IG : nanayu_95
Syarat msuk Grup "Tuliskan satu nama pemeran antagonis novel Author"
Sinopsis :
"Hanya karena persahabatan, bagaimana kau mau menikahi laki-laki itu? " Mama Zola tak percaya keputusan putrinya saat ini.
Ella Levina Victorya Winjaya, gadis cantik periang dan keras kepala bersedia menerima keinginan sahabatnya Deca Felista menggantikannya dijodohkan oleh seorang laki-laki yang tidak memiliki keluarga.
Pernikahan atas dasar rasa kasihnya pada sahabatnya itu, membuat dirinya terjebak oleh lingkaran hubungan rumit dengan laki-laki yang tak pernah dia cintai.
Akankah Ella menerima laki-laki yang sudah digariskan menjadi suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unwanted Wedding Party (Part 1)
Pagi hari di acara Pernikahan Ella. Seorang gadis sedang sibuk didandani oleh dua orang perias profesional dikamar miliknya. Gadis itu terlihat diam dan menikmati saat wajahnya dipoles beberapa makeup dari brand ternama. Dia memejamkan mata saat wajahnya terus diberikan riasan berupa bedak, foundation, lipstik dan lain sebagainya.
Gadis itu adalah Ella, yang bersiap untuk melakukan pernikahannya dengan Dylan. Dia masih memakai handuk kimono saat para perias mendandaninya.
Lalu dari pintu kamar masuk tiga orang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik menghampiri Ella. Mereka terlihat begitu bahagia, siapa lagi kalau bukan Shela, Bebi dan Karin.
"Keponakan Bibi sangat cantik, padahal belum sepenuhnya selesai didandani. Kau mirip sekali dengan Mamamu saat menikah dulu." seru Shela terkagum.
Ella membuka mata dan tersenyum lewat cermin dengan melihat ketiga wanita itu yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Bibi Shela, Tante Bebi dan juga Bibi Karin! Bibi karin sudah kembali?" ucap Ella begitu senang saat melihat mereka khususnya Karin.
"Iya sayang, Om Reno, Jonathan dan Lukas juga sudah disini. Mereka tidak sabar melihatmu menikah." ucap Karin.
"Dua adik tampan Ella sudah disini? Aku merindukan mereka Bibi! " seru Ella dengan senang.
"Mereka juga merindukanmu sayang." balas Karin sambil memeluk Ella dari belakang.
"Kau sangat cantik" imbuhnya.
"Terima kasih," ucap Ella tersenyum manis.
^
Di Luar rumah semua tamu sudah banyak yang datang. Dylan juga baru saja datang dan menyapa Rey dan teman-temannya.
"Kau tampan sekali Nak Dylan" ucap Rafli kagum.
"Terima kasih Paman." balas Dylan.
"Ella didalam, jika kau mau bertemu" ujar Rey sambil menepuk bahu Dylan.
"Baik Om" jawab Dylan.
"Om? Seharusnya kau panggil mertuamu Opa saja. Dia lebih cocok dengan sebutan itu." seru Gerry sambil tertawa.
"Jaga ucapanmu, bisa-bisa istrimu marah lagi mendengar celotehmu yang menggelikan itu!" tegur Panji.
"Dylan, Kau harus panggil Rey dengan sebutan Papa." saut Zola lembut dan sudah berada disamping Rey.
Karena sedari tadi Zola memperhatikan pembicaraan mereka saat sedang bersama Jane.
"B-baiklah Pa," tanya Dylan sedikit gugup saat mengucapkannya.
"Nah, begitu terdengar lebih Bagus. Panggil aku Mama juga ya." pinta Zola tersenyum manis.
"Baik Ma,, " jawab Dylan.
"Kau sangat manis, Ayo Mama antar ke tempat Ella." ajak Zola sambil menarik tangan Dylan.
"Sayang? Jangan seenaknya memegang laki-laki!" suara Rey tertahan pelan untuk memperingatkan istrinya supaya menuruti perintahnya. Rey begitu kesal saat ada laki-laki yang bersentuhan dengan istrinya walaupun itu calon menantunya.
"Astaga Rey, bisa tidak sehari saja tidak membuatku kesal!" gerutu Zola, mereka yang ada disana tertawa melihat tingkah mereka berdua. Apalagi Rey, dia mirip seperti anak kecil saat menghadapi istrinya itu.
Rey berdengus kesal, dia melototkan matanya ke arah teman-temannya yang masih tertawa. Dylan hanya tersenyum melihatnya. Sepertinya Rey bukanlah laki-laki kejam seperti yang selama ini dia dengar.
Zola segera mengajak Dylan masuk kedalam rumah, dan naik menuju lantai dua. Banyak pelayan berlalu lalang dengan sibuk menyiapkan keperluan pernikahan.
"Dylan, kau masuk saja. Ella ada didalam. Mama tinggal dulu ya" pamit Zola.
"Baik Ma, terima kasih" balas Dylan dengan tersenyum.
Saat melihat Zola sudah pergi dari sana, Dylan membuka pintu kamar dan berjalan masuk perlahan. Saat itu dia melihat seluruh isi kamar identik dengan nuansa warna pink dan Biru laut.
"Siapa? " suara seseorang mengalihkan pandangan Dylan untuk menoleh padanya.
Dylan terkesiap melihat seorang wanita duduk membelakanginya dengan memakai gaun pengantin berwarna putih. Wanita itu berdiri dan berbalik melihat Dylan.
Ella terlihat begitu cantik memakai gaun pengantin putih yang terjatuh sampai ke lantai. Dengan bagian atas dada yang terekspos tanpa lengan begitu membius mata Dylan. Gaun itu sangat pas di tubuh ramping Ella yang berkulit putih itu.
Ella tersenyum saat melihat Dylan, dia berjalan menghampirinya dengan menaikkan gaun yang dirasa sangat berat itu.
"Kau sudah datang? Ayo duduklah" ajak Ella sambil menarik Dylan yang sedari tadi tak berkedip melihat penampilan cantik Ella. Ella menyuruh Dylan duduk dipinggir tempat tidur dan duduk disampingnya.
"Aku sangat bosan disini. Setidaknya ada kau, jadi aku tidak akan bosan menunggu." ucap Ella dengan senang.
"Kau bosan?" tanya Dylan.
"Iya, Deca bilang akan terlambat datang kemari. Lainnya sibuk diluar, jadi aku sendirian." jawab Ella sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Dylan gemas dan berusaha mati-matian menahan gejolak dihatinya.
"Ella?" ucapan Dylan membuat Ella menoleh padanya.
"Hmm, apa? "
"Soal pertanyaanku kemarin. Aku ingin mendengar jawabanmu." ucap Dylan menatap Ella dengan serius.
'Astaga, aku lupa. Kenapa aku begitu bodoh membiarkan Dylan kesini. Sekarang dia tanya hal itu kan. Aku harus bagaimana?' runtuk Ella dalam hati. Ella menunduk sambil meremas tangannya
Dylan melihat jelas kekhawatiran di wajah Ella. Itu artinya Ella benar-benar menyembunyikan rahasia padanya.
"Jika kau tidak mau memberitahuku. Baiklah, Aku terpaksa akan membatalkan pernikahan ini." ucap Dylan dengan penuh penekanan.
Ella terbelalak melihat ke arah Dylan. "Jangan!! Kau tidak bisa melakukan itu. Sebentar lagi kita akan menikah. Kau tega membuatku dan keluargaku malu!!"
"Aku hanya tidak ingin kau terus membohongi orang lain. Hubungan yang didasari hal itu akan menghancurkan dirimu sendiri. Jika kau tidak mau menikah denganku, aku tidak akan marah Ella. Aku hanya ingin kau berterus terang padaku." ujar Dylan tegas.
Ella terdiam dia masih menatap Dylan dengan wajah berkaca-kaca. "Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Kumohon mengertilah" pinta Ella memohon.
"Kau keras kepala. Jika terus seperti ini aku tidak punya pilihan lain." Dylan mulai kesal, dia beranjak ingin berdiri. Dengan gerakan cepat Ella menahan Dylan dengan menggelayuti lengan kekarnya.
"Kumohon jangan pergi! Aku akan katakan. Tolong dengarkan aku" pinta Ella begitu takut jika Dylan membatalkan pernikahan.
Dylan menghela nafas dan kembali duduk. "Cepat katakan"
"Aku akan katakan. Tapi kau harus janji, untuk tetap melanjutkan pernikahan ini." pinta Ella.
"Tapi jika pernikahan ini buruk, untuk apa dilanjutkan" tolak Dylan.
"Kalau kau tidak mau. Aku akan nekat melukai diriku sendiri!!" ancam Ella.
"Kau gila! Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu!" Dylan terbawa emosi berdebat dengan Ella.
"Aku memang gila, karena itu kau harus berjanji dulu. Ayoo!!" seru Ella mengguncang lengan Dylan.
"Baik, baiklah. Aku janji akan menikahimu. Kau puas!!" balas Dylan kesal.
Ella tersenyum senang dan melepaskan lengan Dylan.
"Cepat katakan" perintah Dylan tidak mau berlama-lama ada dikamar itu. Kapalanya pusing jika harus berdebat dengan gadis itu.
"Aku menikahimu karena ingin menggantikan Deca sahabatku. Aku rela menikah muda karena tidak ingin melihat Deca melukai dirinya lagi karena dipaksa menikah oleh Tante Deria. Itu semua karena ulah Bibimu, Tante Jane." jelas Ella.
Dylan menoleh pada Ella dengan terkejut, "Bibi Jane yang memaksa Deca menikahiku?" tanya Dylan seolah tak percaya.
Ella mengangguk dan membenarkan. "Deca frustasi dan mencoba bunuh diri karena hal itu. Aku tidak tega membiarkan itu. Aku terpaksa meminta Tante Jane untuk mengganti Deca denganku untuk menikah denganmu. Tante Jane mengancam akan mengambil uang yang sudah dipinjam oleh Tante Deria. Jika keluarga Deca tidak melunasinya dalam waktu dekat, Tante Jane akan membawa masalah itu ke polisi." tambahnya.
Dylan begitu tersentak mendengar pengakuan Ella. Jadi selama ini Bibinya lah yang sudah membuat masalah sebesar ini. Dylan merasa kesal, marah sekaligus tak habis pikir dengan semua kebenaran ini. Dia menuduk sambil mengusap kasar rambutnya. Dia begitu kecewa pada bibinya.
"Dylan tolong jangan beritahu siapapun. Aku tidak mau membuat masalah di acara ini. Kumohon" pinta Ella sambil mengatupkan kedua tangannya. Ella menatap Dylan penuh harap padanya.
"Tapi kenapa kau mau melakukan semua ini. Kau tidak perlu mengorbankan diri untuk menuruti keinginan bodoh bibiku. Aku tidak bisa membiarkan ini." ucap Dylan beranjak berdiri ingin pergi.
"Jika kau membuat keonaran, kupastikan aku akan melukai diriku!!" teriakan Ella membuat Dylan berhenti dan menoleh padanya.
"Kau sudah berjanji akan melanjutkan pernikahan ini. Jangan membuat kedua orang tuaku malu karena kau ingkar janji. Aku tidak main-main Dylan! " imbuhnya tegas sambil meneteskan air mata.
Dylan begitu bingung, dia sangat kesal tapi saat melihat Ella memohon padanya, dia merasa tidak tega. Dylan harus membuat keputusan.
Bsb...
.
.
.