[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESONA
IVY POV
"Assalamualaikum Tante Lahmi, Om Arka." ucap Hanin.
"Waalaikumsalam Hanin, Ivy." jawab Tante Lahmi.
Tante Lahmi dan Om Arka adalah paman dan bibinya Echa, Om Arka adalah adik dari papanya Echa yang sekarang memegang perusahaan papanya Echa. Sedangkan Tante Lahmi adalah istri dari Om Arka, Hanin menghubungi mereka dan Bi Neni tentang keadaan Echa yang kritis setelah insiden tabrak lari kemarin.
Sudah 1 hari berlalu, Echa masih belum membuka matanya seakan dia ingin sekali menutup matanya tanpa kembali membukanya lagi. Echa masih belum siuman.
"Tante sama Om istirahat aja, biar Hanin sama Vivi yang jaga Caca." ucap Hanin.
"Iya Om, Tan, bukannya mau mengusir, tapi Vivi liat Om sama Tante kaya kurang tidur." ujar Ivy.
"Om gak mau merepotkan kalian, nanti malah kalian yang kurang istirahat." kata Om Arka.
"Gak kok Om, kota malah senang bisa jaga Caca disini, Om sama Tante juga pasti banyak kerjaan. Kita juga udah minta izin sama orang tua kita, Om sama Tante gak usah khawatir." ujar Hanin sambil tersenyum manis.
"Kamu bisa aja dari dulu alasannya." sahut Om Arka.
"Ya udah kalau maunya kalian itu Om sama Tante titip Caca ya." ujar Tante Lahmi.
"Siap Tante!!" jawab mereka kompak dan penuh semangat.
"Ca, Om pergi dulu ya. Cepet bangun, semoga pas om jenguk kamu lagi, kamu udah bangun ya." ujar Om Arka sambil mencium kening Echa.
"Tante juga pulang dulu ya, nanti Tante bakal jaga Caca lagi, cepet bangun sayang." ucap Tante Lahmi sambil mengelus kepala Echa.
"Om titip Caca ya, kalau ada apa-apa telepon Om atau Tante." Ujar Om Arka.
"Iya Om, hati-hati dijalan ya." kata Ivy sambil mencium punggung tangan Om Arka dan Tante Lahmi diikuti Hanin.
Om Arka dan Tante Lahmi pergi meninggalkan ruangan, sekarang hanya tinggal Hani dan Ivy.
"Ca, gak bosen apa tidur terus?" tanya Ivy.
"Iya Ca, cepet bangun ya. Kalau gak ada Caca Hanin curhat ke siapa? cuman Caca yang sarannya terbaik." Ujar Hanin.
"Emang Vivi gak bagus gitu?"tanya Ivy sewot.
"Iya! Vivi kalau ngasih saran itu suka buntu gak ada jalan keluarnya gak ada bagus-bagusnya, kadang buntu kadang juga mentok." jawab Hanin kesal.
"Hanin aja yang gak ngerti sarannya Vivi." ucap Ivy.
"Dih, nih ya Hanin minta solusi gimana kalau misal Kak Azka suka sama Vivi terus Kak Nathan juga suka sama Vivi?" tanya Hanin.
"Ya Vivi bingung milih yang mana, dua-duanya juga ganteng, baik, pokoknya idaman banget deh." jawab Ivy sambil senyum-senyum tidak jelas.
"bener kan Hanin bilang kadang buntu kadang mentok!!" kata Hanin sewot.
"Kok Hanin sewot sih?" tanya Ivy tidak suka.
"Apa? gak suka?" tanya Hanin sewot.
"Apa jangan-jangan Hanin suka sama Kak Nathan?" tanya Ivy penuh selidik.
"a-ap-aa sih e-ngg-aa juga." jawab Hanin salah tingkah.
"Kalau suka bilang aja, Nanti kalau Kak Nathan suka sama Vivi, Vivi pilih Kak Nathan aja deh." Ujar Ivy menggoda Hanin.
"ambil aja, ambil gak peduli!" bentak Hanin.
"Kak Nathan kalau dilihat-lihat ganteng ya, baik juga, sayang sama anak kecil, perhatian, top banget." ujar Ivy sambil menatap Hanin seperti yang ingin membunuh musuhnya.
"iya! Hanin suka Kak Nathan! kenapa? puas?" tanya Hanin kesal.
"Puas banget." jawab Ivy sambil tertawa melihat Hanin yang kesal.
"Kenapa mau diambil? ambil aja ambil!" ucap Hanin yang masih kesal.
"Ya gak bakalan Nin." jawab Ivy.
"Kak Hanin, Kak Vivi." teriak Aira.
Hanin dan Vivi saling memandang satu sama lain, apa Aira mendengar percakapannya tadi? Apa percakapan tadi terdengar sampai keluar? Hanin dan Vivi sama kagetnya.
"Loh Kak Vivi sama Kak Hanin kenapa?" tanya Aira.
"Em itu eh gak apa-apa, Aira kesini sama siapa?" tanya Hanin yang masih kaget setengah mati.
"Aira kesini sama Kak Nathan, Kak Azka sama Kak Bara, emang kenapa?" tanya Aira.
"Oh gak apa-apa, Kak Baranya dimana?" tanya Ivy.
"Masih di belakang mungkin." jawab Aira.
Hanin dan Ivy kembali saling memandang satu sama lain, seolah matanya mengisyaratkan untung saja.
"Hai." Ucap Azka.
"Tuh mereka dateng." kata Aira.
"Kalian kenapa kesini?" tanya Ivy.
"Ya mau jenguk Kak Caca." jawab Aira polos.
"Terus kenapa sampai bawa karpet segala?" tanya Hanin.
"Kita mau nginep disini." jawab Nathan.
"Nginep?" tanya Ivy.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Bara.
"Ya gak apa-apa sih." jawab Hanin.
Mereka mengobrol bersama, tawa memenuhi ruangan tersebut sampai mereka ditegur salah satu perawat. Hingga tak terasa langit yang tadinya berwarna biru kini berubah menjadi jingga, warna yang menghipnotis mata siapapun, terkadang juga menenangkan bagi siapapun yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Eh udah sore." ucap Hanin.
"Eh iya, sebentar lagi pasti bakalan ada dokter yang cek keadaan Caca." ujar Ivy.
"Aira laper." sahut Aira sambil memegang perutnya.
"Sama Kak Hanin yu, Kakak juga laper." Ujar Hanin.
"Ayo." kata Aira penuh semangat.
"Sama Kakak yu, Kakak juga pengen jalan-jalan." sahut Nathan.
"Ye, mau modus apa mau jalan-jalan?" tanya Azka.
"Laper." jawab Nathan dengan penuh penekanan.
"Udah gak apa-apa, kalian mau pesan apa?" tanya Hanin.
"Em, sama in aja." jawab Azka.
"Kalau kak Bara sama Vivi?" tanya Hanin.
"Sama in aja Nin." jawab Ivy.
"sama in aja." jawab Bara.
Hanin, Aira dan Nathan pergi untuk membeli makanan.
Beberapa menit kemudian, perawat datang dengan membawa infusan, satu labu darah, dan suntikan.
"Apa ada pergerakan dari pasien?" tanya perawat itu.
"Tidak ada pergerakan sus." jawab Ivy.
"Tolong ajak pasien berbicara agar ada pergerakan." ujar perawat.
"Baik sus." jawab Ivy.
"Jika ada pergerakan beritahu kami, atau jika tidak ada pergerakan sampai besok silahkan beritahu dokternya." Ujar perawat itu sambil menatap genit pada Azka dan Bara.
"Baik sus, terimakasih atas informasinya." jawab Ivy dengan nada sedikit tinggi.
Bara dan Azka memiliki pesona yang memanjakan mata, siapapun bisa terhipnotis dengan tatapan matanya ataupun senyuman nya. Meskipun mereka masih kelas 11 SMA tapi itu yang membuat mereka memiliki ketampanan yang memanjakan mata.
"Baik saya pergi dulu." ucap perawat itu sambil tersenyum manis pada Azka yang berhadapan dengannya.
"Silahkan sus." Ujar Ivy kesal.
"Kenapa kesel ya?" tanya Ivy pada dirinya sendiri.
Terkadang logika seolah tak sinkron, tidak bisa mengontrol diri untuk mengklaim seseorang yang dicintai dengan sepihak. Tanpa persetujuan.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror
ini ulng baca dr awal terus tp tenag gl bosan" kok