NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Maaf yaa, baru bisa update hari ini karena sedang sibuk dengan berbagai kegiatan Hari Kemerdekaan. 🇮🇩

Terima kasih banyak sudah menunggu dan masih setia mengikuti kelanjutan novel ini. 🥰 Kebetulan, novel ini juga sedang dalam proses kontrak di platform ini.

Mohon dukungan dan doanya agar prosesnya lancar, yaa. 😘❤️

Happy reading 🤗❤️

...****************...

Pintu kayu ek tebal itu terbanting menutup, menyisakan gema yang memantul di dinding batu dingin. Grand Duchess dan Fiona telah pergi, membawa serta sisa-sisa amarah dan kepanikan yang menggantung di udara.

Kini, hanya tinggal mereka berdua.

Davira menghela napas panjang, meredakan debar di dadanya sebelum kembali menatap tumpukan buku besar di hadapannya.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh halaman ledger tersebut, bayangan tubuh tinggi Elliot tiba-tiba mendekat.

Pria itu tidak lagi berdiri di balik mejanya. Dalam keheningan yang pekat, Elliot melangkah memutari meja kerja, memperpendek jarak di antara mereka hingga nyaris tanpa sisa.

Posturnya yang menjulang berdiri begitu dekat, memancarkan kehangatan dan aroma kayu cemara khas utara yang bercampur dengan dinginnya salju di luar.

Davira mendongak, mendapati manik kelam pria itu tengah menatapnya dengan intensitas yang teramat dalam—panas, tajam, dan sarat akan rasa penasaran yang membakar.

Elliot menatap lurus ke dalam manik mata Davira, mencari-cari keraguan di sana, namun tidak menemukannya. "Kau berbicara seolah-olah kau sudah berdiri di atas bukit dan melihat sendiri bendera Avarian berkibar di tanah kita."

Davira tidak mundur barang satu sentimeter pun. Ia membalas tatapan itu dengan kepala tegak, mempertahankan ketenangannya di bawah sorot mata sang penguasa utara.

"Kenyataan tidak peduli apakah kau percaya atau tidak, Tuan Elliot," balas Davira tenang, suaranya mengalun lembut namun menghujam tepat sasaran. "Yang peduli hanyalah seberapa cepat tanganmu bergerak untuk menyelamatkan benteng ini sebelum terlambat."

Alih-alih tersinggung oleh kelancangan itu, sudut bibir Elliot justru terangkat membentuk senyum tipis. Ada binar asing yang terpancar di balik iris kelamnya, binar seorang predator yang baru saja menemukan pasangan sepadan di atas papan catur politik yang mematikan.

Elliot mencondongkan tubuhnya sedikit, tangannya terulur menumpu di atas tepi meja tepat di samping pinggul Davira, secara tidak langsung mengurung wanita itu dalam ruang geraknya. Napas hangat pria itu menyapu ujung rambut Davira.

"Hebat sekali, kau berani menantang nenekku, dan menampar muka keluarga Duncan tanpa gentar sedikit pun," bisik Elliot, suaranya mengandung getar ketertarikan yang berbahaya. "Katakan padaku, Lady Davira... apa sebenarnya yang sedang kau pertaruhkan di sini? Kehormatanmu? Atau... Ada hal lain yang kau inginkan di kastil ini."

Davira tertegun sepersekian detik oleh kedekatan yang tiba-tiba itu. Namun, ia segera menguasai dirinya, mengangkat sebelah alisnya dengan anggun.

"Keselamatan wilayah ini berarti kelangsungan hidupku, my Lord," jawab Davira, manik mereka terkunci dalam ketegangan yang manis sekaligus mematikan. "Dan aku tidak pernah menyerahkan hidupku pada takdir yang buruk."

Untuk sesaat, tidak ada suara di antara mereka selain deru napas yang bergesekan di udara dingin.

"Kalau begitu," suara Elliot memecah sunyi, rendah dan penuh beban, "mari kita lihat apakah kalkulasi di atas kertasmu itu bisa bertahan di dunia nyata."

Davira mengangkat sebelah alisnya. "Kau ingin aku membuktikannya sekarang?"

"Bukan sekadar membuktikannya," Elliot melangkah memutari meja, berhenti tepat beberapa jengkal di hadapan Davira.

"Aku ingin melihat apakah kau benar-benar tahu apa arti musim dingin di Orion, atau kau hanya sedang menggertak untuk mendebat nenekku."

*****

Perjalanan menuju lumbung utama bawah tanah memakan waktu yang cukup panjang. Mereka menyusuri koridor-koridor batu tua Kastil Orion yang semakin lama semakin menurun, jauh ke bawah permukaan tanah tempat suhu udara merosot drastis hingga embun napas berubah menjadi kabut tipis di udara.

Elliot berjalan di depan, memegang obor tunggal yang memercikan cahaya kuning kemerahan di dinding batu yang lembap.

Namun, tidak seperti biasanya—di mana seorang penguasa utara akan berjalan tergesa-gesa—malam itu langkah kaki Elliot melambat. Pria itu beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan wanita di belakangnya tidak tertinggal oleh dinginnya lantai batu yang licin.

Davira sama sekali tidak mengeluh. Meskipun gaun panjangnya menyapu lantai yang berdebu dan ujung jemarinya mulai mati rasa karena gigil, punggungnya tetap lurus sempurna.

Pengalamannya di istana lama mengajukan satu hal, kelemahan sekecil apa pun di hadapan orang lain akan menjadi mangsa empuk. Dan Elliot... pria ini bukanlah seseorang yang bisa dikelabui oleh ratapan remeh.

Mereka tiba di depan pintu besi tempa yang tebal, terkunci ganda dengan gembok tembaga berukuran sebesar kepalan tangan.

Elliot berhenti, mengeluarkan seikat kunci dari balik jubahnya. Ia melirik Davira sekilas, manik kelamnya memantulkan nyala obor dengan binar yang sulit dibaca.

"Kunci ini dipegang oleh pengurus senior kepercayaan Grand Duchess," ujar Elliot pelan, suaranya menggema di lorong sempit itu. "Membuka pintu ini sama artinya dengan menyatakan perang terbuka pada seluruh faksi lama di kastil ini. Masih ada waktu bagimu untuk mundur, Lady Davira."

Davira menatap kunci tembaga di tangan suaminya, lalu beralih menatap lurus ke dalam iris mata Elliot. Jarak di antara mereka begitu dekat di ruang sempit itu, hingga Davira bisa merasakan pancaran panas tubuh pria tersebut yang kontras dengan dinginnya dinding batu.

"Aku tidak pernah melangkah mundur dari pertarungan yang aku mulai sendiri, My Lord," jawab Davira tenang, suaranya mantap tanpa keraguan.

Elliot terdiam, sejenak ada rasa kagum yang asing, menggelitik, dan jauh lebih berbahaya daripada rasa hormat biasa.

Pria itu memasukkan kunci ke lubangnya. Klek. Suara mekanisme besi berputar berat, disusul oleh derit engsel tua saat pintu besi besar itu perlahan didorong terbuka.

Bau apak gandum tua langsung menerobos keluar, bercampur dengan udara beku ruang bawah tanah. Elliot mengangkat obornya lebih tinggi, menerangi bagian dalam lumbung yang luas. Tumpukan karung-karung gandum tersusun tinggi hingga ke langit-langit ruangan. Sekilas, semuanya tampak aman.

Namun, Davira tidak langsung percaya pada apa yang tampak di permukaan.

Ia melangkah melewati Elliot, masuk ke dalam ruangan yang gelap dan dingin itu. Gerakannya begitu tenang, anggun, namun teliti bagaikan seorang inspektur yang mengendus aroma kebusokan dari kejauhan.

Elliot mengikutinya dari belakang, menjaga jarak hanya dalam radius satu langkah, matanya mengawasi setiap gerak-gerik sang istri dengan ketertarikan yang semakin pekat.

...****************...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!