NovelToon NovelToon
He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: tinkeerz

(season 2)

Adira dan Abrisam terpaksa menjalankan hubungan jarak jauh karena impian dan cita-cita masing-masing. Namun, tidak semua orang bisa menjalankan itu termasuk mereka. Awalnya semua berjalan dengan lancar hingga suatu ketika ada saja masalah yang menguji cinta keduanya.

Kepercayaan mereka pun diuji, saling menyalahkan dan jarang kumunikasi. Apa mereka masih bisa mempertahankan hubungan yang sudah dirakit bertahun-tahun ini?


(season 1)

Adira Verbena, gadis kelas 12 SMA yang hanya ingin ketenangan dalam hidupnya. Ia ingin melewati masa sekolah dengan tidak terlibat masalah satu pun.

Jadi siswi teladan sepanjang sekolah adalah impian besarnya. Namun, tidak semulus itu. Nampaknya sejak mengenal Abrisam Pradipta impiannya itu harus hancur.

Banyak masalah yang datang melibatkan mereka berdua. Dira berusaha menghindarinya, tapi takdir seperti ingin menyatukan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tinkeerz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 25

Suiiiiitttttt~

Emran bersiul menggoda siswi yang melintas tempat mereka duduk.

“Yang itu cantik ya?” tanya Emran bertanya pendapat Manha.

“Cantik sih, tapi bukan tipe gue.” Manha menjawab sambil memakan snack-nya.

“Lo itu udah jomblo karatan nggak usah banyak milih,” ujar Emran.

“Namanya juga pengen dapat yang terbaik.”

“E-eh.” Emran menyenggol lengan Manha, “itu sih Sam kenapa? Kok diam aja?”

Manha memiringkan kepalanya untuk melihat Sam yang duduk di sebelah Emran. Kemudian ia menegakkan kepalanya lagi.

“Gue juga nggak tahu. Coba deh lo tegur! Takut kesambet aja gue mah,” ucap Manha berhenti memakan jajanannya.

“Bro!” Emran menepuk bahu Abrisam sedikit keras.

Sam yang memperhatikan siswa-siswi yang melintas untuk masuk ke kantin menoleh pada Emran.

“Kenapa lo ngelamun aja?” lanjut Emran.

“Masih sakit bekas ditusuk?” tambah Manha.

Cowok yang mendapat pertanyaan dari kedua temannya ini, menggeleng pelan. Ia menghela napas dan menatap ke depan lagi.

“Gue nggak apa-apa cuma masih malas aja ngomong.”

“Tumben,” celetuk Manha.

Emran menggerak-gerakan jari telunjuknya, “gue tahu masalahnya apa. Lo belum debat sama Adira hari ini?”

“Apa hubungannya?" sela Manha.

Lelaki turunan Jerman-Sunda itu menoleh ke Manha, “diam ngapa lo! Gue nanya sama Sam.”

“Emang hari ini belum ngobrol sih,” jawab Sam tiba-tiba.

“Nah ‘kan!” seru Emran, “sana cari Adira ajak dia ngobrol.”

Manha mengangguk cepat dengan memasukkan ciki ke dalam mulutnya, “iya, bener tuh.”

“Tapi dia di mana?” Sam menoleh, “tadi di kelas udah hilang dari jam istirahat.”

“Itu tanya aja sama teman-temannya.” Tunjuk Manha pada Vio dan Yara yang melintasi mereka.

“Mana?” Sam mencari-cari sosok kedua perempuan itu.

“Vio! Yara!” teriakan Sam membuat kedua gadis itu menoleh.

“Mau apa sih si Sam?” bisik Violet ke Yara.

Yara mengedikkan kedua bahunya, “nggak tahu. Samperin aja yok!”

Walau Violet agak malas mendatangi Sam. Namun, ia tetap mengikuti ajakan Yara.

“Ada apa?” tanya Yara.

“Cepat ya! Gue mau ke kantin nih, laper.” Sambar Violet terlihat jutek.

“Dira ada di mana?” tanya Sam perlahan.

“Kenapa? Lo mau ngajakin dia ribut. Kalau begitu gue nggak mau kasih tahu,” jawab Violet dengan cepat.

“Gue mau ngapain itu bukan urusan lo. Cepat kasih tahu gue!” balas Sam tidak suka.

“Lo ‘kan biasanya cuma cari ribut kalau ketemu Adira,” tambah Violet.

“Dira ada di perpustakaan lagi ngerjain PR,” ujar Yara membuat Vio menatapnya.

“Kok lo kasih tahu?”

“Biar cepat, Vi.” Yara menepuk-nepuk perutnya, “gue laper mau ke kantin. Kalau kita terus berdebat di sini keburu masuk.”

Violet berdecak sebal.

“Bener tuh teman lo. Nggak kayak lo udah boncel, bawel, hidup lagi,” ujar Emran diiringi tawa.

“Apa lo bilang?” Vio mengangkat kipasnya ke atas. Ia ingin memukul Emran dengan kipas itu.

Namun, Yara menarik lengannya untuk menjauh dari sana.

“Ayo, kita ke kantin aja. Jangan berantem sama mereka!"

Sam berdiri, “makasih, Ra.” Teriaknya sedikit keras.

Yara yang ingin berbelok ke kantin menoleh, lalu mengangguk sambil tersenyum dan menghilang di belokan.

“Gue ke perpus dulu, guys,” pamit Abrisam. Kemudian berlari kecil menjauh dari kedua sahabatnya.

“Yoi, selamat berjuang!” teriak Emran.

“Bener kayaknya teman kita yang satu itu jatuh cinta deh.” Manha memperhatikan punggung Sam yang terus menjauh, “yang tertusuk punggungnya yang error kepalanya.” Ia menggeleng-geleng pelan.

“Biarin aja yang penting Sam bahagia. Lo sana cari pacar biar nggak kesepian lagi,” ujar Emran.

“Kayak lo punya pacar aja.”

“Punya dong.”

“Mana? Nggak pernah dikenalin ke gue.” Manha mengacungkan jari telunjuk, “oh gue tahu pacar lo si Vio ‘kan?”

“Enak aja! Ogah, gue sama si boncel,” ujar Emran menolak keras.

“Gue liat kalian serasi kok.”

“Serasi kepala lo pitak. Emosi gue lama-lama sama lo.” Emran berdiri dan berjalan pergi.

“Mran, mau ke mana? Gue ikut!” Manha memunguti minuman dan snack-nya, lalu berlari mengejar Emran.

Adira yang fokus menulis pada bukunya. Mengangkat kepala saat mendengar suara kursi di depannya, seperti ada yang menarik.

“Afraz!” Dira tersenyum.

Afraz duduk berhadapan dengan Dira, “gue boleh duduk di sini ‘kan?”

“Ya boleh dong, itu ‘kan bangku perpus bukan bangku gue.” Dira kembali meneruskan pekerjaannya.

Afraz mulai membuka bukunya, tapi matanya curi-curi pandang pada Adira.

“Lagi ngerjain apa sih?” tanyanya lagi.

Adira berhenti menulis sebentar, “ini PR, lupa gue kerjain. Padahal dijam terakhir harus dikumpul.”

Afraz mengangguk mengerti, “ada yang susah? Perlu gue bantu.”

Sambil menulis Adira menggeleng, “nggak ada. Semua jawabannya juga ada di buku ini.”

Cewek itu melihat ke Afraz yang ada di depannya, “lo ke perpus mau ngobrol atau baca buku?”

Afraz gelagapan dan membuka buku yang sedari tadi ia pegang, “baca buku.”

Adira menutup mulutnya dan tertawa kecil. Afraz yang sadar kalau ia ditertawakan menyingkirkan sedikit bukunya dari wajah.

“Ada apa?”

“Lo bisa baca buku terbalik gitu?” Adira menunjuk-nunjuk buku yang dipegang Afraz.

Cowok itu membalik-balik bukunya, lalu setelah itu ia tertawa juga dengan suara yang dikecilkan.

“Sampai tidak sadar.” Afraz membenarkan posisi bukunya.

Adira menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melanjutkan menyelesaikan tugasnya.

Sedangkan di luar perpustakaan Abrisam sedang melepas sepatu, lalu meletakkan ke rak yang disediakan. Cowok itu masuk ke ruangan penuh buku ini.

Seumur-umur Sam jarang sekali masuk ke ruangan satu ini di Sekolah. Alasannya karena ia tidak suka membaca dan tidak suka buku.

Ketika sedang mencari-cari Adira di ruangan itu, Sam tidak sengaja melihat Dira dan Afraz duduk berhadapan berdua. Ia segera mendekat ke salah satu rak buku. Sam bersembunyi di sana.

“Dir.” Afraz menutup dan meletakkan bukunya, “ada yang mau gue omongin.”

“Mau ngomong apa? Bukannya dari tadi lo ngomong mulu ya?” tanya Adira tanpa menatap cowok itu.

Afraz tertawa pelan mendengar itu, “kali ini serius.”

Cowok dengan tinggi hampir sama dengan Abrisam ini menggenggam tangan Adira hingga cewek itu menghentikan tulisannya. Ia menatap Afraz.

“Apa-apaan dia pikir ini kafe bisa mesra-mesraan,” gumam Sam di balik tempat persembunyiannya.

“Aduh ditatap kayak begini kenapa jantung gue jadi berdebar-debar cepat ya. Afraz mau ngomong apa lagi sampai pegang tangan gue?” ujar Adira di dalam hatinya.

“Gue...gue...” perlahan Afraz mulai mengeluarkan suaranya lagi.

Dengan hati gelisah Adira sangat penasaran dengan apa yang akan Afraz sampaikan.

“Gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya Afraz.

Seketika jam berhenti berdetak, suara orang-orang tak terdengar, ruangan ini hampa bagi Adira.

“Malah nembak!” Sam memukul rak buku itu dengan kuat hingga menimbulkan suara gaduh. Membuat semua orang menoleh padanya.

Adira sampai tersadar dari lamunannya. Ia menarik tangan yang digenggam Afraz dan menoleh ke belakang.

“Apa itu?” teriak penjaga perpustakaan.

“Mampus,” gumam Sam. Memperhatikan sekitarnya.

“Eh-eh mau ke mana kamu?”

Sam yang ingin kabur berpapasan dengan ibu penjaga perpustakaan. Ia hanya bisa menelan ludah.

“Sam!” seru Adira yang melihat itu.

A/N

Sudah hampir 2k pembacanya. Nggak nyangka gue tuh makasih ya kalian yang udah mau mampir membaca cerita ini. Apa lagi yang like, komen, vote sampai favoritkan cerita ini makasih banyak.

1
'Nchie
duh Sam manis banget sih kalo sama Adira...itu bokapmu kesurupan kali ya ngotot mau kawin lagi🤣🤣
'Nchie
kalo mama Winda masih terima pak Tomi ..aku kecewa deh sama mama...pak Tomi itu doyan kawin ..ntar kalo udah bosen pasti gitu lagi
'Nchie
jadi pengen nabok pak Tomi...itu istri udah 2 juga hadeuh
'Nchie
mama kan baru kenal sama pak Tomi jadi blm tau karakter pak Tomi seperti apa.. tanya istri nya juga dong atau tanya sama Sam...karena anak2 yg akan terluka
'Nchie
ah ini mah dasar pak Tomi doyan kawin 😤😤
'Nchie
nanti kamu nyesel loh sam
'Nchie
nanti kamu sendiri Dira ..hatimu udah suka sama Sam ..tapi kamu g nyadar
Trusthi Widhi
mood booster banget baca ini💝
Trusthi Widhi
tulisannya asyik untuk d baca❤️
👻Yusuf🦖
menarik
Adila Senja Zakeisha
Gak jelas banget nih orang tua.
yg salah dia kenapa anaknya yg kena dampak nya. siapa suru Uda tua masih jatuh cinta
pas di tipu marah".
Bundha Acha
udah thorrr,....si dira kan dapat pesangon tuh,....dah lah buat buka usaha rumah makan kecik kecilan
Naylatul Maufiroh
siiiiip
Amiek Susena
dira mah gak mau jujur, sebel aku
Amiek Susena
terimakasih otw season 2
Amiek Susena
suka banget thor jika ada seasen 2
Amiek Susena
winda mah gitu dia juga salah .. ngapainmain teriama saja ajakan tomi nikah , bukannya diselidiki dulu siapa tomi ... eehmalah sekarang anaknya yg dikorbanin karena dia kecewa gak jadi nikah sama tomi
Amiek Susena
thor di epusode ini aku berlinangan airmata duuuh nyesek banget
Amiek Susena
dasar tomi sibuaya darat sebel banget ....
Amiek Susena
jangan pisahin sam sama dira yaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!