Ini rasanya jauh lebih hangat daripada teh Jepang."
Siang itu, arisan mewah di kompleks elit berubah menjadi ajang makan lodeh bersama, di mana Kimberly memimpin obrolan dengan santai tanpa perlu mengubah dirinya menjadi orang lain.
Di balik tembok pembatas dunianya yang megah, Kimberly membuktikan bahwa kesederhanaan seorang istri mafia adalah kemewahan tertinggi yang tidak bisa dibeli dengan uang.