"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 Kedatangan Nenek Lusi
Sore hari, mobil mewah Nenek Lusi tiba di halaman rumah Daren. Daren dan Nadia sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut. Mengingat kaki Nadia yang masih diperban, Nenek Lusi langsung khawatir.
"Nadia, Bagaimana dengan kaki kamu?" tanya Nenek Lusi saat sudah berdiri di hadapan Nadia dan Daren.
Nenek Lusi langsung mengalihkan pandangannya pada Daren yang berada di samping Nadia, Nenek Lusi tidak mengeluarkan sepatah katapun tapi matanya yang berbicara pada Daren, Daren tahu itu.
Demi meyakinkan Nenek Lusi bahwa hubungan mereka baik-baik saja, Daren dengan sigap merangkul pinggang Nadia secara posesif dari samping. Nadia yang terkejut terpaksa menahan diri dan tidak berontak. Dia bahkan terpaksa menyandarkan kepalanya di bahu Daren sambil tersenyum manis, "Saya tidak apa-apa, Nenek. Mas Daren menjaga saya dengan sangat baik akhir-akhir ini." Mendengar panggilan "Mas Daren" dan senyuman manis itu, jantung Daren langsung berdisko walaupun dia tahu itu cuma akting.
"Syukurlah kalau kaki kamu sudah membaik," Nenek Lusi tersenyum menatap Nadia dengan tenang.
"Ya Nek semua ini berkat Dokter Adrian yang kapan hari sudah memeriksa dan mengobati luka di kaki saya ini," ucap Nadia tanpa memikirkan perasaan Daren saat dia menyebut nama Adrian di depan Daren.
Daren langsung mengencangkan rangkulannya pada Nadia saat mendengar Nadia menyebutkan nama Adrian." Kamu benar-benar keterlaluan Nadia, Kenapa sih harus sebut-sebut nama Adrian di hadapan aku di saat hatiku sedang berbunga-bunga karena bisa merangkulmu seperti ini," gumam Daren dalam hatinya menahan kesal.
"Oh iya memang, Itu Nenek yang minta dari pihak rumah sakit untuk memberi kamu dokter terbaik untuk menangani luka di kaki kamu, Bagaimana? Apa Dokter Adrian menangani luka kamu dengan baik?" tanya Nenek Lusi lebih lanjut.
"Sangat baik Nek, Dokter Adrian orangnya baik sekali dan perhatian sekali, bahkan Dokter Adrian selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa minum obatnya biar cepat sembuh," ucap Nadia.
Daren langsung menoleh pada Nadia yang masih dia rangkul itu, Daren melihat binar bahagia di mata Nadia saat dia menceritakan tentang Adrian pada Nenek Lusi dan hal itu sangat membuat Daren tersinggung karena Nadia tidak perduli dengan perasaan yang di rasakan Daren saat Nadia menyebutkan nama Adrian.
"Terus saja kamu puji si Adrian brengsek itu ya," gumam Daren dalam hatinya sambil lebih mempererat rangkulan tangannya pada Nadia sampai membuat Nadia sedikit merasa kesakitan.
"Bisa lebih sedikit melonggarkan rangkulannya gak, sakit tahu," bisik Nadia di telinga Daren dengan kesal.
Daren menipiskan bibirnya dan dengan tatapan lurus ke depan dengan sedikit mengangkat dagunya Daren mulai melonggarkan rangkulannya pada pinggang Nadia.
"Ya kamu benar Nadia, Dokter Adrian itu orangnya memang sangat baik sekali dan ramah apalagi pada wanita," lanjut Nenek Lusi yang membuat Daren makin meradang.
"Bisa gak kalian gak ngomongin tentang si Adrian itu, Nenek ke sini kan tujuannya mau menjenguk aku dan Nadia? Kenapa malah ngomongin Adrian?" ucap Daren dengan kesal pada Nenek Lusi dan Nadia yang sedari tadi hanya membicarakan Dokter Adrian saja.
Nenek Lusi terdiam dan mengangkat kacamatanya sedikit sambil menatap Daren,"Kamu cemburu sama dokter Adrian, Daren?" tanya Nenek Lusi yang membuat Daren terkejut kenapa Neneknya bisa tahu apa yang sedang dia rasakan.
"Ngapain aku cemburu sama Adrian, Nek," Daren mengelak dengan tegas tuduhan Nenek Lusi padanya.
"Baiklah Nek, Kalau begitu silahkan Nenek masuk ke dalam rumah," Dengan sopan Nadia mempersilahkan Nenek Lusi.
"Ya," Nenek Lusi pun kemudian berjalan masuk ke dalam rumah Daren di ikuti Nadia dan Daren yang berjalan di belakangnya.
Saat Nenek Lusi berjalan di depan mereka dan tidak melihat ke arah mereka dengan segera Nadia meraih lengan Daren yang masih merangkul pinggangnya itu untuk melepaskannya tapi dengan cekatan Daren langsung merangkul pinggang Nadia lagi lebih erat "Tetap bersikap seperti ini dan jangan sekali-kali buat Nenek curiga dan sedih kalau melihat kita yang sesungguhnya," bisik Daren di telinga Nadia.
Nadia hanya bisa menghela napas menurut saja apa yang di katakan oleh Daren karena sebenarnya Nadia juga tidak mau melihat nenek Lusi bersedih kalau tahu hubungan mereka yang sesungguhnya.
"Oh ya Nek, kamar tamunya sudah aku renovasi biar Nenek betah di sini," ucap Daren tersenyum senang berharap Neneknya mau tinggal lama di rumahnya supaya dia bisa berdekatan terus dan sedikit demi sedikit bisa mengambil hati Nadia.
Nadia menoleh pada Daren dan menatapnya dengan tatapan sinis seolah berkata tidak setuju dengan permintaan Daren pada Nenek Lusi.
Melihat Nadia menatanya dengan sinis, Daren hanya tersenyum tipis di salah satu ujung bibirnya membuat Nadia makin kesal padanya karena Dia tahu Daren sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa berdekatan dengannya.
...----------------...
Saat makan malam bersama, Nenek Lusi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tatapan menyelidik karena Nenek tahu sifat asli Daren yang kaku. Demi kelancaran sandiwara, Daren bersikap sangat protektif dan perhatian dia mengupas kulit kerang, kali ini lauknya benar-benar aman bukan makanan alergi, Daren menyuapi Nadia, dan mengusap sudut bibir Nadia dengan tisu secara lembut.
"Coba ini sayang, Kamu pasti suka," ucap Daren sambil menyuapi Nadia dengan perlahan. Nadia tidak bisa menolak perlakuan mesra dari Daren itu di hadapan Nenek Lusi dan akhirnya Dia pun harus mengikuti sandiwara Daren.
Nadia membalasnya dengan tatapan mata yang begitu penuh cinta dan senyuman yang sangat hangat membuat Daren sempat melayang tinggi dan mengira Nadia mulai luluh. Nenek Lusi tersenyum puas melihat keharmonisan itu.
"Makasih mas, ini sangat enak sekali," ucap Nadia sambil tersenyum mesra yang terpaksa pada Daren.
"Oh ya Nek, bagaimana dengan makanannya? Enak gak?" tanya Daren pada Nenek Lusi yang terkesima melihat kemesraan cucu dan cucu menantunya itu.
"Ya. Ini enak sekali, apalagi melihat kalian berdua yang semesra ini Nenek sangat bahagia," Nenek berkata sambil menatap dalam pada Daren dan Nadia.
...----------------...
Siksaan batin Daren dimulai saat Nenek Lusi pamit ke kamar tamu di lantai bawah untuk beristirahat. Begitu pintu kamar Nenek Lusi tertutup dan mereka berdua berjalan kembali ke lantai dua, perubahan drastis langsung terjadi.
Setelah selesai makan malam dan mereka berbincang sebentar di ruang tengah akhirnya Nenek Lusi pamit ke kamar karena sudah mengantuk.
"Kalian teruskan saja mengobrol nya, Nenek akan ke kamar dulu, mata Nenek sudah tidak kuat ini, Nenek mengantuk," kemudian Nenek Lusi pun beranjak dari ruang tengah itu dan berjalan menuju ke kamar tamu untuk istirahat.
Daren mengajak Nadia untuk naik ke lantai atas dengan menggandeng tangan Nadia.
Tepat di anak tangga teratas, Nadia langsung melepaskan gandengan tangan Daren dengan sangat cepat, seolah-olah tangan Daren adalah setrikaan panas. Wajah penuh cinta dan senyuman hangat Nadia lenyap dalam sekejap, berganti dengan ekspresi datar dan dingin yang biasa. "Terima kasih atas kerja samanya malam ini, Tuan Daren. Akting Anda cukup bagus," ucap Nadia tanpa beban, lalu berjalan mendahului Daren ke kamar tidur. Daren mematung di tangga, merasa seperti baru saja dijatuhkan dari langit ke jurang terdalam.
Tengah malam, Daren yang tidak bisa tidur memutuskan turun ke dapur untuk mengambil air minum. Di ruang tengah, dia mendapati Nenek Lusi sedang duduk menunggunya. Nenek Lusi ternyata tidak sepenuhnya tertipu.
Nenek Lusi menatap Daren dengan tajam, "Daren, Nenek tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Elsa sudah tidak pernah kelihatan, dan mata Nadia... meskipun dia tersenyum, matanya tidak bisa berbohong kalau dia pernah terluka olehmu. Ingat Daren, jika kamu menyia-nyiakan wanita setulus Nadia demi wanita ular seperti Elsa, Nenek tidak akan pernah sudi mengakuimu sebagai cucu lagi!"
Daren kembali ke kamar dengan pikiran yang sangat berat. Dia menatap Nadia yang tertidur pulas di sisi ranjang yang jauh. Daren berbisik lirih pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan Nadia pergi, apa pun caranya.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang