Yang Qing Xia di bunuh secara kejam oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Belum puas melihat kematian adiknya, sang kakak melempar tubuh Qing Xia ke sebuah hutan yang terkenal sebagai sarang serigala.
Sebuah jiwa dari alam lain tiba-tiba terbawa dan masuk ke dalam tubuh Qing Xia. Jiwa itu menyadari keberadaannya di dalam hutan dan saat ini dia di kelilingi oleh kawanan serigala yang sedang kelaparan.
"Haruskah ku bunuh kalian semua?"
"Wanita yang benar-benar menarik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25. Menemui Max
"Kamu ini yah, selalu saja menjawab jika di tegur!" keluh Qing Xia.
Xin Le melangkah mendekat, dia memeluk Qing Xia lalu meminta maaf. "Jangan marah Ibu, Xin Le tidak akan melakukannya lagi. Ini, Xin Le membawakan hadiah untuk Ibu." ucap Xin Le sembari memberikan setangkai mawar kepada Qing Xia.
Qing Xia membalas pelukan dari si bocah, dia lalu mengangkat Xin Le untuk duduk di atas kursi. "Ayo makan sebelum makanannya menjadi dingin."
Xin Le menatap bunga yang berada di tangannya, "Tunggu sebentar Bu, Xin Le juga ada hadiah untuk Kakek dan Nenek." ucapnya lalu menyerahkan masing-masing 1 bunga mawar kepada Tuan dan Nyonya Su.
"Wah ternyata kami juga kebagian, Nenek tadi sempat bersedih karena mengira Xin Le tidak membelikan hadiah untuk Nenek."
Nyonya Su tersenyum lebar mendapatkan setangkai bunga dari Xin Le. Tuan Su ikut tersenyum, dia lalu bertanya kepada Xin Le, "Kenapa kamu memilih bunga mawar sebagai hadiah?"
"Itu karena bunga ini memiliki arti kebahagiaan. Xin Le berharap kita semua akan mendapat kebahagiaan, itu sebabnya Xin Le membeli bunga ini. Lagi pula, bukankah ini sangat cantik?" jawab Xin Le dengan wajah yang menggemaskan.
"Nyonya Su melihat setangkai mawar lagi di tangan Xin Le. Karena penasaran, dia bertanya kepada bocah di depannya. "Apakah Xin Le membeli satu untuk diri sendiri?"
Xin Le menggelengkan kepala, "Tidak, Xin Le tidak memerlukan bunga ini."
"Kenapa Xin Le tidak perlu?" tanya Qing Xia.
"Karena kebahagian Ibu, Nenek dan Kakek adalah kebahagiaan Xin Le." jawab bocah itu sambil tersenyum lebar.
Jawaban dari Xin Le tentu saja membuat hati ketiga orang itu merasa terharu. Namun Nyonya Su masih penasaran, dia bertanya lagi kepada Xin Le.
"Jadi, untuk siapa bunga yang satunya lagi?"
Xin Le terdiam sejenak, raut wajahnya berubah sedih. Namun, sesaat kemudian dia kembali ceria. "Ini hadiah untuk Ayah." jawabnya sambil tersenyum.
Ketiga orang dewasa itu langsung terdiam, mereka menyadari jika Xin Le membutuhkan sosok seorang Ayah. Anak sekecil Xin Le, pasti sangat kesepian karena merindukan ayah yang tidak pernah dia temui.
"Xin Le, kamu...!"
"Ibu, Xin Le lapar, ayo kita makan!" Xin Le sengaja memotong kalimat dari Qing Xia. Dia tidak ingin ibunya bersedih jika membahas tentang ayahnya.
Qing Xia mengangguk, dia tidak lagi melanjutkan perkataannya. Qing Xia mengambil makanan dan memasukkan ke dalam mangkuk Xin Le. "Makan yang banyak, biar kakimu cepat panjang!" ledek Qing Xia.
"Hahaha...!" Tuan dan Nyonya Su tertawa bersama mendengar Qing Xia meledek cucunya.
Selesai makan, Qing Xia meminta bantuan dari Nyonya Su untuk menjaga Xin Le. Qing Xia mengenakan pakaian laki-laki, dia keluar dengan menunggang seekor kuda.
Sesampainya di sebuah penginapan, Qing Xia menitipkan kuda miliknya di sana. Dia lalu duduk di restoran yang berada di lantai paling bawah penginapan.
Qing Xia membayar seseorang untuk memulai percakapan mengenai Jenderal Yang. Mendengar nama Jenderal Yang disebut, semua tamu mulai membahas kembali masalah penghianatan yang di lakukan oleh ayahnya.
"Kalian tau kan itu semua karena Menteri Fang menyerahkan bukti ke Kaisar secara langsung?"
"Aku yakin bukti itu palsu!"
Para tamu mengangguk, menyetujui pendapat yang mengatakan jika bukti dari Menteri Fang itu palsu. Namun apapun yang mereka katakan, tidak akan mengubah kenyataan jika keluarga Yang sudah musnah.
"Menteri Fang, ternyata semua ini rencana dari ayah Fang Ai Li!" benak Qing Xia.
Qing Xia berjalan keluar dari penginapan, dia pergi ke sebuah pusat informasi yang di kelola oleh Max. Seorang pelayan segera menghampiri Qing Xia yang baru saja masuk.
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan muda?" tanya pelayan wanita.
"Aku ingin semua informasi tentang Menteri Fang!" jawab Qing Xia tanpa basa basi.
Pelayan itu menatap wajah Qing Xia sejenak, dia lalu mempersilahkan Qing Xia untuk masuk ke dalam. Pelayan wanita membawa Qing Xia ke sebuah ruangan, tidak ada siapapun di ruangan itu.
"Tuan, silahkan tunggu sebentar di sini, saya akan memanggilkan ketua kami."
Qing Xia mengangguk, dia lalu duduk di kursi yang berada di tengah ruangan. Beberapa saat kemudian, pelayan wanita membawakan teh dan cemilan untuk Qing Xia.
"Silahkan di nikmati selagi menunggu." ucap pelayan wanita yang lalu pergi meninggalkan Qing Xia.
Beberapa jam telah berlalu, namun tidak ada siapapun yang masuk ke ruangan tersebut. Qing Xia masih duduk tenang dan bersabar menunggu.
Dia memang sudah mendengar tentang Max yang selalu menguji kesabaran para pelanggan, namun Qing Xia tidak menyangka akan disuruh menunggu selama berjam-jam tanpa kepastian.
Hari mulai gelap, Qing Xia masih berada di dalam ruangan yang tak berpenghuni itu. Seorang laki-laki mengetuk pintu ruangan, dia lalu masuk bersama seorang wanita muda.
Melihat ada dua orang asing yang masuk, Qing Xia segera bersikap waspada. Dia berdiri lalu menatap mereka dengan rasa curiga. Laki-laki berjalan mendekat, dia lalu memperkenalkan diri.
"Saya Max, ketua dari guild informasi ini."
Qing Xia tidak suka berbasa basi, dia langsung bertanya kepada Max. "Bisakah kalian mengumpulkan bukti kejahatan dari Fang Chang Guo?"
"Tentu saja bisa, asal bayarannya sesuai." jawab Max.
"Berapa harga yang harus aku bayar?" tanya Qing Xia yang memasang wajah dingin.
Max tersenyum, dia lalu menjawab. "1 peti emas."
Harga yang diminta oleh Max tentu saja tidak akan menyulitkan dirinya yang saat ini menyandang nama keluarga Su. Tapi Qing Xia merasa tidak enak hati untuk meminta uang sebanyak itu dari Ayah angkatnya.
Qing Xia berpikir sesaat, dia lalu bertanya lagi kepada Max. "Bisakah saya membayar uang mukanya dulu?"
Max mengangguk menyetujui permintaan dari Qing Xia. "1 bulan, dalam waktu 1 bulan saya akan memberikan hasil yang memuaskan untuk anda."
Qing Xia merasa lega karena tidak harus membayar semua secara langsung. Dia masih memiliki waktu untuk mengumpulkan uang itu sambil menunggu informasi dari Max.
"Baiklah, Tolong kumpulkan semua bukti kejahatan dari Fang Chang Guo. Saya akan membayar uang muka sebesar setengah peti emas, sisanya akan saya berikan lagi jika bukti-bukti itu sudah saya terima."
Max menyetujui kesepakatan yang diajukan oleh Qing Xia. Max lalu mengantar Qing Xia keluar dari ruangan. Hari sudah sangat gelap, Max menawarkan diri untuk mengantar Qing Xia kembali, namun karena Qing Xia tidak ingin ketahuan, dia menolak tawaran dari Max.
Qing Xia berjalan di jalanan yang sudah sepi, dia menuju ke penginapan, tempat dia menitipkan kudanya. Setelah mengambil kuda di penginapan, Qing Xia naik ke atas kuda lalu memacu dengan cepat.
Dalam perjalanan pulang, Qing Xia melihat perkelahian yang terjadi di tengah jalan. Dia bersembungi di balik pohon sambil mengintip apa yang terjadi di sana.
Qing Xia melihat seorang laki-laki sedang di kerumuni oleh puluhan orang berbaju hitam. Qing Xia berusaha melihat dengan jelas wajah dari laki-laki itu. Karena penglihatannya kurang baik, Qing Xia tidak bisa mengenali wajah orang dari jauh.
"Krekkk!"
Qing Xia tanpa sengaja menginjak ranting pohon kering, para pembunuh langsung menoleh ke arah Qing Xia, begitu pula dengan Han Ze Xin. Melihat wajah Qing Xia, Han Ze Xin buru-buru menghampiri wanita itu.
Han Ze Xin berlari ke arah Qing Xia, namun wanita itu memundurkan langkahnya. Saat ini, Han Ze Xin tidak memakai topeng wajahnya, membuat Qing Xia tidak dapat mengenalinya sebagai Tabib cabul.
"Han Ze Xin!" ucap Qing Xia ketika melihat dengan jelas wajah laki-laki di depannya.
"Dia mengenalku?" benak Han Ze Xin.
^^^BERSAMBUNG...^^^